Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : JARSI

PENERAPAN LIMA LANGKAH OPERASI YANG AMAN DI RS X YOGYAKARTA Sundoro, Totok; Saputra, Yogatama Sidiq
Jurnal Administrasi Rumah Sakit Indonesia Vol 3 No 1 (2024): Jurnal Administrasi Rumah Sakit Indonesia
Publisher : STIKES RS Baptis Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tindakan pembedahan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pelayanan kesehatan dan merupakan salah satu tindakan medis yang penting. Bentuk manajemen kamar bedah yang efektif adalah penggunaan surgical safety checklist WHO. Diperlukan persepsi yang sama, komunikasi dan kerjasama antar Tim bedah yang baik. Surgical safety checklist WHO ini merupakan alat yang digunakan oleh Tim Bedah untuk meningkatkan keselamatan, menurunkan jumlah kematian dan kecacatan akibat pembedahan. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang kepatuhan pengisian checklist safety surgery di RS X Yogyakarta. Jenis penelitian eksperimen semu (quasi eksperimen) bentuk desain adalah one-group pretest-posttest design, artinya diadakannya pretest sebelum diberi treatment selanjutnya diukur dengan posttest setelah di treatment kepada petugas kamar operasi. Hasil pelaksanaan briefing efektif dilakukan dengan nilai Sig. (p) sebesar 0,000, pelaksanaan sign in efektif dilakukan dengan nilai Sig. (p) sebesar 0,041, pelaksanaan time out tidak efektif dilakukan dengan nilai Sig. (p) nya sebesar 0,333, pelaksanaan sign out tidak efektif dilakukan dengan nilai Sig. (p) nya sebesar 0,333, pelaksanaan debriefing tidak efektif dilakukan dengan nilai Sig. (p) nya sebesar 0,180. Disimpulkan bahwa pelaksanaan Safety Surgery Checklist pada saat operasi secara keseluruhan tidak efektif dilakukan dengan nilai Sig. (p) nya sebesar 0,174. Diperlukan adanya perhatian pihak manajemen dalam memfasilitasi peningkatan mutu pelayanan dengan menggunakan surgical safety checklist WHO dalam prosedur pembedahan di rumah sakit, melakukan pelatihan (in house training) tentang penggunaan surgical safety checklist WHO dalam prosedur pembedahan kepada Tim kamar operasi (dokter bedah, dokter anestesi, perawat bedah, dan penata anestesi), menunjuk perawat sebagai operator dalam menjalankan surgical safety checklist WHO, melakukan evaluasi rutin untuk penerapan surgical safety checklist.
PENGURANGAN RISIKO INFEKSI PELAYANAN KESEHATAN DI RUMAH SAKIT X YOGYAKARTA Sundoro, Totok
Jurnal Administrasi Rumah Sakit Indonesia Vol 5 No 1 (2026): Jurnal Administrasi Rumah Sakit Indonesia
Publisher : STIKES RS Baptis Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32660/jarsi.v5i1.963

Abstract

Rumah sakit (RS) merupakan sumber infeksi bagi petugas kesehatan, pasien dan juga pengunjung. Risiko terjadinya infeksi nosokomial dapat diminimalkan dengan melaksanakan PPI. Program pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI) wajib dilaksanakan sebagai upaya pengurangan risiko infeksi dirumah sakit dan menjadi salah satu elemen penilaian dalam standar akreditasi rumah sakit. Salah satu indikator patient safety adalah pengurangan resiko infeksi terkait dengan pelayanan kesehatan. Kejadian infeksi di RSUD Kota Yogyakarta tahun 2024 sebanyak 0,47%, pelaksanaan program sudah berjalan tapi belum optimal. Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi upaya pengurangan risiko infeksi di RS melalui studi kebijakan bersifat deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, telaah observasi dokumen dan FGD. Komponen input yang diteliti adalah (kebijakan, pelaksanaan dan hambatan). Hasil penelitian menunjukkan rumah sakit telah tersedia kebijakan dan pelaksanaan pengurangan risiko infeksi sudah tepenuhi lengkap dengan nilai skor 10 (100%). Kesimpulan dari penelitian ini adalah masih ada masih ditemukan adanya kasus Infeksi Daerah Operasi (IDO) setelah tindakan pasien operasi di RSUD Kota Yogyakarta. Kasus ini dapat disebabkan oleh tidak patuhnya pemakaian Antibiotik (AB) Profilakasis dan temuan sampah infeksius seperti masker di area Poliklinik rawat jalan yang dibuang tidak pada tempatnya. Regulasi dan pelaksanaan pengurangan risiko infeksi sudah sesuai standar akreditasi RS hanya perlu penguatan komitmen oleh seluruh staf RS. Memberikan edukasi kepada petugas RS khususnya petugas di ruang operasi pentingnya hand hygiene sebelum kontak ke pasien serta penyediaan anggaran dana, pengelolaan, serta penyediaan tempat sampah disetiap unit/bagian di RS.