Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

“TOING DAN TITONG”: REFLEKSI KONTEKSTUAL PENDIDIKAN BERBASIS BUDAYA Selatang, Fabianus
IN VERITATE LUX Vol 1 No 2 (2018): IN VERITATE LUX: Jurnal Ilmu Kateketik Pastoral Teologi, Pendidikan, Antropologi,
Publisher : STP St. Bonaventura Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63037/ivl.v1i2.84

Abstract

Reflection is the basis of the distinction between the real and the ideal. Reflection shows that education is an integrated, dynamic system that leads to certain goals. That is the ideal of education. However, the reality on the ground certainly still leaves many problems. Indonesian-NTT educational migration now predominantly tends towards Java, specifically Malang. Every year, both state and private campuses are always flooded with students from NTT, especially Manggarai. However, the problem is that the output (graduates) and the availability of job opportunities in Manggarai are not comparable. The method used in this paper is descriptive-qualitative. The approach is cultural. In the human mind, culture that appears materially and specifically is then universalized conceptually. Therefore, through this article, the author wants to explore these universal values in the expressions toing and titong. Toing and titong are historical products and historical facts that teach very basic educational values for the Manggarai people.
Unisitas Dan Universalitas Keselamatan Yesus Dalam Konteks Pluralitas Agama Di Indonesia Selatang, Fabianus
Jurnal Masalah Pastoral Vol 4 No 1 (2016): JUMPA (Jurnal Masalah Pastoral)
Publisher : Sekolah Tinggi Katolik Santo Yakobus Merauke

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.60011/jumpa.v4i1.19

Abstract

Konsep keselamatan dalam Katolik jelas berbeda dengan pengertian keselamatan dalam agama-agama lain. Konsep keselamatan yang diwartakan oleh Yesus mampu dipahami oleh umat Katolik. Akan tetapi, bagi umat non Katolik, konsep keselamatan Yesus Kristus tidaklah mudah diterima apalagi diakui. Pertanyaannya ialah bagaimana mungkin umat non Katolik bisa menerima Yesus yang datang ke dunia, mengalami penderitaan, sengsara dan wafat di salib dapat menyelamatkan semua orang? Bagi umat Katolik, unisitas karya keselamatan Yesus bersumber pada persekutuan keallahan, pada hidup dan karya Tritunggal. Pengakuan orang Katolik terhadap unitas dan universalitas keselamatan Yesus merupakan bentuk pengakuan eksplisit. Bagaimana dengan konsep universalitas keselamatan Yesus bagi orang beragama bukan Katolik yang tidak secara eksplisit menyatakan iman akan Dia sebagai Sang penyelamat. Letak universalitas keselamatan Yesus sebagai kebenaran iman Katolik, bahwa kehendak penyelamatan universal Allah yang Satu dan Tritunggal disajikan dan dicapai sekali untuk selamanya dalam misteri inkarnasi, wafat dan kebangkitan Putera Allah. Misteri inkarnasi, wafat dan kebangkitan Yesus serta melalui komunikasi Roh Kudus, orang bukan agama Katolik menerima universalitas keselamatan Yesus.
Gereja Musafir Sebagai Antisipasi Hidup Eskatologis Selatang, Fabianus
Jurnal Masalah Pastoral Vol 5 No 2 (2017): JUMPA (Jurnal Masalah Pastoral)
Publisher : Sekolah Tinggi Katolik Santo Yakobus Merauke

