Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Etnokimia Pada Budaya Sasambo Sebagai Sumber Proyek P5 Untuk Mata Pelajaran Kimia SMA Fase F Sunniarti Ariani; Jeckson Siahaan; Lalu Rudyat Telly Savalas; Nora Listantia; Dodiy Firmansyah; Rozana Lestari; Ria Sofia Nurmala
Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan Vol. 10 No. 4b (2025): Edisi Khusus
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jipp.v10i4b.3628

Abstract

Sampai saat ini, siswa tetap menganggap bahwa kimia adalah pelajaran yang sulit. Sangat perlu untuk mengintegrasikan kimia dengan budaya yang familier dengan siswa yang dapat diterapkan pada pelaksanaan proyek P5. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi sains asli masyarakat Lombok yang relevan dengan materi kimia di SMA. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan fenomenologi sains asli. Fokus penelitian ini adalah pengetahuan sains asli yang ada di masyarakat Lombok dan Sumbawa. Analisis yang digunakan adalah analisis tematik, yaitu data dikategorikan berdasarkan tema-tema tertentu. Terdapat 21 jenis sains asli masyarakat Lombok dan Sumbawa yang telah dikonstruksi menjadi sains ilmiah yang relevan dengan konsep kimia dan dapat dijadikan sebagai sumber praktikum proyek P5 pada Fase F. Sains asli tersebut antara lain: Sie Geles, Tempe, Tahu, Bubur Palopo, Tuak Manis, Cerorot, Jajan Bantal/Tikel, Poteng Ketan, Sayur Ares, Tape Singkong, Pembuatan Gula Aren, Nyirih, Minyak Sumbawa, Bubus Tiwang/apus, Sembeq Tinjot, Perang Topat, Awok-awok pada tradisi begawe, Dile Jojor, Barodak Rapancar, Tenun Umbaq, Pembuatan Gerabah yang berasal dari suku Sasak dan Samawa. Konsep kimia pada Fase F yang relevan sebagai sumber praktikum kimia SMA dengan pengetahuan sains asli adalah stoikiometri, kadar zat, hidrolisis garam, faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi, koloid, ikatan kovalen, gaya van der walls, gaya london, termokimia, reaksi eksoterm, reaksi endoterm, kesetimbangan kimia, asam basa, titrasi asam basa, larutan elektrolit dan nonelektrolit, sifat koligatif larutan, dan senyawa organik. Semua sains asli masyarakat SASAMBO yang telah dikonstruksi menjadi sains ilmiah sangat relevan untuk diterapkan sebagai sumber proyek praktikum P5.
INTEGRATING ETHNOCHEMISTRY AND AUGMENTED REALITY TO SUPPORT CHEMICAL REPRESENTATION AND PROBLEM-SOLVING SKILLS IN ACID BASE CHEMISTRY Sunniarti Ariani; Dyah Puspitasari Ningthias; Weny Amanatul Hidayah; Yunita Ardiyanti
Jurnal Ilmu Pendidikan Indonesia Vol 14 No 2 (2026): JURNAL ILMU PENDIDIKAN INDONESIA
Publisher : Master of Science Education Program, Postgraduate Program of Cenderawasih University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31957/jipi.v14i2.5616

Abstract

 Problem-solving and representational competence are critical yet challenging skills for students to master in chemistry education, particularly in abstract topics like acid-base chemistry. This study investigates the effectiveness of an innovative learning module that integrates local cultural knowledge (ethnochemistry) with immersive digital visualization technology (Augmented Reality/AR) to address these challenges. Utilizing a quantitative pre-experimental design with a one-group pretest posttest model, the study was conducted with 26 second-semester undergraduate chemistry education students at Universitas Mataram, Indonesia. Data were collected using validated chemical representation competence and problem-solving skills tests, alongside observation sheets. The results of a paired-sample t-test revealed statistically significant improvements in both domains (p < 0.001). The students' mean score for chemical representation competence increased from 40.77 to 66.92 (N-gain = 0.45, medium improvement), with a large effect size (Cohen’s d = 1.58). Concurrently, problem-solving skills demonstrated a high advancement, shifting from a mean score of 39.23 to 84.23 (N-gain = 0.74, high improvement; Cohen’s d = 1.53). Qualitative observation data supported these findings, showing high student engagement and active conceptual reasoning during the intervention. The findings suggest that the module's strength lies in its complementary synergy: ethnochemistry provides a familiar macroscopic anchor that contextualizes learning, while AR functions as a representational scaffold that reduces cognitive load by visualizing invisible submicroscopic molecular interactions. This study provides practical implications for designing culturally responsive and technology-enhanced instructional materials in higher education.
Pelatihan Pengembangan Media Pembelajaran Kimia Berbasis Etnokimia Sasambo sebagai Inovasi Pembelajaran Kontekstual Pada Mahasiswa Pendidikan Kimia Dyah Puspitasari Ningthias; Suhaili; Nikita Putri; Aruna Akbar Zhafransyah; Sunniarti Ariani; Ermia Hidayanti; Nora Listantia
Jurnal Pengabdian Magister Pendidikan IPA Vol 9 No 2 (2026): April-Juni 2026
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jpmpi.v9i2.15493

Abstract

Pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pemahaman, keterampilan, kreativitas, dan kesiapan mahasiswa Pendidikan Kimia sebagai calon guru dalam mengembangkan media pembelajaran kimia berbasis etnokimia Sasambo. Kegiatan dilaksanakan pada mahasiswa Pendidikan Kimia semester II dan IV dengan jumlah peserta 55 mahasiswa. Metode kegiatan meliputi sosialisasi, pelatihan, penerapan teknologi, pendampingan, evaluasi, serta tindak lanjut keberlanjutan program. Materi pelatihan mencakup penguatan konsep etnokimia, pemetaan budaya lokal Sasambo ke konsep kimia, pemilihan jenis media, penyusunan alur isi media, dan pemanfaatan teknologi seperti Canva, video pembelajaran, augmented reality, serta QR code. Evaluasi dilakukan menggunakan angket pretest dan posttest dengan skala empat kategori. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan rata-rata skor keseluruhan dari 2,34 pada pretest menjadi 3,40 pada posttest. Persentase respons positif mahasiswa juga meningkat dari 45,6% menjadi 95,8%. Peningkatan terjadi pada seluruh indikator, yaitu pemahaman etnokimia dan relevansi budaya, keterampilan pengembangan media, kreativitas dan inovasi pembelajaran, serta kesiapan calon guru. Temuan ini menunjukkan bahwa pelatihan mampu memperkuat kompetensi mahasiswa dalam menerjemahkan potensi budaya Sasambo menjadi media pembelajaran kimia yang kontekstual, kreatif, dan relevan dengan kehidupan peserta didik. Kegiatan ini menjadi bentuk penguatan kompetensi profesional calon guru kimia sekaligus mendukung pemanfaatan kearifan lokal sebagai sumber inovasi pembelajaran kimia.