Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

Evaluation of The Physical Quality of Banana Peel Extract (Musa paradisiaca) in Cream for Fissures Heels Khomaini, Khomaini; H, Syaifiyatul; Uswatun Hasanah, Naili
Berkala Ilmiah Kimia Farmasi Vol. 9 No. 1 (2022): June
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/bikfar.v9i1.40892

Abstract

Banana peel (Musa paradisiaca) was a plant that contained flavonoid compounds. This research used an experimental laboratory method. The cream formulation was made with variations in the concentration of banana peel ethanol extract at 5%, 10%, and 15%. The banana peel extract was obtained by maceration using 70% ethanol as the solvent. The higher the concentration of banana peel extract used, the more it affected the spreadability, which decreased, and the temperature stability met the parameters of each test. Based on the observation data, it was concluded that the difference in the concentration of banana peel ethanol extract as an active ingredient affected the evaluation test parameters, including organoleptic tests, pH tests, spreadability tests, and temperature stability tests. However, all formulas met the evaluation parameters of each test, so they could be formulated into cream preparations as a treatment for cracked and dry heels. The research on the cream preparation of banana peel ethanol extract used the maceration method. It could be concluded that the banana peel ethanol extract cream preparation met the stable physical test parameters and had moderate activity.Keywords: Cream, Physical Quality, Banana Peel Extract, Fissures Heel
LEGAL EDUCATION ON THE DEVELOPMENT OF INFORMATION TECHNOLOGY AND THE IMPLICATIONS OF SOCIAL MEDIA ABUSE FOR YOUNG GENERATION Khomaini, Khomaini
Journal of Community Research and Service Vol 8, No 2: JULY 2024
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jcrs.v8i2.53875

Abstract

The development of information technology has had a significant impact on daily life, especially for the younger generation. This research aims to explore effective legal education methods in dealing with developments in information technology and the impact of social media abuse on the younger generation. Research methods involve surveys, interviews, and documentation analysis. The survey was conducted among the students in Taman Siswa school to identify their understanding of laws related to information technology and social media. Interviews were conducted with legal experts and educators to identify effective educational methods. Document analysis involves searching for relevant laws and regulations. The research results show that most of the younger generation have a limited understanding of the laws related to information technology and social media. Effective educational methods involve the use of case studies, simulations, and interactive discussions. As a result, the younger generation who take part in this educational program are better able to understand the legal implications of using information technology and social media. In addition, the government and educational institutions need to improve legal education and integrate it into the educational curriculum to provide better knowledge of laws related to information technology to the younger generation. Increasing understanding of the law can help the younger generation make wiser decisions in the use of information technology and social media, and reduce the risk of breaking the law.
The Restorative Justice Orientation to Hoax Spreaders on Social Media: Urgency and Formulation Flora, Henny Saida; Khomaini, Khomaini; Wibowo, Dwi Edi
SASI Volume 29 Issue 4, December 2023
Publisher : Faculty of Law, Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47268/sasi.v29i4.1580

Abstract

Introduction: The development of the use of digital media has had an impact on the amount of hoax information on social media. The large amount of hoax information in the community has made law enforcement officials immediately apply criminal law enforcement against hoax news spreaders.Purposes of the Research: The urgency and formulation of the application of restorative justice in the crime of spreading hoax information on social media.Methods of the Research: Normative legal research with a concept and statutory approach.Results of the Research: The urgency of implementing RJ for perpetrators of criminal acts of spreading hoaxes on social media because RJ's orientation is to provide compensation for victims as well as having a future orientation to educate the public so they can prevent criminal acts from occurring. The application of RJ in cases of criminal acts of spreading hoaxes on social media can be formulated by regulating the application of RJ in cases of criminal acts of spreading hoaxes on social media by revising the provisions of the SKB UU ITE. Revision of the Joint Decree on the ITE Law by incorporating the RJ aspect as an effort to resolve the criminal act of spreading hoaxes on social media as well as the criminal act of the ITE Law in general.
Sosialisasi Peraturan Pemerintah tentang Pengelolaan Kawasan Wisata di Bukit Lawang Kabupaten Langkat Sumatera Utara Khomaini, Khomaini; Karim, Ahmad; Hayati, Winta; Dalimunthe, Mohd. Idris; Nurohim, Muhammad; Zsazsa, Cut Sah Kha Mei
Journal Liaison Academia and Society Vol 3, No 2 (2023): Juni 2023
Publisher : Lembaga Komunikasi dan Informasi Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58939/j-las.v3i2.603

