Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Ngarak Barong, Tradisi Lebaran Betawi dan Strategi Pemertahanan Budaya Masyarakat Etnis Betawi di Kampung Sawah Bekasi: Kajian Semiotika Machdori Machdori; Tadjuddin Maknun; Ery Iswary
Ilmu dan Budaya Vol 43, No 2 (2022): Vol. 43, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47313/jib.v43i2.1749

Abstract

Ngarak Barong or ondel-ondel is the result of an ancient Betawi art called barongan, in the form of a pair of giant dolls in simple shapes, complete with a musical accompaniment team. At first, ondel-ondel was part of the people's sacred ritual activities which later became one of the icons of the city of Jakarta. Currently, ondel-ondel can still be found, both in the form of performing arts at wedding processions, government events in welcoming guests, as well as as processions to enliven Betawi Eid. In its development, the Ngarak Barong procession is still being carried out by the Betawi community, especially residents of the Kampung Sawah, Bekasi. But, along with the development of time, public awareness to continue to preserve local wisdom such as Barong has experienced a shift in values. Many found the Barong procession or ondel-ondel as a form of cultural defense, but it is more functioned for practical needs as a livelihood for singing so that Barong no longer has a sacred value as a cultural product that has a symbolic meaning. To see the meaning behind the signs of change, this qualitative research uses a semiotic approach. The relationship or relationship between the symbolic signs that exist in the structure and elements forming ondel-ondel is collaborated with the condition of society as the background and its impact in today's society to get meaning. Changes in the meaning and function of ondel-ondel in its constituent elements are produced and constructed as mental thoughts of users based on their form and context. The interpretation of the meaning of the cultural procession during the Ngarak Barong Betawi Lebaran procession will be different from the action of Ngarak Barong singing on the streets. There needs to be a policy given by the government to the impact of cultural shifts in the long term. Ngarak Barong atau ondel-ondel adalah hasil karya seni Betawi kuno bernama barongan, berupa sepasang boneka raksasa berbentuk sederhana, lengkap dengan tim musik pengiring. Pada awalnya ondel-ondel merupakan bagian dari aktivitas ritual sakral rakyat yang kemudian dijadikan sebagai salah satu ikon kota Jakarta. Saat ini ondel-ondel masih dapat ditemui, baik dalam bentuk seni pertunjukan pada prosesi pernikahan, acara pemerintahan dalam menyambut tamu, maupun sebagai prosesi arak-arakan dalam rangka memeriahkan lebaran Betawi. Dalam perkembangannya prosesi Ngarak Barong masih terus dilakukan oleh masyarakat Betawi, terutama warga masyarakat di Kampung Sawah, Bekasi. Namun seiring dengan perkembangan waktu, kesadaran masyarakat untuk terus melestarikan kearifan lokal seperti Barong telah mengalami pergeseran nilai. Banyak ditemukan arak-arakan Barong atau ondel-ondel sebagai bentuk pemertahanan budaya yang lebih difungsikan untuk kebutuhan praktis sebagai mata pencarian untuk mengamen sehingga Barong tidak lagi memiliki nilai kesakralan sebagai sebuah produk budaya yang memiliki makna simbolis. Untuk melihat makna di balik tanda-tanda perubahan yang terjadi, penelitian kualitatif ini menggunakan pendekatan semiotika. Hubungan atau relasi antar tanda simbolik yang ada pada struktur dan unsur-unsur pembentuk ondel-ondel dikolaborasikan dengan kondisi masyarakat sebagai latar belakang dan dampaknya dalam masyarakat saat ini untuk mendapatkan makna. Perubahan makna dan fungsi ondel-ondel pada unsur-unsur pembentuknya diproduksi dan dikonstruksi sebagai mental pemikiran penggunanya berdasarkan bentuk dan konteksnya. Interpretasi makna pada prosesi kebudayaan saat Ngarak Barong prosesi Lebaran Betawi akan berbeda dengan aksi Ngarak Barong mengamen di jalanan. Perlu adanya kebijakan yang diberikan oleh pemerintah terhadap dampak dari pergeseran budaya dalam jangka panjang. 
Habib Rishiq Shihab Hate Speaking On Youtube social Media: Forensic Linguistic Analysis Alfian Mahajir Alfian; Tadjuddin Maknun; Kamsinah Kamsinah; Firman Saleh
La Ogi : English Language Journal Vol 8 No 2 (2022): July
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa Inggris, FKIP, LP3M Universitas Muhammadiyah Sidenreng Rappang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (52.472 KB) | DOI: 10.55678/loj.v8i2.694

