Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

Antipsychotic Use Evaluation on First Episode Schizophrenic Patients at Jambi Psychiatric Hospital Natari, Rifani Bhakti; Sukandar, Elin Yulinah; Sigit, Joseph Iskendiarso
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol 37, No 4 (2012)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (171.935 KB)

Abstract

Patients with first episode schizophrenia need relatively lower effective antipsychotic doses, had higher sensitivity toward side effects and symptoms free response were easier to achieve compared to multi episode schizophrenic patients. This episode is the critical stage that will affect further development of the disease. Antipsychotic use evaluation was needed to achieve an optimal therapy for first episode schizophrenic patients. Study was conducted using retrospective method. The data were taken from medical records, nurse monitoring forms and consultation with health care professionals. The study showed that the most prescribed antipsychotic was the combination of chlorpromazine and haloperidol (37.12%), risperidone was the most prescribed antipsychotic as single therapy (35.71%) and there were 34.29% therapeutic regiments that higher than recommended dose. The most prescribed drug that added to the antipsychotic therapy was trihexyphenidyl (69.29%). There were 97 drug interaction cases with six pharmacokinetic interaction cases which dosage adjustment was needed. There were seven patients (17.07%) that had continued therapy until 10 months and four cases of relapse ought to alcohol consumption (one case) and therapeutic non adherence (three cases). The pharmacotherapy guideline for first episode schizophrenia patients in Jambi Psychiatric Hospital is needed to be revised ought to some differences between prescribed antipsychotic and recommended guidelines.Keywords: Drug Use Evaluation, Antipsychotic, First-Episode SchizophreniaPasien dengan serangan skizofrenia pertama biasanya membutuhkan dosis antipsikotik yang lebih rendah, sensitifitas yang lebih tinggi dalam memperoleh efek samping dan lebih mudah mencapai respon bebas dari gejala dibandingkan dengan pasien dengan serangan skizofrenia yang berulang. Serangan ini merupakan tahapan kriitis yang dapat memengaruhi perkembahan penyakit pasien. Evaluasi penggunaan antipsikotik dibutuhkan untuk mencapai terapi yang optimal pada pasien dengan skizofrenia serangan pertama. Penelitian ini dibentuk menggunakan metode retrospektif. Data penelitian didapatkan dari rekam medik, formulir pemantauan suster dan konsultasi dengan tenaga kesehatan profesional. Penelitian ini menunjukkan bahwa antipsikotik yang paling banyak diresepkan yaitu kombinasi antara klorpromazin dan haloperidol (31,12%), risperidon merupakan antipsikotik yang paling banyak diresepkan pada terapi tunggal (35,71%), dan didapatkan 34,29% regimen terapi yang berada di atas rentang dosis yang direkomendasikan. Obat tambahan yang paling sering diresepkan pada terapi bersama dengan antipsikotik yaitu triheksifenidil (62,29%). Pada penelitian ini terdapat 97 kasus interaksi obat dengan 6 kasus interaksi farmakokinetik yang mana memerlukan penyesuaian dosis. Pada penelitian ini juga ditemukan 7 orang pasien (17,07%) yang melanjutkan terapi hingga 10 bulan dan 4 kasus kambuhan akibat pengonsumsian alcohol (satu kasus) dan ketidakpatuhan terapi (3 kasus). Algoritma terapi pada pasien skizofrenia serangan pertama di Rumah Sakit Psikiatrik jambi perlu ditinjau ulang karena adanya perbedaan peresepan antipsikotik yang dilakukan dengan algoritma yang disarankan.Kata kunci : Evaluasi Penggunaan Obat, Antipsikotik, Skizofrenia Serangan Pertama
Antipsychotic Use Evaluation on First Episode Schizophrenic Patients at Jambi Psychiatric Hospital Rifani Bhakti Natari; Elin Yulinah Sukandar; Joseph Iskendiarso Sigit
