Fauzul Husna
Akademi Kebidanan Mulia Madani Yogyakarta

Published : 7 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

GAMBARAN PENGETAHUAN DAN TINDAKAN IBU DALAM PEMENUHAN KEBUTUHAN MP-ASI PADA BAYIUSIA 6-24 BULAN DI KALURAHAN GUWOSARI KAPANEWON PAJANGAN BANTUL Putri Susilo Wardani; Nurul Ariningtyas; Fauzul Husna
Jurnal Ilmu Kesehatan Mulia Madani Yogyakarta Vol. 3 No. 2 (2022): JIK MMY : Jurnal Ilmu Kesehatan Mulia Madani Yogyakarta
Publisher : Akademi Kebidanan Mulia Madani Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang : Praktik pemberian MPASI yang tidak optimal menjadi salah satu penyebab utama stunting padabayi. Dinkes Bantul (2020) menyebutkan bahwa kasus bayi stunting pada tahun 2019 tercatat sebanyak 12,3%balita yangmengalami stunting di Kalurahan Guwosari.Tujuan Penelitian : Untuk mengetahui gambaran pengetahuan dan tindakan ibu dalam pemenuhan kebutuhanMP-ASI pada bayi usia 6-24 bulan di Kalurahan Guwosari Kapanewon Pajangan Bantul.Metode Penelitian : Jenis penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Metode sampel adalah simplerandom sampling dengan analisis univariat yang dilakukan pada bulan April-Mei di tiga dusun di KalurahanGuwosari. Pengambilan data dilakukan denganmembagikan kuesioner.Hasil Penelitian: Menyatakan jumlah responden 37 orang dengan persentase tingkat pengetahuan baik sebanyak86,7%, cukup 13,3% dan tidak ada yang memiliki pengetahuan kurang dan persentase tindakan ibu dalampemenuhan kebutuhan MP-ASI sesuai sebanyak 94,6% dan tindakan yang tidak sesuai sebanyak 5,4%.Kesimpulan dan Saran : Tingkat pengetahuan baik sebanyak 86,7 dan presentase tindakan ibu dalampemenuhan kebutuhan MP-ASI sesuai sebanyak 94,6%. Diharapkan dapat menambah wawasan dankepustakaan bagi perkembangan ilmu pengetahuan khususnya mengenai pemenuhan kebutuhan dalampemberianMP-ASI pada bayi usia 6-24 bulan.
GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU NIFAS TENTANG TANDA BAHAYA BAYI BARU LAHIR DI PUSKESMAS BANGUNTAPAN II BANTUL Fauzul Husna; Yulia Adhisty; Shinta Dwi Carera
Jurnal Ilmu Kesehatan Mulia Madani Yogyakarta Vol. 4 No. 2 (2023): JIK MMY : JURNAL ILMU KESEHATAN MULIA MADANI YOGYAKARTA
Publisher : Akademi Kebidanan Mulia Madani Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang : Setiap tahun diperkirakan 4 juta bayi meninggal di dunia pada bulan pertama kehidupan dan dua pertiganya meninggal pada minggu pertama. Penyebab utama kematian pada minggu pertama kehidupan adalah komplikasi kehamilan dan persalinan seperti asfiksia, sepsis, dan komplikasi berat lahir rendah.Tujuan : Untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu nifas tentang tanda bahaya bayi baru lahir di puskesmas Bangutapan II Bantul Metode penelitian : Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Populasi penelitian yaitu ibu nifas di puskesmas banguntapan II Bantul. Metode sempel adalah accidental sampling sejumlah 32 Responden. Analisis menggunakan univariat Hasil Penelitian : Karakteristik responden pada penelitian ini berdasarkan umur responden memiliki umur 21-35 tahun dengan 27 responden (84.4%). Berdasarkan Pendidikan Sebagian besar responden memiliki tingkat Pendidikan menengah (SMA) dengan jumlah 16 responden (50%).dan berdasarkan pekerjaan responden yang memiliki pekerjaan sebanyak 20 responden (62.5%).Tingkat pengetahuan dari 32 responden yang memiliki tingkat pengetahuan yang baik sebanyak 17 responden (53%). Kata Kunci: Tingkat Pengetahuan, Ibu