Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Pelatihan Pengolahan Produk Olahan Rumput Laut Menjadi Sabun Cair Imran Pashar; Nur Insani Amir; - Wahdaniar
Prosiding Seminar Nasional Unimus Vol 6 (2023): Membangun Tatanan Sosial di Era Revolusi Industri 4.0 dalam Menunjang Pencapaian Susta
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sulawesi Selatan merupakan salah satu daerah penghasil rumput laut terbesar di Indonesia. Menurut datadari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tahun 2022 bahwa Sulawesi Selatan menjadi daerahpenghasil rumput laut terbanyak d Indonesia yakni sebanyak 3,79 juta ton atau 41,55% dari totalnya secaranasional. Seluruh produksi rumput laut di Sulawesi Selatan berasal dair budi daya. Tujuan kegiatan inidilakukan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengolah rumput laut menjadi sabun cair.Metode yang dilakukan dalam kegiatan ini adalah metode yang menitikberatkan pada keaktitan pesertamelalui demonstrasi dan stimulasi. Adapun langkah-langkah pelaksanaan kegiatan terbagi menjadi 3 tahapyaitu tahap perencanaan kegiatan pelatihan, tahap kedua pelaksanaan pelatihan pengolahan rumput lautmenjadi produk yang memiliki nilai jual dan tahap ketiga evaluasi untuk menilai kemampuan masyarakatsetempat untuk menghasilkan produk. Kegiatan dilaksanakan pada hari Jumat 08 September 2023bertempat di dusun Puntondo Desa Laikang Kecamatan Mangarabombang Kabupaten Takalar. Adapunhasil dalam kegiatan ini adalah hasil pre-test yang didapatkan hanya sekitar 20% atau 5 peserta danberdasarkan hasil dari post-test yang telah dilaksanakan bahwa sebesar 100% atau 25 orang peserta sudahmampu menjelaskan dan mempraktekkan pengolahan rumput laut menjadi sabun cair. Kata Kunci : Pelatihan Pengolahan Produk, Rumput Laut, Sabun Cair
Proses Pembuatan Sabun Cair Berbahan Baku Pepaya (Carica papaya L.) dan Desain Produk menggunakan Aplikasi Canva Nur Insani Amir; Arafah Nurfadillah; Ade Irma; Juniati Binti Lukman; Muh. Fadli
Cakrawala: Jurnal Pengabdian Masyarakat Global Vol. 2 No. 3 (2023): Cakrawala: Jurnal Pengabdian Masyarakat Global
Publisher : Universitas 45 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30640/cakrawala.v2i3.1507

Abstract

Soap is a substance whose majority of its raw materials come from chemicals and use as body cleanser. Soap can be said as an item that must be fulfilled considering its very vital function. Papaya (Carica papaya L.) is a plant that contains secondary metabolites that have important functions for the body such as alkaloids, capin carikaxanthin, papain, saponins, flavonoids and tannis which have pharmacological effects as antibacterial. This activity is descriptive and experimental in nature, starting from the process of delivering material, question and answer sessions, carrying out experimental processes, packing processes and product designs. The purpose o this study is that students can find out the process of making soap made from papaya, which is a home industry-based production process.
Karakterisasi Kolagen Tulang ikan Cakalang Katsuwonus pelamis Dengan Hidrolisis Menggunakan Natrium Hidroksida Nur Aini Abdul Rahman; Wahdaniar; Nur Insani Amir
Journal of Biomedical Sciences and Health (JBSH) Vol. 2 No. 2 (2025): Volume 2 Nomor 2 Agustus 2025
Publisher : Universitas Karya Husada Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34310/0dckd260

Abstract

Kolagen merupakan protein struktural utama yang ditemukan dalam jaringan ikat hewan vertebrata, mencakup 25-30% dari total protein hewani. Kolagen dari tulang ikan cakalang (Katsuwonus pelamis), memanfaatkan potensi melimpah dari perairan Indonesia. Kolagen, sebagai limbah perikanan dengan sifat biokompatibel dan rendah antigenisitas, memiliki aplikasi luas di industri kosmetik, farmasi, dan pangan. Ekstraksi dilakukan menggunakan metode maserasi dengan pelarut natrium hidroksida (NaOH) 5% selama tiga hari. Hasil penelitian menunjukkan rendemen ekstrak kolagen sebesar 29,85% dari berat simplisia, yang dianggap baik karena melebihi 10%. Karakterisasi proksimat memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI 8076:2014), dengan kadar air 4,03% (maks. 16%) dan kadar abu 0,18% (maks. 3,25%), serta karakteristik organoleptik kental, coklat kehitaman, dan berbau tengik. Analisis gugus fungsi menggunakan FTIR mengidentifikasi puncak serapan khas kolagen seperti NH₂, NH, -CH, C=O, dan C-N. Namun, kadar protein yang diperoleh melalui metode Lowry sangat rendah (0,994 ppm atau 0,397%). Rendahnya nilai ini diduga disebabkan oleh perbedaan metode analisis dibandingkan penelitian lain (misalnya metode Kjeldahl) serta potensi ketidaksesuaian komposisi protein sampel dengan standar yang digunakan pada metode Lowry, mengindikasikan perlunya optimasi lebih lanjut.
Antibacterial Activity of Lactic Acid Bacteria From Chao Pangkep Against The Growth of Pathogenic Bacteria Methicillin-Resistant Staphylococcus Aureus (MRSA) Ade Irma; Juniati Binti Lukman; Nur Insani Amir; Arafah Nurfadillah
Pena Medika : Jurnal Kesehatan Vol. 15 No. 2 (2025): PENA MEDIKA: JURNAL KESEHATAN
Publisher : Universitas Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Chao is a traditional fermented food that comes from the Pangkep area. The microorganism that dominates Chao is the lactic acid bacteria (LAB). LAB bacteria belong to a group of probiotic bacteria that have many health benefits. Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus (MRSA) bacteria are bacteria that cause infections whose prevalence is increasing. The purpose of this study is to explore LAB from Chao Pangkep as a new source to find LAB that can be used to treat MRSA infection. The research methods carried out were LAB isolate rejuvenation, lactic acid bacterial selection through hemolytic tests and antibacterial activity tests using the agar diffusion method (Kirby and Bauer disc diffusion). The test results showed that three LAB isolates, namely C2, C10, and C11, were γ-hemolytic (non-hemolytic) so they were not pathogenic. The three non-pathogenic isolates were subsequently used as LAB candidates for testing antibacterial activity. Antibacterial activity is shown by the presence of clear zones formed around bacterial colonies. The existence of LAB's ability as an antibacterial is due to the production of metabolite compounds. Therefore, the lactic acid (LAB) bacterial isolate with code C11 has antibacterial activity, so it can be used as a potential candidate to control pathogenic bacteria.