Aryani Satyaningtijas
Division Of Physiology, School Of Veterinary Medicine And Biomedical Sciences, IPB University, Bogor, Indonesia

Published : 15 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

The Potential of Ciplukan Leaf Extract (Physalis Angulata L.) to Improve Kidney Function Tampie, Bella; Damiana R Astuti; I Ketut M Adnyane; Aryani S Satyaningtijas
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 11 No. 1 (2023): Maret 2023
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi.11.1.9-16

Abstract

Gagal ginjal merupakan penyakit tidak menular namun dapat mengancam nyawa manusia. Penyakit ini dapat dialami dari berbagai macam usia mulai dari anak-anak hingga lansia. Salah satu tanaman yang biasanya dijadikan sebagai obat herbal ialah tanaman ciplukan (Physalis angulata L.). Gagal ginjal merupakan penyakit tidak menular namun dapat mengancam nyawa manusia. Penyakit ini dapat dialami dari berbagai macam usia mulai dari anak-anak hingga lansia. Salah satu tanaman yang biasanya dijadikan sebagai obat herbal ialah tanaman ciplukan (Physalis angulata L.). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi dari daun tanaman ciplukan dalam memperbaiki fungsi ginjal. Penelitian ini dilakukan di Kampus IPB Dramaga, IPB University, Bogor. Tikus putih digunakan sebanyak 24 ekor dan dibagi menjadi 8 kelompok dengan perlakuan dosis 150mg/kg BB dan 300mg/kg BB. Perlakuan dilakukan selama 14 hari dan 28 hari.Etilen glikol digunakan sebagai agen nefrotoksik. Pemberian kombinasi etilen glikol 1 ml/100g BW secara oral dan ekstrak ciplukan dosis 300mg/kg BB secara bersamaan mampu menormalkan kadar ureum dalam darah. Hasil histologi juga menunjukkan adanya perbaikan pada glomerulus ginjal. Ekstrak daun ciplukan memiliki kandungan flavonoid yang berpotensi memperbaiki fungsi dan morfologi ginjal.
Performa Reproduksi Ayam IPB-D1 Betina pada Konsentrasi IgY Berbeda Hayu Fitriyani; Niken Ulupi; Aryani Sismin Satyaningtijas
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 11 No. 2 (2023): Juli 2023
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi.11.2.156-159

Abstract

Ayam IPB-D1 merupakan hasil persilangan antara jantan F1 pelung-sentul dengan betina F1 kampung-broiler parent stock. Keunggulan yang dimiliki ayam IPB-D1 yaitu pertumbuhan yang cepat dan mencapai bobot potong (jantan 1.18 kg dan betina 1.04 kg) pada umur 10-12 minggu. Salah satu indikator ketahanan tubuh terhadap penyakit yakni konsentrasi Immonoglobulin Yolk (IgY) pada serum. Induk ayam yang memiliki konsentrasi IgY serum tinggi menghasilkan kuning telur dengan konsentrasi IgY yang tinggi . Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi konsentrasi IgY yang berbeda terhadap reproduksi pada ayam IPB-D1 betina. Penelitian ini menggunakan 20 ekor ayam IPB-D1 7 bulan, terdiri dari 10 ekor dengan konsentrasi IgY tinggi dan 10 ekor dengan konsentrasi IgY rendah. Variabel yang diamati reproduksi meliputi fertilitas, daya tetas, dan bobot DOC ayam IPB D-1. Hasil penelitian mengenai performa reproduksi ayam IPB -D1 yang memiliki IgY rendah pada kondisi normal menghasilkan persentase fertilitas yang lebih tinggi dibandingkan ayam IPB-D1 IgY tinggi. Daya tetas dan bobot tetas pada telur ayam IPB-D1 yang menunjukkan data persentase daya tetas dan bobot DOC ayam IgY tinggi lebih rendah dibandingkan ayam IgY rendah. Bobot tetas pada penelitian dapat dikatakan kurang maksimal. Hal ini kemungkinan disebabkan karena adanya peningkatan suhu panas dan penurunan kelembaban pada mesin tetas yang menyebabkan daya tetas pada telur kurang maksimal. Dapat disimpulkan bahwa induk Ayam IPB-D1 yang memiliki IgY tinggi pada kondisi normal menghasilkan performa reproduksi yang lebih rendah dibandingkan ayam IPB-D1 IgY rendah.
Studi of In Vivo Antidiabetic Activity of Namnam Leaves (Cynometra cauliflora) Extract in Sprague Dawley Rat La Ode Sumarlin; Agik Suprayogi; Min Rahminiwati; Aryani Satyaningtijas; Hajar Hajar; Meyliana Wulandari
al Kimiya: Jurnal Ilmu Kimia dan Terapan Vol 10, No 1 (2023): al Kimiya: Jurnal Ilmu Kimia dan Terapan
Publisher : Department of Chemistry, Faculty of Science and Technology, UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/ak.v10i1.23406

