Triwahyuningsih, Triwahyuningsih
Universitas Ahmad Dahlan

Published : 23 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Media Sosial Sebagai Wadah Baru Mencari Keadilan Triwahyuningsih Triwahyuningsih; Supriyadi Supriyadi; Siti Zuliyah
Jurnal Citizenship: Media Publikasi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Vol 5, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12928/citizenship.v5i2.24635

Abstract

Berbagai macam  kasus hukum yang diunggah oleh sebagian masyarakat di media sosial belakangan ini menimbulkan kecemasan tentang penegakan hukum di Indonesia.  Tujuan penelitian ini  ingin mendeskripsikan  penggunaan media sosial sebagai wadah baru mencari keadilan. Metode Penelitian menggunakan jenis kualitatif, pendekatan yuridis normatif dan konseptual untuk menganalisis objek penelitian yaitu media sosial sebagai wadah baru mencari keadilan. Metode pengumpulan data bahan hukum primer dan sekunder. Analisis data kualitatif deskriptif dengan tahapan display data,  reduksi data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media sosial dijadikan wadah untuk mencari keadilan karena dianggap efektif  dapat memantik reaksi sosial atas apa yang dirasa korban, disebabkan perasaan hukum masyarakat dengan masalah yang  sedang dihadapi oleh setiap korban. Etika bermedia sosial diperlukan dengan berpedoman pada norma agama, norma kesopanan, norma kesusilaan dan norma hukum.
Penguatan Kearifan Lokal Daerah Istimewa Yogyakarta: Kajian Perdais DIY No. 3 Tahun 2017 Tentang Pemeliharaan dan Pengembangan Kebudayaan Triwahyuningsih Triwahyuningsih; Siti Zuliyah; Nurul Satria Abdi; Dikdik Baehaqi Arif
Jurnal Civic Hukum Vol. 8 No. 1 (2023): Mei 2023
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/jch.v8i1.24800

Abstract

Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang menonjol berasal dari nilai-nilai luhur Kerajaan Mataram Islam dan nilai-nilai filosofi Jawa yang adiluhung. Pentingnya nilai-nilai kearifan lokal (local wisdom) agar kearifan lokal sebagai lokal genius dapat menjadi salah satu pegangan utama dalam menghadapi hegemoni globalisme. Tujuan Penelitian ini adalah menganalisis bentuk penguatan kearifan lokal di DIY berdasarkan Perdais DIY No. 3 Tahun 2017. Metode penelitian ini dengan pendekatan yuridis normatif, dan didukung wawancara lapangan. Menggunakan pendekatan perundang-undangan (statute approach), yaitu mengkaji dan menganalisis semua peraturan yang bersangkut dengan objek. Analisis kualitatif deskriptif melalui langkah-langkah, reduksi data, klasifikasi data, penafsiran data, display data dan ditarik kesimpulan. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai kearifan lokal berdasarkan Perdais DIY No. 3 Tahun 2017 berupa falsafah Jawa yang berasal dari Kerajaan Mataram Islam dan petuah adiluhung bahasa Jawa untuk pedoman menjadi manusia baik terhadap diri sendiri, sesama maupun kepada Tuhan. Bentuk penguatan kearifan lokal di DIY dengan cara revitalisasi, adaptasi, reaktualisasi dan internalisasi, baik melalui pendidikan formal dari TK sampai Perguruan Tinggi, melalui kegiatan masyarakat dari tingkat Rukun Warga sampai Provinsi dan melalui keluarga dengan pembiasaan, keteladanan, nasehat, cerita
Role Paradox of PPKn Teachers in the AI Era: From Instructor to Ethical Guardian Yasir Marzuqi; Trisna Sukmayadi; Triwahyuningsih Triwahyuningsih; Sunny G. Gabinete; Islahuddin Islahuddin
At- Ta'lim : Jurnal Pendidikan Vol. 12 No. 2 (2026): June
Publisher : LP3M Universitas Islam Zainul Hasan Genggong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55210/attalim.v12i2.2493

Abstract

The integration of generative artificial intelligence (AI), particularly ChatGPT and Google Gemini, into Civic and Pancasila Education (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan/PPKn) has introduced fundamental shifts in pedagogical practice. While these technologies offer opportunities for more adaptive and personalized learning, they simultaneously risk undermining teachers' epistemic authority and displacing the internalization of Pancasila values that form the ethical core of students' character formation. This study examines the paradox of PPKn teachers' roles amid the proliferation of instant AI tools, analyzes their transition toward ethical guardianship, and proposes pedagogical implications as a pre-policy baseline study. A qualitative approach using Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) was employed, involving in-depth interviews with 13 PPKn teachers from the Subject Teacher Forum (MGMP) in Bantul Regency (November 2025–February 2026), supported by classroom observations and document analysis. The findings reveal three interrelated crises: (1) a facilitation paradox, in which the demands of student-centered learning paradoxically compel teachers to adopt defensive strategies including strict digital device monitoring and time-pressured assessments; (2) an epistemic authority crisis, characterized by students' increasing trust in AI-generated responses over teachers' contextual and normative explanations; and (3) the erosion of Pancasila values, encompassing declining empathy and human interaction (Second Principle), weakening deliberative practices (Fourth Principle), and reduced academic integrity (Fifth Principle), as reflected in instant plagiarism and cognitive passivity. In response, this study advances the concept of Guardian Pedagogy as a reconceptualization of the teacher's role in safeguarding students' epistemic, relational, and ethical foundations in the digital age.