Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

THE ROLE OF THE HUMANITARIAN ACTION INTERNATIONAL COMMITTEE FOR THE RED CROSS (ICRC) IN THE 2011 LIBYA REVOLUTION Setyorini, Fitri Adi
Journal of Islamic World and Politics Vol 5, No 1 (2021): JUNE
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (541.035 KB) | DOI: 10.18196/jiwp.v5i1.6694

Abstract

This study discusses the International Committee for the Red Cross (ICRC) role in protecting and assisting victims of the Libyan revolution in 2011. The purpose of this study is to explore more about the role of the International Committee for the Red Cross (ICRC) in protecting and assisting victims of war as one step on a humanitarian mission. The author used the non-government organizations (NGOs) and humanitarian action concepts. The author's research method to analyze this study was a descriptive method through a literature review. Based on research done, the author found that the revolution in Libya in 2011 was one of the effects of the Arab Spring in the Middle East region. The author also found that the ICRC carried out its humanitarian missions by providing food, water, medical supplies, medical equipment, and clothing.
Pelatihan Budidaya Sayuran Organik Secara Aquaponik Pada Peternak Lele di Desa Muntuk, Kabupaten Bantul Arie Kusuma Paksi; Fitri Adi Setyorini; Alen Tiara
Jurnal Abdimas BSI: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 5, No 2 (2022): Agustus 2022
Publisher : LPPM Universitas Bina Sarana Informatika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1130.603 KB) | DOI: 10.31294/jabdimas.v5i2.12683

Abstract

Dusun Seropan II terletak di Kelurahan Muntuk, Kepanewon Dlingo, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta dengan mayoritas masyarakat sebagai petani dan juga peternak lele. Pemenuhan kebutuhan air sehari-hari berasal dari sumur rumah tangga dengan kedalaman lebih dari 20 meter. Pada musim kemarau, pemenuhan kebutuhan air didapatkan dari sumber-sumber air yang terletak di daerah rendah dan sangat jauh dari pemukiman penduduk. Kondisi ini mempengaruhi pola pertanian di Dusun Seropan II yang berupa pertanian lahan kering dengan 1 kali panen setiap tahunnya. Melihat kondisi ini, pemenuhan kebutuhan air menjadi prioritas pembangunan desa karena berdampak terhadap sanitasi, kesehatan, dan pertumbuhan ekonomi masyarakat. Permasalahan lainnya yang dihadapi adalah sebagian besar peternak lele mengeluh kecilnya keuntungan yang diperoleh. Keuntungan tersebut tidak sebanding dengan besarnya tenaga dan biaya yang telah dikeluarkan. Peternak juga mengeluh karena cepat kotornya air kolam, sehingga frekuensi penggantian air meningkat. Solusi yang ditawarkan melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang difasilitasi dana hibah pengabdian dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta yaitu dengan melakukan penyuluhan, pelatihan dan pendampingan budidaya sayuran organik dengan metode aquaponik. Tanaman terpilih yang dibudidayakan selama kegiatan adalah sawi hijau (caisim) dan kangkung. Kedua sayuran ini diminati masyarakat sekitar. Luaran kegiatan ini berupa peningkatan keterampilan mitra akan budidaya sayuran secara aquaponik sehingga petani mampu menghasilkan produk baru berupa sayuran organik dan peningkatan pendapatan mitra.
Pendampingan Pembuatan Pupuk Organik untuk Meningkatkan Produksi Pertanian di Padukuhan Seropan II, Kelurahan Muntuk, Kepanewon Dlingo, Bantul Arie Kusuma Paksi; Alen Tiara; Fitri Adi Setyorini
E-Dimas: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 13, No 4 (2022): E-DIMAS
Publisher : Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/e-dimas.v13i4.11996

