Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

BANTUAN TEKNIS PERENCANAAN FONDASI DANGKAL UNTUK RUMAH TINGGAL DI KELURAHAN BENDUNG KOTA SERANG Liana Herlina; Kawanda, Aksan; Irlan, Ade Okvianti; Kurniyaningrum, Endah; Rahmat , M. Haikal
Jurnal AKAL: Abdimas dan Kearifan Lokal Vol. 5 No. 1 (2024): Jurnal AKAL : Abdimas dan Kearifan Lokal
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/akal.v5i1.17984

Abstract

Fondasi adalah suatu konstruksi bangunan yang terletak pada bagian bawah bangunan yang berfungsi untuk menempatkan bangunan dan meneruskan beban atau gaya yang disalurkan dari struktur atas dan termasuk berat fondasinya ke tanah dasar dibawahnya. Untuk itu, fondasi bangunan harus diperhitungkan agar dapat menjamin kestabilan bangunan terhadap berat sendiri, beban mati tambahan, beban hidup dan gaya-gaya luar seperti tekanan angin, gempa bumi dan lain-lain. Banyak masyarakat yang kurang mengerti pentingnya fondasi, sehingga banyak pembuatan fondasi yang kurang baik. Area pada kawasan Serang ini masih banyak bangunan yang hanya menggunakan susunan batu bata sebagai fondasi dikarenakan keterbatasan kemampuan dan pengetahuan. Oleh karena itu, dibutuhkan sosialisasi mengenai fondasi yang layak untuk digunakan dan memenuhi standar keamanan untuk rumah tinggal yang menggunakan fondasi dangkal dengan batu kali menerus dapat digunakan dalam jangka waktu yang panjang dan tidak mengalami keretakan yang berarti. Tim pengabdian kepada masyarakat Teknik Sipil Universitas Trisakti memberikan bantuan teknis berupa sosialisasi dan pengarahan tentang desain dan metode pelaksanaan pembuatan fondasi dangkal di lapangan dalam rangka pembangunan konstruksi bangunan sederhana pada area Serang, Banten. Fondasi dangkal yang digunakan adalah fondasi batu kali. Hal ini dikarenakan pada daerah tersebut banyak tersedia material batu kali, serta kondisi tanah yang ada merupakan tanah keras dan dalam kategori baik, sehingga daya dukungnya memenuhi jika menggunakan fondasi dangkal tersebut. Dengan adanya kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini maka fondasi bangunan di area Serang ini dapat direncanakan dan dibangun sesuai standar desain konstruksi sehingga mencapai keamanan yang dipersyaratkan.
KARAKTERISTIK KEKUATAN DAN WORKABILITY PADA BETON SCC (SELF COMPACTING CONCRETE) Fakrianto, Ibnu; Liana Herlina
Jurnal Rekayasa Lingkungan Terbangun Berkelanjutan Vol. 1 No. 2 (2023): Juli - Desember
Publisher : Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ekonomi negara sangat bergantung salah satunya pada industri konstruksi, dan beton merupakan bahan konstruksi yang mengandung semen sebagai bahan pengikatnya. Dalam proses pengecoran, workability beton sangat dibutuhkan untuk mempermudah pekerjaan. Untuk perencanaan beton mutu tinggi, diperlukan nilai koefisien semen air (fas) yang kecil, sehingga workability akan sulit.Nilai koefisien semen air ini mempengaruhi porositas beton.Semakin kecil nilainya, semakin kecil bagian dari beton. beton dan Mempengaruhi kuat tekan beton, ada inovasi beton untuk mengatasi masalah ini, yaitu self compacting concrete (SCC concrete). Beton SCC adalah beton dengan fluiditas tinggi, yang dapat mengisi ruang dalam cetakan tanpa proses pemadatan, dan memiliki kuat tekan beton yang berkualitas tinggi. Dibuat dengan menambahkan aditif superplasticizer, berat superplasticizer yang ditambahkan dibandingkan dengan berat semen yang digunakan. Superplasticizer, Sika Viscocrete 3115N, digunakan dalam penelitian ini pada kadar 0,5%, 1% dan 2%. Penelitian ini dilakukan untuk mengamati sifat-sifat beton seperti kuat tekan, kuat tarik belah, dan workability beton. Menurut hasil penelitian, dengan kadar 1% mempunyai kuat tekan tertinggi pada umur 28 hari yaitu 52,08 MPa, kuat tarik belah pada umur 28 hari yaitu 3,16 Mpa. Diameter slump flow beton pada kadar 2% sebesar 70 cm. Penambahan superplasticizer menyebabkan peningkatan terhadap kuat tekan, kuat tarik belah, dan menyebabkan beton mengalami flow.
ANALISA WAKTU IKAT BETON GEOPOLIMER DENGAN PENAMBAHAN RETARDER SIKA PLASTIMENT P-121 R Indra Yahya T.oinan, Agus; Liana Herlina
Jurnal Rekayasa Lingkungan Terbangun Berkelanjutan Vol. 1 No. 2 (2023): Juli - Desember
Publisher : Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/v1i2.17772

