Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

PENERAPAN DOSIS DAN LAMA FERMENTASI OLEH KAPANG TRICHODERMA VIRIDE TERHADAP KANDUNGAN SERAT KASAR DAN TANIN PADA TONGKOL JAGUNG L. S. Enawati
Partner Vol 21, No 2 (2016): Edisi November
Publisher : Politeknik Pertanian Negeri Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35726/jp.v21i2.222

Abstract

A studies have been conducted in Almira Kupang, East Nusa Tenggara on fermented corn cob with fungi Trichoderma viride, in order to determine the content of tannins and crude fiber corncobs after fermentation by treatment dosage and duration of molds fermentation. The study was designed using a completely randomized design (CRD) patterned with a 4x5x3 factorial. The main factor was the dose of mold (D),having 0; 2.5; 5 and 7.5 g/ kg and the second factor was the period of the fermentation time (W), having 0, 4, 8,12 and 16 days; and 3 replications each. The results showed a significant effect of treatment (P<0.05) on tannin and crude fiber content in fermented corn cob.The treated combination of D7,5-W12 was the best treatment to decrease tannins content from 12.75% to 5.18% and crude fiber content from 20.54% to 35.67%. Thus the best fermentation results were shown on the application of the fungus Trichoderma viride at the dose of 7.5 g/ kg fermented for 12-days. It is recommended to do further research feeding animals with the feremented corn cob, especially ruminants.Keywords: Corn Cobs, Trichoderma viride, Tannin, Crude Fiber
KUALITAS SILASE CAMPURAN RUMPUT KUME (Sorghum plumosum var. Timorense) DAN DAUN GAMAL (Gliricidiasepium) DENGAN RASIO BERBEDA (QUALITY of SILAGES MIXED of Sorghum plumosum var. Timorense GRASS and Gliricidia sepium LEAVES in DIFFERENT RATIOS) Alberth Nugrahadi Ndun; Maritje Aleonor Hilakore; Luh Sri Enawati
JURNAL NUKLEUS PETERNAKAN Vol 2 No 1 (2015): Juni 2015
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/nukleus.v2i1.735

Abstract

The study purpose was to evaluate chemical compostion of the silage composed of Sorghum plumosum var. Timorense grass, and Gliricidia sepium leaves in defferent ratios. Completely randomized design 4 X 3 was applied in this study. The four treatments applied:100% Sorghum plumosum var. Timorense grass + 100% Gliricidia sepium leaves ; R0 = Mixture of 60% Sorghum plumosum var. Timorense grass : 40% Gliricidia sepium leaves ; R1 = Mixture of 70%, Sorghum plumosum var. Timorense grass : 30% Gliricidia sepium leaves ; R2 = Mixture of 80%, Sorghum plumosum var. Timorense grass : 20% Gliricidia sepium leaves ; R3 = Mixture of 90%, Sorghum plumosum var. Timorense grass : 10% Gliricidia sepium leaves. All treatments were preserved by adding 3% liquid sugar. Parameter measured: pH, crude protein (CP), crude fiber (CF) and fat cntent (FC). The results showed that CP increased 13.08 % in R0 was the best, and the lowest in R3 (8.25%), in line with the increasing number of Gliricidia leaves, leaves of Gliricidia additions also increase FC of coarse in R0 (6.14%) was the best, while the lowest in R3 (3.37%). with the increasing number of Gliricidia leaves that reduced CF in R0 (27.99 % ) was the lowest, while the highest in R3 (33.36%). Results showed significant effect (P<0,05) on the quality of silage mix of Sorghum plumosum var. Timorense grass and Gliricidia sepium leaves. The conclusion drawn is that including Gliricidia sepium leaves in silaging Sorghum plumosum var. Timorense grass can increase silage quality ABSTRAK Tujuan penelitian untuk mengetahui kualitas kimia silase campuran rumput kume dan daun gamal. Rancangan Acak Lengkap digunakan dalam penelitian ini, terdiri dari 4 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan yang dimaksud adalah : RK = rumput kume 100% dan RG = daun gamal 100% sebagai pembanding ; R0 = Ratio rumput kume 60% : daun gamal 40% ; R1 = Ratio rumput kume 70% : daun gamal 30% ; R2 = Ratio rumput kume 80% : daun gamal 20% ; R3 = Ratio rumput kume 90% : daun gamal 10%, masing-masing ditambahkan gula air 3%, sebagai pengawet. Parameter yang diamati adalah : derajat keasaman (pH), komposisi kimia (protein kasar, serat kasar, dan lemak). Hasil penelitian, menunjukkan kandungan protein kasar meningkat yakni pada perlakuan R0 sebanyak 13,08% merupakan yang terbaik, sedangkan yang terendah pada perlakuan R3 sebanyak 8,25% seiring bertambahnya jumlah daun gamal, penambahan daun gamal juga meningkatkan kandungan lemak kasar, yakni pada perlakuan R0 sebanyak 6,14% merupakan yang terbaik. Sedangkan yang terendah pada perlakuan R3 sebanyak 3,37%. Dengan bertambahnya jumlah daun gamal menurunkan kandungan serat kasar yaitu pada perlakuan R0 sebanyak 27,99% merupakan yang terendah, sedangkan yang tertinggi pada R3 sebanyak 33,36%. Hasil uji lanjut juga menunjukkan pengaruh yang nyata (P<0,05) terhadap kualitas silase campuran rumput kume dan daun gamal. Kesimpulannya penambahan daun gamal dalam campuran silase rumput kume meningkatkan kualitas silase.
FERMENTASI JERAMI KACANG HIJAU MENGGUNAKAN CAIRAN RUMEN KAMBING DENGAN WAKTU YANG BERBEDA TERHADAP KONSENTRASI NH3 DAN VFA SECARA in-vitro Benny Yohanes Wole; Arnold Elyazer Manu; Luh Sri Enawati
JURNAL NUKLEUS PETERNAKAN Vol 5 No 1 (2018): Juni 2018
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/nukleus.v5i1.829