Nifas, tanda bahaya bayi baru lahir.ABSTRACTBackground: Every year an estimated 4 million babies die in the first month of life and two thirds die in the first week. The main causes of death in the first week of life are complications of pregnancy and childbirth such as asphyxia, sepsis and complications of low birth weight. Objective: To determine the level of knowledge of postpartum mothers about the danger signs of newborns at the Bangutapan II Health Center, Bantul Method: This type of research is descriptive. The research population is postpartum women at the Banguntapan II Health Center, Bantul. The Semnel method is accidental sampling, consisting of 32 respondents. Analysis using univariate Result: The research on the characteristics of the respondents in this study were based on the age of therespondents. Most of them were aged 21-35 years with 27 respondents, (84.4%). Based on education, most of the respondents had secondary education level (SMA) with a total of 16 respondents (50%) and based on the variety of respondents who had jobs, 20 respondents (62.5%) had a level of knowledge of 32 respondents who had a good level of knowledge, 17 respondents (53 %). Keywords: Knowledge of Postpartum Mothers, newborn danger signs
PERSONAL HYGIENE PADA SAAT MENSTRUASI DI PONPES AL-BAYAN SLEMAN Fauzul Husna
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Mulia Madani Yogyakarta Vol. 1 No. 1 (2023): DIMASLIA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Mulia Madani Yogyakarta
Publisher : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Mulia Madani Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Personal hygiene atau kebersihan diri merupakan tindakan merawat diri sendiri termasuk dalam memeliharakebersihan bagian tubuh seperti rambut, mata, hidung, mulut, gigi, dan kulitHygiene menstruasi adalah suatu usaha yang dilakukan untuk mempertahankan kesehatan dan memeliharakebersihan saat menstruasi. Perawatan diri selama menstruasi penting dilakukan untuk menjaga kebersihandan mencegah infeksi. Menjaga kebersihan dan mencegah infeksi dapat dilakukan dengan caramenggunakan pembalut dan mengganti pembalut minimal 2 kali sehari dan pememilihan pembalut yanglembut serta mampu menyerap cairan dengan baik, dan juga harus menjaga kebersihan daerah kewanitaandengan menggunakan air yaitu membersihkan dari arah depan kebelakang agar kuman yang ada didaerahduburtidak menempel pada daerah kewanitaanManfaat dari menjaga personal hygiene pada masa menstruasi yaitu untuk menjaga daerah vagina dandaerah sekitarnya agar tetap bersih dan nyaman, mencegah munculnya keputihan, bau tidak sedap dan gatalgatal dan menjaga pH vagina tetap normal(3,5-4,4).Tujuan personal hygiene menstruasi adalah untuk meningkatkan derajat kesehatan, memelihara kesehatandiri, mencegah penyakit serta meningkatkan kepercayaan diri saat menstruasi.Untuk metode yang digunakan dalam pemberian pendidikan kesehatan personal hygiene pada menstruasi diPonPes Al-Bayan adalah ceramah menggunakan media powerpoint dan diakhir pemeberian materi dilakukan sesitanya jawab.Hasil dari pemberian pendidikan kesehatan tentang personal hygiene santri di ponpes Al-Bayan sudahmemahami dan mengetahui apa itu personal hygiene, factor yang mempengaruhi, manfaat menjaga personalhygiene, tujuan, dampak dan manajemen personal hygiene. Sebelum dilakukan pemberian materi ini santribelum paham pentingnya menjaga personal hygiene pada saat menstruasi.