Abstract

Sebagai salah satu negara berkembang, populasi Indonesia meningkat dengan cepat. Karena populasi yang meningkat, kebutuhan akan sarana dan prasarana di Indonesia meningkat, terutama dalam bidang konstruksi seperti gedung, jalan, dan jembatan. Beton adalah bahan bangunan yang banyak digunakan di Indonesia. Penggunaan semen portland yang semakin meningkat dalam pembangunan infrastruktur berdampak negatif terhadap lingkungan. Beton geopolimer adalah campuran yang tidak menggunakan semen dan menggunakan bahan pengikat seperti fly ash. Beton geopolimer mempunyai kekurangan cepat mengeras. Penelitian ini menambahkan admixture untuk memperlambat pengeras beton. Sebagai alkali, sodiumhidroksida dan sodium silikat digunakan dalam pembuatan beton geopolimer. Jumlah molaritas NaOH yang digunakan adalah 8M, dan perbandingan alkali antara NaOH dan Na2SiO3 adalah 1:2,5. Pengaruh tipe retarder (Merk plastiment P121R) terhadap waktu ikat beton geopolimer adalah tujuan penelitian ini. Penelitian ini menggunakan fly ash tipe F danmenggunakan kadar penambahan sika plastiment P-121 R sebesar 0,5%, 1%, 1,5%, dan 2% dari berat fly ash. Metode pengujian yang dilakukan dengan mengukur waktu ikat beton geopolimer dengan menggunakan peralatan vicat apparatus berdasarkan ASTM C403/C403M. Hasil yang diperoleh dari penggunaan fly ash tipe F dengan molaritas 8M pada penelitian inimenunjukkan bahwa pada pengujian waktu ikat awal tercepat pada waktu 8 jam 43 menit dengan konsentrasi 1% danterlama 10 jam 18 menit dengan konsentrasi 2% sedangkan pengujian waktu ikat akhir tercepat pada waktu 12 jam 12menit dengan konsentrasi 0,5% dan terlama 15 jam 17 menit. Kata kunci : beton geopolimer, retarder, waktu ikat, fly ash
PENGARUH KALSIUM OKSIDA DAN BORAKS TERHADAP WAKTU IKAT BETON GEOPOLIMER BERBASIS DASAR FLY ASH Muhammad Fikri Haikal, Andi; Liana Herlina
Jurnal Rekayasa Lingkungan Terbangun Berkelanjutan Vol. 1 No. 2 (2023): Juli - Desember
Publisher : Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/jrltb.v1i2.17849

