Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Pengelolaan Daun Tarung Sebagai Ekstrak Pewarna Alami Sarung Masyarakat Suku Kajang Emil Fatra; Thiara Tri Funny Manguma
KIRANA : Social Science Journal Vol. 1 No. 3 (2024): KIRANA : Social Science Journal
Publisher : Yayasan Sagita Akademia Maju

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61579/kirana.v1i3.166

Abstract

Penggunaan pewarna alami dalam industri tekstil, khususnya di kalangan masyarakat tradisional, semakin mendapatkan perhatian. Salah satu sumber pewarna alami yang banyak digunakan adalah daun tarung (Lantana camara), yang dikenal oleh masyarakat Suku Kajang di Sulawesi Selatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengelolaan daun tarung sebagai ekstrak pewarna alami untuk sarung, serta dampaknya terhadap keberlanjutan budaya dan ekonomi masyarakat. Melalui pendekatan kualitatif, data diperoleh dari wawancara, observasi, dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan ada empat proses pengelolaan daun Tarung yaitu (1). Proses Awal Pengambilan Daun tarung, (2). Proses Pencampuran dan Perendaman, (3). Pewarnaan, dan (4) Fhinising Aplikasi memenung. Selanjutnya ini juga menunjukkan bahwa pengelolaan daun tarung tidak hanya berkontribusi pada keberlanjutan ekonomi masyarakat, tetapi juga melestarikan tradisi pewarnaan alami yang telah ada sejak lama. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan bagi pengembangan produk tekstil ramah lingkungan serta mendorong pelestarian budaya lokal.
KONSEP PAYANGO PADA RUMAH TINGGAL TRADISIONAL DI GORONTALO Umar; Emil Fatra; Thiara Tri Funny Manguma
KIRANA : Social Science Journal Vol. 1 No. 3 (2024): KIRANA : Social Science Journal
Publisher : Yayasan Sagita Akademia Maju

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61579/kirana.v1i3.175

Abstract

Gorontalo, a province located in the north of the island of Sulawesi, has a form of cultural custom regarding the procedures for making a building which has a very important meaning in development, called the concept of "payango". This research aims to find out how the payango concept is applied to traditional houses in Gorontalo.. The method used in this research is qualitative analysis using an ethnographic approach. The results of research on the Payango concept in Gorontalo people's houses regulate determining the basic size of the house (length and width), determining the placement of Pulo Payango (starting point), digging foundations or pillars, determining 5 points for placing Payango materials, determining the orientation/direction of the building, and determining the position of the doors and windows of the house
Framing Media TEMPO dalam Membentuk Opini Publik terhadap Amran Sulaiman pada Isu ‘Poles-Poles Beras Busuk’ Emil Fatra; Thiara Tri Funny Manguma
Culture education and technology research (Cetera) Vol. 3 No. 2 (2026): Vol. 3 No. 2 2026
Publisher : FKIP - Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/ctr.v3i2.241

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana Majalah Tempo membingkai isu “poles-poles beras busuk” melalui pemberitaan dan ilustrasi yang dipublikasikannya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis framing Robert N. Entman yang menitikberatkan pada empat elemen utama, yaitu pendefinisian masalah, diagnosis penyebab, penilaian moral, dan rekomendasi penyelesaian. Data penelitian diperoleh dari 18 item pemberitaan Tempo yang membahas isu tersebut. Hasil penelitian menunjukkan tiga temuan utama. Pertama, Tempo secara konsisten menempatkan persoalan beras sebagai isu strategis yang berkaitan dengan tata kelola pangan nasional, pengawasan distribusi, serta perlindungan konsumen. Kedua, Tempo membangun citra kritis terhadap Menteri Pertanian Amran Sulaiman melalui pemilihan diksi, sudut pandang pemberitaan, dan pengaitan dengan relasi kekuasaan yang dianggap memiliki pengaruh dalam pengelolaan sektor pangan. Ketiga, langkah pelaporan balik dan gugatan hukum yang dilakukan Amran Sulaiman terhadap Tempo dibingkai sebagai tindakan yang berpotensi menimbulkan tekanan terhadap kebebasan pers dan ruang kritik publik. Temuan ini menunjukkan bahwa Tempo tidak hanya berfungsi sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai aktor media yang secara aktif mengonstruksi realitas sosial melalui proses framing terhadap isu pangan dan relasi kekuasaan di Indonesia.
Framing Media TEMPO dalam Membentuk Opini Publik terhadap Amran Sulaiman pada Isu ‘Poles-Poles Beras Busuk’ Emil Fatra; Thiara Tri Funny Manguma
Culture education and technology research (Cetera) Vol. 3 No. 2 (2026): Vol. 3 No. 2 2026
Publisher : FKIP - Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/ctr.v3i2.241

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana Majalah Tempo membingkai isu “poles-poles beras busuk” melalui pemberitaan dan ilustrasi yang dipublikasikannya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis framing Robert N. Entman yang menitikberatkan pada empat elemen utama, yaitu pendefinisian masalah, diagnosis penyebab, penilaian moral, dan rekomendasi penyelesaian. Data penelitian diperoleh dari 18 item pemberitaan Tempo yang membahas isu tersebut. Hasil penelitian menunjukkan tiga temuan utama. Pertama, Tempo secara konsisten menempatkan persoalan beras sebagai isu strategis yang berkaitan dengan tata kelola pangan nasional, pengawasan distribusi, serta perlindungan konsumen. Kedua, Tempo membangun citra kritis terhadap Menteri Pertanian Amran Sulaiman melalui pemilihan diksi, sudut pandang pemberitaan, dan pengaitan dengan relasi kekuasaan yang dianggap memiliki pengaruh dalam pengelolaan sektor pangan. Ketiga, langkah pelaporan balik dan gugatan hukum yang dilakukan Amran Sulaiman terhadap Tempo dibingkai sebagai tindakan yang berpotensi menimbulkan tekanan terhadap kebebasan pers dan ruang kritik publik. Temuan ini menunjukkan bahwa Tempo tidak hanya berfungsi sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai aktor media yang secara aktif mengonstruksi realitas sosial melalui proses framing terhadap isu pangan dan relasi kekuasaan di Indonesia.