Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

HUBUNGAN TOXIC MASCULINITY DENGAN KONSEP DIRI PADA REMAJA LAKI-LAKI UNIVERSITAS NEGERI MANADO Bawangun, Yulia; Tiwa, Tellma M.; Kaunang, Sinta E. J.
PSIKOPEDIA Vol. 6 No. 3 (2025): September
Publisher : Program Studi Psikologi Universitas Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53682/pj.v6i3.12169

Abstract

Masa remaja merupakan periode kritis dalam perkembangan individu, khususnya dalam pembentukan identitas dan konsep diri. Konsep diri yang sehat menjadi fondasi penting dalam menunjang kesehatan mental, perilaku sosial yang adaptif, serta pencapaian prestasi individu. Namun, perkembangan konsep diri remaja sangat rentan dipengaruhi oleh faktor lingkungan sosial dan budaya, termasuk nilai-nilai maskulinitas yang berlaku dalam masyarakat. Stigma masyarakat mengenai maskulinitas, atau angapan bahwa laki-laki harus maco, kuat, tegas, berani dan tidak menggunakan sesuatu yang berkaitan dengan perempuan karena laki-laki yang kurang maskulin dalam situasi sosial adalah laki-laki yang dianggap lemah sehinggah mempengaruhi konsep  diri mahasiswa. Konsep diri merupakan  pendapat,  pandangan,  atau  gambaran  seseorang  terhadap  dirinya  penilain tentang diri merupakan hal penting yang diperhatikan remaja karena perasaan tidak diterima oleh orang lain akan membuat konsep diri individu rendah. Tujuan dari penelitian ini sendiri adalah untuk mengetahui hubungan antara maskulinitas beracun dengan konsep diri, serta juga mengetahui gambaran tingkat maskulinitas dan konsep diri pada remaja laki-laki fakultas ilmu Pendidikan dan Psikologi. Metode penelitian yang digunakan adalah korelasional dengan jumlah sampel 100 orang yang ditentukan menggunakan metode purposive sampling, dan analisis data menggunakan uji parametik pearson. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara maskulinitas beracun dengan konsep diri dengan arah hubungan yang negatif.  Kata Kunci : Maskulinitas , Konsep diri Adolescence is a critical stage in individual development, especially in the formation of identity and self-concept. A healthy self-concept serves as a vital foundation for supporting mental health, adaptive social behavior, and individual achievement. However, the development of adolescents' self-concept is highly susceptible to the influence of social and cultural environmental factors, including the prevailing values of masculinity in society. Societal stigma surrounding masculinity—such as the belief that men must be macho, strong, assertive, brave, and must not engage with anything associated with femininity—can lead to the perception that men who appear less masculine in social situations are weak, thus negatively impacting male students’ self-concept. Self-concept refers to an individual's opinion, view, or perception of themselves. This self-assessment is particularly important for adolescents, as feelings of rejection from others can lead to a low self-concept. The purpose of this study is to examine the relationship between toxic masculinity and self-concept, as well as to provide an overview of the levels of masculinity and self-concept among male students in the Faculty of Education and Psychology. The research method used is correlational, with a sample size of 100 participants selected through purposive sampling. Data analysis was conducted using Pearson's parametric test. The results indicate a significant relationship between toxic masculinity and self-concept, with a negative correlation.  
HUBUNGAN ANTARA MOTIVASI KERJA DENGAN PERILAKU KONSUMTIF PADA KARYAWAN DI SALAH SATU PERUSAHAAN KEUANGAN SULAWESI UTARA Derek, Natali G.; Mandang, Jofie H.; Kaunang, Sinta E. J.
PSIKOPEDIA Vol. 6 No. 3 (2025): September
Publisher : Program Studi Psikologi Universitas Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53682/pj.v6i3.12405

Abstract

Penelitian ini bertujuan menguji hubungan antara motivasi kerja dan perilaku konsumtif pada karyawan sebuah perusahaan keuangan di Sulawesi Utara. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Sampel berjumlah 139 responden yang dipilih melalui teknik accidental sampling. Instrumen berupa kuesioner skala Likert yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya. Motivasi kerja diukur menggunakan Teori Dua Faktor Herzberg, sedangkan perilaku konsumtif berdasarkan teori konsumsi modern Bauman. Analisis korelasi Pearson menunjukkan koefisien –0,076 dengan nilai signifikansi 0,371 (p > 0,05), sehingga dapat disimpulkan tidak terdapat hubungan signifikan antara kedua variabel. Hasil ini menunjukkan motivasi kerja bukan faktor utama yang memengaruhi perilaku konsumtif karyawan. Faktor lain seperti stres kerja, gaya hidup, dan literasi keuangan diduga lebih berperan. Penelitian ini menekankan perlunya kajian lanjutan untuk mengeksplorasi faktor psikologis dan sosial budaya lain yang dapat memengaruhi perilaku konsumtif di lingkungan kerja.
PENGARUH KUALITAS KEHIDUPAN KERJA TERHADAP KETERLIBATAN KERJA PADA PEGAWAI DINAS PENDIDIKAN MINAHASA TENGGARA Rugian, Checilia; Lumapow, Harol R.; Kaunang, Sinta E. J.
PSIKOPEDIA Vol. 6 No. 3 (2025): September
Publisher : Program Studi Psikologi Universitas Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53682/pj.v6i3.12479