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.60011/jumpa.v5i2.48

Abstract

Tujuan tulisan ini ialah untuk menggali kekayaan kazanah teologi Katolik tentang Gereja secara khusus yang akan digali dalam tulisan ini tentang Gereja musafir. Kata Musafir mau mengatakan sebuah “perjalanan”. Gereja Katolik yang sedang berziarah di dunia ini menjadi tanda kehadiran Gereja eskatologis atau Gereja jaya. Gereja Musafir dikatakan sebagai tanda karena ia (Gereja) sudah mengantisipasi hidup eskatologis. Metode yang dipakai dalam tulisan ini adalah studi literer dokumen Gereja mengenai “Lumen Gentium”. Berdasarkan telaah isi dokumen ini, penulis menemukan nilai-nilai dan kekayaan yang luar biasa mengenai gagasan Gereja musafir dalam hubungannya dengan Gereja jaya. Ada hubungan yang begitu mendalam dan erat antara Gereja musafir dengan Gereja menderita dan Gereja jaya. Ketiganya berada dalam persekutuan yang mendalam berkat iman akan Kristus. Dasar persekutuan sudah dibangun di atas, dalam, dengan dan bersama Yesus melalui rahmat Sakramen Pembaptisan. Oleh karena itu, meskipun suadara-saudari kita sudah meninggal, tetapi persekutuan antara orang hidup dan yang mati tidak berakhir dan putus oleh peristiwa kematian, melainkan tetap bersekutu dalam Kristus. Baik yang hidup maupun yang mati tetap milik Kristus. Panggilan persekutuan antara orang hidup dan mati sudah mulai sejak di dunia ini. Sifat eskatologis yang diperlihatkan oleh Gereja musafir antara lain paguyupan, kudus, Sakramen keselamatan dan tanda harapan. Oleh karena itu, Gereja musafir memberikan harapan baru bagi manusia yang masih hidup akan kehidupan eskatologis.
Panggilan Katekis di Tengah Revolusi Industri 5.0: Menyikapi Pesan Paus Fransiskus dalam Dokumen Antiquum Ministerium Julianti Fingki; Fabianus Selatang
Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik Vol. 8 No. 2 (2025): Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik
Publisher : STIKAS Santo Yohanes Salib Kalimantan Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58919/juftek.v8i2.179

Abstract

The Industrial Revolution 5.0 has a significant impact on social, economic, and cultural life, including religious practices. At the same time, the Antiquum Ministerium document issued by Pope Francis emphasizes the importance of the role of catechists in guiding the faithful towards a deeper understanding of the faith. Therefore, there needs to be an adjustment of catechesis methods and approaches in order to be able to answer the challenges and needs of today's generation who are familiar with technology. The purpose of this paper is to analyze how catechists can carry out and adapt their life callings in the context of the Industrial Revolution 5.0, as well as to identify the challenges they face in facing the changing times and develop effective strategies for Catholic faith education in the digital age. The method used in this study is a literature study. Literature study is a series of activities related to the method of collecting library data, reading and recording and processing research materials. Literature studies study various reference books as well as the results of previous research. Catechists have an important role to play in teaching and fostering the faith of the people, serving as an example that reflects the teachings of Christ, especially in the context of the Industrial Revolution 5.0 which emphasizes social welfare and the use of technology. In the midst of rapid change, they are expected to bridge the gap between faith and technology, leveraging digital advancements to achieve the catechesis mission. Thus, catechists not only contribute to the teaching of doctrine, but also become agents of change who spread the values of love and hope to society.
Analisis Konsep Kerasulan Awam Paus Fransiskus Dalam Dokumen Antiquum Ministeruim Art. 6 ., Wiwin; Selatang, Fabianus; Herin, Bergita
SAPA - Jurnal Kateketik dan Pastoral Vol 10 No 1 (2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Pastoral IPI Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53544/sapa.v10i1.688

Abstract

Dokumen Antiquum Ministerium Paus Fransiskus menggarisbawahi betapa pentingnya kerasulan awam di era sekarang. Latar belakang penelitian ini adalah untuk memahami secara menyeluruh bagaimana dokumen tersebut menjelaskan dan mendukung konsep kerasulan awam, serta bagaimana hal itu berdampak pada perkembangan teologi dan praktik pastoral. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mempelajari peran dan tanggung jawab umat awam dalam misi gereja seperti yang digariskan dalam Antiquum Ministerium. Fokus utama dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan kesadaran akan panggilan umat awam untuk berpartisipasi secara aktif dalam kehidupan masyarakat dan gereja. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif untuk menganalisis dokumen. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Paus Fransiskus menegaskan kerasulan awam sebagai panggilan universal yang harus dipahami dalam terang identitas baptisan. Kaum awam adalah pelaku utama dalam menyebarkan Injil dan memiliki tugas untuk membangun komunitas iman di seluruh dunia. Penelitian ini menemukan bahwa dokumen ini memberikan dorongan yang signifikan untuk pemberdayaan umat awam. Ini berdampak besar pada teologi modern dan pendekatan pastoral yang lebih inklusif.
Transformasi Pelayanan Mahasiswa: Menyemai Inspirasi Melalui Pastoral Legio Maria Kami, Yoseph; Selatang, Fabianus
Perspektif Vol. 20 N.º 1 (2025): June 2025
Publisher : Aditya Wacana Pusat Pengkajian Agama Dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69621/jpf.v20i1.265

