Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Determination of Beta-carrot Levels of Campolay Fruit (Pouteria campechiana) by Method HPLC Yusuf Irfan; Andini Putri Riandani; Anita Suri; Mutiah Aulia Amali
Syntax Idea 3450-3458
Publisher : Ridwan Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Besides its sensory characteristics, campolay fruit has the potential to be functional food. The yellow color of campolay fruit indicates the presence of carotenoids. One highly beneficial group of carotenoids is beta-carotene, which is abundantly available in agricultural products and makes this compound one of the most advantageous components in the prevention and treatment of various types of eye diseases. HPLC, which stands for High-Performance Liquid Chromatography, is a chemical analysis technique used to separate, identify, and measure the components in a solution mixture. The beta-carotene testing process in campolay fruit is conducted using High-Performance Liquid Chromatography (HPLC) equipment with a visible light detector at a wavelength of 446 nm. From the HPLC analysis, the regression equation obtained is y = 366032x - 6388. From the standard beta-carotene solution, a linear relationship between absorbance and concentration was obtained with a correlation coefficient (r) of 0.9996. The peak area of the campolay fruit extract was obtained. The sample concentration is calculated by comparing the peak area of the sample with the peak area of the standard beta-carotene, resulting in the beta-carotene concentration of the campolay fruit extract using the high-performance liquid chromatography method. Based on the beta-carotene concentration of the campolay fruit obtained from this study, it can be concluded that the beta-carotene concentration of the campolay fruit is 0.15 mg/L
Strategi Pemilihan Supplier Bahan Baku dalam Mendukung Peningkatan Kinerja UMKM Bananas Food Nida An Khofiyah; Juhaeni Juhaeni; Yusuf Irfan; Supriyati Supriyati; Hasyrani Windyatri
ABDIKAN: Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Sains dan Teknologi Vol. 4 No. 3 (2025): Agustus 2025
Publisher : Yayasan Literasi Sains Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55123/abdikan.v4i3.6219

Abstract

Supplier selection is important in the production process, because raw materials greatly affect product results and production continuity. In Bananas Food Micro, Small and Medium Enterprises (MSMEs) located in Bekasi Regency, the main problem faced is that there is no mechanism or system for selecting the right raw material suppliers to meet production needs. Bananas Food MSMEs have also not implemented a method in supplier selection, so they have more than one supplier. This research was conducted using the Analytical Hierarchy Process (AHP) method. The criteria that are prioritized in supplier selection include availability, quality, and price and location. This study aims to determine the best supplier from several alternative suppliers. Based on the results of ranking the selection of banana raw material suppliers using the AHP method, determining supplier B as the best supplier for Bananas Food MSMEs with a weight value of 0.46, supplier C as the second alternative with a weight of 0.25, supplier D as the third alternative with a weight of 0.18, and supplier A as the fourth alternative with a weight of 0.11.
Menganalisis Umur Simpan Produk untuk Kelengkapan Informasi Label di UKM Keripik Kentang Balado. YUSUF IRFAN
Jurnal Pelita Pengabdian Vol. 1 No. 1 (2023): Januari 2023
Publisher : DPPM Universitas Pelita Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37366/jpp.v1i1.1587

Abstract

Pengemasan dan labelling dalam lingkup pemasaran produk makanan merupakan aspek penting yang perlu diperhatikan. Label berfungsi sebagai identitas suatu produk agar konsumen dapat memilih produk secara benar dan tepat. Di wilayah Cibeunying Kidul Kota Bandung terdapat sebuah UKM yang memproduksi keripik kentang balado dalam kemasan. Akan tetapi dari segi kelengkapan komponen label pada kemasannya masih belum memenuhi regulasi. Salah satu komponen yang wajib ada dalam label tersebut adalah tanggal, bulan dan tahun kadaluarsa. Sampel produk diinkubasi di dalam inkubator dengan tiga suhu penyimpanan yang berbeda yaitu suhu 25°C, 30°C, dan 45°C. Sampel dianalisis dengan parameter hedonik, kadar FFA, dan kadar air setiap 7 hari selama 28 hari (hari ke 0, 7, 14, 21, dan 28). Hasil akhir dari analisis umur simpan produk berdasarkan prinsip Accelerated Shelf Life Test (ASLT) model Arrhenius. Jika diasumsikan produk dikondisikan pada suhu ruang ±25°C maka umur simpannya adalah 37 hari. Hasil analisis ini kemudian diinformasikan kepada pihak UKM untuk kemudian diterapkan di label kemasannya.
Packaging & Labelling Produk UKM Dapur J24 Desa Mangunjaya, Bekasi Anita Suri; Yusuf Irfan; Dhonny Suwazan; Tantry Febrinasari
Jurnal Pelita Pengabdian Vol. 1 No. 2 (2023): Juli 2023
Publisher : DPPM Universitas Pelita Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37366/jpp.v1i2.2496

