Hilda Hilaliyah
Universitas Negeri Surabaya

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Kritik Sosial Pada Album Self Titled Karya Figura Renata: Kajian Stilistika Kritis Hilda Hilaliyah; Darni Darni; Rai Bagus Triadi
SAWERIGADING Vol 31, No 1 (2025): Sawerigading, Edisi Juni 2025
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v31i1.1305

Abstract

This study aims to determine the critical stylistics and meaning of social criticism that is discussed in the album Self Titled by Figura Renata. This research is descriptive-qualitative research. The data was collected then using note-taking techniques. Data analysis methods include data reduction, data presentation, and drawing conclusions. Based on the research results, it was found that 1) Critical Stylistics in Figura Renata's self-titled album uses poetic diction and language style. Even though the lyrics are a form of protest and criticism, many people do not understand the meaning so they need study or analysis. Figura Renata in her song lyric discourse discusses hiddenly through lyrical word choices (such as poetry) about social perceptions, perceptions, thoughts and behavior in the social life of today's society. 2) Independent musician band Figura Renata criticized several things. Firstly, in the song Gersang, today's society tends to be more independent and ignores social life. Second, in the song Benalu, Figura Renata criticizes the lives of people who cause a lot of pollution on earth, such as air pollution, noise pollution and so on. Third, in the song Elegy, Figura Renata criticizes people who have power, namely the strong oppressing the weak. Fourth, in the song Balada Penerka criticizes hypocritical characters who like images, like to do things to create positive images of society in order to gain public sympathy.  AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui stilistika kritis dan makna kritik sosial yang diwacanakan dalam album Self Tittled karya Figura Renata. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif-kualitiatif. Data yang dikumpulkan menggunakan teknik catat-simak. Metode analisis data meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan. Berdasarkan hasil penelitian, maka ditemukan 1) Stilistika Kritis dalam Album Self Titled Figura Renata menggunakan diksi dan gaya bahasa puitis. Meskipun liriknya adalah bentuk protes dan kritis, banyak yang tidak paham akan maknanya sehingga membutuhkan pengkajian atau analisis. Figura Renata dalam wacana lirik lagu-lagunya membahas secara tersembunyi melalui pilihan kata liris (seperti puisi) tentang kesenjangan sosial, penindasan, pemikiran, dan perilaku kehidupan sosial masyarakat saat ini. 2) Musisi band independen Figura Renata mengkritisi beberapa hal. Pertama, dalam lagu Gersang, masyarakat saat ini yang lebih cenderung independen dan mengabaikan kehidupan sosial. Kedua, dalam lagu Benalu, Figura Renata mengkritisi kehidupan masyarakat yang banyak membuat polusi di bumi, seperti polusi udara, polusi suara dan lain-lain. Ketiga, dalam lagu Elegi, Figura Renata mengkritisi orang-orang yang memiliki kuasa yakni kaum kuat menindas kaum lemah. Keempat, dalam lagu Balada Penerka mengkritisi karakter munafik yang suka pencitraan, gemar melakukan sesuatu demi terciptanya citra-citra positif publik demi memperoleh simpati publik.
Taksonomi Fungsi Lanskap Linguistik Taman Ayodia dan Taman Puring Jakarta Selatan Hilda Hilaliyah; Mulyono Mulyono; Mintowati Mintowati; Agusniar Dian Savitri; Djodjok Soepardjo
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 13, No 1 (2024): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v13i1.7063

