Sumual, Elisa Nimbo
Unknown Affiliation

Published : 17 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Detoksifikasi Digital dan Pemulihan Rohani: Rekonstruksi Pendidikan Agama Kristen Berbasis Teologi dalam Konteks Kesehatan Mental Siswa Rahayu, Yohana Fajar; Sumual, Elisa Nimbo
Philoxenia: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 4, No 1 (2025): Philoxenia: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani - November 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalvary - Maluku Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59376/philo.v4i1.53

Abstract

Advanced digital and communication technologies have brought about significant changes in the fields of education and spirituality. However, behind the ease of access to information and communication lies a serious issue: a mental health crisis among students who are addicted to digital devices. This has led to many of them feeling spiritually exhausted and even experiencing emotional burnout. Religious education, which has traditionally focused on cognitive aspects, is deemed insufficiently responsive to the spiritual needs of students. This study aims to reconstruct a Christian religious education approach grounded in theology to facilitate spiritual recovery through digital detoxification practices. The research method used is descriptive qualitative with a literature review approach. It can be concluded that digital detoxification can be an effective spiritual tool in freeing students from the pressures of digital addiction. Therefore, understanding the digital era and the mental health crisis among students must be prioritised. Furthermore, the concepts of theology and spirituality of recovery in Christian education must be able to detoxify digital as a process of Christian spirituality. Thus, this can reconstruct and integrate the Christian religious education curriculum in spiritual recovery.AbstrakTeknologi digital dan komunikasi yang sangat maju telah menciptakan perubahan besar dalam ruang pendidikan dan spiritualitas. Namun, di balik kemudahan akses informasi dan komunikasi, muncul persoalan serius berupa krisis kesehatan mental di kalangan naradidik yang mengalami kecanduan digital. Yang mengakibatkan banyak dari mereka jenuh dan teransing secara spiritual bahkan tekanan kelelahan emosional. Pendidikan agama yang selama ini berfokus pada aspek kognitif dinilai belum cukup responsif dalam menjawab kebutuhan spiritual peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk merekonstruksi pendekatan pendidikan agama Kristen berbasis teologi dalam rangka memfasilitasi pemulihan rohani melalui praktik detoksifikasi digital. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi pustaka, maka dapat disimpulkan bahwa detoksifikasi digital dapat menjadi sarana spiritual yang efektif dalam membebaskan siswa dari tekanan kecanduan digital.  Oleh karena itu pemahaman akan era digital dan krisis kesehatan mental siswa harus diperhatikan. Terlebih konsep dan  teologi dan spiritualitas pemulihan dalam pendidikan kristen harus bisa mendetoksifikasi digital sebagai proses spiritualitas kristen. Sehingga hal ini dapat merekonstruksi dan integrasi kurikulum pendidikan agama kristen dalam pemulihan rohani
Tinjauan Etika Kristen Terhadap Beban Ganda Generasi Sandwich Telaumbanua, Agus Arda Setiawan; Sumual, Elisa Nimbo; Arifianto, Yonatan Alex
Teokristi: Jurnal Teologi Kontekstual dan Pelayanan Kristiani Vol 5 No 2 (2025): November 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/tjt.v5i2.984

Abstract

Abstract: The sandwich generation phenomenon refers to adults who are caught between the obligations of caring for their aging parents and raising their own children. This situation creates complex pressures, including financial, emotional, and social aspects. This article aims to examine the double burden faced by the sandwich generation from a Christian ethical perspective using a qualitative method based on a literature review. The Bible emphasizes the importance of honoring parents and the responsibility to raise children with love as fundamental principles in family life. Christian ethics provide a normative framework so that responsibilities toward parents and children are not viewed merely as a social burden, but as an expression of obedience to God. The principles of love, justice, stewardship, and Christian spirituality serve as a practical foundation for balancing roles in the nuclear family without neglecting intergenerational obligations. Thus, the application of Christian ethics is expected to help the sandwich generation live a more balanced, meaningful life in accordance with God's will. Keywords: Ethics, Double Burden, Sandwich Generation
Praksis Teologi Digital dalam Pelayanan Pastoral Gembala Menghadapi Fintech dan Pinjol Jemaat Sumual, Elisa Nimbo; Rahayu, Yohana Fajar
Jurnal Lentera Nusantara Vol 5, No 1 (2025): Lentera Nusantara: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen - Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/jln.v5i1.455