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol. 37 No. 4 (2012)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Patients with first episode schizophrenia need relatively lower effective antipsychotic doses, had higher sensitivity toward side effects and symptoms free response were easier to achieve compared to multi episode schizophrenic patients. This episode is the critical stage that will affect further development of the disease. Antipsychotic use evaluation was needed to achieve an optimal therapy for first episode schizophrenic patients. Study was conducted using retrospective method. The data were taken from medical records, nurse monitoring forms and consultation with health care professionals. The study showed that the most prescribed antipsychotic was the combination of chlorpromazine and haloperidol (37.12%), risperidone was the most prescribed antipsychotic as single therapy (35.71%) and there were 34.29% therapeutic regiments that higher than recommended dose. The most prescribed drug that added to the antipsychotic therapy was trihexyphenidyl (69.29%). There were 97 drug interaction cases with six pharmacokinetic interaction cases which dosage adjustment was needed. There were seven patients (17.07%) that had continued therapy until 10 months and four cases of relapse ought to alcohol consumption (one case) and therapeutic non adherence (three cases). The pharmacotherapy guideline for first episode schizophrenia patients in Jambi Psychiatric Hospital is needed to be revised ought to some differences between prescribed antipsychotic and recommended guidelines.Keywords: Drug Use Evaluation, Antipsychotic, First-Episode SchizophreniaPasien dengan serangan skizofrenia pertama biasanya membutuhkan dosis antipsikotik yang lebih rendah, sensitifitas yang lebih tinggi dalam memperoleh efek samping dan lebih mudah mencapai respon bebas dari gejala dibandingkan dengan pasien dengan serangan skizofrenia yang berulang. Serangan ini merupakan tahapan kriitis yang dapat memengaruhi perkembahan penyakit pasien. Evaluasi penggunaan antipsikotik dibutuhkan untuk mencapai terapi yang optimal pada pasien dengan skizofrenia serangan pertama. Penelitian ini dibentuk menggunakan metode retrospektif. Data penelitian didapatkan dari rekam medik, formulir pemantauan suster dan konsultasi dengan tenaga kesehatan profesional. Penelitian ini menunjukkan bahwa antipsikotik yang paling banyak diresepkan yaitu kombinasi antara klorpromazin dan haloperidol (31,12%), risperidon merupakan antipsikotik yang paling banyak diresepkan pada terapi tunggal (35,71%), dan didapatkan 34,29% regimen terapi yang berada di atas rentang dosis yang direkomendasikan. Obat tambahan yang paling sering diresepkan pada terapi bersama dengan antipsikotik yaitu triheksifenidil (62,29%). Pada penelitian ini terdapat 97 kasus interaksi obat dengan 6 kasus interaksi farmakokinetik yang mana memerlukan penyesuaian dosis. Pada penelitian ini juga ditemukan 7 orang pasien (17,07%) yang melanjutkan terapi hingga 10 bulan dan 4 kasus kambuhan akibat pengonsumsian alcohol (satu kasus) dan ketidakpatuhan terapi (3 kasus). Algoritma terapi pada pasien skizofrenia serangan pertama di Rumah Sakit Psikiatrik jambi perlu ditinjau ulang karena adanya perbedaan peresepan antipsikotik yang dilakukan dengan algoritma yang disarankan.Kata kunci : Evaluasi Penggunaan Obat, Antipsikotik, Skizofrenia Serangan Pertama
Pola Penggunaan Kombinasi Antidepresan dan Benzodiazepin di Rumah Sakit Tersier di Kota Jambi: Eksplorasi Data Klaim BPJS Kesehatan Natari, Rifani Bhakti
Journal Health Information Management Indonesian (JHIMI) Vol. 2 No. 1 (2023): April (Journal Health Information Management Indonesian)
Publisher : Sekretariat Program Studi Sarjana Terapan Manajemen Informasi Kesehatan Politeknik Indonusa Surakarta.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46808/jhimi.v2i1.74

