Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

PENGELOLAAN DAN PEMANFAATAN KAWASAN PESISIR PULAU MIANGAS SEBAGAI PULAU KECIL TERLUAR INDONESIA Nagi, Achmad; Jamaluddin, Jamaluddin; Napitupulu, Gandhi; Nurdjaman, Susanna; Setyobudiandi, Isdradjad; Radjawane, Ivonne Milichristi
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 15, No 1 (2023): (Mei) 2023
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jkpi.15.1.2023.%p

Abstract

Pulau Miangas merupakan salah satu pulau terluar yang berbatasan dengan negara Filipina dan terletak di wilayah administratif Kabupaten Kepulauan Talaud di Provinsi Sulawesi Utara. Sumber daya alam yang ada memiliki potensi yang besar untuk pemanfaatan wilayah pesisir dan laut yang dimilikinya. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis potensi, kelayakan dan prioritas komersial untuk pemanfaatan sumber daya pesisir Pulau Miangas. Survei dengan pengamatan secara langsung dan metode wawancara digunakan untuk mengumpulkan data dan informasi. sedangkan metode analisis sistem informasi geografis (SIG) digunakan untuk mengevaluasi kelayakan penggunaan lahan di wilayah pesisir. Melalui empat tahapan analisis yang meliputi penyusunan peta wilayah, matriks cakupan per kategori, pemberian bobot dan scoring, serta analisis spasial. Hasil analisis kesesuaian lahan dengan menggunakan SIG menunjukkan bahwa kawasan pesisir Pulau Miangas memiliki potensi untuk berbagai program pembangunan terkait pengelolaan dan pemanfaatan pesisir, seperti kawasan pemukiman, kawasan budidaya rumput laut, kawasan penangkapan ikan, kawasan budidaya keramba jaring apung, budidaya mutiara dan konservasi terumbu karang.Miangas Island is one of the outermost islands bordering the Philippines and is located in the administrative area of the Talaud Islands Regency in North Sulawesi Province. The existing natural resources have great potential for the utilization of coastal and marine areas. The purpose of this study was to analyze the potential, feasibility and commercial priorities for the utilization of coastal resources of Miangas Island. Direct observation surveys and interview methods were used to collect data and information, while geographic information system (GIS) analysis methods were used to evaluate the feasibility of land use in coastal areas. Through four stages of analysis that include the preparation of area maps, coverage matrix per category, weighting and scoring, and spatial analysis. The results of the land suitability analysis using GIS show that the coastal area of Miangas Island has the potential for various development programs related to coastal management and utilization, such as residential areas, seaweed cultivation areas, fishing areas, floating net cage cultivation areas, pearl cultivation and coral reef conservation.
ANALISIS KESESUAIAN PENEMPATAN KERAMBA JARING APUNG IKAN KERAPU DI SELAT MADURA: PERTIMBANGAN KUALITAS AIR LAUT Muhammad, Iqbal; Nurdjaman, Susanna
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 16, No 1 (2024): (Mei) 2024
Publisher : Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jkpi.16.1.2024.51-60

Abstract

Budidaya perikanan sangatlah penting untuk menyeimbangkan produksi ikan yang ada di Indonesia yang saat ini terlalu mengandalkan pada sektor perikanan tangkap. Salah satu alternatif budidaya perikanan adalah dengan keramba jaring apung (KJA). Ikan kerapu merupakan komoditas yang cocok untuk budidaya dengan KJA. Dalam penelitian ini, dilakukan uji kelayakan kualitas air laut sekitar perairan di Selat Madura dengan menggunakan standar baku mutu kualitas air laut untuk ikan kerapu, selanjutnya dilakukan pemetaan kesesuaian lokasi untuk budidaya dengan metode KJA. Data yang digunakan adalah data kualitas air laut dari Marine Coppernicus pada tahun 2021. Kesesuaian lokasi perairan untuk budidaya KJA dikategorikan menjadi 3 kelompok yaitu sangat sesuai (S1), sesuai (S2), dan tidak sesuai (N). Dari hasil pemetaan lokasi kesesuaian perairan untuk budidaya ikan kerapu dengan KJA di Selat Madura, menunjukkan bahwa bagian barat Selat Madura yang meliputi: perairan sekitar Pasuruan, Sidoarjo, Surabaya, Bangkalan, sebagian pesisir Probolinggo dan Sampang masuk pada kategori sesuai (S2) dengan rata-rata skor 56,4 sedangkan untuk perairan sekitar Situbondo, Pamekasan, Sumenep dan sebagian pesisir Probolinggo dan Sampang masuk pada kategori sangat sesuai (S1) dengan rata-rata skor 71,6. Kesesuaian tersebut sangat dipengaruhi beberapa parameter penting seperti batimetri dan kecerahan di daerah tersebut.Fish farming plays a crucial role in Indonesia's efforts to manage its fish production, especially considering the heavy reliance on the capture fisheries sector. One promising method in fish farming involves using floating net cages, known locally as Keramba Jaring Apung (KJA). Grouper fish (Epinephelus fuscoguttatus) are particularly suitable for cultivation using KJA. This study examined the feasibility of seawater quality in the Madura Strait area by applying standard quality criteria tailored for grouper fish. Additionally, it mapped out suitable locations for KJA-based cultivation. The data utilized in this study included seawater quality data from Marine Copernicus for the year 2021. The suitability of locations for KJA farming was classified into three categories: highly suitable (S1), suitable (S2), and not suitable (N). Mapping results revealed that the western part of the Madura Strait, including Pasuruan, Sidoarjo, Surabaya, Bangkalan, and parts of Probolinggo and Sampang coastal areas, fell into the suitable (S2) category with an average score of 56.4. Conversely, Situbondo, Pamekasan, Sumenep, and parts of Probolinggo and Sampang coastal areas were classified as highly suitable (S1) with an average score of 71.6. The suitability of these locations is influenced significantly by crucial parameters such as bathymetry and water clarity in the respective areas.
Karakteristik dan Variasi Musiman Eddy di Perairan Pasifik Bagian Barat Laut Akbar, M. Apdillah; Radjawane, Ivonne Milichristi; Nurdjaman, Susanna; Napitupulu, Gandhi; Hatmaja, Rahaden Bagas
Buletin Oseanografi Marina Vol 14, No 1 (2025): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v14i1.62747