Abstract

Pemberdayaan UMKM adalah salah satu upaya strategis dalam mengantisipasi perekonomian masa depan. Sebagian besar UKM adalah terdiri dari industri olahan makanan. Salah satu UKM yang mengolah produk panganadalah UKM Dapur J24 yang dipimpin oleh ibu Dian Fitriani. Produk kering tempe dan kentang mustofa. Namun UKM Dapur J24 masih memiliki kendala dalam bidang pemasaran produk kentang dan kering tempe hal ini disebabkan kemasan yang kurang menarik, label yang tidak lengkap oleh karena itu perlu adanya pendampingan terkait pemilihan jenis kemasan dan pembuatan label kemasan yang tepat agar produk kering tempe bisa menjangkau pasar lebih luas. Kegiatan pengabdian akan berlangsung selama 3 bulan, berlokasi di Desa Mangunjaya, Tambun, Bekasi metode diskusi secara langsung dengan owner UKM Dapur J24. Langkah-langkah penelitian antara lain: 1) Analisa produk, 2) dimensi kemasan dan material, 3) visualisasi kemasan. Kemasan yang digunakan adalah jenis ziplock, berat produk 250 gram, dengan keseluruhan dilingkupi oleh label kemasan dengan perpaduan warna orange dan merah sebagai daya tarik bagi konsunen. Keseluruhan isi label kemasan telah memenuhi Peraturan Pemerintah (PP) No. 69 tahun 1999 tentang Label dan Iklan Pangan.
Sosialisasi dan Pencantuman Informasi Nilai Gizi Pada Produk Stik Mangrove UMKM Kebaya, Desa Pantai Bahagia, Muara Gembong, Bekasi. Anita Suri; Supriyanto Supriyanto; Putri Nabila Adinda Adriansyah; Yusuf Irfan; Dina Harlenci Fina
Jurnal Pelita Pengabdian Vol. 2 No. 1 (2024): Januari 2024
Publisher : DPPM Universitas Pelita Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37366/jpp.v2i1.2666

Abstract

Mangrove merupakan salah satu tanaman yang khas karena tumbuh di daerah pantai serta memiliki banyak manfaat untuk menjaga ekosistem perairan antara laut, pantai dan darat. UKM Kebaya atau Kelompok Bahagia Berkarya merupakan produsen yang mengolah buah mangrove menjadi berbagai produk olahan pangan, terletak di Desa Pantai Bahagia, Kecamatan Muaragembong, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Pencantuman nilai gizi juga merupakan salah satu syarat wajib pada kemasan produk pangan sesuai dengan peraturan BPOM. Kegiatan pengabdian masyarakat telah berlangsung pada 31 Agustus 2023 dan berlokasi di Desa Pantai Bahagia, Muaragembong, Bekasi. Hasil dari uji kandungan nutrisi dengan menggunakan metode yang berbeda menunjukkan kandungan lemak total, protein, karbohidrat total, gula total dan natrium pada Stik Mangrove secara berurutan adalah 25,60%, 10,77%, 58,54%, 2,36% dan 2530 ppm. Hasil kandungan nutrisi menunjukkan persentase kandungan tertinggi adalah pada karbohidrat yaitu 58,54%. Pencantuman Informasi Nilai Gizi (ING) pada kemasan stik mangrove sehingga kemasan dapat memenuhi Pemerintah (PP) No. 69 tahun 1999 tentang Label dan Iklan Pangan.