Abstract

Beton geopolimer dianggap lebih ramah lingkungan dikarenakan bahan penyusunnya tidak lagi menggunakan semen. Salah satu material yang bisa digunakan adalah fly ash.). Salah satu material yang bisa digunakan adalah Fly Ash. Namun, Fly Ash tipe F mempunyai kandungan kalsium oksida (CaO) kurang dari 10% maka itu di gunakan penambahan kalsium oksida bisa berakibat mempercepat proses pengersan tapi meninggkatkan kuat tekan beton geopolimer. Dari hasil penelitian, menunjukan bahwa penambahan kalsium oksida dan boraks( Na2B4O7·10H2O)· pada laurutan alkali memberi pengaruh terhadap setting time. Penambahan kalsium oksida (CaO) bisa mempercepat setting time dan penambahan boraks memperlambat setting time sesuai dengan jumlah kadar kalsium oksida dan boraks yang ditambahkan. Penambahan kalsium oksida Menambahkan kuat tekan beton geopolimer. Dengan penambahan boraks1% dan CaO1%,7,5%,10%,12,5%,15%.Digunakan perbandingan aktivator Na2SiO3 dan NaOH yaitu 2.5:1 dengan molaritas NaOH 10M. Variasi penambahan boraks dan kalsium oksida padasaatpencampuran meliputi Boraks1% dan CaO 1%,7,5%,10%,12,5%,15% dari berat fly ash. Hasil pengujian menunjukkan semakin tinggi kadar boraks1% dan CaO yang ditambahkan semakin cepat waktu ikat yang terjadi. Waktu ikat akhir tercepatdicapai pada beton geopolimer dengan penambahan 15% boraks selama 220 menit.Kata kunci : fly ash, kalsium oksida, CaO, boraks, geopolimer, setting time,
EFEKTIVITAS TINGKAT DALAM EVALUASI SEISMIK BANGUNAN EKSISTING BERDASARKAN ASCE 41-17 Jonathan Andrew; Liana Herlina
Jurnal Rekayasa Lingkungan Terbangun Berkelanjutan Vol. 2 No. 1 (2024): Januari-Juni
Publisher : Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/v2i1.19417

Abstract

Indonesia merupakan negara dengan frekuensi kejadian gempa yang cukup tinggi yang dapat berdampak pada bangunan-bangunan dan infrastruktur. Seiring pembaharuan kode peraturan dalam desain bangunan, tingkat faktor keamanan di dalamnya akan semakin tinggi. Dalam penelitian ini akan membahas mengenai hasil-hasil evaluasi sesimik pada bangunan menggunakan ASCE 41-17, dimana pada evaluasi akan terdapat 3 tingkat tahapan dengan prosedur yang berbeda. Berdasarkan hasil evaluasi pada penelitian, penggunaan tier 1 sampai dengan tier 3 digunakan sesuai dengan kebutuhan dan persyaratan dalam ASCE 41-17. Secara umum penggunaan tier 1 akan sangat efektif pada bangunan dengan jumlah tingkat yang sedikit dan tingkat prioritas yang rendah. Sedangkan penggunaan tier 2 harus selalu dilakukan apabila tier 1 dilakukan terlebih dahulu dan hanya terbatas pada analisis linear. Penggunaan tier 3 diwajibkan untuk bangunan yang memiliki jumlah tingkat yang banyak dan evaluasi akan dilakukan berbasis kinerja bangunan sehingga akan membutuhkan waktu lebih panjang terutama bila digunakan analisis nonlinear. Keyword: Seismic Evaluation, ASCE 41-17, Linear, Nonlinear
STUDI AWAL MORTAR GEOPOLIMER BERBAHAN DASAR LIMBAH GRANIT Al Fajri; Liana Herlina
Jurnal Rekayasa Lingkungan Terbangun Berkelanjutan Vol. 3 No. 1 (2025): Januari-Juni
Publisher : Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/v3i1.22665