UPAYA PENCEGAHAN STUNTING DENGAN DETEKSI DINI PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN PADA BALITA DI PADUKUHAN SANTAN KELURAHAN GUWOSARI PAJANGAN BANTUL Fauzul Husna
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Mulia Madani Yogyakarta Vol. 1 No. II (2023): DIMASLIA JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT MULIA MADANI YOGYAKARTA
Publisher : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Mulia Madani Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK : Pertumbuhan dan perkembangan anak merupakan hal yang harus diperhatikan sejak usia dini. Kegagalan pertumbuhan dan perkembangan akan berakibat terhadap kesejahteraaan anak. Salah satu gangguan dalam pertumbuhan anak yang saat ini sedang marak dibicarakan adalah stunting. Masalah anak pendek ( Stunting) adalah salah satu permasalahan gizi yang menjadi focus Pemerintahan Indonesia. Pada tahun 2019, Yogyakarta merupakan salah satu daerah yang menjadi lokus stunting di tingkat nasional, salah satu wilayahnya adalah Kabupaten Bantul. Untuk mencegah terjadinya stunting diperlukan penanganan yang komprehensif terhadap semua pihak yang terkait dengan pertumbuhan anak yaitu orang tua terutama ibu, keluarga, lingkungan serta tenaga kesehatan dalam melakukan pemantauan pertumbuhan anak. Pengabdian ini dilaksanakan dengan cara melakukan deteksi dini pertumbuhan dan perkembangan pada balita di padukuhan Santan kalurahannGuwosari pajangan Bantul. Hasil kegiatan Balita yang datang ke Posyandu adalah sebanyak 50 anak dengan dengan usia 0 -60 bulan. Balita berjenis kelamin perempuan sebanyak 26 anak (52%), sedangkan anak yang berkelamin laki – laki 24 anak ( 48%).Balita yang dengan status gizi normal berdasasrkan berat badan / umur (bb/u)sebanyak 45 anak (90%), sedangkan anak dengan status gizi kurang 5 anak (10%). Balita yang dengan status gizi normal berdasasrkan tinggi badan / umur (bb/u)sebanyak 45 anak (90%), sedangkan anak dengan status gizi kurang 5 anak (10%). Balita anak dengan perkembangan normal seabyaj 42 anak (84%). Anak dengan perkembangan meragukan sebanyak 5 anak (10%). Sedangkan anak dengan perkembangan gagal sebanyak 3 anak (6%). Oleh karena itu disarankan kepada kader posyandu dan puskesmas untuk melakukan deteksi dini pertumbuhan dan perkembangan pada balita di wilayah padukuhan santanABSTRACT : Growth and development of children is something that must be considered from an early age. Failure of growth and development will have an impact on children's welfare. One of the disturbances in children's growth that is currently being discussed is stunting. The problem of stunting is one of thenutritional problems that is the focus of the Indonesian government. In 2019, Yogyakarta is one of the areas that has become a locus of stunting at the national level, one of which is Bantul Regency. To prevent stunting, comprehensive management is needed for all parties related to child growth, namely parents, especially mothers, families, the environment and health workers in monitoring children's growth. This service is carried out by carrying out early detection of growth and development in toddlers in the Santan village, Guwosari Pajangan, Bantul. The results of toddler activities that come to Posyandu are as many as 50 children aged 0 -60 months. There were 26 female children (52%), while 24 male children (48%). Toddlers with normal nutritional status based on weight/age (bb/u) are 45 children (90%), while children with poor nutritional status are 5 children (10%). Toddlers with normal nutritional status based on height/age (weight/u) are 45 children (90%), while children with poor nutritional status are 5 children (10%). Toddlers with normal development by sea are 42 children (84%). Children with underestimated development as many as 5 children (10%). While children with failed development as many as 3 children (6%). Therefore it is suggested to posyandu and puskesmas cadres to carry out early detection of growth and development in toddlers in Santan village Pajangan Bantul.
