Claim Missing Document
Check
Articles

Sosialisasi Edukasi Terkait Pencegahan Bullying dalam kegiatan Membangun Jiwa Kreativitas anak dengan membuat kerajinan tangan Siti Safitri Fitri; Agus Suriadi
JUDIKA: Jurnal Pendidikan dan Bahasa Vol. 1 No. 4 (2023): Artikel Penelitian
Publisher : PT. SORATEKNO PUBSLIHER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59696/judika.v1i4.25

Abstract

Praktik Kerja Lapangan (PKL) merupakan kegiatan pembelajaran dan pelatihan yang dilakukan siswa dan mahasiswa dengan tujuan untuk meningkatkan pengetahuannya serta memperoleh pengalaman langsung dalam kehidupan kerja. Saya melakukan PKL 2 di Kantor Camat Lubuk Pakam. Adapun Kegiatan yang saya lakukan yaitu: Menjaga Loket Pelayanan Administrasi (berkaitan dengan SKTM, Mengurus Surat penerbitan PKH, KIS,membantu untuk mengisi data-data masyarakat yang ingin mengurus surat pindah,kartu keluarga,akte kelahiran dan mengarahkan kepada masyarakat yang ingin mengurus KTP), Membantu memberikan gaji kepada Gali kubur dan Bilal,Menyusun Surat tanah,Mencatat Nama-nama Masyarakat Penerima Bantuan BAZNAS,Membuat surat,Memberikan Nomor pada kartu Jukir (Juru Parkir) dan fotocopy surat-surat kantor. Selain itu,Selama saya melakukan PKL 2 di Kantor Camat Lubuk Pakam saya menemukan berbagai masalah yang dialami oleh masyarakat Kecamatan Lubuk Pakam yaitu: Kemiskinan, Pengangguran, Pembegalan, Pencurian,narkoba, bullying,dll. Oleh sebab itu,saya mengambil kasus mengenai kemiskinan dan bullying. Yang dimana, klien saya merupakan anak-anak yang memiliki permasalahan dalam ekonomi dan mereka merupakan korban bullying di sekolahnya. Sehingga,saya Membuat Program “Sosialisasi Edukasi Terkait Pencegahan Bullying dalam kegiatan Membangun Jiwa Kreativitas anak dengan membuat kerajinan tangan” Dengan tujuan agar mereka dapat memberikan perlawanan kepada pelaku dan membuat mereka lebih kreatif lagi dalam menciptakan hal-hal baru sehingga hasil dari kreativitas mereka bisa di jual dan mendapatkan uang. Dalam Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Hasil Penelitian ini dapat disimpulkan: anak-anak korban bullying sudah berani untuk melakukan perlawanan kepada pelaku bullying,adanya percaya diri di dalam diri mereka,dan mereka bisa membuat kerajinan tangan dari benang jahit sehingga hasil mereka dengan membuat gelang dari benang jahit bisa dijual.
On Job Training Vocational Education: Producing Addiction Counsellors in Drug Addiction Social Rehabilitation Centre Fajar Utama Ritonga; Agus Suriadi
Senarai: Journal of Islamic Heritage and Civilization Vol. 1 No. 2 (2025): Islamic Heritage and Civilization
Publisher : Tunas Harapan Ummat Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66236/senarai.2025.1.2.01-18

Abstract

Many service programs in organizational settings implement aftercare programs, but few talk about social rehabilitation aftercare programs for drug addicts. The purpose of this study was to provide care for ex-drug users who were not yet ready to return to their families or the home environment in which the ex-drug user was familiar and took drugs for the first time. It is well known that aftercare programs for ex-drug users are still very broad and that utilization of drug social rehabilitation clinics is uncommon. The Social Rehabilitation Center for Victims of Substance Abuse (BRSKP NAPZA INSYAF MEDAN) was the location of the study. North Sumatra Province, Indonesia. Using a qualitative descriptive research approach, informants consisted of 6 individuals who used comprehensive interviewing methods for gathering data techniques. The results Aftercare programme, which was initially formed by accident, has positive results in preventing relapse and is able to produce counsellors who can work to help others in the social rehabilitation process. Until now, the aftercare programme has not been required to be part of the social rehabilitation programme at Insyaf Medan Social Rehabilitation Centre. The author hopes that this programme can be continued and become a mandatory programme for all drug social rehabilitation institutions in Indonesia, whether government-owned, private or non-governmental organisations.
IMPLEMENTATION OF THE 2023 DRINKING WATER GRANT PROGRAM BY PERUMDA TIRTANADI IN PATUMBAK VILLAGE, KAMPUNG PATUMBAK DISTRICT, DELI SERDANG REGENCY Muhammad Harry Rahmad; Agus Suriadi; Tengku Irmayani
SOSIOEDUKASI Vol 14 No 4 (2025): SOSIOEDUKASI : JURNAL ILMIAH ILMU PENDIDIKAN DAN SOSIAL
Publisher : Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universaitas PGRI Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/sosioedukasi.v14i4.6558