Abstract

Dusun Seropan II terletak di Kelurahan Muntuk dengan kondisi wilayah yang masih asri mendorong mayoritas penduduk menggantungkan hidup pada lahan pertanian dan perternakan. Permasalahan utama yang dihadapi oleh masyarakat adalah topografi wilayah yang curam dan tinggi menyebabkan corak pertanian di Dusun Seropan II menjadi pertanian lahan kering dengan 1 kali panen setiap tahun. Penggunaan pupuk buatan secara terus-menerus dapat memperpendek usia kesuburan tanah dan secara otomatis akan menurunkan kualitas hasil pertanian. Sementara limbah kotoran sapi dari peternakan belum termanfaatkan secara optimal. Perlu adanya dorongan agar masyarakat mampu mengurangi ketergantungan terhadap pupuk buatan dan beralih memproduksi pupuk organik secara mandiri. Masyarakat dapat menggunakan alternatif dalam bidang pertanian dengan memanfaatkan kotoran ternak sapi. Dengan harapan dapat menjaga kesuburan tanah dalam jangka waktu panjang serta mewujudkan sistem pertanian terpadu yang memanfaatkan limbah peternakan.
PENGUATAN KESIAPSIAGAAN BENCANA TANAH LONGSOR: KOLABORASI MAHASISWA, PEMERINTAH DESA, DAN MASYARAKAT Fitri Adi Setyorini; Muhammad Aris Pujiyanto; Anggi Fitria Cahyaningsih
Jurnal Pengabdian Masyarakat Sabangka Vol 5 No 03 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat Sabangka
Publisher : Pusat Studi Ekonomi, Publikasi Ilmiah dan Pengembangan SDM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62668/sabangka.v5i03.2450

Abstract

This community service program aimed to improve the preparedness of the residents of Kemawi Village, Somagede District, Banyumas Regency toward the potential risk of landslides. Kemawi Village has hilly topography, high rainfall intensity, and considerable vulnerability to landslides, making efforts to enhance community understanding of disaster mitigation highly necessary. The program was implemented through disaster awareness socialization and participatory Focus Group Discussions (FGDs) involving local residents, village officials, community leaders, and community organizations. The activities covered topics such as early signs of landslides, early warning systems, evacuation routes, and simple community-based mitigation measures. Through these activities, the community demonstrated improved understanding of disaster preparedness and was able to identify landslide-prone areas and formulate mitigation measures based on local conditions. This community service activity is expected to strengthen community capacity in building disaster preparedness and support the development of a sustainable disaster-resilient community.
EVALUASI PROGRAM BANYUMAS SEJAHTERA SEBAGAI BENTUK LOKALISASI NORMA GLOBAL DALAM REINTEGRASI PEKERJA MIGRAN Fitri Adi Setyorini; Rifka Amalia; M. Aris Pujiyanto
HUMANIS: Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 18 No. 1 (2026): Januari
Publisher : LPPM UNISDA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52166/humanis.v18i1.10982

Abstract

Mobilitas pekerja migran merupakan fenomena global yang tidak hanya berdampak pada negara penerima, tetapi juga menghadirkan tantangan signifikan bagi negara asal, terutama dalam hal reintegrasi sosial dan ekonomi pasca-kepulangan. Kabupaten Banyumas menjadi salah satu kantong migran asal Indonesia yang menghadapi problematika serupa. Program Banyumas Sejahtera hadir sebagai inisiatif pemerintah daerah untuk mendukung reintegrasi pekerja migran melalui pelatihan keterampilan, dukungan ekonomi, dan pendampingan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas Program Banyumas Sejahtera sebagai bentuk lokalisasi norma global dalam kebijakan reintegrasi pekerja migran. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan studi kasus, data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan analisis dokumen terhadap pelaksanaan program. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program ini telah menjangkau sebagian besar pekerja migran yang kembali, terutama kelompok prosedural, melalui intervensi sosial-ekonomi berbasis komunitas. Meskipun demikian, terdapat sejumlah tantangan seperti keterbatasan sumber daya, rendahnya partisipasi migran non-prosedural, dan kurangnya kerangka evaluasi berbasis norma internasional. Secara konseptual, program ini mencerminkan proses lokalisasi norma global seperti safe and dignified return dan reintegrasi berkelanjutan sebagaimana diatur dalam Global Compact for Migration dan SDG 10.7. Studi ini berkontribusi pada kajian Hubungan Internasional dengan menyoroti dinamika penerjemahan norma global ke dalam praktik kebijakan lokal, serta pentingnya penguatan peran pemerintah daerah dalam tata kelola migrasi transnasional.
ADOPSI TEKNOLOGI DIGITAL PADA UMKM PEMULA DI KABUPATEN CILACAP: PENGARUH GENDER TERHADAP AKSES, PENGGUNAAN, DAN KEBERLANJUTAN Muhammad Aris Pujiyanto; Anggi Fitria Cahyaningsing; Fitri Adi Setyorini; Taufik Budhi Pramono; Ratna Satriani; Nur Wijayanti
AGRIBIOS Vol 23 No 02 (2025): NOVEMBER
Publisher : Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36841/agribios.v23i02.7017