Abstract

This study will aim to look at the role played by the activities of the Legion of Mary towards the development of student ministry in the Pastoral Ministry Study Programme of STP-IPI. God created humans to depend on each other, and service is a tangible manifestation of mutual need. The spirit of proclamation, instilled by the good news and the sacrifice of Jesus, is the inspiration of the Church and everybody who is part and parcel of it; this encompasses students in the STP-IPI Pastoral Ministry Study Programme. Some factors, both intrinsic like personal interests and extrinsic like dependence on technology and pressure from academics, deny many of the students the opportunity to be actively involved in this service. Legion of Mary activities become a way of awakening and invigorating that spirit of service to Jesus in students. This research uses a quantitative method with an approach called quantitative description. The result shows that these activities hold an important role in forming students' services and are important in shaping characters and awareness of the importance of quality service.
Studi Fenomenologis tentang Stigma Disabilitas, Norma Sosial, dan Dinamika Masyarakat di Malang Selatang, Fabianus; Jelahu, Timotius Tote; Maradhita , Maria
Jurnal Moral Kemasyarakatan Vol 10 No 2 (2025): Volume 10, Nomor 2 - Desember 2025
Publisher : Universitas PGRI Kanjuruhan Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21067/jmk.v10i1.11845

Abstract

Disabilitas seringkali dipandang sebagai aib menjadi tantangan besar dalam mewujudkan inklusi sosial. Pertanyaannya ialah bagaimana norma sosial dan struktur komunitas mempengaruhi proses inklusi anak disabilitas di Malang? Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana norma sosial dan struktur komunitas memengaruhi proses inklusi anak disabilitas. Peneliti menggunakan jenis kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Sumber data dari 6 orang tua dari A/OBK dan 4 anak disabilitas di Malang. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam. Analisis data dilakukan melalui tahap horizontaling, clustering of meanings, dan textural description. Hasilnya menunjukkan bahwa relasi sosial keluarga dengan anak disabilitas dan komunitas bersifat dinamis dapat berubah melalui pengalaman emosional dan kedekatan relasional, bukan semata ditentukan oleh stigma yang bersifat tetap. Temuan ini memperkenalkan konsep ambivalensi komunitas sebagai ruang dan sumber eksklusi maupun inklusi sosial terhadap disabilitas. Hal ini membuka perspektif baru bahwa inklusi tidak selalu hadir secara penuh atau jelas, tetapi melalui proses negosiasi sosial yang kompleks. Kontribusi artikel ini pada pengembangan gagasan tentang ambivalensi struktural komunitas terhadap disabilitas dan menawarkan perspektif baru tentang transformasi sosial berbasis relasi dan pengalaman langsung, bukan hanya berbasis intervensi institusional atau kebijakan.
MEMBINGKAI RELASI ORANG HIDUP DAN MATI MELALUI TRADISI LISAN UPACARA TEING HANG Selatang, Fabianus
Studi Budaya Nusantara Vol. 4 No. 1 (2020)
Publisher : Studi Budaya Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The teing hang, a traditional ceremony in honour to the ancestors or the deceased is deeply rooted within the  culture of the Manggarai society. Although this ritual  is part of the local culture it still has many unresolved issues. The questions that often arise are: is teing hang a religious syncretism? Is it a dualistic faith practice? Does this not contradict to the content and the essence of Christian faith? Is this a form of idolatry? These questions encourage writers to explore the depth of the significance and the message of the teing hang ceremony. This study aims to explore the relationship between the living and the dead based on the oral tradition of the teing hang ceremony. Conceptually, the idea of the relationship meant here is based on the concept of birth. In the frame of the birth concept, the Manggarai has built a pattern of relationship with the ancestors or deceased people. This research is carried out through the use of qualitative methods. The data is analysed through structural and semiotic studies. The data is taken from a traditional figure in village N Sub-district Macang Pacar, West Manggarai regency. The results of this study show that the practice of  the teing hang ceremony in honour to the ancestors or deceased people is not a form of syncretism or idolatry. This is actually a way of proclaiming faith. The Church wants to say to the Manggarai society that by the teing hang ceremony there is a supranatual power that isn't enough explained by reason completely. The Church wishes to show to its believers that the message of the teing hang ceremony is far beyond what is visible to the human eyes. It is a spirituality rich ceremony that envelopes supernatural realities. Thus, the teing hang ceremony provides a new means of expressing faith through symbolic languages.
