Claim Missing Document
Check
Articles

Strategi Transliterasi pada Serat Ngelmu Bumi Asia untuk Mengoptimalkan Kemahiran Membaca Aksara Jawa Wening Pawestri; Elis Suryani Nani Sumarlina; Ahmad Undang Darsa; Bani Sudardi
Jurnal Humanitas: Katalisator Perubahan dan Inovator Pendidikan Vol 11 No 2 (2025): Juni
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/jhm.v11i2.29942

Abstract

Javanese language lessons have been implemented in schools since elementary school. The decline in the interest and ability of the younger generation in reading Javanese script is a major challenge in preserving the cultural heritage of Indonesian literacy. This study aims to examine the transliteration strategy of the Serat Ngelmu Bumi Asia text as a pedagogical effort to optimize Javanese script reading skills in educational environments. Therefore, a study was conducted on grade X students of SMK Kita Bojonegoro to optimize Javanese script reading skills. The study was conducted using sources from ancient manuscripts and utilizing learning media to achieve optimal results. The method used in this study was a classroom action trial divided into two stages consisting of planning, action, observation/interpretation, and reflection. The results showed a significant increase in student abilities after the implementation of the transliteration strategy using learning media, with an average score increasing from the pre-cycle to the second cycle. Students who initially had difficulty reading Javanese script showed good progress, achieving higher mastery.
Education and Character Development in the Sundanese Manuscript Texts Pupujian and Nadoman in the Millennial Era Elis Suryani Nani Sumarlina; Rangga Saptya Mohamad Permana; Undang Ahmad Darsa
Jurnal IKADBUDI Vol. 14 No. 2 (Special Issue) (2025): Jurnal Ikadbudi : Jurnal Ilmiah Bahasa, Sastra, dan Budaya Dae
Publisher : Fakultas Bahasa Seni dan Budaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ikadbudi.v14i2.90487

Abstract

Collecting, describing, transliterating, editing, and studying the Pupujian texts derived from Sundanese manuscripts, codified at Islamic boarding schools, is a challenging endeavor. The contents are religious/Islamic, representing cultural assets derived from the ingenuity of Sundanese forebears, whose presence in the contemporary millennial era is hardly acknowledged in madrasas, mosques, prayer rooms, or Islamic boarding schools. If neglected and unpreserved, it will be lost to history. The examination of Character Education in Sundanese manuscript texts is conducted from a literary and cultural standpoint, focusing on the elements that shape the character of the nation's youth, encompassing discipline, responsibility, heroism, faith, Islamic teachings, prophetic history, Islamology, and the relationships between humans and God, among humans, and with the environment. Utilized descriptive comparative analysis, philological methodologies, codicology, textology, and hermeneutic studies of literary and cultural works to serve as a literacy reference for other disciplines in the contemporary millennial age. The Pupujian manuscript is intricately connected to the 'yellow book,' which is significantly linked to the development of the nation's character and identity.
RINEKASASTRA MAJAS DALAM TEKS NASKAH MANTRA SUNDA: RINEKASASTRA MAJAS DALAM TEKS NASKAH MANTRA SUNDA Elis Suryani Nani Sumarlina; Rangga Saptya Mohamad Permana; Undang Ahmad Darsa
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Vol 5 No 3 (2023): Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH), Oktober, 2023
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/jkbh.v5i3.177