Abstract

This study examines the implementation of the 2023 Drinking Water Grant Program by the Regional Public Company (Perumda) Tirtanadi in Patumbak Kampung Village, Patumbak Sub-district, Deli Serdang Regency. The study aims to analyze the program implementation process and identify the inhibiting and success factors. The research employs a qualitative descriptive method with data collected through in-depth interviews with seven key informants representing various levels of implementers and beneficiaries, complemented by supporting documentation. The theoretical framework refers to Charles O. Jones's (1996) policy implementation model, emphasizing three main aspects: organization, interpretation, and application. The findings indicate that, overall, the drinking water grant program was successfully implemented, achieving 38 targeted household connection points (SR) in Patumbak Kampung Village. The organizational aspect demonstrated good coordination between Perumda Tirtanadi and related parties such as the Ministry of Public Works and Housing (PUPR), Ministry of Finance, Financial and Development Supervisory Agency (BPKP), Inspectorate, Regional Development Planning Agency (Bappeda), local government, and village apparatus. However, a major challenge was the limited field technical personnel who had to serve seven regencies/cities simultaneously, causing delays in some implementation points. The interpretation aspect, through intensive socialization and policy elaboration, was well conducted, although some residents still did not fully understand the program's criteria and mechanisms. The application aspect showed positive results with strictly verified household connections and significant impacts on improving access to safe drinking water, reducing waterborne diseases, saving household costs, and enhancing community quality of life. Inhibiting factors included unclear criteria among some community members, limited human and financial resources, administrative obstacles, and the need to strengthen inter-agency coordination. Key success factors were clear standards and policy objectives, adequate resources, effective organizational structure, intensive communication and socialization, active community participation, sufficient implementer capacity, policy adaptation to local conditions, and continuous monitoring and evaluation. The study recommends enhancing community socialization and education, increasing and training field technical personnel, strengthening inter-agency and internal coordination within Perumda, simplifying administrative procedures, and developing post-installation monitoring and maintenance systems to ensure program sustainability. This study contributes significantly to the evaluation and improvement of drinking water grant programs and the development of public policy at the local level.
KOLABORASI STAKEHOLDERS BERBASIS MODAL SOSIAL DALAM IMPLEMENTASI PROGRAM KELUARGA HARAPAN (PKH) DI KECAMATAN TELUK DALAM, KABUPATEN NIAS SELATAN Versi Oktaviani Harita; Badaruddin; Agus Suriadi; Lina Sudarwati; T. Ilham Saladin
SOSIOEDUKASI Vol 14 No 4 (2025): SOSIOEDUKASI : JURNAL ILMIAH ILMU PENDIDIKAN DAN SOSIAL
Publisher : Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universaitas PGRI Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/sosioedukasi.v14i4.6658

Abstract

Program Keluarga Harapan (PKH) merupakan kebijakan sosial pemerintah yang bertujuan memutus rantai kemiskinan melalui peningkatan kualitas pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan keluarga miskin. Namun, efektivitas program tidak hanya bergantung pada penyaluran bantuan tunai, melainkan juga pada dinamika sosial dan kolaborasi para pemangku kepentingan di tingkat lokal. Penelitian ini menganalisis bagaimana modal sosial bonding, bridging, dan linking dimanfaatkan dalam implementasi PKH di Kecamatan Teluk Dalam, Kabupaten Nias Selatan.Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Informan terdiri dari keluarga penerima manfaat (KPM), aparatur desa, pendamping PKH, serta tokoh masyarakat dan agama. Data dianalisis secara deskriptif-analitis untuk memahami konstruksi sosial yang terbentuk dari interaksi antar-aktor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bonding social capital tercermin dalam solidaritas KPM yang saling mengingatkan kewajiban program. Bridging social capital tampak melalui koordinasi desa, pendamping, dan KPM dalam forum pertemuan. Linking social capital terlihat dari peran pendamping PKH dan aparatur desa yang menjaga legitimasi program di mata masyarakat. Tantangan yang muncul antara lain keterbatasan akses desa terhadap sistem SIKS-NG, resistensi sebagian KPM terhadap kewajiban program, serta kecemburuan sosial akibat ketidaktepatan sasaran. Penelitian ini menegaskan bahwa keberhasilan PKH di Teluk Dalam dipengaruhi tidak hanya oleh mekanisme administratif, tetapi juga oleh kekuatan modal sosial yang menopang hubungan antar-stakeholders. Kolaborasi berbasis nilai sosial dan budaya lokal menjadi kunci untuk memperkuat efektivitas program perlindungan sosial di tingkat desa.