Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

PENINGKATAN KESEHATAN MENTAL REMAJA MELALUI TERAPI BRAIN GYM DAN ICE BREAKING DI SMK BHAKTI KENCANA SOREANG KABUPATEN BANDUNG Anri Anri; Lia Nurlianawati; Denni Fransiska Helena M.; Asep Aep Indarna; Wini Resna Novianti
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 8, No 1 (2024): March
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v8i1.21870

Abstract

Abstrak Lebih dari 12 juta orang yang berusia di atas 15 tahun menderita  selama periode ini, sementara lebih dari 19 juta orang di bawah usia 15 tahun enghadapi kesulitan mental yang serius (Rikerdas, 2018). Perubahan prilaku dan pola pikir, gangguan konsentrasi, penurunan nafsu makan, dan bahkan menyakiti diri sendiri adalah beberapa indikasi penyakit mental pada anak muda. Bekrja untuk mempromosikan kesejahtraan emotional anak muda melalui program Brain Gym dan pemecah kebekuan. Brain Gym adalah program Latihan yang mengitegrasikan fungsi otak kiri dan kanan, hal ini meningkatkan aliran darah dan oksigenasi ke otak, yang pada gilirannya meningkatkan hormone serotonin, endrfin, dan dopamine yang membuat perasaan senang, dan pemecah kebekuan adalah kegiatan yang menghangatkan anda saat anda merasa tidak enak badan. Dalam upaya untuk menumbuhkan  dinamika kelompok yang ada. Hasil analisis sebelum dan sesudah  edukasi yaitu sebelum edukasi dan kegiatan brains gym dan ice breaking, sebagian besar siswa mengalami tekanan ringan sebanyak 62 (38,27%) dan sebagian kecil mengalami tekanan sedang. tekanan 56 (34,27%) dan normal 44 (27,26%). Dan sesudah dilakukan kegiatan edukasi dan praktek brains gym dan ice breaking hamper seluruh reponden 88 (54,32%) normal, Sebagian besar 64 (39,51%) stress ringan dan Sebagian kevil 10 (6,17%) stress sedang. Penerapan senam otak dan ice breaking setelah kegiatan edukasi Pendamping dapat membangun fokus belajar siswa Kata kunci: kesehatan mental; brain gym; ice breaking AbstractMore than 12 million people over the age of 15 suffered during this period, while more than 19 million people under the age of 15 faced serious mental difficulties (Rikerdas, 2018). Changes in behavior and thought patterns, impaired concentration, decreased appetite, and even self-harm are some indications of mental illness in young people. Working to promote the emotional well-being of young people through the Brain Gym and icebreaker programs. Brain Gym is an exercise program that integrates left and right brain functions, this increases blood flow and oxygenation to the brain, which in turn increases the hormones serotonin, endrphin, and dopamine which make you feel happy, and icebreakers are activities that warm you up when you feel feeling unwell. In an effort to grow existing group dynamics. The results of the analysis before and after education, namely before education and brains gym and ice breaking activities, the majority of students experienced mild pressure, 62 (38.27%) and a small number experienced moderate pressure. pressure 56 (34.27%) and normal 44 (27.26%). And after carrying out educational activities and brain gym and ice breaking practices, almost all of the respondents, 88 (54.32%) were normal, most of them, 64 (39.51%) were mildly stressed and a small number of 10 (6.17%) were moderately stressed. Applying brain exercises and ice breaking after accompanying educational activities can build students' learning focus Keywords: mental health; brain gym; ice breaking
The Impact of Religious Coping on Quality of Life Among Hemodialysis Patients: A Cross-Sectional Study Safruddin Safruddin; Sumbara Sumbara; Wini Resna Novianti; Junaidin Junaidin; Santi Puspitasari; Rahmat Hidayat
An Idea Health Journal Vol 6 No 01 (2026)
Publisher : PT.Mantaya Idea Batara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53690/ihj.v6i01.665