Abstract

Industri semen merupakan penyumbang besar emisi CO₂, dengan setiap ton klinker menghasilkan sekitar 0,97 ton CO₂. Penelitian ini mengkaji mortar geopolimer sebagai alternatif ramah lingkungan dengan memanfaatkan limbah granit sebagai pengganti semen. Fokus utama pada penelitian ini adalah menganalisis pengaruh limbah granit terhadap workability dan kuat tekan. Pengujian workability dilakukan menggunakan meja leleh serta penambahan superplasticizer untuk mengontrol kebutuhan air dan kuat tekan dengan curing oven 60°C, dengan CaO sebagai aktivator pada variasi 5%, 7,5%, 10%, 12,5%, dan 15%. Hasil menunjukkan bahwa penurunan limbah granit berbanding terbalik dengan peningkatan CaO, menyebabkan workability menurun namun sehingga hanya MGC5% dengan hasil slump 106% yang sesuai dengan ketentuan slump yaitu 110±5. Lebih lanjut, kuat tekan meningkat, dengan hasil tertinggi 4,15 MPa pada MGC15% pada umur 28 hari. Temuan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan material ramah lingkungan berbasis geopolimer dengan memanfaatkan limbah industri sebagai bahan pengganti semen. .
PENGARUH VARIASI KOMPOSISI FLY ASHDAN ABU CANGKANG SAWIT TERHADAP KINERJABETON GEOPOLIMER RAMAH LINGKUNGAN Vindy Talahatu; Liana Herlina
Jurnal Rekayasa Lingkungan Terbangun Berkelanjutan Vol. 3 No. 1 (2025): Januari-Juni
Publisher : Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/v3i1.22687

Abstract

Industri konstruksi berupaya mengurangi emisi karbon dari semen Portland, yang menyumbang 7–8% emisi CO₂ global. Beton geopolimer menjadi alternatif ramah lingkungan dengan memanfaatkan Fly Ash (FA) dan Abu Cangkang Sawit (ACS) sebagai sumber Silika (SiO₂) dan Alumina (Al₂O₃). Fly Ash mendukung reaksi geopolisasi untuk meningkatkan kuat tekan, sementara Abu Cangkang Sawit memiliki silika reaktif yang dapat memperkuat struktur beton.Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh variasi komposisi Fly Ash dan Abu Cangkang Sawit terhadap kuat tekan beton. Pengujian dilakukan pada beton normal dan beton geopolimer dengan variasi ACS sebesar 5%, 10%, 15%, 20%, dan 25%. Pengujian kuat tekan dilakukan pada umur 3, 7, dan 28 hari, dengan perbandingan aktivator alkali NaOH dan Na₂SiO₃ sebesar 2:1 pada molaritas 10M.Hasil uji menunjukkan bahwa beton normal memiliki kuat tekan tertinggi sebesar 46,6 MPa pada umur 28 hari. Sementara itu, beton geopolimer dengan ACS 5% memiliki kuat tekan optimal yaitu mencapai 27,9 MPa, namun mengalami penurunan hingga 19,3 MPa pada ACS 25%. Kesimpulan yang didapat adalah semakin tinggi kadar ACS semakin menurun kuat tekan beton geopolimer akibat berkurangnya FA yang mendukung reaksi geopolimerisasi. Peningkatan ACS juga menyebabkan porositas lebih tinggi, sehingga struktur beton menjadi kurang padat.  
STUDI BETON GEOPOLIMER MENGGUNAKANFLY ASH TIPE F DAN ABU AMPAS TEBU Stefanus Adi Pratama; Liana Herlina
Jurnal Rekayasa Lingkungan Terbangun Berkelanjutan Vol. 3 No. 1 (2025): Januari-Juni
Publisher : Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/v3i1.24323

