Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

IDENTIFIKASI JELAJAH GEOLOGI GUNUNG API PURBA GUNUNG IRENG DESA PENGKOK, KABUPATEN GUNUNGKIDUL Sri Mulyaningsih; Nur Widi Astanto Agus Tri Heriyadi; Dina Tania; Suhartono Suhartono
Jurnal Pariwisata Vol 6, No 2 (2019): Jurnal Pariwisata
Publisher : LPPM Universitas Bina Sarana Informatika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2012.55 KB) | DOI: 10.31294/par.v6i2.6162

Abstract

Gunung Ireng di Desa Pengkok adalah destinasi wisata baru geologi gunung api purba di Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul, di samping Gunung Nglanggeran. Selain aglomerat, sebagaimana penciri geologi Gunung Api Purba Nglanggeran, breksi vulkanik, lava bersruktur meniang, dike, dan blocky lava berkomposisi andesit menyusun Gunung Ireng. Makalah ini disusun untuk mengidentifikasi kealamian jelajah alam geologi gunung api purba Gunung Ireng sebagai destinasi wisata minat khusus geowisata. Metode yang digunakan adalah studi dan analisis konektivitas Gunung Ireng terhadap destinasi-destinasi wisata lain di sekitarnya dan identifikasi keragaman data geologinya. Penelitian menjumpai morfologi bukit melingkar berbentuk kubah, yang dikelilingi lembah berslope ~30-55o yang melandai ke baratlaut. Dari atas bukit terlihat Gunung Wayang (Nglanggeran di ujung timur), karst Selopamioro di arah selatan, Sudimoro di arah barat dan tinggian Patuk di sebelah utara. Jalur konektivitas telah menghubungkan Gunung Ireng dengan Gunung api Nglanggeran-Oro-Oro, Dlingo, Selopamioro dan Kali Ngalang-Gedangsari. Promosi dan dukungan sepenuhnya dari pemerintah Kabupaten Gunungkidul, serta optimisme pengelola adalah kunci keberhasilan Gunung Ireng untuk disejajarkan dengan destinasi-destinasi wisata minat khusus lain di sekitarnya; mendukung keberlanjutan Geopark Gunung Sewu.
Dinamika pengendapan lahar permukaan pada alur-alur lembah di bagian selatan Gunung Api Merapi, Yogyakarta Sri Mulyaningsih; Sampurno Sampurno; Yahdi Zaim; Deny Juanda Puradimaja; Sutikno Bronto
Indonesian Journal on Geoscience Vol 1, No 3 (2006)
Publisher : Geological Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (907.621 KB) | DOI: 10.17014/ijog.1.3.129-142

Abstract

http://dx.doi.org/10.17014/ijog.vol1no3.20062Endapan aliran rombakan Gunung Api Merapi, yang lebih dikenal sebagai lahar, terbentuk dari hasil longsoran endapan awan panas yang dipicu oleh curah hujan yang sangat tinggi. Pada saat ini, endapan awan panas tersebut berasal dari guguran kubah lava. Material suspensi tersebut selanjutnya menuruni lereng dengan kecepatan yang tinggi, menghasilkan aliran turbulen. Aliran tersebut biasanya berkembang pada daerah dengan perbedaan morfologi berkemiringan lereng tinggi ke landai, atau yang sering dikenal sebagai daerah tekuk lereng. Studi ini didasarkan pada pengamatan dan pengukuran fragmen lahar yang berukuran besar di permukaan. Analisis meliputi arah penyirapan, bentuk, dan besar butir fragmen. Hasil penelitian mendapatkan model arah aliran fragmen besar lahar dari bagian atas aliran rombakan, yang membentuk “model punggung katak” atau “model punggung gajah”. Bagian depan katak atau gajah (kepala) yaitu arah aliran atau bagian depan aliran. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa model tersebut berlaku pada fragmen dengan diameter 90 cm atau lebih besar. Di daerah penelitian, fragmen dengan diameter 90 cm mencapai jarak hingga 22 km dari sumbernya. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai model untuk menentukan arah aliran lahar (aliran rombakan) purba yang sumbernya belum diketahui.  
Gunung api maar di Semenanjung Muria Sutikno Bronto; Sri Mulyaningsih
Indonesian Journal on Geoscience Vol 2, No 1 (2007)
Publisher : Geological Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (874.556 KB) | DOI: 10.17014/ijog.2.1.43-54

