Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

PENGARUH PENDIAMAN PLASMA SITRAT SELAMA 2 JAM PADA SUHU 25°C TERHADAP HASIL ACTIVATED PARTIAL THROMBOPLASTIN TIME (APTT) Munawaroh, Nisa; Hadi, Wahid Syamsul; Mu’awanah, Isnin Aulia Ulfah
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 5 No. 3 (2024): SEPTEMBER 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v5i3.32288

Abstract

Gangguan perdarahan merupakan kelainan perdarahan yang terjadi akibat ketidakmampuan pembuluh darah, trombosit, dan faktor pembekuan pada sistem hemostatik. Tujuannya adalah untuk mengetahui pengaruh pendiaman sampel plasma sitrat selama 2 jam pada suhu 25°C terhadap hasil APTT. Jenis penelitian ini adalah Pre-experimental dengan desain One-shot case study. Jumlah sampel penelitian ini yaitu sebanyak 15 sampel, yang dilakukan secara purposive sampling. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan rata-rata nilai APTT pada plasma sitrat yang segera diperiksa adalah 34,08 detik, sedangkan rata-rata nilai APTT pada plasma sitrat yang diakukan pendiaman selama 2 jam pada suhu 25°C adalah 38,98 detik. Hasil uji statistik Independent Sample T-Test didapat nilai signifikansi sebesar 0,046. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan hasil yang signifikan secara statistik antara sampel plasma sitrat yang segera diperiksa dan sampel plasma sitrat yang dilakukan pendiaman selama 2 jam pada suhu 25°C terhadap nilai APTT.
PERBANDINGAN KUALITAS HASIL PEMERIKSAAN TELUR CACING STH MENGGUNAKAN REAGEN EOSIN 2% DAN PEWARNA ALAMI UBI JALAR UNGU (IPOMEA BATATAS POIRET) Vera, Vera Sukmawati; Solikah, Monika Putri; Mu’awanah, Isnin Aulia Ulfah
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 5 No. 3 (2024): SEPTEMBER 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v5i3.32939

Abstract

Soil Transmitted Helminths (STH) cacing yang ditularkan melalui tanah adalah yang menginfeksi manusia ketika mereka menelan makanan yang tercemar dan menetaskan telurnya. Kecacingan merupakan masalah kesehatan masyarakat yang terus berlanjut di daerah tropis. Untuk mendiagnosis kecacingan, metode yang digunakan adalah metode slide atau langsung menggunakan pewarnaan eosin. Eosin, sebaliknya, mahal dan bersifat karsinogenik jika digunakan secara konsisten dari waktu ke waktu. Salah satu komponen alami yang dapat digunakan sebagai pengganti eosin adalah larutan ubi jalar ungu (Ipomea batatas poiret). Salah satu bentuk komponen flavonoid yang dikandung ubi jalar ungu adalah pigmen ungu. Warna ungu pada ubi jalar disebabkan oleh antosianin yang merupakan pigmen alami. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat bagaimana 30 sediaan telur Soil Transmitted Helminth (STH) yang berbeda dipengaruhi oleh berbagai warna, larutan ubi jalar ungu (Ipomea batatas poiret), dan reagen eosin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa larutan ubi jalar ungu dengan perbandingan 1:5 memberikan sediaan pewarnaan yang berkualitas tinggi untuk mewarnai telur cacing. Hal ini dikonfirmasi dengan membandingkan bidang penglihatan, mengamati dengan seksama telur-telur yang menyerap warna, dan memeriksanya di bawah mikroskop. Larutan ubi jalar ungu (Ipomea batatas poiret) terbukti efektif dalam mewarnai telur cacing yang ditularkan melalui tanah (STH).
Gambaran Hasil Pemeriksaan HbA1c Pada Penderita Diabetes Melitus Tipe II di Rumah Sakit Nur-Hidayah Tahun 2024 Pattian, Thomas; Shafriani, Nazula Rahma; Mu’awanah, Isnin Aulia Ulfah
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 9 No. 3 (2025): Desember
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Diabetes melitus adalah penyakit jangka panjang yang terjadi Ketika kadar gula darah naik karena tubuh tidak memiliki insulin yang cukup. Tujuan penelitian ini dilakukan untuk mengetahui data Kasus Diabetes Melitus Tahun 2024 di RS Nur-Hidayah, pemeriksaan HbA1c adalah tes yang menunjukan tingkat rata-rata gula darah seseorang selama kurun waktu 2-3 bulan atau 120 hari sebelum tes dilakukan, studi ini menggunakan metode kuantitatif non-eksperimental, yang termasuk didalam kategori penelitian berbasis observasi yang dijabarkan data statistik tanpa melakukan perlakuan secara langsung, dalam penelitian ini, data dianalisis menggunakan perangkat lunak Statistical Product and Service Solutions (SPSS) dengan menggunakan analisis deskriptif, sedangkan pemilihan responden dilakukan melalui total sampling, yaitu pasien DM tipe II di RS Nur Hidayah Tahun 2024. Rata-rata hasil pemeriksaan HbA1c untuk pemeriksaan pertama 10,5%, ke-dua 9,3%, ke-tiga 10,7%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan hasil jenis kelamin, laki-laki dengan penderita Diabetes melitus tipe II sebanyak 13 pasien dengan presentasi (41,2%), dan perempuan dengan penderita Diabetes melitus tipe II sebanyak 20 pasien dengan presentasi (58,8%). Berdasarkan hasil usia remaja dengan penderita Diabetes melitus sebanyak 2 pasien dengan presentasi (6%), dewasa terdapat 22 pasien dengan presentasi (62%), untuk lansia terdapat 11 pasien dengan presentasi (32%). Hasil ini menunjukkan bahwa Diabetes Melitus tipe II lebih banyak diderita oleh orang dewasa dan perempuan.