Abstract

The purpose of the present study was to determine the effect of mung bean hay fermented with goat rumen liquor at different time on NH3 concentration and VFA at in-vitro. A Completely Randomized Design with five treatments and three replicates was used in this study. The treatments were R0: mung bean hay + sugar + microbe starter without fermentation; P1: mung bean hay + sugar + 1 week microbe starter fermentation; P2: mung bean hay + sugar + 2 weeks microbe starter fermentation; P3: mung bean hay + sugar + 3 weeks microbe starter fermentation and P4: mung bean hay + sugar + 4 weeks microbe starter fermentation. The results showed that rumen starter liquor as microbe source had no significant effect (P>0.05) on NH3 concentration and VFA. The NH3 and VFA concentrations were 4.8 mM and 88,57, respectively. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan starter cairan rumen kambing sebagai sumber mikroba dalam fermentasi jerami kacang hijau dengan lama waktu yang berbeda terhadap konsentrasi NH3 dan VFA secara in-vitro. Penelitian ini telah dilaksanakan di laboratorium kimia pakan Fakultas Peternakan Universitas Nusa Cendana Kupang selama 8 minggu. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan yang diterapkan yaitu : P0 = Jerami Kacang Hijau + Gula + Starter Mikroba Tanpa Fermentasi, P1 = Jerami Kacang Hijau + Gula + Starter Mikroba difermentasi 1 minggu, P2 = Jerami Kacang Hijau + Gula + Starter Mikroba difermentasi 2 minggu, P3 = Jerami Kacang Hijau + Gula + Starter Mikroba difermentasi 3 minggu dan P4 Jerami Kacang Hijau + Gula + Starter Mikroba difermentasi 4 minggu. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa pemberian starter cairan rumen sebagai sumber mikroba dalam fermentasi jerami kacang hijau memberikan pengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap konsentrasi NH3 dan VFA. Kisaran optimum konsentrasi NH3 6-21 mM, sedangkan hasil penelitian menunjukan kisaran 4.8 mM. Kisaran optimum untuk VFA 80-160 mM, sedangkan hasil penelitian cenderung menurun dari kisaran 103,35-81,07 dengan rataan 88,57.
PENGARUH PEMBERIAN KONSENTRAT YANG MENGANDUNG TEPUNG DAUN KELOR DENGAN LEVEL YANG BERBEDA TERHADAP PENGGUNAAN NITROGEN KAMBING LOKAL L. S. Enawati; Markus M. Kleden; Marfandi M. Robo
Journal of Tropical Animal Science and Technology Vol 1 No 1 (2019): Journal of Tropical Animal Science and Technology
Publisher : Program Studi Peternakan, Fakultas Pertanian Universitas Timor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (794.019 KB) | DOI: 10.32938/jtast.v1i1.294