Abstract

BPJS Kesehatan telah merekam penggunaan obat untuk penyakit kronis secara elektronik sejak tahun 2014. Eksplorasi data tersebut dalam penelitian belum optimal. Data sampel layanan BPJS telah diluncurkan sejak tahun 2019. Hanya saja, data tersebut belum mencakup data penggunaan obat. Penelitian ini bertujuan untuk mendemonstrasikan penggunaan data klaim obat kronis dalam penelitian dengan studi kasus mengenai penggunaan kombinasi antidepresan dan benzodiazepin. Data penelitian diperoleh dari klaim obat kronis salah satu rumah sakit tersier di Jambi selama 39 bulan. Data pasien yang pernah diresepkan antidepresan selama periode studi diekstraksi. Variabel yang diteliti meliputi nomor identifikasi pasien; nama, jumlah dan dosis obat; bulan pelayanan; dan biaya klaim. Dalam kurun 39 bulan, terdapat 1.265 pasien yang pernah mendapatkan antidepresan. Prevalensi peresepan kombinasi antidepresan dan benzodiazepin setiap bulan tinggi dengan rata-rata 56% (rentang 36,9-64,4%). Ketika diukur mempergunakan penggunaan obat dari bulan pertama hingga ke-39, prevalensi penggunaan kombinasi sebesar 56,9% (41,6-64,9%). Semakin lama seseorang berobat, semakin tinggi dosis yang dibutuhkan untuk pengendalian penyakit. Penelitian lanjutan perlu diperlukan untuk meneliti faktor-faktor terkait tingginya prevalensi penggunaan kombinasi tersebut dengan mengaitkan data klaim obat dengan data klaim pelayanan kesehatan. Penelitian ini menunjukan bahwa data klaim obat kronis memiliki potensi sebagai sumber data penelitian kesehatan.
Hubungan Pemberian Obat dan Suplemen Serta Penyakit Penyerta Terhadap Risiko Mortalitas Pasien Covid-19 di Rs X Provinsi Jambi Snaini, Cyndi; Dewi, Rasmala; Natari, Rifani Bhakti
JURNAL SYNTAX IMPERATIF : Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol. 5 No. 4 (2024): Jurnal Syntax Imperatif: Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan
Publisher : CV RIFAINSTITUT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntaximperatif.v5i4.449

Abstract

Corona virus Disease (Covid-19) merupakan pandemi yang telah mengakibatkan tingginya angka mortalitas di berbagai belahan dunia dan merupakan penyakit yang memiliki perjalanan cepat dan sangat mudah menular dan menyerang hampir seluruh kalangan usia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pemberian obat dan suplemen serta penyakit penyerta terhadap risiko mortalitas pasien covid-19 di RS X Provinsi Jambi. Penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional. Penelitian dilakukan pada bulan Juni 2023. Penelitian ini menggunakan data sekunder yaitu data rekam medis pasien COVID-19 di Rumah Sakit X. Data dianalisis dengan menggunakan uji chi-square. Instrumen penelitian adalah lembar pengumpulan data. Hasil penelitian menunjukkan 61,0% responden berjenis kelamin perempuan, 21,0% responden berusia 56-65 tahun, 36,0% responden meninggal, 59,0% responden mendapatkan obat oseltamivir, 24,0% responden dengan penyakit penyerta. Hasil analisis bivariat menunjukkan ada hubungan antara pemberian obat dan suplemen serta penyakit penyerta dengan risiko mortalitas pasien Covid-19 di RS X Provinsi Jambi. Diharapkan kepada masyarakat melakukan upaya preventif dengan mengikuti gaya hidup sehat upaya tidak terkena penyakit kardiovaskular
Pola Penggunaan Antipsikotik di Rumah Sakit Tersier di Provinsi Jambi 2018 - 2021 Fatihah, Anya Aulia; Dinda Mitra, Aisa; Bhakti Natari, Rifani
Jurnal Ilmiah Manusia Dan Kesehatan Vol. 6 No. 2 (2023): Jurnal Ilmiah MANUSIA DAN KESEHATAN
Publisher : FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PAREPARE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31850/makes.v6i2.2055