Abstract

Kawasan wisata bukit lawang kabupaten langkat sumatera utara memilki daya tarik wisata alam dan satwa. Keindahan perbukitan, alam yang asri, aliran sungai yang indah dan bersih serta dihuni oleh satwa dilindungi seperti orang hutan. Kawasan wisata bukit lawang potensi untuk dikembangkan secara berkelanjutan sesuai dengan program pemerintah, sehingga pelaksana pengabdian kepada masyarakat tertarik untuk melakukan PKM di lokasi tersebut dengan tujuan memberikan kontribusi berupa sosialisasi tentang Peraturan Pemerintah tentang Pengelolaan Kawasan Wisata. Dengan harapan akan menambah pengetahuan bagi pengelola dan masyarakat sekitar kawasan wisata bukit lawang dan diharapkan dapat terinspirasi dengan materi PKM yang dilaksanakan dan disampaikan. Pelaksanaan PKM di kawasan wisata bukit lawang mendapat respon positif dan antusias dari pengelola dan masyarakat sekitarnya, sehingga apa yang direncanakan dalam kegiatan PKM dapat dicapai yaitu sosialisasi tentang Peraturan Pemerintah tentang Pengelolaan Kawasan Wisata. Adapun bahasan utama yang disampaikan adalah: Menjelaskan bahwa kawasan wisata bukit lawang termasuk dalam kriteria destinasi bagian D yaitu Keberlanjutan Lingkungan dengan 3 sub bagian, meliputi: 1) Konservasi warisan alam, 2) Pengelolaan sumberdaya, 3) Pengelolaan limbah dan emisi. Dan dalam sosialisasi yang diuraikan secara mendalam adalah unsur sub bagian 1 saja yaitu tentang Konservasi warisan alam. Hal ini disebabkan keterbatasan waktu pelaksanaan PKM.Kata Kunci : Sosialisasi; Peraturan Pemerintah; Kawasan Wisata.
KARAKTERISTIK PASIEN KOLELITIASIS DI RUMAH SAKIT SITI RAHMAH PADANG PADA TAHUN 2022 Fitriyasti, Betty; Khomaini, Khomaini; Rifqi, Aulia; Ferilda, Siska
Jurnal Kesehatan Saintika Meditory Vol 8, No 1 (2025): Mei 2025
Publisher : STIKES Syedza Saintika Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30633/jsm.v8i1.3231

Abstract

Kolelitiasis merupakan penyakit batu empedu yang dapat ditemukan di dalam kantong empedu atau di saluran empedu, ataupun di keduanya. Etiologi dari penyakit kolelitiasis masih belum diketahui dengan jelas, namun faktor risiko kolelitiasis ini dipengaruhi oleh usia, jenis kelamin, berat badan, makanan yang dikonsumsi, aktivitas fisik. Saat ini kolelitiasis di Indonesia cenderung meningkat karena pola hidup yang berubah seperti kebarat baratan, suka mengonsumsi makanan cepat saji dimana dapat mengakibatkan obesitas karena penumpukan lemak memicu terjadinya kolelitiasis. Namun jumlah pasti berapa banyak penderita kolelitiasis belum di ketahui secara pasti karena belum ada studi lanjutan akan hal tersebut. orang dengan usia >40 tahun memiliki kecenderungan terkena kolelitiasis dibanding dengan usia yang lebih muda dikarenakan peningkatan sekresi kolesterol kedalam empedu sesuai dengan bertambahnya usia. Metode: Penelitian ini adalah penelitian deskriptif observasional. Sampel diambil dengan teknik simple random sampling dari pasien kolelitiasis yang dirawat di Rumah Sakit Siti Rahmah Padang pada tahun 2022, sebanyak 62 orang. Data dianalisis secara univariat dan disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi. Hasil: Usia terbanyak pasien kolelitiasis adalah 50-59 tahun (32,3%). Mayoritas pasien adalah perempuan (59,7%), dengan indeks massa tubuh normal (53,2%). Derajat kolelitiasis terbanyak adalah akut (72,6%). Kesimpulan: Pasien kolelitiasis di Rumah Sakit Siti Rahmah Padang pada tahun 2022 mayoritas berusia 50-59 tahun, berjenis kelamin perempuan, memiliki indeks massa tubuh normal, dan menderita kolelitiasis akut.Kata Kunci: usia, jenis kelamin, IMT, kadar kolesterol, kolelitiasis
Kajian Kriminologis Terhadap Perempuan Sebagai Penjual Narkotika Jenis Shabu Nasution, Ramadhany; Khomaini, Khomaini
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 4 No. 3 (2024): Innovative: Journal Of Social Science Research (Special Issue)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v4i3.11791

