Wahyuni, Titin
Medical Record And Health Information Program Study Of STIKES Yayasan RS Dr. Soetomo

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Optimalisasi Program Continuing Professional Development (CPD) Untuk Mendukung Peningkatan Kompetensi dan Karir Perawat RSI Surabaya Muhadi Muhadi; Titin Wahyuni
Jurnal Keperawatan Muhammadiyah Vol 5, No 2 (2020): JURNAL KEPERAWATAN MUHAMMADIYAH
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/jkm.v5i2.6118

Abstract

Nurses are an integral part of patient care and play an important role in improving the quality of care in the hospital. Nurses have a responsibility to ensure patient safety with reliable and guaranteed competence. Nurse competence must be maintained through continuous professional development. The purpose of this study was to map the level of participation, driving and inhibiting factors for the implementation of the Continuing Professional Development (CPD) program. This study used a cross-sectional study design with a quantitative descriptive approach. The study population was all RSI nurses with a total sample of 104 survey participants with purposive sampling technique. Data were collected using an online questionnaire through the google form application from June to September 2020. Data analysis was carried out through SPPS 17 and presented in descriptive and tabulated narrative. The results of the study were the level of participation of nurses at the Surabaya Islamic Hospital in carrying out CPD activities which were divided into 3 categories, namely high, medium and low participation. A total of (17.3%) belonged to the low level of participation, (69.2%) the level of participation was medium and (13.5%) was classified as high. Some of the nurses in this survey reported reaching structural and clinical positions of nurses quickly through the skills, approaches and recommendations of managers. Short-term development plans are a priority for nurses' thinking in improving (CPD), namely the continuous fulfillment of complete nursing care practices and increasing the clinical career level. The long-term development plan for nurses is that some want to continue educational programs at a higher level such as specialized education and master's degree in nursing.
FAKTOR PENYEBAB KETIDAKTEPATA N KODE DIAGNOSIS DI PUSKESMAS MOJOLABAN SUKOHARJO JAWA TENGAH Titin Wahyuni; Anif Parasetorini
Jurnal Manajemen Informasi Kesehatan Indonesia (JMIKI) Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Asosiasi Perguruan Tinggi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Indonesia- APTIRMIKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33560/.v3i1.71

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor penyebab ketidaktepatan kode diagnosis di PuskesmasMojolaban Sukoharjo Jawa Tengah. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Teknik pengambilan datayang digunakan adalah wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian ini adalah faktor-faktoryang menyebabkan ketidaktepatan pengkodean diagnosis adalah unsur man,machine, dan method. Unsur manterkait dengan kegiatan klasifikasi dan kodefikasi penyakit yang dilakukan oleh profesi yang tidak memilikikompetensi coder dan dalam meng-entry-kan kode diagnosis dilakukan secara fleksibel. Unsur machine terkaitdengan kurang lengkapnya kode yang tersedia dan istilah yang digunakan dalam database SIMPUS belumsesuai dengan atau istilah medis, kemampuan mengkonversi kode ICD-10 dan ICPC secara otomatis denganhanya sekali meng-entry-kan diagnosis yang belum dimiliki oleh SIMPUS. Unsur method terkait dengan carapenentuan kode yang hanya mengacu pada daftar tabulasi penyakit yang sering terjadi dan belum dibuat SOPterkait pengkodean diagnosis.Kata kunci: faktor,ketidaktepatan, kode diagnosis, puskesmas, ICD-10, ICPC.
KELENGKAPAN PENDOKUMENTASIAN SERTIFIKAT MEDIS PENYEBAB KEMATIAN DAN AKURASI PENYEBAB DASAR KEMATIAN titin wahyuni; Dyah Rachmadhani
Jurnal Manajemen Informasi Kesehatan Indonesia (JMIKI) Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Asosiasi Perguruan Tinggi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Indonesia- APTIRMIKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33560/.v6i1.184

Abstract

Medical certification of cause of death (MCCD) is being issued on every death insident in every hospital of Indonesia. MCCD consists of two part; part 1 would record with those conditions in the causal link that leading to death and part 2 would fill with other condition that significant in contributing to death. Leading cause of death are defined as Underlying Cause of  Death  (UCoD). The quality of it may varies considering to a medically qualified doctor who record it. This study aims to determine the completeness of MCCD and the accuracy of UCoD. The research design used was non experimental with retrospective approach. The sample in this study is Medical certification of cause of death in January to April 2017; 106. Large MCCD classified as incomplete that is equal to 45,28% and from 55,17% categorized not accurate. The conclusion of this research is that the incomplete SMPK will not apply.
Metode HOT FIT Untuk Mengukur Tingkat Kesiapan SIMRS Dalam Mendukung Implementasi E-Health Titin Wahyuni; Anif Parasetorini
Jurnal Manajemen Informasi Kesehatan Indonesia (JMIKI) Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : Asosiasi Perguruan Tinggi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Indonesia- APTIRMIKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33560/jmiki.v7i1.217

