Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Strategi Edukasi dan Sosialisasi Asuransi oleh PT Askrindo untuk Meningkatkan Kesadaran Masyarakat di Sumatera Utara Sabila, Nazwa; Maharani, Nadya Puan; Sihaloho, Cintya; Siregar, Hairani
Jurnal ISO: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Humaniora Vol. 4 No. 2 (2024): December
Publisher : Penerbit Jurnal Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53697/iso.v4i2.1942

Abstract

Asuransi memainkan peran krusial dalam pengelolaan risiko, tidak hanya memberikan perlindungan kepada individu atau perusahaan dari potensi kerugian, tetapi juga berkontribusi pada stabilitas ekonomi suatu negara. Di Indonesia, khususnya di Sumatera Utara, tingkat kesadaran masyarakat mengenai pentingnya asuransi masih tergolong rendah.Berdasarkan data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada tahun 2022, penetrasi asuransi di Indonesia hanya mencapai sekitar 3,1% dari total Produk Domestik Bruto (PDB), angka ini jauh lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara berkembang lainnya. PT Askrindo sebagai penyedia layanan asuransi yang telah beroperasi di Indonesia sejak tahun 1970 memiliki peran strategis dalam mengedukasi masyarakat tentang asuransi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis berbagai strategi yang diterapkan oleh PT Askrindo dalam edukasi dan sosialisasi mengenai asuransi serta dampaknya terhadap kesadaran masyarakat di Sumatera Utara. Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan wawasan dan rekomendasi bagi PT Askrindo dan pemangku kepentingan lainnya dalam upaya meningkatkan literasi asuransi di Indonesia.
Peran Dinas Perhubungan Kota Bandung Dalam Tata Kelola Perparkiran Maharani, Nadya Puan; Rahmatullah, Aji; Zuhri, Muhammad Alfian; Afifah, Dian Fitriani
Journal of Education Technology Information Social Sciences and Health Vol 4, No 1 (2025): March 2025
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jetish.v4i1.5033

Abstract

The division of power in Indonesia consists of two dimensions: vertical and horizontal. Horizontally, power is separated among the executive, legislative, and judicial branches by applying the principle of checks and balances. Vertically, power is divided between the central government and regional governments through the principle of decentralization, as regulated in Law No. 23 of 2014 on Regional Government. Regional governments aim to manage governmental affairs at the local level. Regional governmental affairs are classified into absolute affairs, concurrent affairs, and general affairs. Concurrent affairs are managed jointly by the central and regional governments, including areas such as education, health, and transportation. The Department of Transportation (Dishub) is responsible for managing transportation affairs at the regional level, including addressing illegal levies (pungli) in illegal parking areas. This practice of pungli often occurs in illegal parking lots and causes public distress. To tackle this, Dishub conducts regular patrols, community outreach, installs electronic parking meters, and forms the Clean Sweep Task Force (Saber) to combat pungli. These measures aim to enhance transparency, optimize Local Revenue (PAD), and restore public trust in local governments. This study uses a qualitative method to analyze the role of Dishub in addressing pungli in illegal parking areas through government instruments in Hughes' theory. This method allows for data collection through observation, interviews, and documentation from relevant parties, such as Dishub officers, parking attendants, and the public. The research is expected to provide a clearer picture of the steps taken by Dishub to create an effective and accountable parking management system. Thus, pungli practices can be minimized, parking governance becomes more orderly, and greater benefits can be provided to the public and regional governments.
Implementasi Ilmu Kesejahteraan Sosial dalam Praktik Lapangan: Studi Pendampingan Emosional dan Sosial Anak Asuh di Panti Al Marhamah Maharani, Nadya Puan; Triani, Emi; Ritonga, Fajar Utama
Nanggroe: Jurnal Pengabdian Cendikia Vol 4, No 3 (2025): Volume 4, Issue 3 2025
Publisher : Yayasan Daarul Huda Kruengmane