Abstract

http://dx.doi.org/10.17014/ijog.vol2no1.20074Three maars are well identifi ed in the Muria Peninsula, i.e. Bambang Maar, Gunungrowo Maar, and Gembong Maar. The maars were formed by monogenetic volcanic eruptions due to the interaction between heat source (magma), groundwater and calcareous basement rocks. This interaction is able to produce very high pressure of gas and steam causing phreatic explosions, followed by phreatomagmatic- or even magmatic explosions and ended by a lava extrusion. Satellite image analyses have recognized twelve circular features, comprising Bambang Maar, Gunungrowo Maar, and Gembaong Maar. Phisiographically, these maars are characterized by circular depressions which are surrounded by hills that are gently sloping down away from the crater or having a radier pattern morphology. Outcrops and drilling core in the circular areas that are considered as volcanic maars are lava fl ows, pyroclastic breccias, lapillistones, and tuffs, located far away from the eruption centres of Muria and Genuk Volcanoes. One of the circular features, i.e. Jepara Circular Feature, is also supported by negative anomaly (<30 mgal) showing a circular pattern. In the future, a maar volcano could possibly erupt depending on the tectonic reactivity in the region.  
Vulkanisme kompleks Gunung Patiayam di Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, Provinsi Jawa Tengah Sri Mulyaningsih; Sutikno Bronto; Ari Kusnaedi; I. Simon; I. W. Prasetyanto
Indonesian Journal on Geoscience Vol 3, No 2 (2008)
Publisher : Geological Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1010.037 KB) | DOI: 10.17014/ijog.3.2.75-88

Abstract

http://dx.doi.org/10.17014/ijog.vol3no2.20082The Mount Patiayam Complex was interpreted by previous researchers as “Patiayam Dome”. That was reasoned by dips following its slope directions. Field data record that lithology of the complex of Mount Patiayam is dominated by volcanic rocks. The summit of the complex is composed of igneous rocks of pyroxene basalt rich in leucite minerals, associated with autoclastic breccia and beds of volcanic breccia rich in pyroxene basalt and pumice, pumiceous breccia, and tuff. Its flanks are composed of epiclastic rocks of lahar and fluvial deposits. Some river valleys, such as Pontang River, locally consist of pyroclastic breccia, autoclastic breccia and pumiceous breccia, that are overlain by marly limestone and black clay of swampy deposits. Based on the rock composition, the volcanism had more dominated geological processes compared with sedimentary. Mineral composition of volcanic deposits of the Mount Patiayam is closer to Mount Lasem volcanic rocks than Mount Muria, i.e. absarockites, shoshonites and trachyandesite. But, based on the long distance between Patiayam and Lasem, about 60 km, those volcanic rocks could not be produced by Mount Lasem. The Patiayam volcanic deposits were produced by its own volcanic activities. Therefore, the complex of Mount Patiayam is a paleo-volcano. The interpretation is also supported by the landsat imagery, showing depression-shapes in a caldera ring-like. There are four caldera features called as Rim 1,Rim 2,Rim 3, and Rim 4, which crosses each others.  
Geochemistry of Basaltic Merbabu Volcanic Rocks, Central Java, Indonesia Sri Mulyaningsih; Godang Shaban
Indonesian Journal on Geoscience Vol 7, No 2 (2020)
Publisher : Geological Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17014/ijog.7.2.161-178

