Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Pengembangan Inovasi Dan Branding Produk UMKM Wedang Uwuh “Sari Asih” Tri Wijayanti; Desmana Mei Yuliyanti; Fitri Melati; Maria Nona Adriana Lering; Yovi Pranata
Jurnal Mandala Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 2 (2023): Jurnal Mandala Pengabdian Masyarakat
Publisher : Progran Studi Farmasi STIKES Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Wedang uwuh merupakan salah satu minuman herbal yang berkhasiat untuk kesehatan. Saat ini penjualan wedang uwuh di pasaran masih dalam bentuk kemasan konvensional yaitu simplisia yang dikemas persatuan minum. Tujuan kegiatan pengabdian ini yaitu melakukan inovasi dan branding kemasan celup wedang uwuh yang bekerja sama dengan produsen Wedang uwuh “Sari Asih” untuk meningkatkan minat pembeli dan nilai jual produk. Kegiatan pengabdian ini dilakukan dengan metode observasi, persiapan, pendampingan, dan evaluasi. Hasil pengabdian berupa  pembuatan desain kemasan primer dan sekunder yang lebih moderen sehingga meningkatkan minat pembeli dan meningkatkan nilai jual terhadap produk wedang uwuh “Sari Asih”.
Kajian Senyawa Bioaktif Pada Buah Solanum lycopersium Yang Diekstraksi Secara Perkolasi Syahrani, Annisa; Rahmawati, Nur; Zenn, Arina Putri; Dita, Rahma; Utami, Mutiara; Lidia, Siska; Susanti, Evi; Wahab, Sabda; Pranata, Yovi
JURNAL LENTERA ILMIAH KESEHATAN Vol. 3 No. 1 (2025): Juni
Publisher : CV. Q2 Lantera Ilmiah Institut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52120/jlik.v3i1.52

Abstract

Tanaman Solanum lycopersicum memiliki peran penting dalam mendukung kesehatan manusia, berkat kandungan gizi yang tinggi, termasuk karbohidrat, protein, lemak, vitamin A, B1, B2, C, serta mineral seperti besi, fosfor, dan kalsium. Selain itu, buah Solanum lycopersicum juga mengandung senyawa bioaktif yang bermanfaat, seperti alkaloid, flavonoid, saponin, dan tanin, yang memiliki aktivitas antibakteri dan antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi kandungan fitokimia dalam buah Solanum lycopersicum melalui serangkaian proses penyiapan sampel, ekstraksi dengan metode perkolasi, serta uji fitokimia dan kromatografi lapis tipis (KLT). Sampel buah Solanum lycopersicum  segar yang diperoleh dari pasar 16 Ilir Palembang, diproses menjadi simplisia dengan berat 400 dengan nilai penyusutan 99,3%. Ekstraksi dilakukan dengan pelarut etanol 96%, menghasilkan rendemen ekstrak sebesar 33,5%. Uji fitokimia menunjukkan keberadaan senyawa alkaloid (positif dengan reagen Wagner dan Dragendrof), saponin, tanin, dan steroid, namun negatif untuk flavonoid. Hasil analisis KLT menunjukkan adanya senyawa terpenoid dan steroid pada sinar UV 254 nm, serta flavonoid dan alkaloid pada sinar UV 365 nm. Penelitian ini menunjukkan bahwa buah tomat mengandung berbagai senyawa bioaktif yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber obat alami, terutama dalam pengobatan antibakteri dan antioksidan
Antibacterial and Antibiofilm Activity of Papaya Leaf Fractions (Carica Papaya L.) Against Staphylococcus Aureus ATCC 25923 Pranata, Yovi; Rahmawati, Ismi; Saptarini, Opstaria
Jurnal Multidisiplin Madani Vol. 4 No. 6 (2024): June 2024
Publisher : PT FORMOSA CENDEKIA GLOBAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55927/mudima.v4i6.9879