MELAWAN RELIGIOUS IGNORANCE: (Dialog Ide The Sense of Fullness menurut Charles Taylor dan Zen) Selatang, Fabianus
SAPA - Jurnal Kateketik dan Pastoral Vol 1 No 2 (2016)
Publisher : Sekolah Tinggi Pastoral IPI Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini merupakan sebuah upaya untuk mengelaborasi pemikiran Charles Taylor yang tertuang dalamA Secular Agedan ajaran Zen. Dalam terang tulisan itu nampak bahwa nilai-nilai religius masih pantas dipeluk oleh manusia zaman ini. Bahkan di tengah gejala kedangkalan dan keputusasaan, agama justru senantiasa menawarkan kekuatan yang pantas direfleksikan karena mampu membawa manusia ke kedalaman hidupnya sebagai makluk religius yang selalu mencari cita rasa kepenuhandi dalam hidupnya. Di tengah era sekularisme yang telah memarginalisasikan nilai agama ke dalam ranah privat manusia, agama masih memiliki spirit dan kekuatan yang memungkinkan manusia mencapai kedalaman meaning di dalam hidupnya. Sebenarnya keprihatinan terbesar bukan hanya soal pengurungan nilai-nilai agama ke dalam ranah privat manusia, melainkan juga pada persoalan kejenuhan manusia dengan pergumulan personal dan komunal terhadap agama yang pada akhirnya menciptakan pribadi yang ignorant terhadap nilai-nilai religius. Status Questionis-nya adalah apakah memang nilai-nilai religius tidak begitu relevan lagi dan tidak menjadi prioritas bagi manusia dewasa ini sebagaimana ciri khas masyarakat sekular? Atau apakah gambaran sosio-religius semacam itu hanyalah ekspresi keangkuhan intelektual manusia yang pada akhirnya menjebak manusia kepada suatu pengalaman disengagement? Apakah benar bahwa agama menciderai nilai-nilai kebebasan dan otonomitas manusia yang kini sungguh-sungguh menjadi ideal tertinggi kaum sekular sehingga agama dianggap hanya pantas berada dalam ruang-ruang ibadat kaum tradisionalis?
PENDIDIKAN SEBAGAI HABITUS TRANSFORMASI DIRI: Kajian definisi, aspek dan tujuan Pendidikan Selatang, Fabianus
SAPA - Jurnal Kateketik dan Pastoral Vol 3 No 1 (2018)
Publisher : Sekolah Tinggi Pastoral IPI Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan definisi, aspek dan tujuan pendidikan dari sudut pandang filsafat. Filsafat pendidikan menyentuh tiga hal penting yakni being and reality, knowledge, and value. Ketiga hal penting itu dikupas dalam konteks pendidikan di Indonesia dewasa ini. Penulis mengawali pembicaraan ini dari hingar-bingar dan sepak terjang perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin canggih. Saat yang sama, manusia dihadapkan dengan idealisme dan tuntutan zaman. Metode yang dipakai oleh penulis adalah kepustakaan dengan mengkaji beberapa literatur yang terkait dengan filsafat pendidikan. Penulis mendalami dan manggali dari beberapa literatur terkait pendidikan. Yang akan dikaji dan didalami dari tema mengenai pendidikan ini ialah definisi, aspek dan tujuan pendidikan. Selain tiga hal tersebut, penulis menambahkan beberapa sub bagian yang terkait dengan judul di atas. Hasil temuan dari kajian literatur ini antara lain. Pertama, gagasan pendidikan sebagai habitus merupakan kajian yang emblematis. Dikatakan demikian karena pendidikan dihadapkan dengan konsep-konsep yang diusung oleh modernitas. Ketika pendidikan hanya menekankan aspek akal budi, maka aspek karakter, religiusitas, moralitas, dan reflektif kurang mendapat tempat. Kedua, pendidikan dewasa ini dihadapkan pada dua hal yakni idealisme dan impasse (kebutuhan). Ketiga, subjek dari pendidikan ialah manusia. Oleh karena itu, pendidikan menyentuh totalitas diri manusia seutuhannya dan bukan manusia yang parsial. Kesimpulanya, pendidikan sebagai habitus transformasi diri mengajak setiap pelaku pendidikan untuk mengembalikan roh dari pendidikan itu sendiri, sehingga rohnya tidak tercabut dan direduksi dari manusia modern.