Abstract

Background: Patients with End-Stage Renal Disease (ESRD) require routinehemodialysis. Long-term hemodialysis often leads to physical, psychological, and socioeconomic challenges that reduce quality of life. Religious and spiritual coping mechanisms represent important adaptive strategies for managing chronic illness and improving well- being. This study investigates the relationship between religious coping strategies and quality of life in patients with ESRD undergoing hemodialysis. Methods: An analytic observational study with a cross-sectional design was conducted involving 80 patients receiving hemodialysis therapy. Participants were recruited through accidental sampling. Data were analyzed using descriptive statistics and Spearman correlation tests to assess the relationship between religious coping and quality of life across four domains:physical, psychological, social, and environmental. Result: The results indicated that patients employing positive religious coping experienced significantly better quality of life across all domains (p < 0.005). Conversely, patients using negative religious coping demonstrated lower quality of life in these domains (p < 0.005). Conclusion: These findings emphasize that religious coping functions as a psychosocial resource for patients undergoing hemodialysis. Incorporating coaching interventions grounded in religious coping into nursing care may enhance patients' quality of life with End-Stage Renal Disease(ESRD).
Sinergi Edukasi Komunikasi Asertif, Kesehatan Mental, dan Pencegahan Penyakit Eki Pratidina; Diana Ulfah; Wini Resna Novianti; Asep Aep Indarna; Rosniawati Sri Lestari; Herdy Putra Pratama
Jurnal Medika: Medika in progres
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/c2zyyk25

Abstract

Program pengabdian masyarakat ini dilaksanakan untuk menjawab permasalahan rendahnya komunikasi asertif, meningkatnya stres dan kesepian pada lansia, serta kurangnya edukasi pencegahan penyakit tidak menular di lingkungan Sekolah Lansia Mulus Rahayu Bahagia. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kualitas hidup lansia melalui penguatan komunikasi keluarga, dukungan psikososial, dan perilaku hidup bersih dan sehat berbasis komunitas. Sasaran kegiatan meliputi 40 lansia, 10 anggota keluarga, dan 8 kader kesehatan. Metode pelaksanaan dilakukan secara partisipatif melalui koordinasi mitra, penyusunan modul, edukasi interaktif, roleplay, diskusi, permainan edukatif, pelatihan kader, serta pendampingan selama satu bulan di aula Sekolah Lansia. Hasil pre-test dan post-test menunjukkan peningkatan pengetahuan sebesar 35% pada aspek komunikasi asertif dan 28% pada aspek PHBS serta pencegahan penyakit tidak menular. Selain itu, terjadi perubahan perilaku berupa komunikasi keluarga yang lebih terbuka, peningkatan kesadaran pemeriksaan kesehatan, serta meningkatnya kepercayaan diri kader dalam memfasilitasi edukasi lansia. Program ini juga membentuk jejaring kolaboratif antara lansia, keluarga, kader, dan tim perguruan tinggi. Kegiatan ini menunjukkan bahwa pemberdayaan lansia berbasis keluarga efektif mendukung promosi kesehatan komunitas dan berpotensi direplikasi sebagai model Desa Ramah Lansia.
Faktor–faktor yang Mempengaruhi Stres Digital Mahasiswa Santi Puspitasari; Lia Nurlianawati; Wini Resna Novianti
Jurnal Penelitian Perawat Profesional Vol. 8 No. 2 (2026): April 2026, Jurnal Penelitian Perawat Profesional
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jppp.v8i2.966

Abstract

Transformasi digital dalam dunia pendidikan memberikan beragam kemudahan, namun juga menimbulkan stres digital bagi mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi stres digital mahasiswa Universitas Bhakti Kencana. Menggunakan metode deskriptif kuantitatif, penelitian ini melibatkan 152 mahasiswa yang dipilih melalui purposive sampling. Instrumen penelitian dengan menggunakan kuesioner Digital Stress Scale (DSS) dengan Uji Validitas 0,80 dan Reabilitas 0.88 yang Dimana sudah valid dan realibel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa stres digital mahasiswa berada pada kategori sedang dengan faktor penyebab terbesar terdiri dari fear of missing out (40%), smartphone attachment (30%), information overload (10%), manajemen waktu dan batas digital (10%), multitasking digital (5%), dan tekanan media sosial (5%). Penelitian ini menyimpulkan bahwa stres digital mahasiswa dipengaruhi oleh kombinasi faktor personal, akademik, dan sosial yang terintegrasi dalam kehidupan digital sehari-hari.Berdasarkan penelitian ini perlunya penguatan literasi digital, peningkatan kemampuan manajemen waktu, pembatasan penggunaan gawai, serta dukungan institusi berupa edukasi kesehatan mental untuk menurunkan risiko stres digital.