Abstract

Skizofrenia merupakan penyakit kejiwaan yang kompleks dan pada umumnya membutuhkan pengobatan dengan antipsikotik secara berkesinambungan. Di Indonesia, pengobatan penyakit skizofrenia ditanggung oleh BPJS Kesehatan. Data klaim untuk pelayanan penyakit ini, termasuk pelayanan obat-obatan, telah direkam sejak dibentuknya BPJS Kesehatan pada tahun 2015. Penelitian terkait pola penggunaan antipsikotik dengan memanfaatkan database klaim obat-obatan dapat memberikan informasi dalam perumusan kebijakan publik dan tatalaksana penyakit. Data yang diekstraksi meliputi nomor kepesertaan, nama obat, kekuatan sediaan, dan jumlah obat. Dari data tersebut, dihitung dua variabel yang akan dianalisis, yaitu Defined daily dose/Pasien/Hari dan jumlah pasien untuk tiap-tiap antipsikotik. Grafik dari dua variabel tersebut dibuat berdasarkan golongan antipsikotik, jenis antipsikotik golongan tipikal, dan jenis antipsikotik atipikal. Penggunaan antipsikotik atipikal lebih tinggi bila dibandingkan dengan antipsikotik tipikal (7,15-9,16 vs. 1,69-3,91 DDD/Pasien/Hari). Haloperidol merupakan antipsikotik tipikal yang paling sering digunakan dibandingkan chlorpromazine dan trifluoperazine. Pada beberapa waktu, chlorpromazine dan trifluoperazine tidak tersedia. Risperidone dan olanzapine merupakan antipsikotik atipikal yang sering digunakan dengan pola yang mirip setelah Agustus 2019. Sebelum bulan tersebut, penggunaan risperidone cenderung menurun dan olanzapine meningkat. Penggunaan quetiapine dan aripiprazole berfluktuatif yang mungkin disebabkan oleh ketersediaan dan harga yang tinggi. Penggunaan clozapine tinggi dengan dosis yang rendah. Hal ini mengindikasikan clozapine digunakan sebagai tambahan untuk antipsikotik lain. Penggunaan obat dipengaruhi oleh kebijakan dan harga. Eksplorasi terhadap database pelayanan obat kronis dapat menjadi dasar evaluasi kebijakan publik dan tatalaksana klinis. Pengaitan dengan database kesehatan dan pemerintahan lainnya dapat menjadi sumber yang kuat dalam pelaksanaan penelitian kesehatan. Kata kunci: Obat antipsikotik; data kesehatan rutin; kajian penggunaan obat
Pola Penggunaan Antidepresan Pada Rumah Sakit X Di Jambi Periode 2018 - 2021 Nabila, Sofie; Putri Mariska, Ruri; Bhakti Natari , Rifani
Jurnal Ilmiah Manusia Dan Kesehatan Vol. 6 No. 3 (2023): Jurnal Ilmiah MANUSIA DAN KESEHATAN
Publisher : FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PAREPARE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31850/makes.v6i3.2072