Abstract

The study aimed to determine the effect of the use of feed concentrates containing Moringa leaf flour on protein consumption, protein digestibility and rumen ammonia concentration. Data were analyzed using a randomized block design (RBD) with 4 treatments and 3 replications, and continued with the Duncan test. The treatments in this study include: K1: Concentrate without the use of Moringa leaf flour; Concentrate with the addition of 10% Moringa leaf flour; K3: Concentrate with the use of Moringa leaf flour 20%; and K4: Concentrate with the use of 30% Moringa leaf flour. The variables determined were Rough Protein Consumption and Digestion and rumen NH3 Concentration. The results showed that protein (g / tail / day) consumption and crude protein digestibility (%) were highest in the treatment of K4: 36.37 and 72.01, then followed by K3: 35.81 da. 71.93; K2: 35.06 and 69.85 and K1: 31.99 and 59.91. The highest rumen NH3 (mM) concentration is also occupied by K4: 19.77 followed; K3: 18.24; K2: 16.48 and K1: 11.16. The results of statistical analysis showed that the treatment had no significant effect (p> 0.05) on consumption and had a significant effect (p<0.05) on the digestibility coefficient of crude protein and rumen NH3. It was concluded that the use of Moringa leaf flour as a constituent component to the level of 30% can be used for animal feed to increase consumption and nutrient digestibility of livestock as well as the provision of rumen NH3.
Kandungan Nutrisi dan Energi Silase Campuran Sorgum dan Kelor yang Ditanam pada Jarak Tanam Kelor Berbeda: Nutrient and energy Content of Mixed Silage of Sorghum and Moringa at Different Spacing Planting Distance of Moringa Theofilus Odolfus Milo; Markus Miten Kleden; Luh Sri Enawati
Jurnal Peternakan Lahan Kering Vol. 6 No. 1 (2024): Maret
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Plant spacing is closely related to the growth, production and nutritional content of forage crops, both grown alone and mixed. This research attempts to determine the effect of a mixture of sorghum and moringa grown at different spacings of moringa on the content of BETN, TDN and gross energy. The materials used were forage sorghum and moringa obtained from different plant distances. Using a completely randomized design (CRD) with 4 groups and 4 replications. The treatment in question is silage made from sorghum and moringa biomass at different spacings of Moringa, namely S0: sorghum silage without moringa, S40, S60 and S80: moringa sorghum silage with moringa planting spacings of 40x40, 60x60 and 80x80 cm respectively, The spacing of sorghum for all treatments was 40x40 cm. Parameters measured were the content of Non-nitrogen Extract Material (BETN), Total Digestible Nutrient (TDN) and Gross Energy (GE). Statistical analysis found that treatment had no significant effect (P>0.05) on BETN, TDN, and GE. It can be concluded that the silage of a mixture of sorghum and moringa grown at different spacings of moringa produced relatively the same content of BETN, TDN and GE. Jarak tanam berhubungan erat dengan pertumbuhan, produksi dan kandungan nutrisi tanaman pakan baik yang ditanam sendiri maupun campuran. Riset ini mencoba untuk mengetahui efek campuran sorgum dan kelor yang ditanam dengan jarak tanam kelor berbeda terhadap kandungan BETN, TDN dan gross energi. Materi yang digunakan yaitu hijauan sorgum serta kelor yang diperoleh dari jarak tanan berbeda. Menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 kelompok dan 4 ulangan. Perlakuan yang dimaksud yakni silase yang dibuat dari biomasa sorgum dan kelor pada jarak tanam kelor yang berbeda, yaitu S0: silase sogum tanpa kelor, S40, S60 dan S80: silase sorgum kelor dengan jarak tanam kelor masing-masing 40x40, 60x60 dan 80x80 cm, jarak tanam sorgum untuk semua perlakuan yaitu 40x40 cm. Parameter yang diukur adalah kandungan Bahan Ekstrak Tanpa nitrogen (BETN), total Digestibel Nutrient (TDN) dan Gros Energy (GE). Analisis statistik mendapatkan perlakuan berpengaruh tidak signifikan (P>0,05) pada BETN, TDN, dan GE. Dapat disimpulkan bahwa silase campuran sorgum dan kelor yang ditanam pada jarak tanam kelor berbeda menghasilkan kandungan BETN, TDN dan GE yang relatif sama.
PENGARUH PENGGUNAAN SILASE RUMPUT KUME (Shorgum plumosum var. timorense) DAN DAUN KELOR (Moringa oleifera) DENGAN LEVEL BERBEDA TERHADAP FERMENTASI RUMEN SECARA IN-VITRO Maria Nita; Markus Miten Kleden; Luh Sri Enawati
Jurnal Peternakan (Jurnal of Animal Science) Vol 10, No 2 (2026): JURNAL PETERNAKAN (JURNAL OF ANIMAL SCIENCE)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jas.v10i2.23621