Abstract

Various treatments for Type 2 Diabetes Mellitus (T2DM) aim to alleviate hyperglycemia. Although natural products have been extensively utilized, their mechanism of action and efficacy as antidiabetic agents, particularly for T2DM, has not been extensively assessed in vivo. In this research, the leaves of the Namnam (Cynometra cauliflora) were extracted and tested for their activity as an antidiabetic agent. Sprague Dawley rats aged 3.5-4 months, weighing 200-250 g, were used as the experimental model, with a total of 30 individuals. The rats were induced with a high-fat diet and 30% sucrose until their blood glucose concentration reached ≥ 120 mg/dL. Subsequently, the rats were divided into four groups (groups 1, 2, 3, and 4). Over 21 days, changes in blood glucose, triacylglycerol, glycogen, and blood plasma insulin levels were assessed. The results demonstrated that the methanol extract of Namnam leaves (NLME) effectively reduced blood glucose levels by 23-34%, decreased plasma triglyceride levels by 13-30%, and increased liver glycogen levels by 68-96% compared to the control group (Diabetes). Among all the parameters assessed, NLME exhibited similar performance to metformin, a commonly prescribed diabetes medication (p<0.05). Furthermore, the study revealed that NLME exerted antidiabetic effects, particularly for T2DM, by promoting liver glycogen formation, enhancing insulin secretion control, facilitating glucose absorption by muscles, and restricting fat metabolism in the blood
Canine monocytic Ehrlichiosis in Alaskan Malamute dog in GloriaVet Pet Health Solution, Bandung, Indonesia Aqila Zata Amani; Kinanti Dwi Rahma; Aryani Sismin Satyaningtijas; Ivan Satriawan; Nurul Nadelia; Sus Derthi Widhyari
Current Biomedicine Vol. 4 No. 1 (2026): January
Publisher : School of Veterinary Medicine and Biomedical Sciences, IPB University, Bogor, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/currbiomed.4.1.24

Abstract

Background Ehrlichiosis is an infection caused by the bacterium Ehrlichia canis, which attacks monocytes. Ehrlichiosis is characterized by anemia, lethargy, lameness, pancytopenia, hemorrhage, and weight loss. Objective This study aimed to describe the clinical findings and treatment of a dog diagnosed with Ehrlichia canis infection. Case A 5-year-old female Alaskan Malamute dog named Salt was brought to the clinic of GloriaVet Pet Health Solution, Bandung, Indonesia, with lameness and weakness, accompanied by high fever and very pale mucous membranes (pallor). Examination and treatments Dog was examined using a general examination, hematology test, biochemistry test, native smear, and IDExx SNAP© 4dx test kit. The examinations showed a positive result for Ehrlichia canis infection, along with severe pancytopenia, hyperglobulinemia, and thrombocytopenia. Diagnosis heavily relied on serology and clinical manifestation, and further PCR testing was not performed. The treatment consisted of doxycycline 10 mg/kg/day for 28 days, a 0.75% ketamine drip infusion, darbepoetin alfa, and a blood transfusion. Conclusion Dog was infected with chronic ehrlichiosis with several clinical symptoms including severe anemia. Treatment with doxycycline as the treatment of choice for ehrlichiosis infection and a blood transfusion for treating severe anemia showed signs of improvement, but were ultimately ineffective due to the poor prognosis associated with chronic ehrlichiosis and severe pancytopenia.
HEPATOPROTECTIVE EFFECT OF Physalis angulata L. LEAF ETHANOL EXTRACT AGAINST BUSULFAN-INDUCED LIVER DAMAGE IN FEMALE RATS Elsi Rahmadhani; Aryani Sismin Satyaningtijas; Damiana Rita Ekastuti; Ronald Tarigan; I Ketut Mudite Adnyane; Kusdiantoro Mohamad; Wahono Esthi Prasetyaningtyas; Yanti Sulistyana
BIOTROPIA Vol. 33 No. 3 (2026): BIOTROPIA Vol. 33 No. 3 September 2026
Publisher : SEAMEO BIOTROP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.11598/btb.2026.33.3.2588

