Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Synergistic Effects of Walking and Acupressure on Stroke Risk Reduction in Individuals with Hypertension and Diabetes Melitus Leli Mulyati; Yanti Sutriyanti; Meigo Anugra Jaya; Raden Siti Maryam; Tri Endah Pangastuti
Jurnal Penelitian Pendidikan IPA Vol 12 No 4 (2026)
Publisher : Postgraduate, University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jppipa.v12i4.14937

Abstract

Stroke is a leading cause of death and disability worldwide. Most strokes are associated with modifiable risk factors, such as hypertension, diabetes mellitus, and high cholesterol. These risk factors can be managed through non-pharmacological approaches, such as physical activity and complementary therapies. To analyze the effect of a combination of walking intervention and acupressure therapy on blood pressure, fasting blood glucose levels, and cholesterol levels in patients with stroke risk factors. Methods: This study used a quantitative method with a quasi-experimental two-group pretest–posttest design. A total of 60 respondents from the working areas of the Curup Community Health Center and the Perumnas Community Health Center were divided into an intervention group and a control group. The intervention group received a walking program combined with acupressure therapy and was monitored daily using a checklist. Blood pressure was measured using an Omron digital sphygmomanometer, while fasting blood glucose and cholesterol levels were measured using a Multimeter Auto Check device. Measurements were taken before the intervention and on the 12th day after the intervention. Data analysis used paired t-tests, Wilcoxon tests, and Mann–Whitney tests according to data distribution. Conclusion: There were significant differences in systolic blood pressure, fasting blood glucose levels, and cholesterol levels in the intervention group after the intervention (p < 0.001). However, changes in diastolic blood pressure did not show significant differences during the study period. The Mann–Whitney test also showed significant differences between the intervention and control groups in systolic blood pressure, fasting blood glucose, and cholesterol. Stroke prevention education has a positive impact on controlling stroke risk factors, particularly systolic blood pressure, fasting blood sugar, cholesterol, and knowledge levels. Health behavior monitoring using checklists has been implemented, but increased monitoring intensity is needed to support optimal clinical outcomes.
EFEKTIFITAS TERAPI AKUPRESUR DAN PIJAT REFLEKSI KAKI TERHADAP PENURUNAN TEKANAN DARAH PADA PASIEN HIPERTENSI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS CURUP Leli Mulyati; Anisa Mayasari; Almaini
Jurnal Vokasi Keperawatan (JVK) Vol. 9 No. 1 (2026): JUNI
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/jvk.v9i1.48479

Abstract

Latar Belakang: Hipertensi merupakan salah satu masalah kesehatan yang banyak ditemukan dan dapat memicu komplikasi serius seperti stroke, gagal jantung, dan gangguan ginjal. Penatalaksanaan non-farmakologis seperti terapi akupresur dan pijat refleksi kaki dapat membantu menurunkan tekanan darah melalui mekanisme relaksasi, stimulasi saraf parasimpatis, dan peningkatan aliran darah.Tujuan : Mengetahui efektivitas terapi akupresur dan pijat refleksi kaki terhadap penurunan tekanan darah pada pasien hipertensi di Puskesmas Curup. Metode: Penelitian ini menggunakan desain Quasi Experiment dengan rancangan pre-test and post-test with control group. Hasil: Berdasarkan uji analisis Independent T-Tes, terapi akupresure menunjukkan penurunan tekanan darah yang lebih besar dibandingkan pijat refleksi kaki. Tekanan darah sistolik memiliki selisih rerata 5,56 mmHg dengan p = 0,000, sedangkan tekanan darah diastolik menunjukkan selisih 2,275 mmHg dengan p = 0,049. Hasil tersebut menegaskan bahwa akupresure memberikan efek penurunan yang lebih kuat dan signifikan dibandingkan pijat refleksi kaki. Kesimpulan : Akupresur dan pijat refleksi kaki terbukti efektif menurunkan tekanan darah pada pasien hipertensi. Akupresur terbukti efektif menurunkan tekanan darah dibandingkan pijat refleksi kaki. Kedua terapi aman, mudah diterapkan, dan dapat dijadikan pilihan intervensi pendamping untuk membantu pasien mengontrol tekanan darah secara mandiri
Pencegahan dan Penanggulangan Kecacingan Melalui Kolaborasi Lintas Sektor di Sekolah Dasar: Worm Prevention and Control Through Cross-Sector Collaboration in Elementary Schools Demsa Simbolon; Yenni Okfrianti; Deri Kermelita; Darwis Darwis; Leli Mulyati; Rustam Aji Rochmat; Nur Elly; Sahidan Sahidan
Jurnal Pengabdian dan Pengembangan Masyarakat Indonesia Vol. 5 No. 1 (2026)
Publisher : Media Publikasi Cendekia Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56303/jppmi.v5i1.1346

Abstract

Infeksi kecacingan masih menjadi masalah kesehatan masyarakat pada anak usia sekolah, terutama di wilayah dengan sanitasi yang belum memadai. Meskipun program pemberian obat pencegahan massal (POPM) telah dilaksanakan dengan cakupan tinggi, kasus kecacingan masih ditemukan, menunjukkan adanya kesenjangan pada aspek perilaku dan lingkungan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan deteksi dini, pengetahuan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), serta memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam pencegahan kecacingan di SD 86 Tanjung Beringin, Kabupaten Rejang Lebong. Metode yang digunakan adalah intervensi terintegrasi berbasis sekolah dengan melibatkan sektor kesehatan, pendidikan, pemerintah daerah, dan institusi akademik. Kegiatan dilaksanakan pada Oktober–Desember 2025 dan meliputi koordinasi dan advokasi lintas sektor, skrining kecacingan melalui pemeriksaan feses, pemeriksaan kadar hemoglobin, pengukuran status gizi (antropometri dan LILA), pemberian obat cacing, edukasi PHBS, serta monitoring dan evaluasi. Hasil kegiatan menunjukkan prevalensi kecacingan sebesar 36,6% pada siswa, disertai masalah gizi berupa gizi kurang (26,4%), stunting (19,1%), dan anemia (6,4%). Skrining berhasil mengidentifikasi siswa berisiko yang memerlukan tindak lanjut. Selain itu, terjadi penguatan kapasitas guru dan UKS dalam edukasi kesehatan serta peningkatan komitmen lintas sektor dalam mendukung perbaikan sanitasi dan keberlanjutan program. Kegiatan ini menunjukkan bahwa pendekatan terpadu berbasis sekolah yang mengombinasikan deteksi dini, edukasi, dan advokasi lintas sektor berpotensi meningkatkan efektivitas pencegahan kecacingan dalam mendukung pencapaian target Kabupaten Rejang Lebong Zero Kecacingan