Abstract

The massive and significant development of digital technology has fundamentally changed the social, economic and spiritual patterns of congregations, particularly through the presence of fintech and online lending. In practice, easy access to digital finance is often not balanced with adequate ethical and theological understanding in church life. This condition poses new challenges for pastoral ministry, which is required to respond to digital financial issues in a contextual and transformative manner. The phenomenon of increasing online lending practices has an impact on economic crises, psychological pressure, and vulnerability of faith, which requires ongoing pastoral guidance. This study aims to formulate a digital theology praxis relevant to pastoral ministry in dealing with fintech and online lending among congregations. Using qualitative research methods with a literature study approach, it can be concluded that digital theology from a biblical perspective affirms the church's calling to bring Christian values into the digital space of congregational life. Digital theology functions as a framework for pastoral ministry practices that help pastors interpret and respond to the reality of the digital economy in a theological and contextual manner. The phenomena of fintech and online lending have emerged as real pastoral challenges because they have an impact on the vulnerability of the congregation's faith, ethics, and welfare. Therefore, the role of pastors through the practice of digital theology is key in transformative and sustainable pastoral care for congregations in the era of digital finance.AbstrakPerkembangan teknologi digital yang massif dan signifikan telah mengubah secara mendasar pola kehidupan sosial ataupun ekonomi serta spiritual jemaat, khususnya melalui kehadiran fintech dan pinjaman online. Dalam praktiknya, kemudahan akses finansial digital sering kali tidak diimbangi dengan pemahaman etis dan teologis yang memadai dalam kehidupan bergereja. Kondisi ini menimbulkan tantangan baru bagi pelayanan pastoral gembala yang dituntut merespons persoalan finansial digital secara kontekstual dan transformatif. Fenomena meningkatnya praktik pinjol berdampak pada krisis ekonomi, tekanan psikologis, dan kerentanan iman yang memerlukan pendampingan pastoral berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan merumuskan praksis teologi digital yang relevan bagi pelayanan pastoral gembala dalam menghadapi fintech dan pinjol jemaat. Menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi literature, maka dapat disimpulkan bahwa Teologi digital dalam perspektif alkitabiah menegaskan panggilan gereja untuk menghadirkan nilai kekristenan di ruang digital kehidupan jemaat. Teologi digital berfungsi sebagai kerangka praksis pelayanan pastoral yang menolong gembala menafsirkan dan merespons realitas ekonomi digital secara teologis dan kontekstual. Fenomena fintech dan pinjol muncul sebagai tantangan pastoral yang nyata karena berdampak pada kerentanan iman, etika, dan kesejahteraan jemaat. Oleh karena itu, peran gembala melalui praksis teologi digital menjadi kunci dalam pendampingan pastoral yang transformatif dan berkelanjutan terhadap jemaat di era keuangan digital.
Amanat Agung dalam Bayang-bayang Disinformasi: Strategi Gereja Menghadirkan Kebenaran Injil di Era Post-Truth Sumual, Elisa Nimbo; Arifianto, Yonatan Alex
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 9 No 2: November 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v9i2.561

Abstract

In the post-truth era, the abundance of conflicting news and hoaxes often overshadows objective truth, as personal opinions and subjective values predominate. Even relativity determines truth, leading to widespread disinformation in digital and social spaces. The Church, as the recipient of the Great Commission, currently faces challenges in communicating the Gospel in its pure form. This challenge is due to the presence of biased and manipulative information that distorts the truth. The inability of some Christians to distinguish between theological truth and false narratives has weakened the Church's witness. The purpose of this study is to formulate theological and practical strategies for the Church in communicating the Great Commission authentically amid the truth crisis. Using a descriptive qualitative method with a literature review approach, it can be concluded that an understanding of the essence of the Great Commission in theology, as well as knowledge of the post-truth crisis and the church's challenges in proclaiming the truth, are crucial. It is hoped that the results will not hinder the actualization of the Great Commission as a mandate to proclaim truth amid the post-truth crisis and that the church will develop strategies to address disinformation in its mission to proclaim truth in a world darkened by disinformation.   Abstrak Banyaknya berita simpang siur dan hoak di era post-truth, kebenaran objektif sering kali tersingkir oleh opini dan nilai subjektif pribadi manusia.  Bahkan adanya relativitas juga menentukan kebenaran sehingga menimbulkan disinformasi yang meluas dalam ruang digital dan sosial. Gereja sebagai penerima mandat dari Amanat Agung dewasa ini menghadapi problem dalam menyampaikan Injil secara murni. Sebab adanya informasi yang bias dan manipulatif terkait kebenaran yang dinarasikan. Ketidakmampuan sebagian umat Kristen dalam membedakan antara kebenaran teologis dan narasi palsu telah melemahkan daya kesaksian gereja. Tujuan penelitian ini adalah merumuskan strategi teologis dan praktis bagi gereja dalam mengkomunikasikan Amanat Agung secara otentik di tengah krisis kebenaran. Menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi pustaka, maka dapat disimpulkan bahwa peran pemahaman akan hakikat Amanat Agung dalam teologis dan juga pengetahuan akan Krisis di era post-truth dan tantangan gereja dalam mewartakan kebenaran. Diharapkan tidak menghalangi untuk mengaktualisasikan mandat Amanat Agung sebagai mandat pewartaan kebenaran di tengah krisis post-truth dan juga adanya strategi gereja menghadapi disinformasi dalam misi pewartaan dalam dunia yang gelap oleh disinformasi.    
Peran Gereja dalam Pembentukan Etika Kepemimpinan Kristen Holistik Berbasis Sensitivitas Ekologis Sumual, Elisa Nimbo; Rahayu, Yohana Fajar
HARVESTER: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 10, No 2 (2025): Teologi dan Kepemimpinan Kristen - Desember 2025
Publisher : STTI Harvest Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52104/harvester.v10i2.405

