Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

AUTHORITY OF NOTARY IN LEGALIZING THE UNDER-HAND AGREEMENT DEED: EXAMINING RESPONSIBILITY AND LEGAL CONSEQUENCES Putri, Prima Resi; Novira , Elyana; Annisa, Febrina; Astuti Palupi, Dwi
IBLAM LAW REVIEW Vol. 4 No. 1 (2024): IBLAM LAW REVIEW
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM IBLAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52249/ilr.v4i1.337

Abstract

This research examines the legal authority of notaries in legalizing underhand deed agreements based on their responsibilities and legal consequences. The method used in this research is normative legal research method, which is based on statutory approach and conceptual approach. The results obtained show that the responsibility of a notary in legalizing a deed agreement under the hand must be able to guarantee that he is able to carry out, implement, and realize the existence of laws governing the activities of legalizing letters under the hand including to see or check the validity of agreements made by related parties by being careful and disciplined in carrying out procedures for legalizing letters under the hand in accordance with the Notary Position Law. The legal consequences arising in the ratification of the agreement of the deed under the hand, namely if the letter has been legalized by the Notary, the letter under the hand has formal evidentiary power but does not have outward and material evidentiary power. In carrying out its duties, if a Notary is proven to have violated the law, it can be subject to civil sanctions in the form of reimbursement of costs, compensation and interest by passing the evidentiary process. However, a Notary cannot be convicted if they have not committed a violation of a criminal article and have acted in the interest of implementing the provisions of the Notary Law
Pembekalan Bisnis Frozen Food dalam Rangka Menyiapkan Warga Binaan LPP Klas IIB Padang Berwirausaha Setelah Selesai Menjalani Masa Hukuman Pratimaratri, Uning; Ramadhani, Deaf Wahyuni; Annisa, Febrina
E-Dimas: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 16, No 2 (2025): E-DIMAS
Publisher : Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/e-dimas.v16i2.20465

Abstract

Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Klas IIB Padang mempunyai fungsi melakukan pembinaan terhadap perempuan yang berhadapan dengan hukum. Saat ini LPP melakukan pembinaan terhadap perempuan (anak maupun narapidana wanita). Ada 214 perempuan tahanan dan narapidana, 80% dari narapidana wanita di LPP adalah pelaku tindak pidana penyalahgunaan narkotika. Artinya 80% para warga binaan menjalani pembinaan lebih dari 4 tahun. Dalam melakukan pembinaan terhadap narapidana wanita, LPP menghadapi kendala, antara lain kurangnya sumber daya manusia untuk berbagai kegiatan pembekalan, over capacity. Dalam mengatasi permasalahan tersebut, LPP telah melakukan kerjasama dengan pihak lain, salah satunya dengan Universitas Bung Hatta. Dalam rangka melakukan pembinaan terhadap narapidana wanita, dilakukan kegiatan penyadaran bahaya penyalahgunaan narkotika dan pelatihan manajemen keuangan dan mengelola bisnis online, serta praktik frozen food. Tujuan jangka pendek kegiatan ini adalah: warga binaan LPP mempunyai keterampilan bisnis frozen food. Tujuan jangka panjang kegiatan ini adalah: terbentuknya unit usaha frozen food di LPP Klas IIB Padang, sehingga warga binaan mempunyai pendapatan. Metode yang digunakan dalam kegiatan PKM ini ada beberapa tahap: (1) Tahap persiapan: pemetaan tentang minat dan bakat dari warga binaan oleh LPP; (2) Tahap pelaksanaan: peningkatan pengetahuan warga binaan tentang bisnis online; peningkatan pengetahuan tentang bisnis makanan beku (frozen food); peningkatan pengetahuan tentang pengelolaan keuangan. Dari kegiatan yang dilakukan disimpulkan bahwa: (1) telah meningkatnya pengetahuan warga binaan tentang pengelolaan bisnis frozen food; (2) perlu upaya lanjutan untuk mewujudkan unit bisnis frozen food di dalam LPP.
Child Protection in the Kid Influencer Era: Regulatory and Law Enforcement Challenges in Indonesia Annisa, Febrina; Gustaliza, Resma Bintani; Pratimaratri, Uning; Wulandari, Riska
Jurnal El-Thawalib Vol 6, No 4 (2025)
Publisher : UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24952/el-thawalib.v6i4.17051

Abstract

Advances in information technology and improvements in internet network infrastructure, it is becoming easier for everyone to get and work using information technology. Influencers appear when the methods used in marketing use influencer marketing techniques. Currently, many target marketers use child influencers to target children. Because children are considered unable to determine their own will, the role of various parties is needed to prevent child influencers from being exploited. Using or directing children as influencers compromises children's emotional and physical development. This article uses a normative juridical approach, analyzed qualitatively. According to literature research, Indonesia ratified the UN Convention on the Rights of the Child, as shown by Presidential Decree Number 36 of 1990 concerning Ratification of the Convention on the Rights of the Child, Amendments to the 1945 Constitution, including Article 28B Paragraph (2), and Law -Law Number 23 of 2002 concerning Child Protection. During the implementation of child protection instruments, all relevant parties must prioritize initiatives that protect children from exploitation.
The Urgency of Environmental Criminal Law Reform in Ensnaring Corporations: A Case Study of Tin Ecological Crimes by Harvey Moeis Loso Judijanto; Nurbeti Nurbeti; Febrina Annisa; Resma Bintani Gustaliza
Journal of Strafvordering Indonesian Vol. 2 No. 2 (2025): JOSI - MAY
Publisher : PT. Anagata Sembagi Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62872/aaf32b77