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.15656707

Abstract

This community service activity aims to improve the quality of life of children at Al Marhamah Orphanage in Medan through social mentoring and capacity building in emotional and social development. The intervention employs a casework approach focused on addressing the emotional and social needs of the orphaned children, particularly a child with initials (A) who faces difficulties in social interaction. The process includes stages of engagement, assessment, intervention planning, implementation, evaluation, and termination. Through methods such as role-playing and motivational storytelling, (A) demonstrated increased confidence and improved communication skills over a three-week intervention period. Additionally, the activity strengthened communication and empathy between the mentor and the ward. It is hoped that this activity can serve as a model for human-centered and holistic social intervention efforts to empower orphaned children and contribute to social welfare development in Indonesia. This experience also enhanced the students' practical skills during fieldwork, fostering greater social awareness regarding the needs of underprivileged children.  
Implementasi Ilmu Kesejahteraan Sosial dalam Praktik Lapangan: Studi Pendampingan Emosional dan Sosial Anak Asuh di Panti Al Marhamah Maharani, Nadya Puan; Triani, Emi; Ritonga, Fajar Utama
Nanggroe: Jurnal Pengabdian Cendikia Vol 4, No 3 (2025): Volume 4, Issue 3 2025
Publisher : Yayasan Daarul Huda Kruengmane

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.15656707

Abstract

This community service activity aims to improve the quality of life of children at Al Marhamah Orphanage in Medan through social mentoring and capacity building in emotional and social development. The intervention employs a casework approach focused on addressing the emotional and social needs of the orphaned children, particularly a child with initials (A) who faces difficulties in social interaction. The process includes stages of engagement, assessment, intervention planning, implementation, evaluation, and termination. Through methods such as role-playing and motivational storytelling, (A) demonstrated increased confidence and improved communication skills over a three-week intervention period. Additionally, the activity strengthened communication and empathy between the mentor and the ward. It is hoped that this activity can serve as a model for human-centered and holistic social intervention efforts to empower orphaned children and contribute to social welfare development in Indonesia. This experience also enhanced the students' practical skills during fieldwork, fostering greater social awareness regarding the needs of underprivileged children.  
PERBANDINGAN PROTEKSIONISME INDUSTRI DOMESTIK: ANALISIS INSTITUSIONALISME DI INDONESIA DAN CHINA Maharani, Nadya Puan; Ibrahim, Adhansya; Adzkia, Bunga; Nurhaliza, Rahma; Afifah, Dian Fitriani
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran Vol. 8 No. 2 (2025): Volume 8 No. 2 Tahun 2025
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jrpp.v8i2.47377

Abstract

Perdagangan internasional menjadi bagian penting dalam perkembangan ekonomi global, namun ketegangan perdagangan mendorong negara berkembang seperti Indonesia dan China menerapkan proteksionisme untuk melindungi industri domestik. Proteksionisme ini mencakup tarif, subsidi, dan kuota sebagaimana kerangka intentional protectionism yang dikemukakan oleh Philip L. Levy. Jika melihat Trade Barrier Index 2025, kedua negara menunjukkan tingkat proteksi yang tinggi. Artikel ini membandingkan kebijakan proteksionisme Indonesia dan China dengan pendekatan institusionalisme yang mempertimbangkan struktur kelembagaan, budaya birokrasi, dan peran aktor dominan. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan studi kepustakaan sebagai sumber utama data. Hasil perbandingan menunjukkan bahwa China menerapkan kebijakan proteksionisme secara terpusat, terkoordinasi, dan strategis melalui lembaga-lembaga utama negara, sementara Indonesia bersifat lebih pluralistik, terfragmentasi, dan cenderung responsif jangka pendek. Dalam aspek tarif, kuota, dan subsidi, China menunjukkan efektivitas dan konsistensi kebijakan yang lebih kuat dibandingkan Indonesia.
MENILIK KAPABILITAS PEMERINTAH DESA PONGGOK DALAM MENCIPTAKAN PERUBAHAN DI DESA PONGGOK KABUPATEN KLATEN TAHUN 2025 Afifah, Dian Fitriani; Suriadi, Bonita Aurelie; Maharani, Nadya Puan; Robbani, Tegar Rizkiansyah; Amanda, Sophia
Responsive: Jurnal Pemikiran Dan Penelitian Administrasi, Sosial, Humaniora Dan Kebijakan Publik Vol 8, No 4 (2025): Responsive: Jurnal Pemikiran Dan Penelitian Administrasi, Sosial, Humaniora Dan
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/responsive.v8i4.69585