Abstract

The increasingly complex global ecological crisis demands that the church focus not only on spiritual development, but also on the development of leadership ethics that are responsive to environmental damage. The lack of integration between creation theology and leadership formation has resulted in Christian leaders being less sensitive to ecological issues that impact church life and society. Furthermore, leadership approaches that still tend to be anthropocentric hinder the church from presenting a holistic witness that reflects God's concern for all creation. The increasing phenomenon of natural disasters, environmental degradation, and the ecological suffering of local communities emphasises the urgency of forming leadership ethics rooted in ecological sensitivity. This study aims to analyse the role of the church in shaping a holistic Christian leadership ethic based on ecology. The research method used is qualitative-descriptive analysis through a review of theological and pastoral literature. The results show that a holistic Christian leadership ethic is rooted in a theological foundation that views ecological responsibility as an integral part of the call to faith and service. The church plays a strategic role as an agent of formation that fosters ecological sensitivity as a core competency of Christian leadership through education, pastoral training, and community praxis. Thus, an ecology-based theological-pastoral model becomes a transformative framework for forming Christian leaders who are faithful, ethical, and responsible for the integrity of creation. AbstrakKrisis ekologis global yang semakin kompleks menuntut gereja untuk tidak hanya fokus pada pembinaan spiritual, tetapi juga pada pengembangan etika kepemimpinan yang responsif terhadap kerusakan lingkungan. Minimnya integrasi antara teologi penciptaan dan formasi kepemimpinan telah menyebabkan pemimpin Kristen kurang peka terhadap persoalan ekologis yang berdampak pada kehidupan gerejawi dan masyarakat. Selain itu, pendekatan kepemimpinan yang masih cenderung antroposentris menghambat gereja dalam menghadirkan kesaksian holistik yang mencerminkan kepedulian Allah terhadap seluruh ciptaan. Fenomena meningkatnya bencana alam, degradasi lingkungan, dan penderitaan ekologis komunitas lokal mempertegas urgensi pembentukan etika kepemimpinan yang berakar pada sensitivitas ekologis. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran gereja dalam membentuk etika kepemimpinan Kristen holistik berbasis ekologi. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis kualitatif-deskriptif melalui kajian literatur teologis dan pastoral. Hasil penelitian menunjukkan bahwa  etika kepemimpinan Kristen holistik berakar pada fondasi teologis yang memandang tanggung jawab ekologis sebagai bagian integral dari panggilan iman dan pelayanan. Gereja berperan strategis sebagai agen formasi yang menumbuhkan sensitivitas ekologis sebagai kompetensi inti kepemimpinan Kristen melalui pendidikan, pembinaan pastoral, dan praksis komunitas. Dengan demikian, model teologis-pastoral berbasis ekologi menjadi kerangka transformatif untuk membentuk pemimpin Kristen yang beriman, beretika, dan bertanggung jawab terhadap keutuhan ciptaan.
PERAN GURU PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DALAM MENANAMKAN NILAI ETIKA KRISTEN ERA DIGITAL SOCIETY 5.0 Sumual, Elisa Nimbo; Rahayu, Yohana Fajar
Metanoia Vol 8 No 1 (2026): Metanoia Januari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Duta Panisal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55962/metanoia.v8i1.287