Abstract

Samudra Pasifik barat laut merupakan wilayah yang penting secara geografis dan ekologis, Samudra ini dilalui North Equatorial Current (NEC), South Equatorial Current (SEC), dan North Equatorial Counter Current (NECC), pertemuan arus-arus tersebut dapat mengakibatkan terbentuknya eddy. Eddy merupakan pola sirkulasi air berputar yang memainkan peran penting dalam transpor massa, energi, dan nutrien di lautan. Eddy di belahan bumi utara (BBU) yang bergerak berlawanan jarum jam disebut siklonik eddy (CE) dan yang bergerak searah jarum jam disebut antisiklonik eddy (AE). Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi karakteristik dan variasi musiman eddy di perairan Pasifik barat laut. Data harian anomali muka laut dan kecepatan geostropik dari satelit altimetri selama periode tahun 2003 hingga 2022 dianalisis untuk mengidentifikasi eddy berdasarkan ukuran, masa hidup, dan distribusi spasialnya. Deteksi eddy menggunakan metode hybrid antara SLA kontur tertutup dan parameter Okubo-Weiss. Ditemukan 435 eddy di perairan Pasifik barat laut dengan AE sebanyak 201 dan CE sebanyak 234 dalam kurun waktu 20 tahun. Hasil menunjukkan pola musiman yang jelas dalam distribusi spasial dan kekuatan eddy. Musim timur memiliki aktivitas eddy yang lebih tinggi daripada musim barat, kemungkinan terkait dengan faktor iklim regional seperti perubahan suhu permukaan laut dan pola angin musiman. Penelitian ini memberikan wawasan penting tentang dinamika eddy di Pasifik barat laut dan dapat dikembangkan untuk pengelolaan sumber daya laut dan mitigasi risiko bencana alam di wilayah tersebut.
Briket Batok Kelapa, Energi Alternatif Ramah Lingkungan bagi Desa Kote, Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau Nurdjaman, Susanna; Abdullah, Faizal; Cahya, Brian; Al-Ghifari, Khalid; Nur, Syarifudin
Agrokreatif: Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 11 No. 2 (2025): Agrokreatif Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/agrokreatif.11.2.276-285

Abstract

Kote Village, located on Singkep Island in Riau Islands Province, has the potential to utilize coconut shell briquettes as a sustainable alternative energy source. Singkep Island is known for its extensive coconut trees and is a key component of the local economy. A considerable amount of coconut shell waste remains unutilized. Much of this waste is either discarded or burned without use. This underutilized potential offers an opportunity for briquette production, providing a sustainable energy solution for the village community. This community service initiative aims to reduce a region's dependence on conventional energy sources by converting coconut shell waste into briquettes. The implementation method included prototyping a pyrolysis device in Bandung, reconstructing the equipment in Kote Village, and conducting a workshop for the local community. The results show that the briquettes produced are of good quality and have a high calorific value, and the resulting liquid smoke can be used as a natural fish preservative. This initiative analyzes the environmental and economic benefits of coconut shell briquettes, demonstrating that they offer an efficient alternative energy source that can reduce environmental impact and enhance local energy resilience. Furthermore, it emphasizes the potential for local production, empowering villagers to achieve energy independence while supporting the regional economy. This method helps minimize waste while offering a replicable solution for other villages.
Asesmen Temporal Degradasi Lamun di Pesisir Kepulauan Riau, Indonesia Nur, Syarif; Nurdjaman, Susanna
Coastal and Ocean Journal (COJ) Vol 9 No 1 (2025): COJ (Coastal and Ocean Journal)
Publisher : Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/coj.v9i1.61813