Abstract

Peningkatan pembangunan infrastruktur membuat kebutuhan semen portland terus mengalami peningkatan. Proses produksi semen portland menghasilkan gas karbondioksida (CO2) ke udara yang mengakibatkan terjadinya pemanasan global. Oleh karena itu dibutuhkan inovasi beton ramah lingkungan yaitu beton geopolimer, dalam pembuatan beton geopolimer tidak membutuhkan semen melainkan menggunakan material fly ash dalam campurannya. Beton geopolimer menggunakan fly ash pada umumnya memberikan waktu ikat yang cepat, sehingga diperlukan alternatif material lain yang dapat memperpanjang waktu ikat yaitu abu ampas tebu. Abu ampas tebu memiliki kandungan silikon oksida (SiO2) yang tinggi sehingga dapat digunakan sebagai subtitusi dari material fly ash. Penelitian ini dilakukan pengujian waktu ikat menggunakan alat vicat apparatus dengan variasi fly ash 100% dan variasi abu ampas tebu sebagai substitusi material fly ash sebesar 10%, 15%, 20%, dan 30% serta menggunakan alkali aktivator dengan perbandingan 2:1 (NaOH:Na2SiO3). Hasil dari pengujian waktu ikat yang dilakukan pada beton normal didapatkan waktu ikat akhir pada menit ke 239, sedangkan hasil pengujian waktu ikat tercepat pada beton variasi 100% fly ash dengan waktu ikat akhir pada menit ke 90, dan hasil pengujian waktu ikat terlama pada beton variasi 30% abu ampas tebu dengan waktu ikat akhir pada menit ke 345. Dengan penambahan variasi abu ampas tebu sebesar 30% dapat memperlambat proses waktu ikat pada beton geopolimer.
Cost-Effectiveness of Pembrolizumab as First-Line Treatment for PD-L1 Positive NSCLC: A Systematic Review Muhammad Akbar Ramadhan Munandar; Hendra Priatna Munandar; Liana Herlina
The International Journal of Medical Science and Health Research Vol. 23 No. 2 (2025): The International Journal of Medical Science and Health Research
Publisher : International Medical Journal Corp. Ltd

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70070/h3zdy035

Abstract

Introduction: For patients with advanced non-small cell lung cancer (NSCLC) without actionable driver mutations, first-line treatment has been revolutionized by immune checkpoint inhibitors (ICIs), particularly pembrolizumab. While pivotal trials demonstrate superior efficacy of pembrolizumab monotherapy in high PD-L1 expressors (TPS ≥50%) and pembrolizumab-chemotherapy combinations in broader populations, real-world effectiveness, long-term outcomes, and economic sustainability require comprehensive evaluation (Addeo et al., 2019; Rodríguez-Abreu et al., 2021). Methods: This systematic review synthesizes evidence from randomized controlled trials (RCTs), real-world observational studies, and economic evaluations. Literature was sourced from databases including PubMed, Google Scholar, Semantic Scholar, Springer, Wiley Online Library up to 2025. Analyses encompass efficacy (overall survival [OS], progression-free survival [PFS]), safety (immune-related adverse events [irAEs]), and cost-effectiveness (incremental cost-effectiveness ratios [ICERs]). Results: Pembrolizumab-based regimens consistently demonstrate superior OS and PFS compared to chemotherapy alone. In KEYNOTE-024, pembrolizumab monotherapy in PD-L1 TPS ≥50% significantly improved median OS (30.0 vs 14.2 months) (Lisberg et al., 2017). KEYNOTE-189 established pembrolizumab-pemetrexed-platinum as standard for non-squamous NSCLC, showing a 51% reduction in risk of death (Rodríguez-Abreu et al., 2021). Real-world studies confirm this efficacy but note variable outcomes in underrepresented subgroups (Verschueren et al., 2023; Yang et al., 2023). Safety profiles are manageable but distinct, with increased irAEs. Economic analyses show pembrolizumab is cost-effective in the US and several European countries at specific willingness-to-pay thresholds, though results are sensitive to drug costs and healthcare system context (Huang et al., 2017; Chouaid et al., 2019; Kuznik et al., 2021). Discussion: The transformative benefit of pembrolizumab is unequivocal, establishing a new therapeutic paradigm. However, challenges remain in optimizing patient selection beyond PD-L1, managing long-term toxicity and financial toxicity, and integrating novel combinations. The discussion delves into efficacy nuances, safety management, economic implications, and future directions including biomarker refinement and dosing strategies. Conclusion: Pembrolizumab, alone or with chemotherapy, is a cornerstone of first-line advanced NSCLC treatment, offering sustained survival benefits. To maximize its value, future efforts must focus on predictive biomarker development, personalized treatment algorithms, cost-containment strategies, and equitable access.
Peripheral Neuropathy Associated with Linezolid Dosage in MDR-TB: A Systematic Review Muhammad Akbar Ramadhan Munandar; Abdurrachman Machfudz; Hendra Priatna Munandar; Liana Herlina
The International Journal of Medical Science and Health Research Vol. 25 No. 2 (2026): The International Journal of Medical Science and Health Research
Publisher : International Medical Journal Corp. Ltd

