Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Studi Hukum Wanita Menjadi Wali Nikah: Legal Studies for Women Becoming Marriage Guardians Gazali; Ferry Payuhi
Jurnal Kolaboratif Sains Vol. 6 No. 12: DESEMBER 2023 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v6i12.4642

Abstract

Persoalan layaknya perempuan menjadi wali nikah dalam kajian fikih sebenarnya sudah pernah dibicarakan pada awal tahun Hijriyah, namun belakangan muncul kembali karena munculnya isu kesetaraan gender, sehingga kemudian, wacana tersebut kembali menghangat dalam beberapa tahun terakhir. Sehingga nampaknya perlu dilakukan kajian ulang mengenai hukum perempuan menjadi wali nikah dalam pandangan fiqh. Penelitian ini merupakan upaya yang tidak hanya mencari fakta hukum perempuan menjadi wali nikah dalam pandangan para ulama, namun juga mencari solusi yang tepat untuk mencairkan perbedaan pendapat di kalangan umat Islam tentang hukum perempuan menjadi wali nikah. Penelitian ini merupakan penelitian berbasis kepustakaan (library study), dimana sumber data utama dalam penelitian ini adalah kitab-kitab klasik yang ditulis oleh para ulama pada pertengahan abad hijriyah maupun sebelum dan sesudahnya. Hasil dari penelitian ini adalah dalam kajian fiqh terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang hukum perempuan menjadi wali nikah, dimana yang mendasari perbedaan pendapat tersebut terletak pada ‘illat yang dipahami masing-masing ulama, seperti Hanafiyah dan Para ulama Malikiyah memahami bahwa “bikarah” atau kedewasaan berpikir seorang wanita menjadi sebuah ‘illat yang menyebabkan seorang wanita dianggap tidak diperbolehkan menjadi wali nikah, sehingga mazhab ini menganggap wanita yang sudah matang (dalam berpikir) termasuk janda dapat menjadi wali perkawinan atau mengawini dirinya sendiri. Bagi Peneliti pendapat kedua mazhab tersebut (Hanafiyah dan Malikiyah) dianggap lebih kuat. Jadi, bagi Peneliti, perempuan yang dianggap sudah matang cara berpikirnya bisa saja menjadi wali nikah atau menikahkan dirinya sendiri, seperti seorang janda yang dianggap lebih memahami kehidupan berkeluarga dibandingkan yang belum pernah mengalaminya, sehingga dia berhak menjadi wali bagi dirinya sendiri.
Analisis Hadits Tentang Usia Belajar Anak Dalam Perspektif Perkembangan Kognitif Dan Pendidikan Islam: Analysis of the Hadith on Children's Learning Age from the Perspective of Cognitive Development and Islamic Religious Education Ferry Payuhi; Mansur; Gazali; Nirmala Paputungan; Musta’an Karadjo; Husna Tun Jannah
Jurnal Kolaboratif Sains Vol. 9 No. 6: Juni 2026 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v9i6.11430

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hadits-hadits yang berkaitan dengan usia belajar anak dalam perspektif perkembangan kognitif dan pendidikan Islam. Fokus kajian ini adalah mengkaji bagaimana ajaran Nabi Muhammad SAW mengenai waktu yang tepat untuk memulai pendidikan anak serta relevansinya dengan teori perkembangan kognitif modern. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan (library research) dengan pendekatan kualitatif, melalui analisis teks hadits dan literatur pendidikan Islam serta teori perkembangan kognitif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hadits-hadits Nabi memberikan perhatian besar terhadap tahapan usia anak dalam proses pendidikan, seperti perintah mengajarkan shalat sejak usia tujuh tahun yang mencerminkan kesiapan kognitif dan psikologis anak. Hal ini sejalan dengan teori perkembangan kognitif yang menekankan bahwa kemampuan berpikir anak berkembang secara bertahap sesuai usia. Dalam perspektif pendidikan Islam, proses pembelajaran tidak hanya mempertimbangkan aspek intelektual, tetapi juga spiritual dan moral yang terintegrasi. This study aims to analyze hadiths related to children's learning age from the perspective of cognitive development and Islamic education. The focus of this study is to examine the teachings of the Prophet Muhammad (peace be upon him) regarding the appropriate time to begin children's education and their relevance to modern cognitive development theory. The method used is library research with a qualitative approach, through analysis of hadith texts and Islamic educational literature, as well as cognitive development theory. The results show that the Prophet's hadiths pay significant attention to children's age stages in the educational process, such as the command to teach prayer from the age of seven, which reflects a child's cognitive and psychological readiness. This is in line with cognitive development theory, which emphasizes that children's thinking abilities develop gradually according to age. From an Islamic educational perspective, the learning process considers not only intellectual aspects but also integrated spiritual and moral aspects
Pengembangan Paradigma Integratif-Interkonektif dalam Menyeimbangkan Kehidupan dan Ibadah: Development of an Integrative-Interconnective Paradigm in Balancing Life and Worship Abdul Salam; Gazali
Jurnal Kolaboratif Sains Vol. 7 No. 5: MEI 2024 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v7i5.5340

