Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Anti-Inflammatory Cytokine (IL-10) Profiles and Ratio of IL-6/IL-10 in Covid-19 Patients Sari, Shinta Dewi Permata; Listiyaningsih, Erlin; Mawanti, Wening Tri; Martalena, Dewi
Muhammadiyah Medical Journal Vol 5, No 1 (2024): Muhammadiyah Medical Journal (MMJ)
Publisher : Faculty of Medicine and Health Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/mmj.5.1.1-8

Abstract

Background: The number of COVID-19 cases in Indonesia has continually increased since the first cases appeared in March 2020. This disease is due to SARS-CoV-2 virus infection in the respiratory system that induces an immune response. The innate and adaptive immune response triggered the secretion of an excessive pro-inflammatory cytokine-caused cytokine storm that became one of the mechanisms of acute respiratory distress (ARDS). The anti-inflammatory cytokines (IL-10, IL-13, and IL-4) were secreted as the immune response in the ARDS condition. Purposes: This study aims to determine the ratio of the IL-6/IL-10 profile as basic information for the therapeutic approach to prevent ARDS. Methods: This cross-sectional study used stored biological material in plasma form from COVID-19 patients in Jakarta Islamic Hospital – Pondok Kopi and Dr. M. Goenawan Partowidigdo Hospital, Cisarua. The plasmas were from severe (n=20) patients and mild to moderate severity (n=25). The negative control sample was collected from 13 healthy subjects. Assessment of IL-10 levels in plasma using ELISA technique. Results: Our analysis showed that IL-10 has no statistical difference between negative control, mild to moderate, and severe categories (p=0.629). Meanwhile, the ratio IL-6/IL-10 presented statistical differences between mild to moderate and severe categories (p=0.011). The average ratio of IL-6/IL-10 in severe categories is two-fold higher than in mild-moderate categories. Conclusion: We conclude that there is a cytokine storm condition in severe COVID-19 patients with an imbalance ratio of pro-and anti-inflammatory cytokines and could be used as basic information for drug development in cytokine storm conditions to prevent ARDS.
Edukasi Pengenalan Dan Pengendalian Bahaya Potensial Pekerjaan Pada Guru SD Muhammadiyah 16 Dan 15 Bukit Duri Mawanti, Wening Tri; Harahap, Roito Elmina Gogo; Yati, Kori; Setiawan, Abdul Aziz; Khoirunisa, Irbah; Intan, Annisa; Abdulloh, Abdulloh
Jurnal SOLMA Vol. 14 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka (UHAMKA Press)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22236/solma.v14i2.15248

Abstract

Background: Upaya penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja di sekolah melalui edukasi pengenalan dan pengendalian bahaya potensial terutama bagi para guru penting dilakukan agar proses belajar-mengajar tidak terhambat yang diakibatkan oleh guru yang cidera atau sakit. Meningkatkan pengetahuan setiap guru tentang berbagai bahaya potensial pekerjaannya dan mampu melakukan langkah pengendalian terhadap bahaya potensial yang ditemukan. Metode: Metode yang digunakan adalah penyuluhan atau edukasi ceramah dengan penyajian materi selama 30 menit, diikuti diskusi tanya jawab. Peserta yang terlibat adalah guru SD Muhammadiyah 16 dan 52 Bukit Duri. Peningkatan pengetahuan diukur dengan melakukan pre-tes sebelum ceramah dan dilakukan post-test setelah ceramah. Hasil pre-test dan post-test dilakukan analisis menggunakan program IBM SPSS Statistic 24 metode uji paired T-test. Hasil: Nilai Korelasi antara 2 variabel pretest dan posttest responden penyuluhan “Edukasi Potensi Bahaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja Guru di SDN Muhammadiyah 16 dan 52 Bukit Duri” sebesar 0,632, artinya terdapat hubungan yang hubungan kuat dan positif. Nilai probabilitas/p value uji T Paired sebesar 0,027, artinya terdapat perbedaan antara sebelum dan sesudah perlakuan, sebab nilai p value < 0,05 (95 % kepercayaan). Kesimpulan: Edukasi pengenalan dan pengendalian bahaya potensial pekerjaan efektif dalam meningkatkan pengetahuan Guru SD Muhammadiyah 16 dan 52 Bukit Duri.
Laporan Kasus: Dermatitis Kontak Iritan pada Radiografer Rumah Sakit (Pendekatan 7 langkah Diagnosis Okupasi) Mawanti, Wening Tri; Rahmanissa, Nindya Adhavirany
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 13, No 2 (2026): Volume 13 Nomor 2
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v13i2.24696

Abstract

Dermatitis kontak iritan merupakan salah satu penyakit yang sering terjadi pada tenaga kesehatan akibat pajanan bahan kimia, aktivitas wet work, serta penggunaan alat pelindung diri yang berkepanjangan. Penentuan hubungan kausal antara penyakit dan pekerjaan memerlukan pendekatan diagnosis okupasi yang sistematis. Laporan kasus ini menggunakan desain deskriptif analitik laporan kasus pada seorang pekerja dengan keluhan kulit yang diduga berhubungan dengan pekerjaan. Analisis dilakukan berdasarkan 7 langkah diagnosis okupasi, meliputi penegakan diagnosis klinis, identifikasi pajanan bahaya potensial di tempat kerja, analisis hubungan pajanan dan diagnosis klinis, penilaian kecukupan pajanan, faktor individu dan faktor pajanan di luar pekerjaan serta penetapan diagnosis okupasi. Data diperoleh dari anamnesis klinis dan okupasi, pemeriksaan fisik serta rekam medis. Seorang perempuan usia 25 tahun bekerja sebagai radiografer rumah sakit mengeluhkan gatal, kulit kering, dan lenting pada punggung kedua tangan sejak 8 bulan, memberat saat bekerja. Pemeriksaan fisik menunjukkan eritema multipel disertai skuama dan likenifikasi. Analisis menunjukkan adanya hubungan antara dermatitis kontak iritan dengan pajanan pekerjaan berupa penggunaan sabun cuci tangan dengan kandungan Sodium lauryl ether sulfate konsentrasi tinggi, paparan media kontras berbasis yodium, serta aktivitas wet work berulang. Faktor individu dan pajanan di luar pekerjaan turut berperan sebagai faktor pendukung. Dermatitis kontak iritan pada kasus ini merupakan penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan. Pendekatan 7 langkah diagnosis okupasi efektif dalam menilai hubungan kausal antara penyakit dan faktor pekerjaan.