Abstract

ARTICLE HIGLIGHTSBusulfan can damage the liver by triggering oxidative stress Physalis angulata leaves show natural liver protective effects Extract reduced oxidative damage in liver tissue Liver structure improved after extract treatment Early treatment provided stronger liver protection than delayed useABSTRACTLiver disease is the leading cause of death worldwide, with drug-induced hepatotoxicity representing a major contributing factor. Busulfan, an anticancer drug used in chronic myeloid leukemia, is cytotoxic to proliferating cells and can induce liver injury. Physalis angulata L. (ground cherry) contains bioactive compounds with potential hepatoprotective properties. This study aimed to evaluate the protective effects of ethanol extract of Phyasalis angulata L. (EEPA) leaves on busulfan-induced liver damage in female Sprague–Dawley rats. Twenty-five rats were randomly divided into five groups: P1 (normal control), P2 (busulfan 40 mg/kg BW, single dose), P3 (extract 300 mg/kg BW, days 1–28), P4 (busulfan + extract, days 1–28), and P5 (busulfan + extract, days 14–28). Parameters assessed were alanine aminotransferase (ALT) and aspartate aminotransferase (AST), the level of malondialdehyde (MDA) in liver, and liver histology. Data were analyzed using one-way analysis of variance (ANOVA) followed by a post hoc test. The results showed that Physalis angulata L. extract did not cause significant differences in the serum ALT and AST levels but significantly reduced the MDA concentrations and improved the liver histological architecture. Busulfan administration significantly decreased hepatocyte count and increased Kupffer and inflammatory cells, fatty degeneration, and necrosis. Early administration of the extract (P4) demonstrated stronger hepatoprotective effects compared with delayed administration (P5). These findings suggest that EEPA leaves exerts hepatoprotective effects against busulfan-induced liver injury in rats, likely through antioxidant activity, as evidenced by subsequent histological improvement, and highlighting its potential as a natural hepatoprotective agent.
Profil eritrosit, hemoglobin, dan nilai hematokrit luwak Jawa (Paradoxurus hemaphroditus) pemakan dan tidak pemakan buah kopi Elsi Rahmadhani; I Wayan Teguh Wibawan; Damiana Rita Ekastuti; Ronald Tarigan; Pudji Achmadi; Isdoni Isdoni; Koekoeh Santoso; Aryani Satyaningtijas
ARSHI Veterinary Letters Vol. 7 No. 1 (2023): ARSHI Veterinary Letters - Februari 2023
Publisher : School of Veterinary Medicine and Biomedical Sciences, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avl.7.1.15-16