Abstract

Ayodia Park and Puring Park are one of the parks located in DKI Jakarta. In the park there are many linguistic landscapes that can be studied and analyzed in the midst of English globalization. The Indonesian language is present as the national language for the development and education it deserves. This research aims to study the use of language for markers on two parks in the Capital viewed from information and symbolic functions. This method of research is qualitatively descriptive using the approaches of Spolsky and Coper (1997) as well as Landry and Bourhis (1991). The results of the research showed that the use of markers in Ayodia Park and South Jakarta Puring Park has several boards, namely officials, zone labels, regulations, ban boards and warning boards. These boards use a variety of materials, ranging from cement, zinc, fiber, posters with a combination of attractive colors, like red, white, green, orange, and yellow. The language used is mostly Indonesian, there are also some monolinguistic and bilingual boards. From the overall analysis it is known that of several elements of LL Sapolsky and Cooper namely (1) street signs, (2) advertising signes, (3) warnings and prohibitions, (4) the names of buildings, (5) information sign, (6) warning sign, (7) objects, and (8) graffiti used in Puring Park and Ayodya Park. These eight elements have very important functions and utilities for the users of the public area, that is, the general public. By using and managing these linguistic landscape elements well, parks like Puring Park and Ayodya Park can be a pleasant, informative, and safe environment for its visitors. AbstrakTaman Ayodia dan Taman Puring adalah salah satu taman yang terletak di DKI Jakarta. Dalam taman terdapat banyak lanskap linguistik yang dapat dikaji dan dianalisis di tengah pengglobalisasian bahasa Inggris. Bahasa Indonesia hadir sebagai bahasa nasional untuk pembangunan dan pendidikan yang sudah sepatutnya. Penelitian ini bertujuan mengkaji penggunaan bahasa untuk papan penanda pada dua taman di Ibu Kota dilihat dari fungsi informasi dan simbolik. Metode penelitian ini kualitatif deskriptif dengan menggunakan pendekatan Spolsky dan Coper (1997) serta Landry dan Bourhis (1991). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan papan penanda di Taman Ayodia dan Taman Puring Jakarta Selatan terdapat beberapa papan, yaitu papan peresmian, papan tanda pelabelan zona area, papan peraturan, papan larangan, dan papan peringatan. Papan ini menggunakan berbagai material, mulai dari semen, seng, fiber, poster dengan kombinasi warna-warna yang mengundang atensi, seperti merah, putih, hijau, orange, dan kuning. Bahasa yang digunakan lebih banyak berbahasa Indonesia, ada pula beberapa papan yang monolinguistik dan bilingual. Dari keseluruhan analisis diketahui bahwa dari beberapa elemen LL Sapolsky dan Cooper yaitu (1) tanda jalan, (2) tanda iklan, (3) peringatan dan larangan, (4) nama-nama gedung, (5) tanda informasi, (6) tanda peringatan, (7) objek, dan (8) grafiti digunakan di Taman Puring dan Taman Ayodya. Kedelapan elemen ini memiliki fungsi dan kegunaan yang sangat penting bagi pengguna area publik yaitu masyarakat luas. Dengan memanfaatkan dan mengelola elemen-elemen lanskap linguistik ini dengan baik, taman seperti Taman Puring dan Taman Ayodya dapat menjadi lingkungan yang menyenangkan, informatif, dan aman bagi pengunjungnya.
Komparasi Lanskap Linguistik Wilayah Entikong dan Tebedu sebagai Potret Negosiasi Identitas di Perbatasan Indonesia-Malaysia Hilda Hilaliyah; Sulis Setiawati; Ahmad Muzaki; Ahmad Khoiril Anam; Fauzi Rahman
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 14, No 2 (2025): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v14i2.8382

Abstract

Tebedu (Malaysia) as a form of representation of identity negotiation in the Indonesia-Malaysia border area. The method used in this study is qualitative with a descriptive-comparative type of research. The data collection was carried out through participatory observation and visual documentation carried out in the Entikong area, Sanggau Regency, West Kalimantan and Tebedu, Sarawak State, Malaysia. The collected data were then analyzed based on Landry & Bourhis' linguistic landscape concept which consists of informational and symbolic functions of linguistic markers of public space. The results showed that the linguistic landscape in Entikong represented symbolic messages such as nationalism, anti-corruption and anti-drug campaigns, hero honor, and the strengthening of the rupiah currency. In contrast, the linguistic landscape in Tebedu displays symbolic messages in a more limited form through directional markers, usage instructions, appeals, prohibitions, local cultural icons, and local political slogans. This difference confirms that Entikong makes language a means of state ideology, while Tebedu positions the language of the public space as a means of functional communication. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan lanskap linguistik di wilayah Entikong (Indonesia) dan Tebedu (Malaysia) sebagai bentuk representasi negosiasi identitas di kawasan perbatasan Indonesia-Malaysia. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif-komparatif. Adapun pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif dan dokumentasi visual yang dilakukan di wilayah Entikong, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat dan Tebedu, Negara Bagian Sarawak, Malaysia. Data yang terkumpul kemudian dianalisis berdasarkan konsep lanskap linguistik Landry & Bourhis yang terdiri atas fungsi informatif dan simbolis terhadap penanda linguistik ruang publik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lanskap linguistik di Entikong merepresentasikan pesan simbolik seperti nasionalisme, kampanye anti-korupsi dan anti-narkoba, penghormatan pahlawan, serta penguatan mata uang Rupiah. Sebaliknya, lanskap linguistik di Tebedu menampilkan pesan simbolik dalam bentuk lebih terbatas melalui penanda-penanda petunjuk arah, petunjuk penggunaan, imbauan, larangan, ikon budaya lokal, dan slogan politik setempat. Perbedaan ini menegaskan bahwa Entikong menjadikan bahasa sebagai sarana ideologi negara, sementara Tebedu memosisikan bahasa ruang publik sebagai sarana komunikasi fungsional.