Abstract

The research on papaya leaves was aimed at determining antibacterial activity, antibiofilm activity, K+ and Ca2+ metal ion parameters, as well as the morphology of S.aureus bacteria from papaya leaf fractions and extracts. The average value of the test results for the diffusion method at 50% concentration was 20.66 ± 0.57 and the test results for the dilution method for Minimum Inhibitory Concentration at a concentration of 12.5%. Antibiofilm formation inhibitor test results at a concentration of 50 mg/ml with an average value of 72.37 ± 0.65, a concentration of 25 mg/ml 64.75 ± 0.83 and a concentration of 12.5 mg/ml with an average value of IC50 of 0.975 ± 0.012. Biofilm degradation testing at a concentration of 50 mg/ml resulted in an average value of 60.43 ± 1.11, a concentration of 25 mg/ml with an average value of 50.05 ± 0.87 and a concentration of 12.5 mg/ml with an average value -mean 35.86 ± 1.05. The average EC50 value was 26.731 ± 1.1874. Tests using AAS on K+ metal ions showed ion leakage or cell contents coming out was 1,805 mg/L, Ca2+ metal ions resulting from this leak were 3,884. Morphological observations using SEM showed that the samples experienced shrinkage and reduced size from being perfectly round to oval to S.aureus bacteria in samples with water fraction
Analisis Faktor yang Berhubungan dengan Kepatuhan Penggunaan Obat Antihipertensi di RSUD Siti Fatimah Livia, Sinta; Pranata, Yovi; Azzahra, Nia; Muliana, Hilda
JURNAL LENTERA ILMIAH KESEHATAN Vol. 3 No. 2 (2025): Desember
Publisher : CV. Q2 Lantera Ilmiah Institut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52120/3ecg6e18

Abstract

Hipertensi merupakan peningkatan tekanan darah yang menetap di atas 140/90 mmHg dan menjadi salah satu faktor risiko utama penyakit kardiovaskular. Keberhasilan terapi hipertensi sangat ditentukan oleh kepatuhan pasien dalam mengonsumsi obat antihipertensi. Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kepatuhan minum obat pada pasien hipertensi rawat jalan di RSUD Siti Fatimah Provinsi Sumatera Selatan. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional pada 139 responden yang memenuhi kriteria inklusi bulan Juli 2025 melalui metode total sampling. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner Morisky Medication Adherence Scale (MMAS-8). Analisis dilakukan secara univariat, bivariat (uji Chi-Square), dan simultan (uji ANOVA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat kepatuhan sedang (69,8%). Uji Chi-Square menunjukkan hanya variabel tingkat pendidikan yang berhubungan signifikan dengan kepatuhan minum obat (p=0,026; r=-0,161), sedangkan usia, jenis kelamin, pekerjaan, dan lama menderita hipertensi tidak signifikan. Uji ANOVA menunjukkan bahwa secara simultan, karakteristikresponden tidak berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan penggunaan obat antihipertensi (F=1,537; Sig.=0,172 > 0,05). Kesimpulannya, tingkat pendidikan menjadi faktor yang berhubungan dengan kepatuhan pasien hipertensi, dengan kecenderungan semakin tinggi pendidikan justru menurunkan kepatuhan
Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kepatuhan Minum Obat Antidiabetik Oral di Puskesmas Pangkalan Balai Tahun 2025 Putra, Muhammad Irza Satria; Pranata, Yovi; Wahab, Sabda; Muliana, Hilda
JURNAL LENTERA ILMIAH KESEHATAN Vol. 3 No. 2 (2025): Desember
Publisher : CV. Q2 Lantera Ilmiah Institut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52120/jlik.v3i2.126