Abstract

This study aims to explain the forms of speech acts that contain Habib Rishiq Shihab's hate speech on YouTube social media. The data in this study are Habib Rishiq Shihab's story uploaded on YouTube social media which contains hate speech. The source of the data in this study is a document in the form of a video uploaded on YouTube social media related to Habib Rishiq Shihab's speech which contains hate speech.The method used in this study is a qualitative descriptive method, data collection techniques look-see and note. Data were analyzed usingThe data analysis technique used is qualitative content analysis.The results of this study indicate that:Habib Rishiq Shihab's speech on YouTube contains declarative and interrogative speech acts. The form of illocutionary speech acts uses declarative and directive locutions. The form of perlocutionary speech acts is in the form of a deliberate effect by influencing the interlocutor. Such speech is considered as a form of provocative/incitement that can cause feelings of hatred or hostility towards certain individuals and/or community groups based on ethnicity, religion, race, and inter-group (SARA) so that they can be categorized as having committed an unlawful act as regulated in the formulation of article 45A paragraph (2) UU ITE and Article 160 of the Criminal Code.
Habib Rishiq Shihab Hate Speaking on Youtube Social Media: Forensic Linguistic Analysis Alfian Muhajir; Tadjuddin Maknun; Kamsinah Kamsinah; Firman Saleh
Seltics Journal: Scope of English Language Teaching Literature and Linguistics Vol 5 No 2 (2022): Seltics Journal: Scope of English Language Teaching, Literature and Linguistics J
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP Universitas Muslim Maros

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46918/seltics.v5i2.1320

Abstract

This study aims to explain the forms of speech acts included in Habib Rishiq Shihab's hate speech on YouTube social media. The data from this survey is Habib Rishiq Shihab's talk uploaded to YouTube social media, including hate speech. The data source for this research is a video format document uploaded to YouTube social media related to Habib Rishiq Shihab's speech, including hate speech. The method used in this study is a qualitative descriptive method. See Data acquisition techniques and annotations. Data analysis using data analysis method, namely qualitative content analysis method (qualitative content analysis). The results of this study indicate that: Habib Rishiq Shihab's speech on YouTube is declarative and question-based. The form of intra-speech action uses declarative and directive idioms. A speech act is a form of effect that affects the interlocutor. The statement is seen as a form of provocation/incitement that can create feelings of hatred or hostility towards specific individuals or groups based on ethnicity, religion, race, and inter-group (SARA), which can be carried out and is classified as illegal, so that it can be categorized as having committed an unlawful act as referred to in paragraph, which is regulated in the formulation of Article 45A paragraph (2) of the ITE Law and Article 160 of the Criminal Code.
Transivitas dan Konteks Situasi dalam Surat Edaran Menteri Agama RI Nomor SE. 08 Tahun 2022: Kajian Linguistik Sistemik Fungsional Usti Usti; Gusnawaty Gusnawaty; Muhammad Hasyim; Tadjuddin Maknun
Deiksis : Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 9 No 2 (2022): DEIKSIS: JURNAL PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
Publisher : Universitas Swadaya Gunung Jati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33603/deiksis.v9i2.6955

Abstract

Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan transivitas dan hubungannya dengan konteks situasi dalam Surat Edaran Menteri Agama Republik Indonesia Nomor SE. 08 Tahun 2022 tentang Panduan Penyelenggaraan Ibadah pada Bulan Ramadan dan Idul Fitri Tahun 1443 H/2022 M. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan yang digunakan, yaitu pendekatan linguistik sistemik fungsional. Sumber data dalam penelitian ini adalah surat edaran Menteri Agama Republik Indonesia Nomor SE. 08 tahun 2022 tentang Panduan Penyelenggaraan Ibadah pada Bulan Ramadan dan Idul Fitri Tahun 1443 H/2022 M. Jenis data dalam penelitian ini menggunakan data tulisan. Penelitian ini menggunakan dua metode, yaitu simak dan catat. Hasil dari penelitian ini, yaitu terdapat empat tipe proses yang muncul, yaitu proses material, behavioural, mental, dan relasional. Partisipan dalam surat edaran tersebut ada dua, yaitu partisipan manusia yang kemunculannya paling banyak dan partisipan bukan manusia (abstrak) yang kemunculannya lebih sedikit daripada partisipan manusia. Sirkumstan yang ditemukan sebanyak lima, yaitu sirkumstan sebab yang muncul paling banyak, disusul dengan sirkumstan lokasi dan sirkumstan cara, kemudian sirkumstan yang paling sedikit kemunculannya adalah sirkumstan penyerta dan masalah. Berkaitan dengan konteks situasi menunjukkan bahwa surat edaran tersebut bergenre instruksi hal tersebut menandakan bahwa penutur memberikan arahan dan petunjuk agar melakukan kegiatan sesuai dengan ketentuan yang terdapat dalam surat edaran tersebut.Kata kunci: transivitas, konteks situasi, surat edaran, Menteri Agama.