Sumual, Elisa Nimbo
Unknown Affiliation

Published : 14 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Tinjauan Etika Kristen Terhadap Beban Ganda Generasi Sandwich Telaumbanua, Agus Arda Setiawan; Sumual, Elisa Nimbo; Arifianto, Yonatan Alex
Teokristi: Jurnal Teologi Kontekstual dan Pelayanan Kristiani Vol 5 No 2 (2025): November 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/tjt.v5i2.984

Abstract

Abstract: The sandwich generation phenomenon refers to adults who are caught between the obligations of caring for their aging parents and raising their own children. This situation creates complex pressures, including financial, emotional, and social aspects. This article aims to examine the double burden faced by the sandwich generation from a Christian ethical perspective using a qualitative method based on a literature review. The Bible emphasizes the importance of honoring parents and the responsibility to raise children with love as fundamental principles in family life. Christian ethics provide a normative framework so that responsibilities toward parents and children are not viewed merely as a social burden, but as an expression of obedience to God. The principles of love, justice, stewardship, and Christian spirituality serve as a practical foundation for balancing roles in the nuclear family without neglecting intergenerational obligations. Thus, the application of Christian ethics is expected to help the sandwich generation live a more balanced, meaningful life in accordance with God's will. Keywords: Ethics, Double Burden, Sandwich Generation
Praksis Teologi Digital dalam Pelayanan Pastoral Gembala Menghadapi Fintech dan Pinjol Jemaat Sumual, Elisa Nimbo; Rahayu, Yohana Fajar
Jurnal Lentera Nusantara Vol 5, No 1 (2025): Lentera Nusantara: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen - Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/jln.v5i1.455

Abstract

The massive and significant development of digital technology has fundamentally changed the social, economic and spiritual patterns of congregations, particularly through the presence of fintech and online lending. In practice, easy access to digital finance is often not balanced with adequate ethical and theological understanding in church life. This condition poses new challenges for pastoral ministry, which is required to respond to digital financial issues in a contextual and transformative manner. The phenomenon of increasing online lending practices has an impact on economic crises, psychological pressure, and vulnerability of faith, which requires ongoing pastoral guidance. This study aims to formulate a digital theology praxis relevant to pastoral ministry in dealing with fintech and online lending among congregations. Using qualitative research methods with a literature study approach, it can be concluded that digital theology from a biblical perspective affirms the church's calling to bring Christian values into the digital space of congregational life. Digital theology functions as a framework for pastoral ministry practices that help pastors interpret and respond to the reality of the digital economy in a theological and contextual manner. The phenomena of fintech and online lending have emerged as real pastoral challenges because they have an impact on the vulnerability of the congregation's faith, ethics, and welfare. Therefore, the role of pastors through the practice of digital theology is key in transformative and sustainable pastoral care for congregations in the era of digital finance.AbstrakPerkembangan teknologi digital yang massif dan signifikan telah mengubah secara mendasar pola kehidupan sosial ataupun ekonomi serta spiritual jemaat, khususnya melalui kehadiran fintech dan pinjaman online. Dalam praktiknya, kemudahan akses finansial digital sering kali tidak diimbangi dengan pemahaman etis dan teologis yang memadai dalam kehidupan bergereja. Kondisi ini menimbulkan tantangan baru bagi pelayanan pastoral gembala yang dituntut merespons persoalan finansial digital secara kontekstual dan transformatif. Fenomena meningkatnya praktik pinjol berdampak pada krisis ekonomi, tekanan psikologis, dan kerentanan iman yang memerlukan pendampingan pastoral berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan merumuskan praksis teologi digital yang relevan bagi pelayanan pastoral gembala dalam menghadapi fintech dan pinjol jemaat. Menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi literature, maka dapat disimpulkan bahwa Teologi digital dalam perspektif alkitabiah menegaskan panggilan gereja untuk menghadirkan nilai kekristenan di ruang digital kehidupan jemaat. Teologi digital berfungsi sebagai kerangka praksis pelayanan pastoral yang menolong gembala menafsirkan dan merespons realitas ekonomi digital secara teologis dan kontekstual. Fenomena fintech dan pinjol muncul sebagai tantangan pastoral yang nyata karena berdampak pada kerentanan iman, etika, dan kesejahteraan jemaat. Oleh karena itu, peran gembala melalui praksis teologi digital menjadi kunci dalam pendampingan pastoral yang transformatif dan berkelanjutan terhadap jemaat di era keuangan digital.
Amanat Agung dalam Bayang-bayang Disinformasi: Strategi Gereja Menghadirkan Kebenaran Injil di Era Post-Truth Sumual, Elisa Nimbo; Arifianto, Yonatan Alex
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 9 No 2: November 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v9i2.561

