Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

PENGENALAN TEKS GENRE DRAMA TRADISIONAL BERBAHASA SASAK: PENYIAPAN BAHAN BAKU PENYUSUNAN MATERI MUATAN LOKAL BAHASA SASAK PADA KELOMPOK KERJA GURU (KKG) SE-KECAMATAN SELONG Paridi, Khairul; Mari'i, Mari'i; Nazir, Yuniar Nuri; Ashriany, Ratna Yulida
Jurnal Pepadu Vol 5 No 4 (2024): Jurnal PEPADU
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/pepadu.v5i4.5890

Abstract

Pembelajaran tentang drama tradisional berbahasa Sasak di sekolah belum mendapat perhatian yang memadai, akibatnya pembelajaran khususnya tentang pembelajaran drama tradisional Sasak menjadi kurang menarik minat siswa. Untuk menjawab masalah tersebut dilakukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat adalah teks genre sastra drama tradisional berbahasa Sasak. Materi yang disampaikan berkenaan dengan struktur teks, alat kebahasaan (baik leksikal maupun gramatikal) yang digunakan dalam teks. Peserta yang terlibat dalam kegiatan ini berjumlah 25 orang yang terdiri atas guru dan kepala sekolah dibantu mahasiswa. Pendekatan yang digunakan dalam pengabdian ini adalah pendekatan andragogi yakni pendekatan pembelajaran yang diterapkan bagi orang dewasa. Pendekatan tersebut dilaksanakan dengan metode diskusi, metode inkuiri, dan metode latihan. Kegiatan ini berhasil baik, hal ini dapat diketahui dari antusiasnya peserta mengikuti kegiatan ini. Para guru mengembangan materi pembelajaran tentang drama tradisional berbahasa Sasak; membuat sebuah naskah teater drama tradisional yang yang berjudul Ratu Mandalika dengan Bahasa Sasak; dan rencana berikut mereka ingin membuat nasakah drama Amaq Abir untuk pentas berikutnya.
Strata Norma Geguritan Kidungan Baödayǎ Karya Rangga Azhary Ade Kantari, Angelie; Mari'i, Mari'i; Mahyudi, johan
Kopula: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pendidikan Vol. 6 No. 1 (2024): Maret
Publisher : Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/kopula.v6i1.3666