Abstract

DOI: 10.17014/ijog.7.2.161-178The studied area is located along the hiking track of Kajor - Selo, the south flank of Merbabu Volcano, Central Java, Indonesia. Olivine basalt and augite-rich basalt compose the volcanic rocks. A geochemical study recognizes these basalts which tend to originate from the product of tholeiitic magma, in terms of transitional enriched mantle source. It is interpreted to have been formed as primary magma that mixed later with higher degrees of partial melting with a mantle wedge. Both fl uid and melt were derived from the mixing of lower active continental margin and subducting oceanic slab. This study also shows general trends of increasing incompatible elements, i.e. Rb, Ba, Pb2+, and Sr as LIL trace elements and Th, U, Nb, Ce, Zr, Hf, Nb, and Ta as HFS element comparing to basaltic andesites exposed at Thekelan, they show decreasing compatible of MgO, Fe2O3*, Al2O3, CaO, TiO2, Ni, Sr, and Ba in line with increasing SiO2. It was fractional crystallization process, shown by the slightly wide variation of Rb/Zr and La/Sm that indicates random crustal contamination.
Mentoring and Training in Developing Gunung Ireng Geotourism, Patuk District, Gunungkidul Regency, Yogyakarta Special Region Sri Mulyaningsih; Dina Tania; Nurwidi Astanto Agus Tri Heriyadi; Suhartono Suhartono
Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat (Indonesian Journal of Community Engagement) Vol 7, No 4 (2021): December
Publisher : Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2709.308 KB) | DOI: 10.22146/jpkm.61150

Abstract

Gunung Ireng geosite is an excellent geoheritage that is also a part of the Gunungsewu UNESCO Global Geopark in Pengkok, Gunungkidul Regency. It is widely recognized as an experiential leisure tour destination with the sunrise, sunset, and milky way watching as its activities. The primary attraction is the natural museum of Tertiary submarine paleo-volcanic miniature that was developed during the Early Miocene (±20-23 million years ago). Mentoring in utilizing the resources is necessary. The local community has agreed to develop geotourism as an effort to conserve the cultural, biotic, and geological environment. The certified instructors or mentors and professionals used mentoring methods to increase the local community’s abilities in preparing, managing, and evaluating the geotourism, including management, advertisement, marketing, guidance, web hosting, culinary, and accommodations.. The results are the status of the geoheritage area (by the Ministry of Energy and Mineral Resources No. 13 K.HK.01.MEM.G.2021), the viral of the local Gunung Ireng’s Spot Festival, the local culinary facilities, the CHSE certificate, as well as up to 300% increase in visitors per month before the pandemic and 200-300% increase during the pandemic. Other results that have successfully developed the supporting attractions are the Ahad Pon traditional market, the footsteps flashback of the great da'wah Sunan Kalijogo on Gunung Ireng and the Geological Natural Track of the Ancient Volcano of Gunung Ireng. Those three attractions are the efforts to improve the local community's economy, nature, and cultural conservation as the solid implementations of geotourism activities. Qualitatively, these various efforts are now starting to show impacts, with the increased motivation of the community to focus more on developing this destination, and the increasing attention of local governments to support these conservation activities, although quantitatively it has not to be measured yet.
Perencanaan Perawatan Mesin Bubut di Lingkungan Laboratorium Geologi Teknik Institut Sains & Teknologi AKPRIND Yogyakarta Suhartono - Suhartono; Sri Mulyaningsih; Iva Mindayani
Jurnal Rekayasa Industri (JRI) Vol. 4 No. 1 (2022)
Publisher : Program Studi Teknik Industri, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Widya Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37631/jri.v4i1.624