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis adopsi teknologi digital pada UMKM pemula di Kabupaten Cilacap, dengan fokus pada pengaruh gender terhadap tiga aspek utama: akses, penggunaan, dan keberlanjutan teknologi. Menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain survei korelasional, penelitian ini melibatkan 50 responden yang terdiri dari 25 pelaku usaha laki-laki dan 25 pelaku usaha perempuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa akses terhadap teknologi memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap adopsi teknologi digital (p = 0,000), sementara penggunaan teknologi tidak menunjukkan pengaruh signifikan (p = 0,552), yang mencerminkan bahwa meskipun UMKM telah memanfaatkan teknologi, pemanfaatannya belum mendalam atau strategis. Keberlanjutan bisnis menunjukkan pengaruh negatif yang signifikan (p = 0,018), menandakan bahwa UMKM yang lebih fokus pada stabilitas dan keberlanjutan usaha lebih berhati-hati dalam mengadopsi teknologi disruptif. Penelitian ini juga mengungkapkan adanya ketimpangan gender dalam hal akses teknologi, di mana perempuan UMKM lebih terbatas dalam memanfaatkan teknologi dibandingkan laki-laki, khususnya terkait dengan waktu, infrastruktur, dan peran domestik. Oleh karena itu, strategi digitalisasi yang inklusif dan sensitif terhadap gender sangat diperlukan untuk mengurangi kesenjangan digital, terutama bagi UMKM perempuan. Temuan ini memberikan wawasan penting untuk merumuskan kebijakan dan program intervensi yang dapat memperkuat adopsi teknologi digital secara lebih merata dan berkelanjutan, yang pada akhirnya dapat meningkatkan daya saing UMKM di Kabupaten Cilacap.
Implications of Specified Skilled Workers Visa on Japan’s Health Sector Labor Market Equilibrium Fitri Adi Setyorini; RR. Zahroh Hayati Azizah
Jurnal Ilmu Sosial Indonesia (JISI) JISI: Vol. 7, No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP),UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jisi.v7i1.44172

Abstract

The Japanese government introduced the specified skilled worker visa in response to the increasing labor crisis, especially in the health sector. This study uses a quantitative approach to analyze the implications of implementing the specified skilled worker's visa on the labor market balance in the Japanese health sector. The data for this study consists of secondary data obtained from official government reports, scientific publications, and statistics of foreign workers working in the health sector. The data collection technique uses document analysis of these sources. The analytical methods used include descriptive statistical analysis to describe labor trends and inferential analysis to test the hypothesis of the impact of the specified skilled worker's policy on the labor market balance. The results show that the specified skilled worker's visa has successfully reduced the health sector's labor shortage. Still, it also poses new challenges, such as the need for further training and cultural adaptation. In addition, this study shows that although the specified skilled worker's visa provides a short-term solution to the labor crisis, the program's sustainability requires more comprehensive supporting policies. This study contributes to the existing literature by highlighting the importance of integrating foreign workers through continuous training policies and cultural adaptation programs to ensure long-term productivity and labor market balance in the Japanese health sector.