Abstract

Antidepresan merupakan kelompok obat yang digunakan untuk mengobati depresi. Antidepresan terbagi menjadi 3 kelompok , yaitu antidepresan trisiklik, antidepresan SSRI (Selectiv Serotonin Re-Uptake Inhibitor) dan antidepresan MAO (monoamine-oksidase). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pola penggunaan antidepresan di Rumah Sakit X dan pola pembiayaan antidepresan pada periode 2018-2021. Penelitian ini merupakan penelitian observasional deskriptif dengan mempergunakan data pelayanan obat kronis bagi pasien BPJS Kesehatan yang mengakses layanan rawat jalan di Rumah Sakit X. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa penggunaan antidepresan golongan SSRI (Selectiv Serotonin Re-Uptake Inhibitor) lebih banyak di resepkan dari pada antidepresan golongan lainnya. Dimana jumlah pasien obat fluoksetin 20mg pada bulan juli 2021 mencapai 269 orang dengan penggunaan dosis sebanyak 0,75 DDD/Orang/Hari, sedangkan jumlah pasien pada obat sertralin 50mg pada bulan januari 2019 mencapai 190 orang dan penggunaan dosis sebanyak 0,73 DDD/Orang/Hari. Sedangkan untuk biaya obat dapat dilihat pada obat sertralin 50mg memiliki harga yang paling tinggi di banding harga obat lainnya yaitu sebesar Rp.2.042. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pola penggunaan obat dosis perhari rumah sakit X di Jambi sesuai dengan dosis lazim yang telah ditetapkan (fluoksetin 20mg dan sertralin 50mg) dan pola pembiayaan dapat disimpulkan bahwa naik turunnya harga obat tidak berpengaruh terhadap tingkat penggunaan obat.
Analisis Efektivitas Biaya (CEA) Penggunaan Kombinasi Antihipertensi Pada Pasien Hipertensi di RSUD X Provinsi Jambi Periode Juli – Desember Tahun 2024 Bhakti Natari, Rifani; Meirista, Indri; Wulandari, Putri
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 9 No. 2 (2025): Agustus
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v9i2.30525

Abstract

Hipertensi merupakan penyakit kronis dengan prevalensi tinggi di Indoneisa yang memerlukan terapi jangka Panjang dan biaya yang berkelanjutan. Penggunaan kombinasi antihipertensi menjadi salah satu pendekatan terapi yang umum diterapkan. Oleh karena itu, diperlukan analisis efektivitas biaya untuk menentukan kombinasi terapi yang paling cost-effective dalam menurunkan tekanan darah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas biaya dari dua kombinasi antihipertensi yaitu candesartan + bisoprolol dan candesartan + amlodipine pada pasien hipertensi rawat jalan di RSUD X Provinsi Jambi. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif retrospektif dengan pendekatan cross-sectional berdasarkan data rekam medis pasien rawat jalan periode Juli – Desember 2024. Analisis dilakukan terhadap efektivitas terapi (berdasarkan penurunan tekanan darah >5mmHg) dan biaya medik langsung (biaya obat dan biaya tindakan dokter). Evaluasi farmakoekonomi dilakukan menggunakan metode Average Cost Effectiveness Ratio (ACER) dan Incremental Cost Effectiveness Ratio (ICER). Hasil penelitian, kombinasi candesartan + amlodipine digunakan oleh 70,89% pasien, dengan efektivitas 87,5% dan rata-rata biaya terapi sebesar Rp 129.038. Kombinasi candesartan + bisoprolol digunakan oleh 29,11% pasien, dengan efektivitas 78,26% dan biaya sebesar Rp116.583. Nilai ACER candesartan + amlodipine lebih rendah (Rp1.474) dibandingkan candesartan + bisoprolol (Rp1.489), sedangkan nilai ICER sebesar Rp 1.347 menunjukkan bahwa tambahan efektivitas dari kombinasi candesartan + amlodipine masih tergolong cost-effective.
Regresi Multiskala Tertimbang Geografis dan Temporal dengan LASSO dan Adaptif LASSO untuk Pemetaan Kejadian Tuberkulosis di Jawa Barat Habsy, Muhammad Yusuf Al; Rachmawati, Ro'fah Nur; Khotimah, Purnomo Husnul; Natari, Rifani Bhakti; Riswantini, Dianadewi; Munandar, Devi; Izzaturrahim, Muh. Hafizh
Communication in Biomathematical Sciences Vol. 8 No. 1 (2025)
Publisher : The Indonesian Bio-Mathematical Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/cbms.2025.8.1.6