Abstract

Perkembangan Digital Society 5.0 telah membawa perubahan mendasar dalam cara manusia berinteraksi, termasuk dalam konteks pendidikan agama. Transformasi digital yang masif menghadirkan tantangan etis baru bagi peserta didik, seperti relativisme moral, krisis tanggung jawab, serta degradasi nilai kemanusiaan di ruang digital. Dalam situasi tersebut, Pendidikan Agama Kristen dihadapkan pada tuntutan untuk tidak hanya mentransmisikan pengetahuan iman, tetapi juga membentuk karakter dan kesadaran etis. Fenomena meningkatnya penggunaan teknologi digital dalam kehidupan peserta didik sering kali tidak diimbangi dengan kemampuan refleksi moral yang memadai. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran strategis guru Pendidikan Agama Kristen dalam menanamkan nilai etika Kristen yang kontekstual dan transformatif di era Digital Society 5.0. Menggunkan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka, maka disimpulkan bahwa etika Kristen merupakan fondasi teologis yang esensial dalam pendidikan di era Digital Society 5.0. Etika Kristen berakar pada wahyu Allah dan teladan Kristus yang menjadi fondasi teologis bagi pembentukan karakter dan pengambilan keputusan moral, termasuk dalam konteks pendidikan di era Digital Society 5.0. Di tengah karakteristik masyarakat digital yang ditandai oleh kecerdasan buatan, konektivitas tanpa batas, dan arus informasi yang masif, peserta didik menghadapi tantangan etis seperti degradasi nilai, penyalahgunaan teknologi, dan krisis identitas moral. Oleh karena itu, guru Pendidikan Agama Kristen berperan strategis sebagai pendidik etika digital yang menuntun peserta didik untuk mengintegrasikan iman Kristen dengan sikap kritis, bertanggung jawab, dan beretika dalam kehidupan digital.
Teologi Kristen dan Tantangan Etis dari Budaya Viral Challenge di Ruang Virtual Rahayu, Yohana Fajar; Sumual, Elisa Nimbo
DIDASKO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 5 No. 2 (2025): Didasko: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen - Oktober 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Diaspora Wamena

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52879/didasko.v5i2.198

Abstract

The development of digital culture has given rise to the phenomenon of viral challenges, which have not only become an entertainment trend but also shaped the mindset and behaviour of contemporary society. This dynamic has had a significant impact on moral values, particularly when the challenges that circulate normalise risky behaviour and erode norms of propriety. The massive viral challenge phenomenon in virtual space reveals an ambivalence between positive creativity and the potential for moral degradation due to the removal of cultural and religious norms. The purpose of this study is to examine the ethical challenges of viral challenge culture from a Christian theological perspective and to formulate its implications for the life of faith. Using a qualitative method based on literature study with theological-ethical analysis of contemporary digital phenomena, it can be concluded that the viral challenge culture in a social and digital perspective shows how digital trends shape new patterns of interaction and values in modern society. However, the ethical challenges of viral challenges for Christian life reveal issues of misguided self-existence, social pressure, and the banality of sin that demand faithfulness. Therefore, the Christian theological response to viral challenge culture and its implications for Christian leadership and education in virtual spaces is important in order to provide an ethical framework, spiritual examples, and educational strategies that can correct and transform digital culture into a means of Christian service and witness.AbstrakPerkembangan budaya digital telah melahirkan fenomena viral challenge yang tidak hanya menjadi tren hiburan, tetapi juga membentuk pola pikir dan perilaku masyarakat kontemporer. Dinamika ini membawa dampak signifikan terhadap nilai moral, khususnya ketika tantangan yang beredar menormalisasi perilaku berisiko dan mengikis norma-norma kepatutan.   Fenomena viral challenge yang masif di ruang virtual memperlihatkan ambivalensi antara kreativitas positif dan potensi degradasi moral akibat menyingkirkan norma budaya dan agama. Tujuan penelitian ini adalah untuk menelaah tantangan etis dari budaya viral challenge melalui perspektif teologi Kristen serta merumuskan implikasinya bagi kehidupan iman. Menggunakan metode kualitatif berbasis studi pustaka dengan analisis teologis-etis terhadap fenomena digital kontemporer, maka dapat disimpulkan bahwa budaya viral challenge dalam perspektif sosial dan digital menunjukkan bagaimana tren digital membentuk pola interaksi dan nilai baru dalam masyarakat modern. Namun, tantangan etis viral challenge bagi kehidupan Kristen menyingkap persoalan eksistensi diri yang salah arah, tekanan sosial, serta banalitas dosa yang menuntut kewaspadaan iman. Karena itu, respon teologi kristen terhadap budaya viral challenge dan implikasi kepemimpinan dan pendidikan Kristen di ruang virtual menjadi penting untuk menghadirkan kerangka etis, teladan rohani, serta strategi edukatif yang mampu mengoreksi sekaligus mentransformasi budaya digital menjadi sarana pelayanan dan kesaksian Kristen.