Abstract

Kegiatan pembuatan sayatan tipis batuan di Laboratorium Geologi Teknik Institut Sains & Teknologi (IST) AKPRIND Yogyakarta sangat intensif untuk menunjang kegiatan praktikum mahasiswa dan penelitian dosen dan mahasiswa, terutama untuk penggunaan mesin pemotong dan pengasah batu. Keandalan mesin-mesin tersebut menentukan kualitas produk sayatan yang dihasilkan. Penelitian ini bertujuan untuk menyusun perencanaan perawatan mesin, sehingga dapat diprediksi lama penggunaannya dan tingkat keausannya, biaya perawatannya, dan masa penggunaannya. Objek penelitian adalah mesin-mesin bubut (Lathe Machines) type  San Yuen  sy-gf 2000h. Metode penelitian mencakup penghitungan Reliability factor, maintainability factor, availability factor dan biaya perawatannya. Hasil penelitian adalah nilai keandalan (Reliability Factor) mesin bubut adalah 70%, laju kerusakan (λ) = 0,01228 kerusakan/jam, nilai mean time between failure (MTBF)  adalah 63,335jam/kerusakan, mean time between maintenance (MTBM) adalah 42,22 jam dan lamanya perawatan (Maintenance) adalah 2,35 jam. Mesin-mesin bubut di lingkungan Laboratorium Geologi Teknik IST AKPRIND dalam kondisi andal (Reliability) yang layak pakai, dan efektif untuk dioperasikan.
Identifikasi Jelajah Wisata Geologi Gunung Api Purba Gunung Ireng: Sisi Lain Gunung Api Purba Nglanggeran, Gunungkidul Sri Mulyaningsih
Jurnal Pariwisata Terapan Vol 3, No 2 (2019)
Publisher : Sekolah Vokasi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2924.099 KB) | DOI: 10.22146/jpt.49649

Abstract

Gunung Ireng di Desa Pengkok adalah destinasi wisata baru geologi gunung api purba di Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul, di samping Gunung Nglanggeran. Selain aglomerat, sebagaimana penciri geologi Gunung Api Purba Nglanggeran, breksi vulkanik, lava bersruktur meniang, dike, dan blocky lava berkomposisi andesit menyusun Gunung Ireng. Makalah ini disusun untuk mengidentifikasi kealamian jelajah alam geologi gunung api purba Gunung Ireng sebagai destinasi wisata minat khusus geowisata. Metode yang digunakan adalah studi dan analisis konektivitas Gunung Ireng terhadap destinasi-destinasi wisata lain di sekitarnya dan identifikasi keragaman data geologinya. Penelitian menjumpai morfologi bukit melingkar berbentuk kubah, yang dikelilingi lembah berslope ~30-55o yang melandai ke baratlaut. Dari atas bukit terlihat Gunung Wayang (Nglanggeran di ujung timur), karst Selopamioro di arah selatan, Sudimoro di arah barat dan tinggian Patuk di sebelah utara. Jalur konektivitas telah menghubungkan Gunung Ireng dengan Gunung api Nglanggeran-Oro-Oro, Dlingo, Selopamioro dan Kali Ngalang-Gedangsari. Promosi dan dukungan sepenuhnya dari pemerintah Kabupaten Gunungkidul, serta optimisme pengelola adalah kunci keberhasilan Gunung Ireng untuk disejajarkan dengan destinasi-destinasi wisata minat khusus lain di sekitarnya; mendukung keberlanjutan Geopark Gunung Sewu.
Pengusulan dan Asesmen Kawasan Cagar Alam Geologi Gunung Ireng, Pengkok, Gunungkidul Sri Mulyaningsih; Nur Widi Astanto Agus Tri Heriyadi; Dina Tania; Suhartono Suhartono
JPPM (Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat) VOL. 6 NOMOR 1 MARET 2022 JPPM (Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat)
Publisher : Lembaga Publikasi Ilmiah dan Penerbitan (LPIP)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1250.651 KB) | DOI: 10.30595/jppm.v6i1.7024