Abstract

Cerminan berkembangnya peradaban suatu bangsa dapat dilihat dari konstruksi pendidikannya. Sebagai pilar bangsa, fungsi pendidikan saat ini tidak hanya sebagai sarana mencerdaskan manusia, namun juga sebagai sarana pembinaan mental dan karakter, oleh karena itu untuk membentuk mental dan karakter manusia di era disrupsi yang sedikit banyak berdampak pada kehidupan seseorang. pengembangan karakter, maka diperlukan modifikasi atau metode (pendekatan) baru yang mudah diterapkan dalam menyikapi era ini, khususnya bagi masyarakat muslim yang orientasi hidupnya harus seimbang antara dunia dan akhirat (hablun min Alla>h dan hablun min al-na>s). Atas dasar hal tersebut, nampaknya perlu dilakukan suatu kajian yang dapat memberikan hasil dan solusi dalam mengatasi permasalahan yang ada. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan yang menggunakan metode deskriptif dimana hasil penelitian ini menemukan bahwa diantara pendekatan-pendekatan yang perlu kita tekankan dalam pendidikan adalah pendekatan integratif-inter-konektif yang mempertemukan dua kajian keilmuan yang saling melengkapi, dimana untuk membawa kesinambungan dan keseimbangan antara ibadah dan kehidupan seseorang tidak cukup hanya sekedar mendidik dan mengembangkan kecerdasan intelektual, namun yang jauh lebih penting dari itu adalah bagaimana mendidik seseorang agar mampu mengintegrasikan dan menghubungkan kecerdasan spiritualnya dengan kecerdasan emosionalnya.
Penerapan Kurikulum Merdeka dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SDN 9 Mamboro: Application of the Independent Curriculum in Learning Islamic Religious Education at SDN 9 Mamboro Ferry Payuhi; Mansur; Gazali; Rasyid Ridoh
Jurnal Kolaboratif Sains (Special Issue) - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) - Mei 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v8i5.7169

Abstract

Dalam permasalahan yang dihadap oleh Guru PAI di SDN 9 Mamboro adalah Keterbatasan sarana prasarana, keterbatasan referensi, kurangnya pemahaman guru PAI terhadap konsep kurikulum merdeka. Untuk mengungkapkan data yang akurat, penulis menggunakan metode kualitatif dengan pengambilan data melalui data primer dan data sekunder. Adapun Prosedur pengumpulan data yakni melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi serta data yang diperoleh melalui buku-buku referensi. Adapun solusi dari permasalahan tersebut yaitu: Pertama Guru dapat bekerja sama dengan pihak lain, seperti komite sekolah, orang tua siswa, atau masyarakat sekitar, untuk mendapatkan dukungan dalam meningkatkan sarana dan prasarana yang dibutuhkan. Guru Pendidikan Agama Islam dapat mengatasi problematika dalam penerapan Kurikulum Merdeka meskipun dalam keterbatasan sarana dan prasarana. Kedua Pihak sekolah mengusulkan beberapa langkah strategis. Ini termasuk memperluas akses terhadap sumber belajar digital, menyediakan pelatihan berkelanjutan bagi guru tentang penggunaan teknologi dan sumber daya online, serta menjalin kerjasama dengan perpustakaan daerah dan komunitas pendidikan untuk memperkaya koleksi materi pembelajaran. Ketiga Pihak sekolah memfasilitasi dengan mengadakan sosialisasi dan pelatihan yang diharapkan dapat membantu para guru dalam menyelesaikan problematika yang sedang dihadapi.