Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

REVITALISASI ETNOPAPER: TRANSFORMASI LIMBAH SELULOSA DAUN KERING MELALUI TEKNOLOGI PULPING BERBASIS ETNOSAINS DALUANG UNTUK MENUMBUHKAN LIFE SKILL SISWA Ashar Hasairin; Idramsa Idramsa; Onggal Sihite; Suci Rahmawati; Sailana Mira Rangkuty; Khairiza Lubis; Muliawati Muliawati; Nila Zusmita Wasni; Halim Simatupang; Wasis Wuyung Wisnu Brata
Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 9, No 7 (2026): MARTABE : JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jpm.v9i7.2867-2874

Abstract

Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini dilatarbelakangi oleh belum optimalnya pengelolaan limbah daun di Sekolah Syarif Ar Rasyid Kota Binjai yang selama ini dilakukan dengan pembakaran, sehingga menimbulkan masalah baru berupa pencemaran udara. Hal ini juga sejalan dengan hasil observasi rendahnya literasi etnosains siswa yaitu 90% siswa hanya mengetahui kertas dari kayu pohon. Tujuan kegiatan adalah mengimplementasikan teknologi tepat guna berbasis teknik Daluang untuk mengolah limbah daun menjadi kertas, meningkatkan literasi lingkungan, serta menumbuhkan life skill siswa. Metode pelaksanaan meliputi tiga tahap: (1) Focus Group Discussion (FGD) untuk audit vegetasi dan sinkronisasi kurikulum; (2) sosialisasi dan pelatihan implementasi IPTEKS melalui demonstrasi pembuatan pulp (pencacahan dengan mesin mini cooper 200 watt, perebusan dengan campuran 100 gr soda kue dan 900 mL air selama 15 menit, pemukulan serat, penambahan air kanji, pencetakan, dan pengeringan); (3) pendampingan dan evaluasi mutu. Hasil kegiatan menunjukkan: (a) reduksi volume limbah daun sebesar 70% dari 5–15 kg per minggu; (b) peningkatan life skill siswa dengan rerata capaian 3,4 (skala 4,0) yang mencakup kecakapan personal (3,8), sosial (3,5), akademik (3,0), dan vokasional (3,3); (c) keberhasilan produksi kertas dari berbagai bahan (daun kering, rumput, sampah kertas) daun kering memerlukan konsentrasi soda kue dan perebusan yang lebih lama; (d) terintegrasinya kearifan lokal teknik Daluang dalam pembelajaran kontekstual. Transformasi limbah selulosa daun melalui teknologi pulping berbasis etnosains Daluang tidak hanya menyelesaikan masalah ekologi sekolah tetapi juga efektif menumbuhkan kecakapan hidup siswa serta melestarikan warisan budaya Nusantara. Kegiatan ini juga mendukung pencapaian SDGs poin 4 (pendidikan berkualitas) dan poin 12 (konsumsi dan produksi bertanggung jawab).
PEMANFAATAN ECENG GONDOK SEBAGAI PAKAN ALTERNATIF UNGGAS MELALUI REKAYASA NUTRISI DAN MEKANISASI PRODUKSI UNTUK PENGENDALIAN DEGRADASI LINGKUNGAN Tri Harsono; Marlinda Nilan Sari Rangkuti; Suci Rahmawati; Adriana Y.D. Lbn Gaol; Rizal Mukra; Widya Arwita; Mustaqim Mustaqim; Widia Ningsih; Imelda Nababan
Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 9, No 7 (2026): MARTABE : JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jpm.v9i7.2849-2856

Abstract

This activity was carried out in Medan Marelan, with the Melati Partner Group. The main problems were the dependence on commercial feed reaching 80% of production costs and the high population of water hyacinth covering 10% of the water surface, causing flooding and ecosystem disruption. The objective of this activity was to provide an alternative through the utilization of water hyacinth as chicken feed. The activity was conducted from April to June 2026 through four stages, namely: socialization to increase partner awareness about the potential of water hyacinth; training and technology application which included structured harvesting techniques, the use of a chopper machine, a feed pellet machine, and the production of fermented feed with a formulation of 10 kg of rice bran, 10 kg of corn, 10 kg of concentrate, 10% water hyacinth (equivalent to 3.33 kg), and sufficient EM4 solution; followed by intensive mentoring to ensure feed processing skills were implemented independently; and monitoring. The results showed that 10% fermented water hyacinth feed resulted in a cost per kilogram of feed of Rp5,366, which is cheaper than non-fermented feed at Rp5,912/kg, enabling partners to save costs of Rp18,270 per 33.33 kg of feed, or approximately 9.2% more efficient. Furthermore, an increase in chicken body weight of 0.4 kg indicated that chicken performance was maintained and not significantly different from 100% commercial feed. This activity also supports the Sustainable Development Goals (SDGs). The utilization of 10% fermented water hyacinth provides a highly beneficial dual impact