Abstract

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini membantu POKDARWIS Dusun Srumbung, Desa Pengkok, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul menyusun usulan destinasi wisata Gunung Ireng sebagai Kawasan Cagar Alam Geologi (KCAG). Melalui kajian sebelumnya, Gunung Ireng telah diidentifikasi sebagai kawah purba gunung api. Kekhususan Gunung Ireng adalah sebagai kepundan berumur Tersier yang terletak di bawah dasar laut. Tujuan pengabdian adalah untuk meningkatkan frekuensi dan intensitas kunjungan wisatawan. Metode pengabdian adalah dokumentasi, pendaftaran dan proses asesmen. Pendaftaran Gunung Ireng sebagai KCAG telah dilakukan secara daring melalui http://kcag.pag.geologi.esdm.go.id/index.php/trxp/-c_status/list_status_ajax, pada November 2019. Pra-asesmen dilakukan oleh pemerintah daerah tingkat Provinsi dan Kabupaten pada tanggal 20 Februari 2020. Asesmen telah dilakukan pada tanggal 27 Februari 2020 dengan tim asesor terdiri atas Tim Verifikator KCAG Badan Geologi (Direktorat Energi dan Sumber Daya Mineral) dan Tim Pendamping Akademik Universitas Pembangunan Nasional “Veteran”. Tuan Rumah KCAG Gunung Ireng terdiri atas Tim Pengabdi, Provinsi DIY (terdiri atas wakil Dinas Pariwisata dan Administrasi Pemerintahan SETDA DIY), Kabupaten Gunungkidul, Camat Patuk, Lurah Desa Pengkok dan Pengelola dan POKDARWIS Gunung Ireng. Dokumen yang telah disiapkan meliputi data hasil identifikasi geologi gunung api purba Gunung Ireng, daftar fasilitas pemanfaatan KCAG sebagai destinasi geowisata dan ekowisata, dokumen POKDARWIS dan kegiatan pariwisata yang telah dikelola, dan dokumen tata kelola dan organisasi Gunung Ireng. Hasil verifikasi dikatakan spektakuler dan telah diumumkan, kini menunggu Surat Keputusan Kementerian Sumber Daya Mineral dan Energi.
The Petrology and Volcano-Stratigraphy of The Muria-Peninsula High-K Volcanic Rocks, Central Java, Indonesia Sri Mulyaningsih; Sutikno Bronto; Arie Kusniadi; Lilis Apriyanti; L. Budiyanto; Danis Agoes Wiloso
Journal of Geoscience, Engineering, Environment, and Technology Vol. 7 No. 2 (2022): JGEET Vol 07 No 02 : June (2022)
Publisher : UIR PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25299/jgeet.2022.7.2.9602