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70070/8fm3z016

Abstract

Introduction: Linezolid is a critical component of modern regimens for multidrug-resistant tuberculosis (MDR-TB) and extensively drug-resistant tuberculosis (XDR-TB). However, its use is limited by significant adverse effects, particularly peripheral neuropathy (PN). The precise relationship between linezolid dosage, treatment duration, and the incidence of PN remains inadequately characterized, posing challenges for optimizing the risk-benefit balance in clinical practice (G. Maartens and C. Benson, 2015). Methods: This comprehensive systematic review analyzed 80 studies, including randomized controlled trials, prospective and retrospective cohorts, systematic reviews with meta-analyses, and case series. Studies were screened and included based on criteria focusing on MDR-TB populations, linezolid use for TB treatment, assessment of PN, provision of dosing details, human subjects, and appropriate study designs. Data were extracted on study characteristics, linezolid dosing regimens, PN incidence and characteristics, other neurological and non-neurological adverse effects, dose-response relationships, patient risk factors, and treatment outcomes (C. Padmapriyadarsini et al., 2022; N. Ahmad et al., 2018). Results: The evidence revealed substantial heterogeneity in linezolid dosing, ranging from 300 mg to 1200 mg daily for durations from weeks to over two years. A clear dose- and duration-dependent relationship with PN was observed. The highest incidence (81%) was reported with 1200 mg/day for 26 weeks, while shorter durations and lower doses (e.g., 600 mg/9 weeks) showed significantly lower rates (13-24%) (F. Conradie et al., 2020; F. Conradie et al., 2022). Structured dose-reduction strategies (e.g., 600 mg to 300 mg) achieved comparable treatment success rates (88-94%) with reduced PN incidence. Other dose-dependent toxicities included myelosuppression and optic neuropathy. Patient risk factors such as diabetes, malnutrition, and alcohol use appeared to modify PN risk (C. Padmapriyadarsini et al., 2024; Yanjun Li et al., 2025). Discussion: The findings underscore that PN risk is influenced by both daily dose and cumulative exposure. The delayed onset (typically after 3 months) suggests a mechanism of cumulative mitochondrial toxicity. While 600 mg daily for 26 weeks offers a favorable balance of efficacy (91% success) and manageable toxicity (24% PN), protocolized dose reduction after an initial intensive phase presents a viable strategy to minimize neurotoxicity while preserving therapeutic effectiveness. The variability in reported PN rates highlights the impact of population-specific risk factors and differences in adverse event monitoring intensity (Xin Zhang et al., 2015; N. Kwak et al., 2025). Conclusion: Peripheral neuropathy is a major, dose- and duration-dependent toxicity of linezolid in MDR-TB treatment. An initial dose of 600 mg daily, with consideration for structured reduction to 300 mg after 9-16 weeks, is supported by evidence as an optimal strategy to maximize efficacy while mitigating neurotoxicity. Active monitoring for PN, especially in patients with underlying risk factors, is essential from 8 weeks of treatment onwards. Future research should focus on therapeutic drug monitoring and personalized dosing strategies to further individualize therapy.