Abstract

In the post-truth era, the abundance of conflicting news and hoaxes often overshadows objective truth, as personal opinions and subjective values predominate. Even relativity determines truth, leading to widespread disinformation in digital and social spaces. The Church, as the recipient of the Great Commission, currently faces challenges in communicating the Gospel in its pure form. This challenge is due to the presence of biased and manipulative information that distorts the truth. The inability of some Christians to distinguish between theological truth and false narratives has weakened the Church's witness. The purpose of this study is to formulate theological and practical strategies for the Church in communicating the Great Commission authentically amid the truth crisis. Using a descriptive qualitative method with a literature review approach, it can be concluded that an understanding of the essence of the Great Commission in theology, as well as knowledge of the post-truth crisis and the church's challenges in proclaiming the truth, are crucial. It is hoped that the results will not hinder the actualization of the Great Commission as a mandate to proclaim truth amid the post-truth crisis and that the church will develop strategies to address disinformation in its mission to proclaim truth in a world darkened by disinformation.   Abstrak Banyaknya berita simpang siur dan hoak di era post-truth, kebenaran objektif sering kali tersingkir oleh opini dan nilai subjektif pribadi manusia.  Bahkan adanya relativitas juga menentukan kebenaran sehingga menimbulkan disinformasi yang meluas dalam ruang digital dan sosial. Gereja sebagai penerima mandat dari Amanat Agung dewasa ini menghadapi problem dalam menyampaikan Injil secara murni. Sebab adanya informasi yang bias dan manipulatif terkait kebenaran yang dinarasikan. Ketidakmampuan sebagian umat Kristen dalam membedakan antara kebenaran teologis dan narasi palsu telah melemahkan daya kesaksian gereja. Tujuan penelitian ini adalah merumuskan strategi teologis dan praktis bagi gereja dalam mengkomunikasikan Amanat Agung secara otentik di tengah krisis kebenaran. Menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi pustaka, maka dapat disimpulkan bahwa peran pemahaman akan hakikat Amanat Agung dalam teologis dan juga pengetahuan akan Krisis di era post-truth dan tantangan gereja dalam mewartakan kebenaran. Diharapkan tidak menghalangi untuk mengaktualisasikan mandat Amanat Agung sebagai mandat pewartaan kebenaran di tengah krisis post-truth dan juga adanya strategi gereja menghadapi disinformasi dalam misi pewartaan dalam dunia yang gelap oleh disinformasi.    
PERAN GURU PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DALAM MENANAMKAN NILAI ETIKA KRISTEN ERA DIGITAL SOCIETY 5.0 Sumual, Elisa Nimbo; Rahayu, Yohana Fajar
Metanoia Vol 8 No 1 (2026): Metanoia Januari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Duta Panisal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55962/metanoia.v8i1.287

Abstract

Perkembangan Digital Society 5.0 telah membawa perubahan mendasar dalam cara manusia berinteraksi, termasuk dalam konteks pendidikan agama. Transformasi digital yang masif menghadirkan tantangan etis baru bagi peserta didik, seperti relativisme moral, krisis tanggung jawab, serta degradasi nilai kemanusiaan di ruang digital. Dalam situasi tersebut, Pendidikan Agama Kristen dihadapkan pada tuntutan untuk tidak hanya mentransmisikan pengetahuan iman, tetapi juga membentuk karakter dan kesadaran etis. Fenomena meningkatnya penggunaan teknologi digital dalam kehidupan peserta didik sering kali tidak diimbangi dengan kemampuan refleksi moral yang memadai. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran strategis guru Pendidikan Agama Kristen dalam menanamkan nilai etika Kristen yang kontekstual dan transformatif di era Digital Society 5.0. Menggunkan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka, maka disimpulkan bahwa etika Kristen merupakan fondasi teologis yang esensial dalam pendidikan di era Digital Society 5.0. Etika Kristen berakar pada wahyu Allah dan teladan Kristus yang menjadi fondasi teologis bagi pembentukan karakter dan pengambilan keputusan moral, termasuk dalam konteks pendidikan di era Digital Society 5.0. Di tengah karakteristik masyarakat digital yang ditandai oleh kecerdasan buatan, konektivitas tanpa batas, dan arus informasi yang masif, peserta didik menghadapi tantangan etis seperti degradasi nilai, penyalahgunaan teknologi, dan krisis identitas moral. Oleh karena itu, guru Pendidikan Agama Kristen berperan strategis sebagai pendidik etika digital yang menuntun peserta didik untuk mengintegrasikan iman Kristen dengan sikap kritis, bertanggung jawab, dan beretika dalam kehidupan digital.