Abstract

This study examines the urgency of environmental criminal law reform in Indonesia in ensnaring corporations as the main perpetrators of ecological crimes, especially through a case study of tin mining involving Harvey Moeis. Although Law Number 32 of 2009 concerning Environmental Protection and Management (PPLH Law) regulates the criminalization of business entities, its implementation is still limited to an individualistic approach that is difficult to reach corporate accountability structurally. The inconsistency of the PPLH Law with Law Number 40 of 2007 concerning Limited Liability Companies (PT Law) weakens the effectiveness of law enforcement, because the provisions of social and environmental responsibility in the PT Law are administrative without adequate criminal threats. The dominant vicarious liability approach still fails to accommodate the principles of strict liability and corporate mens rea, so corporations often escape serious criminal sanctions. The research uses a normative qualitative approach with the analysis of primary and secondary legal materials to understand legal constraints and prepare reform recommendations. The results affirm the need for harmonization across laws, strengthening corporate collective accountability, and applying progressive principles in penalties. These reforms are essential to realize effective ecological justice and corporate accountability for environmental crimes in a systemic and sustainable manner.
Komparasi Hukum Tindak Pidana Pencucian Uang dalam Perspektif Indonesia dan Singapura: Comparative Legal Analysis of Money Laundering Offences from the Perspectives of Indonesia and Singapore Rahma Sari Nasution; Riska Wulandari; Deaf Wahyuni; Febrina Annisa
Jurnal Hukum Pidana Indonesia Vol. 2 No. 2 (2025)
Publisher : Asosiasi Pengajar Hukum Pidana dan Kriminologi Indonesia (ASPERHUPIKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67468/jhpi.v2i2.39

Abstract

Kejahatan pencucian uang merupakan tindak pidana lintas negara yang berpotensi mengganggu stabilitas sistem keuangan, perekonomian, serta kepercayaan publik terhadap penegakan hukum. Penelitian ini bertujuan membandingkan pengaturan dan pemidanaan tindak pidana pencucian uang di Indonesia dan Singapura. Indonesia melalui Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana mengintegrasikan ketentuan pencucian uang ke dalam kodifikasi hukum pidana nasional, sedangkan Singapura mengaturnya melalui Corruption, Drug Trafficking and Other Serious Crimes (Confiscation of Benefits) Act 1992 sebagai undang-undang khusus. Penelitian ini menggunakan metode hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan perbandingan hukum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Indonesia lebih menekankan kepastian rumusan delik, pidana penjara, dan pidana denda, sementara Singapura lebih menonjolkan mekanisme penyitaan dan perampasan manfaat ekonomi dari hasil kejahatan. Perbedaan tersebut mencerminkan orientasi kebijakan hukum pidana yang berbeda. Indonesia bergerak melalui pendekatan kodifikasi dan pemidanaan, sedangkan Singapura mengutamakan pemulihan aset serta perlindungan integritas sistem keuangan. Oleh karena itu, pengaturan pencucian uang di Indonesia masih perlu diperkuat, khususnya dalam aspek perampasan aset, agar penegakan hukum tidak hanya menghukum pelaku, tetapi juga mampu memutus akses pelaku terhadap keuntungan hasil tindak pidana.
Determinan Akademisi Perguruan Tinggi Terhadap Akselerasi Proteksi Internasional Atas Karya Cipta Dalam Hak Kekayaan Intelektual Ahmad Iffan; Resma Bintani Gustaliza; Febrina Annisa; Hendriko Arizal; Helmi Chandra SY; Sintong Arion Hutapea
PROGRESIF: Jurnal Hukum Vol 19 No 2 (2025): PROGRESIF: Jurnal Hukum
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33019/r7st0261

Abstract

The international intellectual property law regime provides a global legal framework for the protection of copyright works; however, its implementation within higher education institutions remains challenging. This study aims to analyze the determinants of university academics’ engagement in copyright registration within the international intellectual property regime and to identify the factors influencing the low participation rate in copyright protection. The study employs a juridical-empirical approach by examining institutional data and internal policy frameworks of the selected higher education institution. The findings reveal that although the number of academic staff with advanced degrees is relatively high, the rate of copyright registration has significantly declined. Determinant factors identified include legality, institutional appreciation, research clustering, administrative obligation, personal branding, and dissemination of IP policy. The study concludes that weak legal awareness and limited institutional policy enforcement are the primary barriers to effective copyright protection. Therefore, strengthening institutional regulations and aligning them with international legal principles are essential strategies to enhance academic participation in copyright registration both nationally and internationally.