Abstract

E-Health merupakan bagian dari e-governance pemerintah kota Surabaya dan diterapkan kepada dua RS yang menjadi pilot project, salah satunya RSUD Soewandhie, yang bertujuan untuk menghemat waktu antrian pada instalasi rawat jalan melalui pemanfaatan teknologi informasi. Terobosan melalui E-Health ini diharapkan dapat memudahkan pasien untuk mendaftarkan diri dari rumah melalui website. Penerapan system ini memerlukan dukungan SIM RS yang mudah untuk diakses oleh petugas pendaftaran dan bagi petugas filing memudahkan untuk mencari rekam medis pasien melalui perintah pencarian dan histori pasien di SIM RS. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kesiapan SIM RS dalam penerapan aplikasi e-health dengan menggunakan model HOT Fit. Metode Hot Fit memiliki beberapa variable yaitu : human, organization, technology dan net benefit (manfaat). Populasi pada penelitian ini adalah semua petugas pendaftaran dan petugas filling RSUD dr. M. Soewandhi yang diambil secara total sampling. Variabel yang diteliti adalah unsur-unsur dari model HOT Fit. Data hasil penyebaran kuisioner dianalisis menggunakan statistik deskriptif. Hasil penelitian adalah  Organisasi merupakan faktor yang harus segera diperbaiki karena memiliki penilaian tidak baik sebesar 10%, cukup baik 70% dan sangat baik sebesar 20%. Faktor teknologi dinilai cukup baik sebesar 85% dan sangat baik sebesar 15%. Faktor human menunjukkan dalam keadaan 5% berada dalam keadaan tidak baik sedangkan 30% berada dalam keadaan cukup baik dan 65% berada dalam keadaan sangat baik. Manfaat (net benefit) dapat dikatakan berada dalam keadaan cukup bermanfaat sampai dengan sangat bermanfaat, yaitu berkisar 20-80%. Hal ini dapat dikatakan manfaat SIMRS berada pada level dirasakan oleh pengguna. Kesimpulan adalah Kekuatan faktor HOT-FIT SIMRS di Rumah Sakit Dr. Soewandhie ini terletak pada faktor manfaat dan teknologi dan kelemahannya adalah pada faktor organisasi
OPTIMALISASI LITERASI KESEHATAN DIGITAL REMAJA MELALUI PELATIHAN VERIFIKASI INFORMASI KESEHATAN Diah Wijayanti Sutha; Alfina Aisatus Saadah; Lilis Masyfufah; Eka Wilda Faida; Titin Wahyuni; Serlly Frida Drastyana
JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT Vol. 6 No. 2 (2026): Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : LPPM Universitas Kahuripan Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51158/8khq1p35

Abstract

Perkembangan media digital meningkatkan akses remaja terhadap informasi kesehatan, namun juga memperbesar risiko paparan hoaks kesehatan melalui media sosial. Rendahnya literasi kesehatan digital menyebabkan remaja rentan mempercayai dan menyebarkan informasi kesehatan yang tidak valid. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan kemampuan remaja dalam memverifikasi informasi kesehatan digital melalui pelatihan berbasis praktik. Kegiatan dilaksanakan pada siswa kelas XI dan XII di salah satu SMA Kota Malang dengan melibatkan 29 peserta. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan edukatif partisipatif melalui edukasi interaktif, simulasi kasus hoaks kesehatan, praktik verifikasi informasi menggunakan sumber resmi, diskusi kelompok, dan mini-proyek pembuatan media edukasi digital. Evaluasi dilakukan menggunakan pre-test, post-test, dan kuesioner kepuasan peserta. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan rata-rata nilai peserta dari 56,3 menjadi 90,1 setelah intervensi, dengan seluruh peserta (100%) mencapai nilai di atas standar ketuntasan. Peserta juga menunjukkan peningkatan kemampuan dalam mengidentifikasi sumber informasi terpercaya dan melakukan verifikasi informasi kesehatan digital. Kegiatan ini menunjukkan bahwa pelatihan berbasis praktik verifikasi informasi efektif dalam meningkatkan literasi kesehatan digital remaja serta berpotensi menjadi model edukasi preventif terhadap penyebaran hoaks kesehatan di lingkungan sekolah.   Abstract  The development of digital media has increased access to health information among adolescents, but on the other hand, it has also increased the risk of spreading health hoaxes through social media. Low digital health literacy skills make adolescents vulnerable to receiving and spreading invalid health information. This community service activity aims to improve adolescents' ability to filter and verify health information through digital health literacy training. The activity was held at School in Malang involving 29 students in grades 11 and 12. The implementation method used a participatory educational approach through interactive counseling, case simulations, health information verification practices, group discussions, and mini-projects on creating digital educational media. The activity was evaluated using pre- and post-tests, as well as a participant satisfaction questionnaire. The results showed an increase in the average participant score from 56.3 in the pre-test to 90.1 in the post-test. All participants (100%) achieved scores above the completion standard after the activity. The satisfaction evaluation also indicated that participants found the activity beneficial and helped improve their critical thinking skills regarding health information on social media. Health information verification training has proven effective in improving adolescents' digital health literacy and can be an educational strategy to prevent the spread of health hoaxes in schools.