ASUHAN KEBIDANAN BERKELANJUTAN PADA NY. P DENGAN PEMBERIAN MINYAK ZAITUN UNTUK MENGOBATI RUAM POPOK PADA BAYI DI TPMB RETNO WIDYAWATI Fauzul Husna
Jurnal Ilmu Kesehatan Mulia Madani Yogyakarta Vol. 6 No. 2 (2025): JURNAL ILMU KESEHATAN MULIA MADANI
Publisher : Akademi Kebidanan Mulia Madani Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67157/jik.v6i2.136

Abstract

INTISARI Ruang lingkup asuhan: Pemberian minyak zaitun pada bayi baru lahir dilakukan untuk mengobati ruam popok daan membuat bayi lebih nyaman. Ruam popok terjadi pada bagian sekitar alat kelamin, selangkang, bokong dan daerah yang tertutupi popok ditandai dengan munculnya kemerahan dan bintik-bintik kemerahan. Minyak zaitun mengandung banyak senyawa aktif seperti fenol, tokoferol, sterol, pigmen, squalene dan vitamin E. Semua senyawa ini bermanfaat untuk kulit, memperbaiki sel-sel kulit yang rusak sebagai antioksidan penetral radikal bebas. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian minyak zaitun untuk mengobeti ruam popok selama 3 hari. Pelaksanaan Asuhan: Pelayanan asuhan kebidanan berkelanjutan pada Ny. P dilaksanakan mulai dari kehamilan trimester III, persalinan, nifas, neonatus sampai denga keluarga berencana yang dilakukan secara berkesnambungan. Dimulai dari pengambilan data subjektif yang disampaikan Ny. P, dan ddata objektif yang berdasarkan hasil pemeriksaan. Asuhan dilaksanakan di TPMB Retno Widyawati di Sleman dan di rumah Ny. P, berupa intervensi pemberian inyak zaitun untuk mencehag atau mengobati ruam popok. Evaluasi: Setelah dilakukan asuhan dengan pemberian minyak zaitun pada bayi baru lahir selama 3 hari, ruam popok pada By. Ny P sudah mengalami penurunan dari yang sebelumnya skornya 2 dengan kemerahan kemudian setelah diberi asuhan naik menjadi 5 dengan perubahan kulit yang halus, lembab dan kemerahan yang memudar. Kesimpulan dan Saran: Tidaak ditemukan kesenjangan antara teori dan asuhan yang diberikan. Asuhan yang diberikan pada Ny. P selama masa hamil trimester III, bersalin, nifas, neonatus, dan KB tidak ditemukan adanya masalah atau komplikasi. Pemberian minyak zaitun pada bayi baru lahir efektif pada penyembuhan ruam popok selama 3 hari. Disarankan agar pemberian minyak zaitun diberikan secara rutin dibagian yang ruam. Kata Kunci: Asuhan Kebidanan berkelanjutan, Minyak zaitun, ruam popok SYNOPSIS Scope of care: Olive oil is applied to newborns to treat diaper rash and make babies more comfortable. Diaper rash occurs around the genitals, groin, buttocks, and areas covered by diapers, characterized by redness and red spots. Olive oil contains many active compounds such as phenols, tocopherols, sterols, pigments, squalene, and vitamin E. All of these compounds are beneficial for the skin, repairing damaged skin cells as antioxidants that neutralize free radicals. This study aims to determine the effect of applying olive oil to treat or prevent diaper rash for 3 days. Care Implementation: Continuous midwifery care for Mrs. P was provided starting from the third trimester of pregnancy, through delivery, the postpartum period, and the neonatal period, up to family planning, which was carried out continuously. It began with the collection of subjective data provided by Mrs. P and objective data based on examination results. Care was provided at the Retno Widyawati Maternity Clinic in Sleman and at Mrs. P's home, in the form of olive oil application to prevent or treat diaper rash. Evaluation: After administering olive oil to the newborn for 3 days, the diaper rash on By. Ny P has decreased from a previous score of 2 with redness to a score of 5 with smooth, moist skin and fading redness. Conclusion and Recommendations: No gap was found between theory and the care provided. The care provided to Mrs. P during her third trimester of pregnancy, delivery, postpartum period, and neonatal care, as well as family planning, did not reveal any problems or complications. The application of olive oil to newborns was effective in healing diaper rash within 3 days. It is recommended that olive oil be applied regularly to the affected area. Keywords: Continuous midwifery care, olive oil, diaper rash