Abstract

Shabu adalah salah satu bentuk narkotika jenis golongan I yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika yang sering disalahgunakan oleh anggota masyarakat termasuk  perempuan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui  faktor penyebab perempuan sebagai penjual narkotika shabu serta sanksinya. Jenis penelitian ini adalah normatif dengan pendekatan konseptual dan perundang-undangan. Sifat penelitian adalah deskriptif analitis. Data yang digunakan adalah data sekunder yang terdiri dari bahan hukum primer dan sekunder sedangkan analisa data dilakukan secara kualitatif. Kajian kriminologis terhadap perempuan sebagai penjual narkotika shabu adalah karena faktor  internal seperti faktor ingin coba-coba, faktor stres dan frustasi, serta faktor eksternal yaitu faktor ekonomi, lingkungan sosial, faktor keluarga, ekonomi, kurangnya penghayatan terhadap ajaran agama serta kurangnya pengetahuan tentang hukum. Sanksinya terhadap perempuan sebagai penjual shabu adalah diatur pada Pasal Pasal 114 ayat (1) dan (2) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika. Untuk itu disarankan agar perempuan jangan sampai melakukan tindakan menjual shabu karena ancamannya sangat berat yang membahayakan orang lain, masyarakat serta negara.
Kajian Kriminologis Terhadap Perempuan Sebagai Penjual Narkotika Jenis Shabu Nasution, Ramadhany; Khomaini, Khomaini
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 4 No. 3 (2024): Innovative: Journal Of Social Science Research (Special Issue)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v4i3.12291

Abstract

Shabu adalah salah satu bentuk narkotika jenis golongan I yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika yang sering disalahgunakan oleh anggota masyarakat termasuk perempuan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor penyebab perempuan sebagai penjual narkotika shabu serta sanksinya. Jenis penelitian ini adalah normatif dengan pendekatan konseptual dan perundang-undangan. Sifat penelitian adalah deskriptif analitis. Data yang digunakan adalah data sekunder yang terdiri dari bahan hukum primer dan sekunder sedangkan analisa data dilakukan secara kualitatif. Kajian kriminologis terhadap perempuan sebagai penjual narkotika shabu adalah karena faktor internal seperti faktor ingin coba-coba, faktor stres dan frustasi, serta faktor eksternal yaitu faktor ekonomi, lingkungan sosial, faktor keluarga, ekonomi, kurangnya penghayatan terhadap ajaran agama serta kurangnya pengetahuan tentang hukum. Sanksinya terhadap perempuan sebagai penjual shabu adalah diatur pada Pasal Pasal 114 ayat (1) dan (2) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika. Untuk itu disarankan agar perempuan jangan sampai melakukan tindakan menjual shabu karena ancamannya sangat berat yang membahayakan orang lain, masyarakat serta negara.
Keabsahan Perjanjian Waralaba Ditinjau Dari Perspektif Hukum Perdata Khomaini, Khomaini; Hayati, Winta
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 4 No. 4 (2024): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v4i4.14220

Abstract

Perjanjian waralaba merupakan salah satu bentuk perjanjian tanpa nama yang tidak diatur secara khusus dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menilai keabsahan perjanjian waralaba dalam konteks hukum perdata. Penelitian ini bersifat normatif, yaitu menekankan asas, nilai, atau norma yang harus dijunjung tinggi dalam konteks tertentu. Penelitian ini bersifat deskriptif analitis, dengan fokus pada penjelasan dan penyajian keabsahan perjanjian waralaba menurut hukum perdata. Analisis data kualitatif dilakukan. Keabsahan perjanjian waralaba menurut hukum perdata bergantung pada adanya perjanjian tertulis antara pemberi waralaba dan penerima waralaba yang mematuhi ketentuan hukum yang tercantum dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, khususnya Pasal 1320 yang mengatur tentang syarat-syarat sahnya suatu perjanjian. Prasyarat tersebut antara lain adanya sebab yang sah, adanya suatu objek tertentu, kecakapan hukum, dan adanya persetujuan bersama. Oleh karena itu, sebaiknya ketentuan Pasal 1320 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata dan Pasal 7 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2007 dikaji secara saksama dalam menyusun perjanjian waralaba.
LEGAL EDUCATION ON THE DEVELOPMENT OF INFORMATION TECHNOLOGY AND THE IMPLICATIONS OF SOCIAL MEDIA ABUSE FOR YOUNG GENERATION Khomaini, Khomaini
Journal of Community Research and Service Vol. 8 No. 2: July 2024
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jcrs.v8i2.53875

Abstract

The development of information technology has had a significant impact on daily life, especially for the younger generation. This research aims to explore effective legal education methods in dealing with developments in information technology and the impact of social media abuse on the younger generation. Research methods involve surveys, interviews, and documentation analysis. The survey was conducted among the students in Taman Siswa school to identify their understanding of laws related to information technology and social media. Interviews were conducted with legal experts and educators to identify effective educational methods. Document analysis involves searching for relevant laws and regulations. The research results show that most of the younger generation have a limited understanding of the laws related to information technology and social media. Effective educational methods involve the use of case studies, simulations, and interactive discussions. As a result, the younger generation who take part in this educational program are better able to understand the legal implications of using information technology and social media. In addition, the government and educational institutions need to improve legal education and integrate it into the educational curriculum to provide better knowledge of laws related to information technology to the younger generation. Increasing understanding of the law can help the younger generation make wiser decisions in the use of information technology and social media, and reduce the risk of breaking the law.