Abstract

Diabetes Mellitus (DM) adalah penyakit metabolik kronis yang membutuhkan terapi jangka panjang, sehingga kepatuhan pasien dalam mengonsumsi obat antidiabetik oral sangat menentukan keberhasilan pengobatan. Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi kepatuhan minum obat antidiabetik oral di Puskesmas Pangkalan Balai tahun 2025. Penelitian menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan metode analitik korelasional dan pendekatan cross sectional. Sampel berjumlah 94 responden yang dipilih menggunakan rumus Slovin. Instrumen penelitian berupa kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya (Cronbach’s Alpha = 0,708). Analisis menggunakan uji Chi-Square pada taraf signifikansi 95% (α = 0,05). Hasil menunjukkan sebagian besar responden perempuan (53,2%) dan memiliki kepatuhan rendah (57,4%), dengan hanya 22,3% yang patuh. Sebagian menilai fasilitas kesehatan baik (55,3%), namun 68,1% memiliki pola hidup tidak sehat. Uji bivariat menunjukkan tidak ada hubungan signifikan antara fasilitas kesehatan (p = 0,958) maupun pola hidup (p = 0,518) dengan kepatuhan. Kesimpulannya, kepatuhan minum obat antidiabetik oral masih rendah dan tidak dipengaruhi secara signifikan oleh fasilitas kesehatan dan pola hidup, sehingga faktor lain seperti pengetahuan, motivasi, dan dukungan keluarga kemungkinan lebih berperan.
Uji Formulasi Sediaan Salep dari Ekstrak Etanol Daun Salam (Sysygium polyanthum) terhadap Bakteri Staphylococcus epidermidis Rindi Permata Sari; Yovi Pranata; Putu Nila Sari
JURNAL RISET RUMPUN ILMU KESEHATAN Vol. 5 No. 1 (2026): April: Jurnal Riset Rumpun Ilmu Kesehatan
Publisher : Pusat riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jurrikes.v5i1.8085

Abstract

Acne (Acne vulgaris) is one of the most common skin problems, affecting 80–85% of adolescents aged 15–18 years, with some cases persisting into adulthood. One of the associated bacteria is Staphylococcus epidermidis, a normal skin flora that can become an opportunistic pathogen. Bay leaves (Syzygium polyanthum) are known to contain secondary metabolites such as alkaloids, flavonoids, tannins, saponins, and essential oils with antibacterial activity. This study aimed to formulate ethanol extract of bay leaves into ointments with concentrations of 10%, 20%, and 30%, test their antibacterial activity against Staphylococcus epidermidis using the disc diffusion method, and evaluate their physical quality (organoleptic properties, homogeneity, pH, adhesion, and spreadability). Results showed that the ethanol extract of bay leaves contained alkaloids, flavonoids, saponins, and tannins. The ointments met topical quality standards with pH 5.8–6.9, adhesion time 36–41 seconds, and spreadability 6.9–8.1 cm. Antibacterial activity increased with higher concentrations: 7.8 mm (10%), 12 mm (20%), and 15 mm (30%), although still lower than the positive control (clindamycin, 34 mm). In conclusion, ethanol extract of bay leaves has potential as an active ingredient in topical anti-acne ointments, but further studies with higher concentrations, in vivo testing, and optimized formulations are needed to achieve efficacy comparable to synthetic antibiotics.
Influence of Stearic Acid and Triethanolamine on the Physical Properties and Antibacterial Efficacy of Ocimum basilicum L. Anti-acne Cream against Staphylococcus epidermidis Nurcahya, Salsabila; Pranata, Yovi; Pratamarta, Meliasi Nora; Hidayati, Nurul; Setiawansyah, Arif
Journal of Food and Pharmaceutical Sciences Vol 13, No 4 (2025): J.Food.Pharm.Sci
Publisher : Integrated Research and Testing Laboratory (LPPT) Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jfps.25043