ASUHAN KEBIDANAN BERKELANJUTAN PADA NY. N DENGAN INISIASI MENYUSU DINI UNTUK MENCEGAH KEHILANGAN PANAS TUBUH BAYI DI TPMB TATIK SUPRIHATIN BANTUL YOGYAKARTA fauzul husna
Jurnal Ilmu Kesehatan Mulia Madani Yogyakarta Vol. 7 No. 1 (2026): JURNAL ILMU KESEHATAN MULIA MADANI
Publisher : Akademi Kebidanan Mulia Madani Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67157/jik.v7i1.169

Abstract

INTISARI Latar Belakang: Bayi baru lahir berisiko mengalami kehilangan panas tubuh (hipotermia) karena sistem termoregulasi yang belum matang. Hipotermia dapat menyebabkan komplikasi seperti hipoglikemia, gangguan pernapasan, infeksi, hingga kematian neonatal. Inisiasi Menyusu Dini (IMD) melalui kontak kulit ke kulit (skin to skin contact) merupakan metode efektif untuk menjaga suhu tubuh bayi segera setelah lahir. Tujuan: Melaksanakan asuhan kebidanan berkelanjutan pada Ny. N dengan pemberian IMD untuk mencegah kehilangan panas tubuh bayi di TPMB Tatik Suprihatin Bantul Yogyakarta. Metode: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan studi kasus melalui Continuity of Care (CoC) mulai trimester III kehamilan, persalinan, bayi baru lahir, nifas, hingga neonatus. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, dokumentasi, dan studi pustaka. Dokumentasi asuhan menggunakan metode SOAP. Hasil: Kehamilan Ny. N berlangsung fisiologis dan persalinan berjalan normal tanpa komplikasi. IMD dilakukan selama satu jam melalui kontak kulit ibu dan bayi. Bayi berhasil menyusu mandiri, suhu tubuh tetap stabil pada rentang 36,5°C–37,5°C, dan tidak ditemukan tanda hipotermia. Kondisi ibu dan bayi pada masa nifas dan neonatus juga baik. Kesimpulan: IMD efektif mencegah kehilangan panas tubuh pada bayi baru lahir serta membantu menjaga kestabilan suhu tubuh bayi melalui kontak kulit ke kulit. Kata Kunci: Asuhan Kebidanan Berkelanjutan, Inisiasi Menyusu Dini, Hipotermia, Bayi Baru Lahir. ABSTRACT Background: Newborns are at risk of heat loss (hypothermia) due to immature thermoregulation. Hypothermia may lead to complications such as hypoglycemia, respiratory problems, infection, and neonatal mortality. Early Initiation of Breastfeeding (EIBF) through skin-to-skin contact is an effective method to maintain newborn body temperature immediately after birth. Objective: To provide continuity of midwifery care for Mrs. N through the implementation of EIBF to prevent newborn heat loss at TPMB Tatik Suprihatin, Bantul, Yogyakarta. Methods: This study used a descriptive case study approach with Continuity of Care (CoC), covering the third trimester of pregnancy, labor, newborn, postpartum, and neonatal care. Data were collected through interviews, observation, physical examination, documentation, and literature review. Care documentation used the SOAP method. Results: Mrs. N experienced a physiological pregnancy and spontaneous normal labor without complications. EIBF was conducted for one hour immediately after birth through skin-to-skin contact. The baby successfully performed the breast crawl reflex and breastfed independently. The newborn’s temperature remained stable at 36.5°C–37.5°C, with no signs of hypothermia. Postpartum and neonatal conditions were normal, and exclusive breastfeeding was successfully initiated. Conclusion: EIBF is effective in preventing newborn heat loss and maintaining body temperature stability. Continuity of midwifery care supports successful EIBF implementation and optimal neonatal adaptation. Keywords: Continuity of Midwifery Care, Early Initiation of Breastfeeding, Hypothermia, Newborn.
GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU TENTANG PEMBERIAN MP-ASI PADA BAYI USIA 6-24 BULAN DI PUSKESMAS IMOGIRI II BANTUL fauzul husna
Jurnal Ilmu Kesehatan Mulia Madani Yogyakarta Vol. 7 No. 1 (2026): JURNAL ILMU KESEHATAN MULIA MADANI
Publisher : Akademi Kebidanan Mulia Madani Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67157/jik.v7i1.171

Abstract

  INTISARI Latar belakang : Masalah kesehatan stunting di Indonesia masih cukup tinggi. Kejadian balita pendek atau disebut stunting merupakan kondisi dimana balita memiliki tinggi badan yang kurang jika dibandingkan dengan umur. Salah satu Stunting pada bayi dan balita dapat dipengaruhi oleh pemberian ASI dan makanan tambahan, yaitu MP-ASI. MP-ASI diberikan dalam rangka mencukupi kebutuhan gizi pada saat usia 6–24 bulan yang tidak dapat tercukupi apabila hanya diberikan ASI. Periode usia 6–24 bulan merupakan periode kritis pertumbuhan linier. Periode ini menjadi periode puncak prevalensi stunting di negara berkembang salah satunya Indonesia, yaitu terkait dengan kebutuhan gizi yang tinggi dengan kualitas dan kuantitas makanan tambahan terbatas, yaitu MP- ASI. Tujuan Penelitian : Mengetahui gambaran tingkat pengetahuan ibu dengan pemberian makanan pendamping ASI di Puskesmas Imogiri II Bantul. Metode Penelitian : Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pendekatan kuantitatif. Sampel dalam penelitian ini diambil dengan metode accidental sampling yaitu siapa saja yang kebetulan bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel Hasil Penelitian : Pengetahuan ibu tentang pemberian MP-ASI pada bayi usia 6-24 bulan di Puskesmas Imigiri II Bantul terdapat 60% (18) responden memiliki pengetahuan Baik, 33% (10) responden memiliki pengetahuan Cukup dan 7% (2) responden memiliki pengetahuan kurang. Kesimpulan : Tingkat pengetahuan ibu tentang pemberian MP-ASI bayi umur 6- 24 bulan di Puskesmas Imogiri II Bantul termasuk dalam kategori baik Kata Kunci : Tingkat Pengetahuan, Pemberian MP-ASI   ABSTRACT Background: The health problem of stunting in Indonesia is still quite high. The incidence of short toddlers or what is called stunting is a condition where toddlers have less height compared to their age. One of the things that stunting in babies and toddlers can be is influenced by giving breast milk and additional food, namely MP-ASI. MP-ASI is given in order to meet nutritional needs at the age of 6-24 months which cannot be met if only breast milk is given. The age period 6–24 months is a critical period of linear growth. This period is the peak period for the prevalence of stunting in developing countries, one of which is Indonesia, which is related to high nutritional needs with limited quality and quantity of additional food, namely MP-ASI. Research Objective: To determine the level of knowledge of mothers regarding the provision of complementary foods for breast milk at the Imogiri II Bantul Community Health Center. Research Method: The approach used in this research is a quantitative approach. The sample in this research was taken using the accidental sampling method, that is, anyone who happened to meet the researcher could be used as a sample Research Results: Mothers' knowledge about giving MP-ASI to babies aged 6-24 months at the Imigiri II Bantul Community Health Center showed that 60% (18) of respondents had good knowledge, 33% (10) of respondents had sufficient knowledge and 7% (2) of respondents had good knowledge. have less knowledge. Conclusion: The level of knowledge of mothers regarding giving MP-ASI to babies aged 6-24 months at the Imogiri II Bantul Community Health Center is included in the good category Keywords: Level of Knowledge, Giving MP-ASI