Abstract

Tuberculosis (TB) is a global health issue caused by Mycobacterium tuberculosis and can affect any organ of the body, especially the lungs. The trend of TB cases varies between regions, and analytic assessment is required to identify the predictor variables. The purpose of this research is to compare the Multiscale Geographically and Temporally Weighted Regression (MGTWR) and the Geographically and Temporally Weighted Regression (GTWR) method, which both use Gaussian, Exponential, Uniform, and Bi-Square kernel functions, to identify significant variables in each region annually. The MGTWR method has the advantage of using a flexible bandwidth for each observation, that results in more accurate coefficient estimates. The sample used was 27 districts and cities in West Java Province, involving 36 variables divided into 5 dimensions, namely global climate, health, demography, population, and government policy, with a time span of 2019–2022. To overcome the problem of multicollinearity, the approach was carried out using the Least Absolute Shrinkage Selection Operator (LASSO) and Adaptive LASSO methods. In determining the best model, the prioritized criteria are to achieve the highest R2, which indicates the optimal level of model fit, as well as the smallest AIC, which indicates the most efficient model goodness of fit. The best model is MGTWR with LASSO variable selection on the Bi-Square kernel. This model has an R2 of 91.25% and the smallest AIC of 139.868. From the best model, each region emerged with a cluster structure affected by various variables from 2019 to 2022, providing an in-depth understanding of TB mapping that can assist in formulating more effective intervention measures.
Literature Review Related to Factors That Influence Adherence to Medication Use in Hypertension Patients in Primary Health Facilities Opi Zalita , Tricy; Rifani Bhakti NATARI; Medi ANDRIANI
RADINKA JOURNAL OF HEALTH SCIENCE Vol. 1 No. 3 (2024): Radinka Journal of Health Science (RJHS)
Publisher : RADINKA JAYA UTAMA PUBLISHER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56778/rjhs.v1i3.195

Abstract

Hypertension is a disease that requires long-term therapy, so patient compliance is required in undergoing treatment to control blood pressure and reduce the risk of complications. Riskesdas data (2018) shows that the prevalence of non-compliance with taking medication in hypertensive patients is 32.3%. This study aims to determine the factors that influence compliance with medication use in hypertensive patients in primary health facilities. This research is a literature review research. Selection of research articles reviewed using the PRISMA method using relevant keywords (adherence to medication use, hypertension patients, primary level health facilities, influencing factors) and based on inclusion and exclusion criteria. The research was conducted at the STIKES Harapan Ibu Jambi Library from May to June 2023. Based on the research results, it is known that the factors that influence compliance with the use of antihypertensive drugs in hypertensive patients in primary-level health facilities are age, education, employment, knowledge, attitudes, motivation, family support, role of health workers, affordability of health services, duration of therapy and comorbid (p-value e<0.05). It is hoped that community health centers will provide education about the importance of compliance with the use of antihypertensive drugs in hypertension sufferers that is easy to understand so that they are compliant in taking antihypertensive medication.
Pengaruh Gaya Hidup Dengan Penyakit Gastritis Pada Mahasiswa Farmasi Tingkat Akhir di Kampus X Kota Jambi Tahun 2025 Bhakti Natari, Rifani; Hadriyati, Armini; Herma Putri, Fira
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 9 No. 2 (2025): Agustus
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v9i2.30521

Abstract

Gastritis atau yang sering disebut penyakit maag merupakan peradangan akibat produksi asam lambung berlebih yang biasanya terjadi pada mukosa lambung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh gaya hidup terhadap kejadian gastritis pada mahasiswa farmasi tingkat akhir di Kampus X Kota Jambi tahun 2025. Gaya hidup yang diteliti meliputi frekuensi makanan alami, makanan olahan, pola tidur, dan tingkat stres. Metode yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain cross-sectional. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner online, yaitu Frekuensi makanan, Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI), dan Depression Anxiety Stress Scale (DASS-21), dengan jumlah responden sebanyak 95 mahasiswa. Hasil analisis menunjukkan bahwa frekuensi makanan olahan, pola tidur, dan tingkat stres berhubungan secara signifikan dengan kejadian gastritis (p<0,05), sedangkan frekuensi makanan alami tidak berhubungan signifikan. Kesimpulan dari penelitian ini pada gaya hidup yang tidak sehat seperti konsumsi makanan olahan berlebih, tidur tidak teratur, dan tingkat stres yang tinggi dapat meningkatkan risiko gastritis pada mahasiswa.