Abstract

Permasalahan dalam penelitian ini yaitu bagaimanakah strata norma Geguritan Kidungan Baödayǎ karya Rangga Azhary? Tujuan penelitian untuk mendeskripsikan strata norma Geguritan Kidungan Baödayǎ karya Rangga Azhary. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Metode pengumpulan data yang digunakan dengan teknik membaca dan mencatat. Sumber data dalam penelitian ini adalah delapan geguritan diambil dalam antologi Geguritan Kidungan Baödayǎ karya Rangga Azhary. Geguritan-geguritan tersebut antara lain; (1) Ndéq Bangge; (2) Sekolah Care Laéq; (3) Makat akh, Makat; (4) Sakit Bayu; (5) Loéqan Mudarat; (6) Manok Maté Romboq Taroq; (7) Khayal; dan (8) Péte Sangu. Berdasarkan hasil analisis data strata norma Roman Ingarden dalam Geguritan Kidungan Baödayǎ karya Rangga Azhary dapat disimpulkan bahwa (1) lapis bunyi berupa asonansi dan aliterasi. Bunyi-bunyi tersebut memberikan penekanan bunyi khusus, mempermudah pembaca dalam memahami geguritan, serta menambah unsur keindahan atau estetika dalam geguritan; (2) lapis arti memberikan gambaran tentang kisah yang terjadi pada kehidupan sehari-hari manusia; (3) lapis objek berupa satuan arti yang menimbulkan lapis ketiga berupa objek-objek yang dikemukakan; (4) lapis dunia menyatakan beberapa hal yang dipandang dari sudut pandang tertentu; (5) lapis metafisis menyatakan tentang ketragisan dan kesedihan yang terjadi dalam geguritan. Kedelapan geguritan tersebut menyampaikan pesan-pesan yang berbeda-beda berdasarkan tema yang berada di dalamnya.
Kajian Intertekstual Pada Novel Amorfati Karya Stefani Bella Dan Syahid Muhammad Dan Novel 00.00 Karya Ameylia Falensia Maysya, Maysya Rizky Tri Juliana; Mari'i, Mari'i; Johan, Johan Mahyudi
JURNAL MANAJEMEN PENDIDIKAN Vol 13, No 2 (2025): Jurnal Manajemen Pendidikan
Publisher : Universitas Pakuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan persamaan dan perbedaan unsur intrinsik antara novel Amorfati karya Stefani Bella dan Syahid Muhammad dengan novel 00.00 karya Ameylia Falensia. Penelitian inimerupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan metode kajian intertekstual. Data yang dianalisis berupa kata, frase, dan Kalimat yang berkaitan dengan unsur-unsur intrinsik, seperti tema, alur, tokoh/penokohan, latar, gaya bahasa, sudut pandang, dan amanat. Teknik pengumpulan data menggunakan studi pustaka, baca dan catat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua novel memiliki persamaan dari segi tema penerimaan dan pencarian jati diri, penggunaan alur campuran, serta gaya bahasa yang emosional dan komunikatif. Namun, terdapat perbedaan dalam pengembangan tokoh, latar belakang, dan konflik cerita. Novel Amorfati lebih menonjolkan proses refleksi diri melalui dua sudut pandang, sedangkan 00.00 menyajikan konflik yang kompleks dan intens dalam setiap bab. Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan pembaca dan pengkaji sastra dalam memahami hubungan intertekstual antar karya sastra populer
PENGENALAN TEKS GENRE DRAMA TRADISIONAL BERBAHASA SASAK: PENYIAPAN BAHAN BAKU PENYUSUNAN MATERI MUATAN LOKAL BAHASA SASAK PADA KELOMPOK KERJA GURU (KKG) SE-KECAMATAN SELONG Paridi, Khairul; Mari'i, Mari'i; Nazir, Yuniar Nuri; Ashriany, Ratna Yulida
Jurnal Pepadu Vol 5 No 4 (2024): Jurnal PEPADU
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/pepadu.v5i4.5890

Abstract

Pembelajaran tentang drama tradisional berbahasa Sasak di sekolah belum mendapat perhatian yang memadai, akibatnya pembelajaran khususnya tentang pembelajaran drama tradisional Sasak menjadi kurang menarik minat siswa. Untuk menjawab masalah tersebut dilakukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat adalah teks genre sastra drama tradisional berbahasa Sasak. Materi yang disampaikan berkenaan dengan struktur teks, alat kebahasaan (baik leksikal maupun gramatikal) yang digunakan dalam teks. Peserta yang terlibat dalam kegiatan ini berjumlah 25 orang yang terdiri atas guru dan kepala sekolah dibantu mahasiswa. Pendekatan yang digunakan dalam pengabdian ini adalah pendekatan andragogi yakni pendekatan pembelajaran yang diterapkan bagi orang dewasa. Pendekatan tersebut dilaksanakan dengan metode diskusi, metode inkuiri, dan metode latihan. Kegiatan ini berhasil baik, hal ini dapat diketahui dari antusiasnya peserta mengikuti kegiatan ini. Para guru mengembangan materi pembelajaran tentang drama tradisional berbahasa Sasak; membuat sebuah naskah teater drama tradisional yang yang berjudul Ratu Mandalika dengan Bahasa Sasak; dan rencana berikut mereka ingin membuat nasakah drama Amaq Abir untuk pentas berikutnya.
KATA 'SĀFĀR' DALAM PERSPEKTIF SUFI: KAJIAN TERHADAP METAFORA KONSEPTUAL GEORGE LAKOFF Chaer, Hasanuddin; Rasyad, Abdul; Mari'i, Mari'i; Hidayat, Rahmat; Susanti, Pipit Aprilia; Riyanto, Andra Ade
Lingua Franca:Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Vol 8 No 2 (2024): Agustus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/lf.v8i2.22510