Abstract

The Muria-Peninsula is a Quaternary volcano located in the northern Sunda arc. Its activity was controlled under high potassic and very high potassic magma series resulting in leucite-rich trachyte and pyroxene-rich basaltic-andesite. It is a strato-type volcano that is composed of lava, breccia, and tuff layers, and some dikes have some volcanic craters and maars varying in age and composition. The study area is covering the volcanoes of Muria, Genuk, and Patiayam. This paper aims to describe the petrology, mineralogy, and volcano-stratigraphy of the different volcanic materials. The data and materials were sourced from the primary and secondary data. The methods are field mapping, stratigraphy measurements, collecting samples, thin section analyses, and major element geochemistry using X-Ray fluorescence (XRF). The results describe two groups of volcanic rocks consisting of pyroxene-rich andesitic-basaltic volcanic materials and leucite-rich trachytic volcanic materials. Augite presents in the andesitic basalt together with small grains of olivine and a few anorthite and foid minerals. Aegirine (Na-Pyroxene) is present in the leucite-rich trachyte that is often associated with biotite and hornblende. Na-Ca Plagioclase such as labradorite-andesine is often present in the basaltic-trachy-andesite that is usually rarely leucite. The major elements show high-K volcanic rocks with % K2O is 4-5.9% and very high-K volcanic rocks (with % K2O is between 6-8.24%) and low-K volcanic rocks that contain % K2O is 2-3,9%. There are two groups of high-K to very high-K volcanic materials consisting of silicic-rich volcanic materials (~57-64% of SiO2) and low-silicic volcanic materials (~46-50%). The TAS diagram identifies tephrite, phonolite, and trachyte. Stratigraphic data identifies calcareous sediments of the Bulu Formation as the basement rocks of the Muria trachyandesite. Beds of pumice-rich volcanic breccia of the Ujungwatu Formation are the basement rocks of the basanite-tephrite of the Genuk Volcano, and the tuff of the Ujungwatu is also exposed consisting of the basanite-tephritic-phonolite of the Patiayam Volcano. The leucite-like feldspars are very common in the andesite lava and dikes that compose the crater of Muria. Most of the Muria volcanic materials are rarely in leucite, while some maars contain pumice-rich pyroclastic flows and basaltic lava. The results of the major elemental analysis of the Muria materials indicate that the rock tends to be of medium to high K affinity (~2% K2O). The Genuk and older Muria are consisting of leucite-rich tephrite-phonolite. It was two periods of magmatic series developed in the Muria-Peninsula that was resulting in the high-K to very high-K magmatism and the medium K Kalk-alkaline magmatism.
Co-Authors Abdul Faisal Baba Alansa, Frando Ryan Ari Kusnaedi Ari Kusnaedi Arie Kusniadi Ariel l Afrandi Tatawu Arif Wardana, Muhammad Arifin, Muhammad Nur Arisandy, Rydo Faisal Astuti, B. Astuti, B. B. Astuti Bronto, Sutikno Bronto, Sutikno Bronto, Sutikno Bronto, Sutikno Bronto, Sutikno Darwin Alijasa Siregar Deny Juanda Puradimaja Deny Juanda Puradimaja Desi Kiswiranti Dina Tania Dina Tania Dina Tania Dina Tania Dwi Indah Purnamawati, Dwi Indah Emilliana Natalia Trisakti Susanti, Maria Frando Ryan Alansa G. Hartono Godang Shaban Hartono, G. Hartono, G. Heriyadi, Nur Widi Astanto Agus Tri Hidayah, Radhitya Adzan Hidayah, Radhtya Adzan Hidayati, Fika Husadani, Y T I. Simon I. Simon I. W. Prasetyanto I. W. Prasetyanto Iva Mindayani Jayawarsa, A.A. Ketut Kusnaedi, Ari L. Budiyanto Lilis Apriyanti Marausna, Gaguk Mohamad Faizal Mohamad Faizal, Mohamad Muhammad Luqman Bukhori Muhammad Nur Arifin N.A.A.T Heriyadi Nur Rahmawati Prasetyanto, I. W. Prima, Anka Puradimaja, Deny Juanda Puradimaja, Deny Juanda Putong, Rahel Putra, Ikbal Rizki Rachmawati, Desiana Rydo Faisal Arisandy Sampurno Sampurno Sampurno Sampurno Sampurno, Sampurno Sampurno, Sampurno Sanjoto, Siwi Shaban, Godang Shandi Hargian Wijaksono Simon, I. Siregar, Darwin Alijasa Suhartono Suhartono - Suhartono Suhartono Suhartono Suhartono Suhartono Suhartono Suhartono Suparni Setyowati Rahayu Susastriawan, Anak Agung Putu Sutikno Bronto Sutikno Bronto Sutikno Bronto Sutikno Bronto Tatawu, Ariel l Afrandi Umboro, P A Vienastra, Septian Wijaksono, Shandi Hargian Wiloso, Danis Agoes Yahdi Zaim Yahdi Zaim Yoyok Ragowo Siswomijoyo Sukisman Zaim, Yahdi Zaim, Yahdi