Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana Majalah Tempo membingkai isu “poles-poles beras busuk” melalui pemberitaan dan ilustrasi yang dipublikasikannya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis framing Robert N. Entman yang menitikberatkan pada empat elemen utama, yaitu pendefinisian masalah, diagnosis penyebab, penilaian moral, dan rekomendasi penyelesaian. Data penelitian diperoleh dari 18 item pemberitaan Tempo yang membahas isu tersebut. Hasil penelitian menunjukkan tiga temuan utama. Pertama, Tempo secara konsisten menempatkan persoalan beras sebagai isu strategis yang berkaitan dengan tata kelola pangan nasional, pengawasan distribusi, serta perlindungan konsumen. Kedua, Tempo membangun citra kritis terhadap Menteri Pertanian Amran Sulaiman melalui pemilihan diksi, sudut pandang pemberitaan, dan pengaitan dengan relasi kekuasaan yang dianggap memiliki pengaruh dalam pengelolaan sektor pangan. Ketiga, langkah pelaporan balik dan gugatan hukum yang dilakukan Amran Sulaiman terhadap Tempo dibingkai sebagai tindakan yang berpotensi menimbulkan tekanan terhadap kebebasan pers dan ruang kritik publik. Temuan ini menunjukkan bahwa Tempo tidak hanya berfungsi sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai aktor media yang secara aktif mengonstruksi realitas sosial melalui proses framing terhadap isu pangan dan relasi kekuasaan di Indonesia.