Abstract

Desa Ponggok merupakan desa yang pada tahun 2001 masuk dalam kategori desa tertinggal, dan merupakan salah satu desa termiskin di Kabupaten Klaten. Secara bertahap desa ini mampu berubah menjadi desa mandiri dengan Pendapatan Asli Desa (PADes) 10,5 Milyar rupiah per tahun. Untuk memahami dinamika tersebut secara mendalam, penulis dalam artikel ini menggunakan konsep Dynamic Governance khususnya pada dimensi capabilities pada elemen Thinking Ahead, Thingking Again dan Thingking Across (Neo & Chen, 2007). Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, dengan pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka dan studi lapangan berupa observasi langsung ke Desa Ponggok, melalukan wawancara dengan berbagai narasumber baik dari pemerintah desa, BPD, BUMDes, hingga masyarakat desa dan melakukan studi dokumentasi dengan memperhatikan berbagai kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah, pemerintah daerah dan desa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pemerintah Desa berhasil berubah menjadi desa mandiri tidak terlepas dari berbagai upaya yang dilakukan oleh pemerintah desa, dimana pemerintah desa mengaplikasikan tiga pilar utama, yaitu thinking ahead (Berpikir ke depan dalam mengelola potensi air menjadi objek wisata dengan Visi Desa Emas 2035), thinking again (Mengevaluasi kegagalan pola ekonomi sebelumnya, terus memperbaiki pola pengelolaan unit usaha desa), dan thinking across (Mengadaptasi praktik dari daerah lain yang sukses dalam bidang pariwisata lokal, menggandeng akademisi dan ahli dalam pembangunan desa). Dengan melihat tiga unsur dalam kapabilitas dinamika pemerintahan, menunjukkan bahwa pemerintahan desa memiliki kapasitas lebih dari sekadar penyelenggara administrasi yakni sebagai agen perubahan sosial yang mampu mengidentifikasi potensi, menyusun strategi pembangunan, serta menciptakan dampak nyata dalam kehidupan masyarakat. Ponggok Village was categorized as an underdeveloped village in 2001 and was one of the poorest villages in Klaten Regency. Gradually, this village has managed to transform into a self-sufficient village with a Village Original Revenue (PADes) of 10.5 billion rupiahs per year. To understand this dynamic more deeply, the author in this article uses the concept of dynamic governance, particularly focusing on the capabilities dimension in the elements of thinking ahead, thinking again, and thinking across (Neo & Chen, 2007). This study uses a qualitative method, with data collection carried out through literature review and field studies, including direct observation in Ponggok Village, conducting interviews with various resource persons from the village government, Village Consultative Body (BPD), and Village-Owned Enterprises (BUMDes), as well as the villagers, and conducting document studies while taking into account various policies issued by the government, regional authorities, and the village. The research results show that the village government has successfully transformed into an independent village, thanks to various efforts carried out by the village authorities. The village government applied three main pillars: thinking ahead (planning ahead in managing water resources into a tourist attraction with the Golden Village Vision 2035), thinking again (evaluating the failures of previous economic models and continuously improving the management patterns of village business units), and thinking across (adapting practices from other regions that have succeeded in local tourism and collaborating with academics and experts in village development). By examining the three elements of governance dynamic capabilities, it shows that the village administration has capacities beyond mere administrative management—acting as a social change agent capable of identifying potential, developing development strategies, and creating tangible impacts on the lives of the community.