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji fermentasi rumen In vitro silase campuran rumput kume  dan daun kelor dengan level berbeda.  Parameter yang dikur meliputi pH, Volatile Fatty Acid (VFA), dan ammonia (NH?). Metode yang digunakan berupa eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari empat perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan dimaksud adalah P0: 100% umput kurme; P1: 75% rumput kume + 25% daun kelor; P2: 50% rumput kume + 50% daun kelor; P3: 25% rumput kume + 75% daun kelor.  Analisis data dilakukan dengan ANOVA, dilanjutkan uji LSD menggunakan SPSS Seri 21. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai pH berturut-turut adalah P0:7,167; P1:7,167; P2:7,267; dan P3:7,367. Konsentrasi VFA masing-masing adalah P0:57,597; P1:68,198; P2:82,050; dan P3:99,849, sedangkan konsentrasi NH? berturut-turut adalah P0:2,946; P1:5,089; P2:7,762; dan P3:8,904. Hasil analisis statistik menunjukkan penggunaan daun kelor yang semakin tinggi mempengaruhi konsentrasi VFA dan NH3 namun tidak mempengaruhi  pH rumen. Dapat disimpulkan bahwa  konsentrasi VFA dan NH? sangat tergantung pada level daun kelor sedangkan nilai pH cairan rumen tidak tergantung pada level daun kelor dengan level daun kelor terbaik adalah 75%
KOMPOSISI KIMIA SILASE RUMPUT KUME (Shorgum plumosum var. Timorence) DAN DAUN KELOR (Moringga oleifera) DENGAN IMBANGAN BERBEDA imeldiana linda luju; Markus Miten Kleden; Luh Sri Enawati; Gusti Ayu Yudiwati Lestari
Jurnal Peternakan (Jurnal of Animal Science) Vol 10, No 1 (2026): JURNAL PETERNAKAN (JURNAL OF ANIMAL SCIENCE)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jas.v10i1.21884

Abstract

Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi komposisi kimia (PK, LK, BETN, TDN) yang terdapat dalam silase rumput Kume (Sorghum plumosum var. Timorence) dan daun kelor (Moringa oleifera) dengan perbandingan yang berbeda. Studi ini menerapkan metode eksperimen melalui desain Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang tersusun atas 4 perlakuan dan 3 pengulangan. Perlakuan yang diberikan tersusun atas P0: 100% rumput Kume, P1: 75% rumput Kume + 25% daun Kelor, P2: 50% rumput Kume + 50% daun Kelor, P3: 25% rumput Kume + 75% daun Kelor. Data penelitian dianalisis dengan analisis varians untuk mengidentifikasi pengaruh perlakuan dan uji beda nyata terkecil dalam mengamati perbedaan antara perlakuan. Temuan penelitian mengindikasikan bahwa perlakuan memberikan pengaruh yang sangat signifikan (P0,01) terhadap kadar PK dan LK, pengaruh yang signifikan (P0,05) terhadap kadar BETN serta pengaruh yang tidak signifikan (P0,05) terhadap kadar TDN. Terdapat peningkatan pada nilai PK, LK, dan TDN dengan kisaran nilai PK berturut-turut (P0 5,90%., P1 8,44%., P2 12,75%., P3 14,36%), kisaran nilai LK yaitu (P0 3,60%., P1 7,13%., P2 7,70%., P3 9,53%), dan kisaran nilai TDN yaitu (P0 55,94%., P1 56,74%., P2 58,71%., P3 58,99%), sedangkan terjadi penurunan pada nilai BETN dengan kisaran nilai berturut-turut (P0 45,62%., P1 43,74%., P2 40,96%., P3 40,85%). Disimpulkan bahwa komposisi kimia silase bergantung pada keseimbangan antara rumput Kume dan daun Kelor, di mana keseimbangan terbaik terdapat pada Perlakuan P3.
Kandungan Serat kasar, Kecernaan Bahan Kering dan Bahan Organik In Vitro Silase Rumput Kume (Shorgum plumosum var. Timorense) dan Kembang Telang (Clitoria ternatea) pada Imbangan Berbeda Elfiana Frida Osan; Markus Miten Kleden; Gusti Ayu Yudiwati Lestari; Luh Sri Enawati
Jurnal Peternakan (Jurnal of Animal Science) Vol 10, No 1 (2026): JURNAL PETERNAKAN (JURNAL OF ANIMAL SCIENCE)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jas.v10i1.21886