Abstract

Luwak Jawa (Paradoxurus hemaphroditus) merupakan hewan yang memiliki kemampuan menghasilkan biji kopi yang berkualitas, sehingga status kesehatannya perlu untuk diperhatikan. Gambaran darah dapat dijadikan sebagai indikator status kesehatan luwak pada kondisi tertentu. Penelitian mengenai luwak telah banyak dilaporkan, namun belum ada penelitian mengenai parameter fisiologis khususnya profil eritrosit dari luwak yang sengaja diberikan buah kopi secara terus menerus selama 3 bulan. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung profil eritrosit pada luwak Jawa pemakan pemakan kopi dan tidak pemakan buah kopi. Gambaran darah luwak Jawa pada saat adaptasi dan pemeliharaan berfluktuasi. Rataan jumlah eritrosit luwak pemakan buah kopi dan tidak pemakan buah kopi adalah (8,24±2,40) x 106/mL dan (8,25±2,16) x 106/mL, kadar hemoglobin adalah (6,18±2,21) g/dL dan (6,40±2,21) g/dL dan nilai hematokrit adalah (16,50±2,21) % dan (16,00±2,14) %. Secara umum gambaran darah luwak Jawa pemakan buah kopi memiliki rataan yang lebih rendah dari pada luwak Jawa yang tidak diberi buah kopi.
Pemendekan waktu siklus estrus pada luwak Jawa (Paradoxurus hermaphroditus) terdeteksi melalui metode ulas vagina Nelda Fliza Zora; Mokhamad Fakhrul Ulum; Damiana Rita Ekastuti; Ronald Tarigan; Pudji Achmadi; Isdoni Bustaman; Koekoeh Santoso; Hera Maheshwari; Agik Suprayogi; Wasmen Manalu; Aryani Satyaningtijas
ARSHI Veterinary Letters Vol. 7 No. 2 (2023): ARSHI Veterinary Letters - Mei 2023
Publisher : School of Veterinary Medicine and Biomedical Sciences, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avl.7.2.35-36

Abstract

Luwak Jawa (Paradoxurus hermaphroditus) merupakan salah satu hewan liar yang dapat dimanfaatkan sebagai penyeleksi biji kopi untuk menghasilkan kopi berkualitas dan bernilai ekonomis tinggi. Pemeliharaan yang tidak sesuai dapat memengaruhi kondisi fisiologis dan reproduksi luwak sehingga penting untuk diketahui sebagai dasar manajemen pemeliharaan dan kesehatan untuk optimalisasi produksi, pencegahan penyakit, dan konservasi luwak. Pemantauan ini bertujuan untuk mengetahui panjang waktu total siklus estrus dan waktu dari setiap fase estrus yaitu fase proestrus, estrus, metestrus dan diestrus. Luwak Jawa dari diperoleh dari pasar hewan sebanyak 2 ekor berjenis kelamin betina dengan bobot badan sekitar 4 kg diambil data ulas vagina selama 21 hari pada pagi dan sore hari. Sel epitel vagina diperiksa di bawah mikroskop dan dianalisa secara kuantitatif. Hasil pengamatan menunjukkan pemendekan siklus estrus dengan panjang total siklus estrus yaitu 121,5±7,5 jam (5 hari). Durasi waktu proestrus 12,0±0,0 jam, estrus 22,5±3,0 jam, metestrus 25,5±3,0 jam dan diestrus 61,5±3,0 jam.
Kadar kolesterol dan glukosa darah luwak Jawa (Paradoxurus hermaphroditus) yang didomestikasi Ira Agustina Dewi Gandasari; Damiana Rita Ekastuti; Ronald Tarigan; Pudji Achmadi; Isdoni Bustaman; Koekoeh Santoso; Hera Maheshwari; Agik Suprayogi; Wasmen Manalu; Aryani Satyaningtijas
ARSHI Veterinary Letters Vol. 7 No. 1 (2023): ARSHI Veterinary Letters - Februari 2023
Publisher : School of Veterinary Medicine and Biomedical Sciences, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avl.7.1.19-20