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Kualitas Kehidupan Kerja Terhadap Keterlibatan Kerja Pada Pegawai Dinas Pendidikan Minahasa Tenggara. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Jumlah responden dalam penelitian berjumlah 72 orang pegawai, dengan pengambilan sampel jenuh. Pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran kuesioner. Hasil analisis data menunjukkan bahwa nilai t hitung sebesar 7,564 lebih besar dari t tabel sebesar 1,669, dengan nilai signifikansi 0,000 < 0,05. Hasil ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara Kualitas Kehidupan Kerja dan Keterlibatan Kerja. Selain itu, nilai koefisien determinasi mengindikasikan bahwa Kualitas Kehidupan Kerja menyumbang sebesar 45% terhadap variabel Keterlibatan Kerja, sedangkan sisanya, yaitu 55%, dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak menjadi fokus dalam penelitian ini.
CRITICAL THINKING SKILLS OF TEACHER PROSPECTIVE STUDENTS IN SOLVING ETHNOMATHEMATICS-BASED MATHEMATICS PROBLEMS Runtu, Patricia V.; Tiwow, Deiby N. F.; Pinontoan, Kinzie F.; Kaunang, Sinta E. J.; Jafar, Gita F.
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran Vol. 8 No. 1 (2025): Volume 8 No. 1 Tahun 2025
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jrpp.v8i1.41163

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mendeskripsikan kemampuan berpikir kritis mahasiswa calon guru dalam menyelesaikan permasalahan matematika yang berbasis etnomatematika. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan subjek penelitian mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika. Pengumpulan data dilakukan melalui tes kemampuan berpikir kritis berbasis etnomatematika, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Instrumen yang digunakan berupa soal-soal matematika yang diintegrasikan dengan konteks budaya lokal, mencakup aspek berpikir kritis yaitu interpretasi, analisis, evaluasi, dan inferensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa calon guru memiliki variasi kemampuan dalam menyelesaikan soal-soal matematika berbasis etnomatematika. Pada aspek interpretasi, mayoritas mahasiswa mampu memahami konteks budaya dalam permasalahan matematika dengan baik. Dalam aspek analisis, mahasiswa menunjukkan kemampuan mengidentifikasi hubungan antara konsep matematika dengan unsur budaya. Pada aspek evaluasi, beberapa mahasiswa masih mengalami kesulitan dalam memberikan penilaian terhadap argumen matematis yang berkaitan dengan konteks budaya. Sementara pada aspek inferensi, mahasiswa mampu menarik kesimpulan logis dari informasi yang diberikan. Penelitian ini mengungkapkan pentingnya pengintegrasian konteks budaya dalam pembelajaran matematika untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa calon guru. Implikasi dari penelitian ini adalah perlunya pengembangan model pembelajaran yang mengintegrasikan etnomatematika untuk mempersiapkan calon guru yang mampu mengajar matematika dengan pendekatan kontekstual berbasis budaya lokal.
Psychological Well-Being Mahasiswa Perempuan yang Sedang Menyelesaikan Skripsi pada Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi Universitas Negeri Manado Sitepu, Helen K. Br; Solang, Deetje Josephine; Kaunang, Sinta E. J.
Indonesian Research Journal on Education Vol. 6 No. 1 (2026): Irje 2026
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/irje.v6i1.3866

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran, faktor, dan strategi psychological well-being pada mahasiswa perempuan yang sedang menjalani proses penyusunan skripsi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Subjek penelitian berjumlah dua orang mahasiswa Psikologi Universitas Negeri Manado, masing-masing disertai satu informan pendukung. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua subjek memiliki tingkat psychological well-being yang tergolong baik, yang tercermin melalui enam dimensi menurut Ryff & Keyes (1995), yaitu penerimaan diri, hubungan positif dengan orang lain, kemandirian, penguasaan lingkungan, tujuan hidup, dan pertumbuhan pribadi. Gambaran yang paling menonjol pada subjek pertama adalah penerimaan diri dan kemandirian, sedangkan pada subjek kedua yaitu refleksi diri dan pertumbuhan pribadi. Faktor-faktor yang memengaruhi psychological well-being meliputi jenis kelamin, usia, status sosial ekonomi, religiusitas, dukungan sosial, dan kepribadian. Strategi yang digunakan untuk mempertahankan psychological well-being meliputi manajemen waktu, refleksi diri, fokus pada tujuan pribadi, adaptasi terhadap perubahan, menyusun target dan jadwal, membangun relasi suportif, serta memanfaatkan teknologi. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa psychological well-being mahasiswa tidak bersifat statis, melainkan berkembang melalui kesadaran diri, pengendalian emosi, dukungan sosial, dan kemampuan beradaptasi terhadap tantangan akademik.