Abstract

This article delves deeply into the essence of the word 'Sāfār' from a Sufi perspective, utilizing the conceptual metaphor framework developed by George Lakoff. The research aims to uncover the philosophical and spiritual meanings contained within the word 'Sāfār' in the context of Sufi tradition, and how the use of conceptual metaphor can deepen our understanding of Sufi mystical journeys. Within Lakoff's "The Path Traversed-If Possible/Not Possible" conceptual framework, the article explores the dynamics between the Source Domain and the Target Domain in the metaphor of 'Sāfār'. This research applies George Lakoff's conceptual metaphor method to interpret the literal meaning of the word 'Sāfār' within the spiritual Sufi framework into a metaphorical meaning. To understand this phenomenon, the research is conducted through three stages: First, data collection, in which researchers gather literal words of 'Sāfār' from the texts of the Qur'an and Sufi manuscripts. Second, data analysis, in which researchers observe, analyze, and understand the literal meaning of the word 'Sāfār' in the Qur'anic texts, and connect it with metaphorical meanings. Third, data conclusion, where researchers understand and interpret the meaning from the source domain to the target domain of the metaphor of the word 'Sāfār' in the context of Sufi spiritual journey. Findings from this research indicate that a metaphorical understanding of the term 'Sāfār' can provide new insights and broader perspectives on spiritual, philosophical, and cognitive linguistic experiences. This is because the research highlights the complexity of dynamics between the source domain and the target domain in the process of metaphorical interpretation.
Strata Norma Geguritan Kidungan Baödayǎ Karya Rangga Azhary Ade Kantari, Angelie; Mari'i, Mari'i; Mahyudi, johan
Kopula: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pendidikan Vol. 6 No. 1 (2024): Maret
Publisher : Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/kopula.v6i1.3666

Abstract

Permasalahan dalam penelitian ini yaitu bagaimanakah strata norma Geguritan Kidungan Baödayǎ karya Rangga Azhary? Tujuan penelitian untuk mendeskripsikan strata norma Geguritan Kidungan Baödayǎ karya Rangga Azhary. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Metode pengumpulan data yang digunakan dengan teknik membaca dan mencatat. Sumber data dalam penelitian ini adalah delapan geguritan diambil dalam antologi Geguritan Kidungan Baödayǎ karya Rangga Azhary. Geguritan-geguritan tersebut antara lain; (1) Ndéq Bangge; (2) Sekolah Care Laéq; (3) Makat akh, Makat; (4) Sakit Bayu; (5) Loéqan Mudarat; (6) Manok Maté Romboq Taroq; (7) Khayal; dan (8) Péte Sangu. Berdasarkan hasil analisis data strata norma Roman Ingarden dalam Geguritan Kidungan Baödayǎ karya Rangga Azhary dapat disimpulkan bahwa (1) lapis bunyi berupa asonansi dan aliterasi. Bunyi-bunyi tersebut memberikan penekanan bunyi khusus, mempermudah pembaca dalam memahami geguritan, serta menambah unsur keindahan atau estetika dalam geguritan; (2) lapis arti memberikan gambaran tentang kisah yang terjadi pada kehidupan sehari-hari manusia; (3) lapis objek berupa satuan arti yang menimbulkan lapis ketiga berupa objek-objek yang dikemukakan; (4) lapis dunia menyatakan beberapa hal yang dipandang dari sudut pandang tertentu; (5) lapis metafisis menyatakan tentang ketragisan dan kesedihan yang terjadi dalam geguritan. Kedelapan geguritan tersebut menyampaikan pesan-pesan yang berbeda-beda berdasarkan tema yang berada di dalamnya.