Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

STUDI ETNOBOTANI PADA PROSES RITUAL ADAT MASYARAKAT BALI KECAMATAN LABUHAN MARINGGAI SEBAGAI SUMBER BELAJAR BIOLOGI safitri, Safitri; Mufahroyin, Mufahroyin; Santoso, Handoko
BIOLOVA Vol. 4 No. 2 (2023): Volume 4 Nomor 2 Agustus 2023
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/biolova.v4i2.3570

Abstract

Abstrak: Etnobotani penting untuk dipelajari oleh masyarakat Indonesia karena pemanfaatan tumbuhan secara tradisional masih banyak yang belum diketahui. Rendahnya pengetahuan masyarakat akan ritual adat dan sedikit masyarakat yang memahami tentang ilmu etnobotani menyebabkan terjadinya degradasi budaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemanfaatan tumbuhan dalam ritual adat ritual lingkup keluarga yang mencakup pernikahan, kehamilan,melahirkan, kematian, ritual kemasyarakatan yang mencakup nebar beih, membangun rumah, memotong gigi, ritual peribadahan galungan, kuningan, nyepi, purnama, yajna, tri sadyana, saraswati oleh masyarakat Bali Kecamatan Labuhan Maringgai Kabupaten Lampung Timur. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah gabungan antara metode kualitatif dan kuantitatif. Sampel diambil menggunakan teknik snowball sampling dan purposive sampling. Wawancara dilakukan pada 24 narasumber yang merupakan 4 tokoh adat dan 2 masyarakat Bali. Dari hasil wawancara di dapatkan hasil tumbuhan yang digunakan dalam ritual adat masyarakat Bali yang mencakup 4 Banten, yaitu banten pejati, banten daksine, banten kewangen, banten canang, banten sagehan. Terdapat tiga faktor yang menyebabkan terjadinya degradasi yaitu faktor internal, eksternal, dan etnobotani. Abstract: Ethnobotany is important for the people of Indonesia to learn because the traditional use of plants is still unknown. The low level of public knowledge of traditional rituals and few people who understand ethnobotany have caused cultural degradation. This study aims to determine the use of plants in traditional rituals within the family which includes marriage, pregnancy, childbirth, death, social rituals which include nebar beih, building a house, cutting teeth, rituals of Galungan worship, brass, Nyepi, full moon, yajna, tri sadyana , saraswati by the people of Bali, Labuhan Maringgai District, East Lampung Regency. The method used in this study is a combination of qualitative and quantitative methods. Samples were taken using snowball sampling and purposive sampling techniques. Interviews were conducted with 24 informants who were 4 traditional leaders and 2 Balinese people. From the results of the interviews, it was obtained plant products used in Balinese traditional rituals which cover 4 Banten, namely Pejati Banten, Daksine Banten, Kewangen Banten, Canang Banten, Sagehan Banten. There are three factors that cause degradation, namely internal, external, and ethnobotanical factors.
Pendampingan Pengelolaan Sampah Organik Komunitas Masyarakat Kota Metro Lampung Sutanto, Agus; Widowati, Hening; Santoso, Handoko; Sujarwanta, Agus; Mufahroyin, Mufahroyin; Saputro, Beny; Cholvistaria, Mia; Rista, Paulina Eva; Sholihah, Anisa; Maharani, Adinda Purnama; Vironica, Elysa; Aprilia, Anggi; Syaferi, Akhmad; Satriadi, Bekti
SINAR SANG SURYA Vol 9, No 2 (2025): Agustus 2025
Publisher : UM Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/sss.v9i2.4173

Abstract

Program pengabdian ini bertujuan memberdayakan Kelompok Wanita Tani (KWT), Bank Sampah (BS), serta Sekolah Dasar dan Menengah Muhammadiyah di Kota Metro yang terdiri dari 70 perwakilan dalam pengelolaan sampah organik melalui pelatihan pertanian organik dan budidaya sederhana. Tujuan pengabdiannya untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan peserta dalam mengolah sampah organik menjadi kompos, pupuk cair, eco-enzyme, serta menerapkan budidaya ikan dalam ember (DIBER) dan holtikultura serta cabe jawa skala rumah tangga. Metode yang digunakan meliputi pelatihan partisipatif, demonstrasi praktik, dan pendampingan intensif dengan instrumen penilaian mencakup pemahaman awal, kesiapan bahan dan alat, motivasi, analisis kendala, pengalaman terkait, ekspektasi, serta penyesuaian materi.  Hasil menunjukkan peningkatan signifikan dalam pemahaman peserta mengenai pertanian organik (85%), pengolahan kompos (78%), dan teknik DIBER, ecoenzym, budidaya cabe dan holtikultura  (72%). Sebanyak 65% peserta telah mempraktikkan pembuatan kompos, pupuk organik cair dan eco-enzyme di rumah, sementara 70% mulai menerapkan budidaya cabe jawa,  sayuran  dan ikan secara mandiri. Dampak program meliputi pengurangan sampah organik di lingkungan sekolah dan rumah tangga, peningkatan produktivitas pertanian skala kecil, serta terbentuknya kemandirian ekonomi melalui penjualan hasil budidaya.  Kendala utama meliputi keterbatasan waktu luang (45%), bahan baku (30%) dan ruang praktik/alat dan bahan  (25%), namun solusi seperti pemanfaatan limbah rumah tangga dan pendampingan berkelanjutan berhasil mengatasi tantangan tersebut. Ekspektasi peserta mencakup perluasan praktik ke komunitas lebih luas (80%) dan pendampingan teknis (60%). Indikator keberhasilan meliputi pemanfaatan 90% sampah organik, peningkatan produksi pertanian organik, dan adopsi teknologi sederhana seperti budidamber dan budidaya cabe jawa. Program ini diharapkan menjadi model pengelolaan sampah berbasis komunitas yang berkelanjutan.