Abstract

Acne vulgaris represents a significant dermatological concern, with Staphylococcus epidermidis identified as a key pathogenic contributor. While Ocimum basilicum L. (basil) leaves contain bioactive compounds including flavonoids, eugenol, and tannins that demonstrate promising antibacterial properties, the successful translation of these natural antimicrobials into effective topical formulations remains critically dependent on appropriate excipient selection. Despite the growing interest in botanical-based acne treatments, there exists a significant knowledge gap regarding how emulsifying agents, particularly stearic acid and triethanolamine (TEA), influence both the physical stability and therapeutic efficacy of herbal cream formulations. This study investigated the effects of varying concentrations of stearic acid and TEA on the physical characteristics, stability, and antibacterial activity of basil leaf extract cream formulations against S. epidermidis ATCC-12228. Extracts obtained via maceration in 96% ethanol were incorporated into cream formulations (F0–F4), which were subsequently evaluated for organoleptic properties, homogeneity, spreadability, adhesion, pH, stability using a thermal cycling test, and antibacterial activity via disc diffusion. Stability assessment revealed notable differences across formulations. Although all formulations maintained consistent pH values and exhibited uniform microscopic homogeneity after cycling, variations in spreadability and adhesion indicated differing degrees of structural stability. Formulations F3 and F4 showed minimal changes across cycles, demonstrating superior resistance to thermal stress, whereas F0 exhibited significant instability in both spreadability and adhesion. Antibacterial testing showed that the formulation containing 20% basil extract (F4) produced the largest inhibition zone (11.83 ± 0.77 mm). Beyond its higher extract content, F4’s superior antibacterial performance is attributed to its more stable structural matrix, which likely enhanced the release and bioavailability of active phytochemicals such as eugenol and flavonoids, thereby promoting more efficient diffusion into the agar medium. Overall, the findings demonstrate that stearic acid and TEA concentrations substantially influence both the physical stability and antibacterial efficacy of basil-based cream formulations. The optimal stability and enhanced antimicrobial activity observed in F3 underscore their potential as promising candidates for topical anti-acne product development.
Influence of Stearic Acid and Triethanolamine on the Physical Properties and Antibacterial Efficacy of Ocimum basilicum L. Anti-acne Cream against Staphylococcus epidermidis Nurcahya, Salsabila; Pranata, Yovi; Pratamarta, Meliasi Nora; Hidayati, Nurul; Setiawansyah, Arif
Journal of Food and Pharmaceutical Sciences Vol 13, No 4 (2025): J.Food.Pharm.Sci
Publisher : Integrated Research and Testing Laboratory (LPPT) Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jfps.25043

Abstract

Acne vulgaris represents a significant dermatological concern, with Staphylococcus epidermidis identified as a key pathogenic contributor. While Ocimum basilicum L. (basil) leaves contain bioactive compounds including flavonoids, eugenol, and tannins that demonstrate promising antibacterial properties, the successful translation of these natural antimicrobials into effective topical formulations remains critically dependent on appropriate excipient selection. Despite the growing interest in botanical-based acne treatments, there exists a significant knowledge gap regarding how emulsifying agents, particularly stearic acid and triethanolamine (TEA), influence both the physical stability and therapeutic efficacy of herbal cream formulations. This study investigated the effects of varying concentrations of stearic acid and TEA on the physical characteristics, stability, and antibacterial activity of basil leaf extract cream formulations against S. epidermidis ATCC-12228. Extracts obtained via maceration in 96% ethanol were incorporated into cream formulations (F0–F4), which were subsequently evaluated for organoleptic properties, homogeneity, spreadability, adhesion, pH, stability using a thermal cycling test, and antibacterial activity via disc diffusion. Stability assessment revealed notable differences across formulations. Although all formulations maintained consistent pH values and exhibited uniform microscopic homogeneity after cycling, variations in spreadability and adhesion indicated differing degrees of structural stability. Formulations F3 and F4 showed minimal changes across cycles, demonstrating superior resistance to thermal stress, whereas F0 exhibited significant instability in both spreadability and adhesion. Antibacterial testing showed that the formulation containing 20% basil extract (F4) produced the largest inhibition zone (11.83 ± 0.77 mm). Beyond its higher extract content, F4’s superior antibacterial performance is attributed to its more stable structural matrix, which likely enhanced the release and bioavailability of active phytochemicals such as eugenol and flavonoids, thereby promoting more efficient diffusion into the agar medium. Overall, the findings demonstrate that stearic acid and TEA concentrations substantially influence both the physical stability and antibacterial efficacy of basil-based cream formulations. The optimal stability and enhanced antimicrobial activity observed in F3 underscore their potential as promising candidates for topical anti-acne product development.