Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Pertanian Perkotaan sebagai Perwujudan 'Eudaimonia': Studi Kasus Klaster Pertanian di Desa Rejowinangun Ameylia Puspita Rosa Dyah Ayu Arintyas; Raihan Chaerani Putri Budiman
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan Vol 11, No 1 (2025)
Publisher : IAIN SYEKH NUR JATI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/jy.v11i1.20267

Abstract

Pertanian perkotaan (urban farming) semakin digemari di wilayah perkotaan, termasuk di Desa Rejowinangun. Adanya lahan yang sempit dan kurang subur menjadi tantangan yang coba diatasi melalui tren ini. Bertani di wilayah perkotaan tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan pangan, tetapi juga menawarkan berbagai manfaat bagi individu dan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menggali lebih dalam makna di balik praktik pertanian perkotaan dan mengaitkannya dengan konsep eudaimonia atau kebahagiaan sejati dalam filsafat Aristoteles. Melalui pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengalaman dan motivasi petani perkotaan di Rejowinangun. Data akan dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipan, dan analisis dokumen. Analisis tematik akan digunakan untuk mengidentifikasi tema-tema utama terkait praktik pertanian perkotaan dan kaitannya dengan eudaimonia. Temuan awal menunjukkan bahwa petani perkotaan di Rejowinangun didorong oleh berbagai motivasi, termasuk masalah lingkungan, keinginan untuk makanan organik, dan kebutuhan untuk aktivitas fisik dan sosial. Pertanian perkotaan tidak hanya memberikan manfaat nyata seperti produksi pangan, tetapi juga menawarkan imbalan psikologis dan sosial. Peserta sering mengungkapkan perasaan bahagia, puas, dan rasa memiliki yang lebih dalam terhadap komunitas mereka. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pada pemahaman yang lebih mendalam tentang potensi pertanian perkotaan sebagai cara untuk mencapai eudaimonia. Selain itu, penelitian ini juga diharapkan dapat menginspirasi pengembangan program pertanian perkotaan yang lebih terintegrasi dengan upaya peningkatan kualitas hidup masyarakat perkotaan.
Halal Tourism Towards Equity Representation of Multicultural Identity and Human Development: A Case of Lombok, Indonesia Ameylia Puspita Rosa Dyah Ayu Arintyas; Raihan Chaerani Putri Budiman
Jurnal Kepariwisataan: Destinasi, Hospitalitas dan Perjalanan Vol. 7 No. 2 (2023)
Publisher : Research and Community Service Center, Politeknik Pariwisata NHI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34013/jk.v7i2.1246

Abstract

The tourism trend that is currently developing is the halal tourism trend. The trend towards halal tourism appears because the world's Muslim population currently reaches 1.9 billion and represents a relatively large religious population. One country that has also discussed offering halal tourism is Indonesia. With a Muslim population of around 231 million, Indonesia has the world's largest Muslim population. The Indonesian Ministry of Tourism and Creative Economy (Kemenparekraf) is currently focusing on developing halal tourism, emphasising improving services, especially services that serve the great potential of halal tourism (Muslim-friendly). This study focuses on organizing halal tourism in Lombok, a tourist destination in Indonesia that is internationally recognized for organizing halal tourism. In particular, this study discusses the practices of each activity, such as honeymoon packages or trips to certain locations, as well as the provision of prayer rooms, separate toilets for men and women, and halal certification of halal tourism products in Lombok. Then it analyzes the impact of identity and development—multicultural people towards justice. The method used in this study is a qualitative research method using library materials. The study results show that halal tourism plays an important role in the justice process in representing identity in Lombok. Diversity also creates multicultural understanding for tourists, tour operators and the community. This cross-cultural, reflexive and contextual understanding can be used to advance human development, especially by increasing the standard of living and proper education.