Abstract

Status kesehatan luwak yang pemanfaatannya cukup tinggi sebagai penghasil kopi belum banyak dipelajari secara lengkap. Informasi mengenai status fisiologis luwak Jawa (Paradoxurus hermaphroditus) yang telah didomestikasi masih terbatas dan sangat diperlukan untuk menilai aspek kesejahteran hewan di penangkaran. Studi ini melaporkan kadar kimia darah dan kolesterol luwak Jawa yang sudah didomestikasi. Luwak dalam penelitian ini diberi pakan berupa pisang, kepala ayam dan juga dog food. Pemeriksaan kimia darah berupa kadar glukosa dan kolesterol darah dilakukan terhadap 6 ekor luwak yang diberi pakan pisang, kepala ayam dan juga dog food. Hasil menunjukkan bahwa luwak Jawa jantan memiliki kadar glukosa sebesar 68,00±22,55 mg/dL dan luwak Jawa betina yaitu sebesar 73,78±12,60 mg/dL. Kadar kolesterol darah pada luwak Jawa jantan yaitu sebesar 145,78±22,29 mg/dL dan luwak Jawa betina yaitu sebesar 142,00±12,44 mg/dL.
Penanganan spectacular dysecdysis pada seekor ular Boa constrictor di Lombok Wildlife Park, Nusa Tenggara Barat Fadhila Satvika; Gilang Kala Maulana; Aryani Sismin Satyaningtijas; Damiana Rita Ekastuti; Hera Maheshwari; Koekoeh Santoso; Ronald Tarigan; Pudji Achmadi; Isdoni Bustamam
ARSHI Veterinary Letters Vol. 7 No. 4 (2023): ARSHI Veterinary Letters - November 2023
Publisher : School of Veterinary Medicine and Biomedical Sciences, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avl.7.4.67-68

Abstract

Lombok Wildlife Park merupakan lembaga konservasi yang berada di Lombok, Nusa Tenggara Barat dengan salah satu satwa liar yang ditangani adalah ular. Tulisan ini melaporkan penanganan spectacular dysecdysis pada seekor ular boa (Boa constrictor). Ular bernama Boly, berumur sekitar 1.5 tahun dengan bobot badan 8 ons mengalami eye caps stuck atau spectacular dysecdysis setelah proses pergantian kulit yang tidak sempurna. Terjadi kebengkakan pada jaringan di kedua mata dan boa kehilangan nafsu makan. Pengobatan dilakukan dengan pemberian antibiotik dan anti inflamasi untuk 3 hari pertama dan dilanjutkan dengan supplemen pendukung berupa zat besi dan vitamin B12 intramuskular selama 3 hari berikutnya. Jaringan bengkak pada mata kiri pecah dan menyebabkan kerusakan pada organ mata, sedangkan jaringan yang telah mengering pada mata kanan dikelupas secara manual. Nafsu makan ular sudah kembali membaik dan sudah mau makan dengan sendirinya.
Pengobatan myasis pada musang Lombok (Paradoxurus hermaphroditus) di lembaga konservasi ex-situ Fatimatus Sa’diyah Putri; Gilang Kala Maulana; Aryani Sismin Satyaningtijas; Damiana Rita Ekastuti; Hera Maheshwari; Koekoeh Santoso; Ronald Tarigan; Pudji Achmadi; Isdoni Bustamam
ARSHI Veterinary Letters Vol. 7 No. 3 (2023): ARSHI Veterinary Letters - August 2023
Publisher : School of Veterinary Medicine and Biomedical Sciences, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avl.7.3.47-48

Abstract

Lombok Wildlife Park merupakan lembaga konservasi ex-situ dalam bentuk taman satwa untuk menyokong keselamatan spesies satwa liar. Salah satu satwa liar yang dipelihara adalah musang Lombok (Paradoxurus hermaphroditus) dalam kandang bersama dengan musang bulan betina (Paguma larvata). Musang Lombok ditemukan mengalami vulnus pada pangkal ekor dan berlanjut dengan myiasis. Musang Lombok tersebut kemudian diobati dengan pemberian antibiotik dan antiinflamasi untuk penyembuhan luka. Myiasis diterapi dengan pemberian larvasida dan pengambilan larva secara manual. Setelah 5 hari pengobatan, vulnus masih belum sembuh total, larva lalat sudah tidak kelihatan, nafsu makan masih kurang baik.