Abstract

Seagrass plays a crucial role in coastal ecosystems, necessitating its preservation to maintain ecosystem health. This study addresses the degradation of seagrass meadows in the coastal regions of the Riau Islands, Indonesia, utilizing remote sensing techniques and spatial data analysis. Satellite imagery offers a cost-effective means of monitoring seagrass health in shallow coastal waters. In October 2020, the research team conducted the study at six stations—four on Lingga Island and two on Singkep Island. Utilized Sentinel-2 satellite imagery from 2019 and applied the Depth Invariant Index (DII) along with Support Vector Machine (SVM) classification. In-situ observations, conducted simultaneously, validated the satellite data and facilitated seagrass accuracy assessment, including species identification using the Seagrass-Watch (Transect Quadrant) methodology. The results reveal significant seagrass degradation in the Riau Islands. The DII method detected extensive seagrass losses, covering approximately 175 km2 of seagrass meadows across Lingga and Singkep Islands. Species identification confirmed the presence of Halophila ovalis, Halophila minor, Thalassia hemprichii, and identified Enhalus acoroides as the dominant species. This research gives important insights into the temporal degradation of seagrass environments along the coastal regions of the Riau Islands, highlighting the importance of continued monitoring and preservation efforts.
Pengembangan Nilai-nilai Cinta Laut bagi Anak Suku Laut di Pulau Lipan, Kabupaten Lingga Radjawane, Ivonne Milichristi; Pongrekun, Jeremy Nugraha; Rahmadian, Affan Fadli; Giantara, Muhammad Ikhwan Fadilah; Budiono, Erica Maharani; Nurdjaman, Susanna
Agrokreatif: Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 10 No. 2 (2024): Agrokreatif Jurnal Ilmiah Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/agrokreatif.10.2.272-280

Abstract

The empowerment of marginalized communities has increasingly become a crucial issue and program in Indonesia today. The central and local governments strive to empower these communities, including the Sea Tribes on Pulau Lipan. In practice, marginalized community groups are increasingly ignored by the government, as experienced by the Sea Tribe on Lipan Island. This community service program seeks to implement development in the education sector regarding the values of love for the sea for Sea Tribe children at State Elementary School (SDN) 006 Selayar. The curriculum used is prepared by considering the condition analysis made by the service team. This activity aims to foster love and awareness of marine ecosystems in Sea Tribe children so that they can maintain marine conservation and ensure wiser use of the ocean. The method used is to teach children about the sea through exciting and fun interactions about the love of the sea and games. Apart from that, the service team also established a mini library for the Sea Tribe community. The results of the implementation of activities show that the curriculum and method of delivering material and developing skills are appropriate for Sea Tribe students in receiving marine education, which can be measured from the level of children's interest and the relevance of the material that can be applied. Two-way, applicable education effectively educates sea tribe children about maritime affairs. Several obstacles are also faced in implementing the following program, where it is necessary to design a curriculum design that can provide learning to students in a sustainable, structured, practical, and memorable manner so that the instillation of maritime values can be enhanced and not just incidental as happens in the program.
Analisis Perbandingan Pemetaan Ekosistem Bentik Menggunakan Allen Coral Atlas dan Sentinel-2 di Kepulauan Pagai Nurdjaman, Susanna; Saefulloh, Muhammad Abia; Nur, Syarifudin
Coastal and Ocean Journal (COJ) Vol 9 No 2 (2025): COJ (Coastal and Ocean Journal)
Publisher : Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/coj.v9i2.363710

Abstract

Ekosistem bentik adalah komponen penting dalam ekosistem pesisir, sehingga perlindungannya sangat diperlukan untuk menjaga kesehatan ekosistem. Penelitian ini menyajikan analisis perbandingan pemetaan bentik di Kepulauan Pagai, Sumatera Barat, dengan fokus pada ekosistem bentik. Penelitian ini menggunakan dua sumber citra satelit yang berbeda: Allen Coral Atlas yang diperoleh dari satelit Dove milik Planet Labs dengan resolusi spasial 3-5 meter, dan citra Sentinel-2 dari program Copernicus ESA, dengan resolusi 10 meter. Data Allen Coral Atlas diproses menggunakan Google Earth Engine dan divisualisasikan dalam QGIS, sedangkan data Sentinel-2 diproses menggunakan Snap dan QGIS, mencakup periode yang sama dari tahun 2016-2020. Validasi in situ, berdasarkan data sekunder dari Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (KKP), mencakup data lapangan dari enam stasiun di Pagai Utara dan Pagai Selatan. Data ini digunakan untuk memvalidasi keberadaan lamun, mangrove dan karang dan mengidentifikasi spesies di habitat aslinya. Analisis mengungkapkan tingkat kesamaan yang tinggi antara peta dari kedua sumber, terutama dalam pemetaan habitat lamun. Namun, perbedaan dicatat di area yang dipengaruhi oleh tutupan awan dan dinamika sedimen, yang menyebabkan sedikit perbedaan hasil. Secara keseluruhan, perbandingan ini menyoroti keandalan kedua dataset untuk pemetaan bentik, menunjukkan bahwa penggabungan kedua data ini menyediakan data yang kuat untuk validasi lapangan dan penelitian ekologi lebih lanjut, terutama di lingkungan pesisir dinamis di Kepulauan Pagai.