Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

BABU: AGEN PERUBAHAN GAYA HIDUP DI JAWA PADA MASA AKHIR KOLONIAL BELANDA Pratiwi, Ardela Iga
Candrasangkala: Jurnal Pendidikan dan Sejarah Vol 10, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30870/candrasangkala.v10i1.24642

Abstract

Pasca dibukanya Terusan Suez dan kemudahan transportasi, jumlah perempuan Eropa yang datang ke Hindia Belanda mengalami peningkatan. Di tanah koloni, mereka membutuhkan jasa pembantu  untuk membantu menjaga dan merawat anak-anaknya. Tidak hanya perempuan Eropa yang bekerja di luar rumah, perempuan-perempuan Eropa yang tidak bekerja pun membutuhkan jasa babu. Hal itu karena mereka tidak mampu untuk mengurus sendiri anak-anaknya. Di samping tugasnya sebagai pengasuh anak, pekerjaannya tersebut memberikan kesempatan bagi perempuan-perempuan pribumi tersebut untuk akrab dengan modernitas. Masalah kebersihan dan kesehatan merupakan hal yang penting untuk diperhatikan oleh babu. Kebiasaan menjaga kebersihan dan kesehatan untuk majikannya dan juga dirinya sendiri, membawa perubahan gaya hidup pada diri mereka yang dibawanya ke masyarakat.   
Pelatihan Pembuatan Bahan Ajar untuk Menghindari Anakronisme Sejarah di MGMP Kabupaten Semarang Wijayati, Putri Agus; Pratiwi, Ardela Iga; Nurpratiwi, Hany
Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia Vol 4 No 4 (2024): JPMI - Agustus 2024
Publisher : CV Infinite Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52436/1.jpmi.2763

Abstract

Kemampuan guru membuat detail pembabakan waktu atau periodesasi sejarah Indonesia masa kolonial perlu diperkuat guna menghindari anakronisme. Kompetensi pengetahuan guru harus terus diupgrade untuk memperoleh ilmu pengetahuan yang kontekstual. Di samping itu, pada era perkembangan teknologi ini, kompetensi guru sejarah sebagai pendidik yang profesional juga dituntut untuk dapat menyajikan pembelajaran dengan memanfaatkan perkembangan teknologi. Pembelajaran menggunakan metode dan media ajar terbarukan sesuai perkembangan kurikulum serta membuat bahan ajar yang inovatif dan kreatif akan mampu membawa hasil pembelajaran yang maksimal. Pelatihan pembuatan bahan ajar di MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) sejarah di kabupaten Semarang, Jawa Tengah bertujuan untuk mengoptimalkan bahan ajar di sekolah yang disesuaikan dengan kurikulum dan perkembangan teknologi. Selain itu juga untuk penguatan pemahaman guru terhadap periodesasi sejarah Indonesia guna menghindari anakronisme sejarah. Metode yang dilaksanakan antara lain persiapan, pembentukan tim pengembangan bahan ajar, merancang media ajar berupa video, pelaksanaan kegiatan serta pemantauan dan evaluasi kegiatan. Hasil dari kegiatan pengabdian ini ialah mampu menguatkan pemahaman peserta untuk menghindari anakronisme dalam menyampaikan materi sejarah Indonesia masa kolonial. Video pembelajaran sejarah yang dilengkapi unsur audio visual meliputi teks, gambar dan musik dapat membantu siswa untuk belajar sejarah Indonesia masa kolonial secara kronologis dan menarik.
Huishoudschool: Pendidikan dan Pembentukan Citra Perempuan Ideal di Perkotaan Jawa Akhir Masa Pemerintah Kolonial Belanda Pratiwi, Ardela Iga; Wijayati, Putri Agus; Putri, Rizka Cahyaning Arifin
Historia: Jurnal Pendidik dan Peneliti Sejarah Vol 8, No 2 (2025): on progress
Publisher : Prodi. Pendidikan Sejarah FPIPS UPI dan APPS (Asosiasi peneliti dan Pendidik Sejarah)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/historia.v8i2.88203

Abstract

Dalam historiografi perempuan Indonesia, penulisan sejarah pendidikan perempuan di Indonesia masih didominasi pada pembahasan pendidikan formal perempuan dalam sistem sekolah umum, sedangkan kajian pendidikan keterampilan domestik masih cukup minim. Tulisan ini bertujuan mendiskusikan tentang Huishoudschool di perkotaan Jawa dalam periode akhir masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Kajian ini menggunakan metode sejarah yang terdiri dari heuristik, kritik sumber, interpretasi dan historiografi. Huishoudschool merupakan salah satu sekolah khusus perempuan yang kurikulumnya terdiri atas pelajaran-pelajaran ilmu keterampilan rumah tangga (domestik), seperti memasak, mencuci pakaian, menjahit, menyetrika, mengasuh anak, gizi dan kesehatan, dan lainnya. Lama masa pendidikannya sekitar dua sampai tiga tahun. Tradisi dan gagasan kolonial telah membentuk bagaimana perempuan ideal, yaitu terampil mengerjakan urusan domestik, melayani suami, mengasuh serta mendidik anak. Hal tersebut berimplikasi membuat Huishoudschool menjadi sekolah yang diminati karena dianggap sesuai dengan kodrat dan tugas perempuan. Oleh karena itu, Huishoudschool berperan tidak hanya sebagai wadah pendidikan khusus perempuan, tetapi juga berkontribusi membentuk citra perempuan ideal.
Wheels of the Past: Trams as the Lifeline of Semarang City 1881-1940 Safitri, Rahma Danisa Eka; Khawismaya, Herlina Putri; Amalia, Qotrunnida; Wijayati, Putri Agus; Pratiwi, Ardela Iga
Siginjai: Jurnal Sejarah Vol 5 No 2 (2025): Siginjai: Journal of History
Publisher : Prodi Ilmu Sejarah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/js.v5i2.47605

Abstract

Trams played an important role in the development of Semarang City from 1881 to 1940. As a mode of transportation in the city, trams are not only a means of transporting passengers and goods, but also a major driver of economic growth and urban spatial development. This research uses historical methods, including heuristics, source criticism, interpretation, and historiography. The results show that the Semarang-Juana steam tram, operated by Samarang-Joana Stoomtram Maatschappij (SJS), is the backbone of transportation to connect produce production areas with ports, as well as encourage urbanization and economic growth. Trams also form new economic corridors and expand social interaction between community groups. However, trams eventually disappeared due to the development of transportation technology and changes in urban spatial planning.