Novianti Rossalina
Institut Teknologi Kalimantan

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PENDEKATAN DESAIN BERKELANJUTAN PADA PLATFORM 3D IMERSIF UNTUK MENDUKUNG KONSERVASI WARISAN BUDAYA KALIMANTAN TIMUR Eko Agung Syaputra; Ramadhan Paninggalih; Hesti Rosita Dwi Putri; Supratiwi Amir; Novianti Rossalina
Tanra: Jurnal Desain Komunikasi Visual Fakultas Seni Dan Desain Universitas Negeri Makassar Vol 12, No 3 (2025): Desember
Publisher : Universitas Negeri makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/tanra.v12i3.76937

Abstract

Perkembangan teknologi imersif telah membuka peluang baru dalam pelestarian dan diseminasi warisan budaya, memungkinkan pengalaman museum yang interaktif dan inklusif melampaui batas ruang dan waktu. Penelitian ini mengusulkan dan mengevaluasi pendekatan desain berkelanjutan melalui pengembangan platform museum digital Lamiang Nusantara, yang mengintegrasikan metodologi design sprint dan evaluasi kinerja kuantitatif. Fokus penelitian mencakup perbandingan tiga teknik pemodelan 3D — Luma AI berbasis NeRF, fotogrametri Polycam, dan pemindaian LiDAR — untuk menilai akurasi representasi artefak, ketajaman tekstur, dan kesesuaian untuk konservasi budaya. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa Luma AI menghasilkan fidelitas visual tertinggi, Polycam menawarkan kompromi optimal antara kualitas dan aksesibilitas untuk digitalisasi massal, sedangkan LiDAR lebih cocok untuk pemetaan ruang berskala besar daripada detail artefak. Uji coba pengguna yang melibatkan 50 responden menghasilkan tingkat kepuasan rata-rata 2.317 pada kategori “sangat setuju”, menegaskan efektivitas platform dalam meningkatkan pemahaman dan keterlibatan budaya. Kontribusi penelitian ini terletak pada pengembangan model visualisasi imersif yang dapat diskalakan dan mendukung tujuan pelestarian budaya digital serta strategi Smart City. Namun, keterbatasan penelitian mencakup jumlah artefak yang terbatas, ketergantungan pada perangkat pemindaian berbasis ponsel, dan pemrosesan berbasis cloud. Studi selanjutnya disarankan untuk memperluas cakupan artefak, mengintegrasikan teknologi pemindaian yang lebih canggih, serta mengeksplorasi real-time rendering untuk meningkatkan autentisitas dan keberlanjutan platform.
Platform Visualisasi 3d Imersif Untuk Pelestarian Berkelanjutan Warisan Budaya Di Kalimantan Timur Eko Agung Syaputra; Ramadhan Paninggalih; Hesti Rosita Dwi Putri; Novianti Rossalina
Visual Heritage: Jurnal Kreasi Seni dan Budaya Vol 8, No 1 (2025): Visual Heritage: Jurnal Kreasi Seni Dan Budaya
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30998/vh.v8i1.16016

Abstract

Perkembangan teknologi imersif telah mengubah cara pelestarian dan diseminasi warisan budaya, memungkinkan museum menghadirkan pengalaman interaktif dan personal di luar batas ruang dan waktu. Penelitian ini memperkenalkan serta mengevaluasi Lamiang Nusantara, sebuah platform visualisasi 3D imersif yang dirancang untuk melestarikan dan mempromosikan warisan budaya Kalimantan Timur melalui representasi digital yang dinamis. Dengan menggunakan metode design sprint yang mengintegrasikan prototyping iteratif dan keterlibatan pemangku kepentingan, penelitian ini berfokus pada peningkatan akurasi render, responsivitas sistem, dan interaktivitas pengguna. Uji kinerja komparatif menunjukkan bahwa Luma AI memberikan fidelitas visual tertinggi dengan nilai RMS serendah 0,00063, jauh lebih unggul dibandingkan Polycam (0,01275) dan LiDAR (0,05245). Meskipun LiDAR kurang sesuai untuk digitalisasi artefak detail karena tingkat error yang tinggi (CMDM 0,378595), metode ini tetap efektif untuk pemetaan ruang berskala besar. Sementara itu, Polycam menawarkan keseimbangan optimal antara kualitas dan aksesibilitas sehingga praktis untuk digitalisasi massal. Evaluasi pengguna menghasilkan skor rata-rata 2,317 pada kategori “sangat setuju”, yang menegaskan bahwa visualisasi 3D imersif mampu meningkatkan pemahaman artefak budaya sekaligus kesadaran terhadap pelestarian warisan budaya. Hasil ini menegaskan signifikansi ilmiah dan praktis teknologi imersif dalam memperluas akses publik serta mendorong pelestarian budaya berkelanjutan di Kalimantan Timur.
PRESERVASI WARISAN BUDAYA KALIMANTAN: ANALISIS KEBUTUHAN PLATFORM IMERSIF PERSPEKTIF PROFESIONAL PARIWISATA DAN BUDAYA Eko Agung Syaputra; Ramadhan Paninggalih; Hesti Rosita Dwi Putri; Novianti Rossalina
Mozaik : Journal of Art and Architecture Vol. 4 No. 1 (2026): April 2026
Publisher : Universitas Islam Zainul Hasan Genggong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55210/kfs8zy34

Abstract

Transformasi digital dalam pelestarian warisan budaya kerap gagal akibat pendekatan technology-driven yang mengabaikan kebutuhan pengguna di lapangan. Di Kalimantan, tantangan ini semakin kompleks akibat variasi kesiapan digital, keterbatasan sumber daya organisasi kebudayaan, serta belum selarasnya pemanfaatan teknologi seperti eXtended Reality (XR) dan Internet of Things (IoT) dengan ekspektasi pemangku kepentingan lokal. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebutuhan, ekspektasi, dan preferensi pemangku kepentingan kebudayaan dan pariwisata sebagai basis perancangan platform berbasis cloud Lamiang Nusantara yang berorientasi pengguna (user-centered). Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif melalui metode survei kuesioner terstruktur yang disebarkan kepada 122 profesional pariwisata dan budaya di lima provinsi di Kalimantan. Data dianalisis secara statistik kuantitatif untuk memetakan fitur, layanan, dan fungsionalitas paling relevan yang harus diintegrasikan ke dalam platform. Hasil penelitian menunjukkan tingginya permintaan terhadap solusi berbasis cloud yang menggabungkan XR, IoT, sensor, dan perangkat pintar untuk mengumpulkan data kontekstual serta menghadirkan pengalaman yang personal, imersif, dan peka terhadap konteks. Fitur prioritas utama meliputi aksesibilitas konten terpadu (73,77%), manajemen profil dan personalisasi (60,66%), sistem rekomendasi (59,02%), serta rekognisi objek 3D untuk XR (57,38%). Penelitian ini menyimpulkan bahwa keberhasilan pengembangan platform budaya digital ditentukan oleh kesesuaian antara kecanggihan fitur dan kebutuhan riil pemangku kepentingan lokal. Implikasi temuan ini memberikan panduan desain (design guidelines) yang berharga bagi pengembangan alat digital yang secara efektif mendukung organisasi kebudayaan dalam melibatkan pengunjung dan menjaga keberlanjutan warisan budaya.