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis kandungan serat kasar serta kecernaan bahan kering (KcBK) dan bahan organik (KcBO) in vitro pada silase rumput Kume (Sorghum plumosum var. Timorense) dan kembang Telang (Clitoria ternatea) dengan perbandingan berbeda. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan, yaitu CT0 (100% Kume), CT1 (75% Kume + 25% Telang), CT2 (50% Kume + 50% Telang), dan CT3 (25% Kume + 75% Telang), masing-masing tiga ulangan. Data dianalisis dengan sidik ragam dan dilanjutkan Uji BNT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan proporsi kembang Telang menyebabkan kadar serat kasar meningkat dari 22% menjadi 33%, sedangkan KcBK menurun dari 35% menjadi 26% dan KcBO dari 32% menjadi 24%. Analisis statistik menunjukkan pengaruh nyata (P0,05) terhadap serat kasar, namun tidak berpengaruh nyata (P0,05) pada KcBK dan KcBO. Disimpulkan bahwa semakin tinggi penggunaan kembang Telang dalam silase, kadar serat kasar meningkat sementara kecernaan bahan kering dan organik cenderung menurun
KOMPOSISI KIMIA SILASE CAMPURAN SORGUM DAN HIJAUAN SUMBER PROTEIN BERBEDA Desrian Andrison Lede; Markus M. Kleden; Luh Sri Enawati
IKRA-ITH ABDIMAS Vol. 10 No. 2 (2026): IKRAITH-ABDIMAS Vol 10 No 2 Juli 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi komposisi kimia silase campuran sorgum dengan hijauan sumber protein berbeda. Metode yang digunakan adalah metode eksperimen dengan pola Rancangan Acak Lengkap (RAL) terdiri atas 4 perlakuan dan 5 ulangan. Perlakuan yang diuji yaitu R0 100% hijauan sorgum, R1 70% hijauan sorgum + 30% lamtoro, R270% hijauan sorgum + 30% gamal, dan R3 70% hijauan sorgum + 30% kelor. Parameter yang diamati meliputi kandungan bahan kering, bahan organik, dan bahan ekstrak tanpa nitrogen. Data penelitian dianalisis menggunakan analisis ragam dan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap kandungan bahan kering silase,dengan nilai R0, 28,94%, R1, 31,42%, R2, 33,56%, R3,30,70%. namun berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap kandungan bahan organik dengan nilai R0 sebesar 90,88%, R1 sebesar 90,86%, R2 sebesar 91,21%, dan R3 sebesar 91,45%, serta berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap kandungan BETN dengan nilai R0, 55,26, R1, 57,16%, R2, 54,90%, R3, 58,41%. Dapat disimpulkan bahwa Penggunaan hijauan sumber protein berbeda dalam silase campuran sorgum menghasilkan kandungan nutrisi yang berbeda dan penggunaan hijauan sumber protein khususnya daun kelor merupakan sumberhijauan protein terbaik.Kata kunci: BK, BO, BETN, hijauan sumber protein, silase sorgum.