Abstract

Unsur majas dalam sebuah teks puisi tidak dapat dilepaskan dari kajian linguistik dan stuktur karya sastra. Demikian pula dalam teks mantra yang memiliki fungsi sangat penting, dalam upaya menunjang kepuitisan teks mantra itu sendiri, di samping unsur rima, irama, diksi, dan citraan. Melalui majas itulah teks mantra mampu menarik perhatian pembaca, membuat lebih hidup, serta dapat menimbulkan kesegaran, terutama dalam upaya menimbulkan kejelasan gambaran angan. Unsur Majas dalam teks naskah mantra Sunda mengiaskan atau mempersamakan sesuatu hal dengan hal lain agar gambaran menjadi jelas, lebih menarik, dan lebih hidup. Yang dimaksud majas dalam teks mantra Sunda adalah kiasan kata untuk menghidupkan lukisan maupun perasaan yang akan diungkapkan lebih nyata, tergambarkan lebih jelas, lebih terasa, dan lebih ekspresif. Bahasa yang digunakan dalam majas lebih menonjol, melalui kata-kata yang susunan dan artinya sengaja disimpangkan dari susunan dan artinya yang biasa, menjadi luar biasa, untuk mendapatkan kesegaran dan kekuatan makna serta ekspresi dengan cara memanfaatkan perbandingan, pertentangan, dan pertautan hal yang satu dengan hal lainnya yang ada dalam sebuah teks mantra. Menggunakan metode penelitian deskriptif analisis, melalui metode kajian struktur puisi mantra dan maknanya, sehingga majas yang terdapat dalam teks mantra Sunda, yang meliputi majas perbandingan, majas pertentangan, dan majas pertautan dapat ditelusuri melalui rinekasastra-nya ‘upaya memperhalus perkataan (cerita) agar lebih indah’, karena bahasa itu dianggap hanya sekadar ‘bahan’, keindahan dan kehalusan bahasa menjelma setelah mengalami pengolahan (digubah oleh pengarang).
RAJA-RAJA SUNDA PERIODE KERAJAAN PAJAJARAN BERDASARKAN TRADISI TULIS SUNDA KUNO: RAJA-RAJA SUNDA PERIODE KERAJAAN PAJAJARAN BERDASARKAN TRADISI TULIS SUNDA KUNO Undang Ahmad Darsa; Elis Suryani Nani Sumarlina; Rangga Saptya Mohamad Permana
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Vol 5 No 3 (2023): Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH), Oktober, 2023
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/jkbh.v5i3.185

Abstract

Sumber data penelitian ini berdasarkan tradisi tulisan Sunda kuno berupa naskah daun lontar pada Kropak 406 yang berjudul Carita Parahyangan dan Fragmen Carita Parahyangan. Perbandingannya dilakukan dengan menggunakan teks piagam pelat tembaga Kebantenan dan prasasti Batutulis Bogor. Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk mengkaji bukti-bukti tertulis yang menggambarkan kondisi kehidupan para Raja Sunda pasca berdirinya Kerajaan Pajajaran, serta mengungkap latar belakang kondisi sosial yang menyebabkan kronologis berakhirnya pemerintahan kerajaan di wilayah Sunda. Untuk mencapai tujuan tersebut maka diambil pendekatan teori filologi karena berkaitan dengan proses pengkajian sumber tradisi tertulis, disertai dengan upaya penafsiran isi teks pada sumber data tersebut dengan menggunakan pendekatan hermeneutika. Metode penelitian kualitatif diterapkan untuk memahami fakta di balik realitas yang dapat diamati atau dirasakan secara langsung. Hasilnya menunjukkan bahwa Kerajaan Sunda lebih dikenal dengan sebutan “Kerajaan Pajajaran” yang berlangsung selama kurun waktu 97 tahun (1482-1579 M). Kerajaan ini diperintah oleh 6 raja: (1) Maharaja Sri Baduga yang menjadi Maharaja Sunda pertama dan Galuh atau Maharaja Pajajaran yang berkuasa selama 39 tahun; (2) Prabu Surawisesa yang bertahta sebagai Maharaja Pajajaran selama 14 tahun; (3) Prabu Ratudewata yang memerintah sebagai Maharaja Pajajaran selama 8 tahun; (4) Sang Prabhusakti yang menyandang gelar Maharaja Pajajaran selama 8 tahun; (5) Prabu Nilakendra yang menjadi Raja Pajajaran; dan (6) Prabu Ragamulya yang merupakan Raja Pajajaran terakhir yang memerintah selama 16 tahun. Pada tahun 1579 M, Kerajaan Pajajaran lenyap dan melebur menjadi Kesultanan Banten dan Cirebon.
MANUSKRIP WAWACAN PANJI WULUNG KRITIK TEKS DAN KAJIAN HERMENEUTIK KARYA SASTRA: MANUSKRIP WAWACAN PANJI WULUNG KRITIK TEKS DAN KAJIAN HERMENEUTIK KARYA SASTRA Elis Suryani Nani Sumarlina; Rangga Saptya Mohamad Permana; Undang Ahmad Darsa
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Vol 6 No 1 (2024): Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH), Februari, 2024
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/jkbh.v6i1.213

Abstract

Tulisan ini mengambil objek kajian manuskrip berjudul Wawacan Panji Wulung, karya H. Muhamad Musa, salinan tahun 1862. Manuskrip tersebut diyakini satu-satunya karya sastra Sunda berujud manuskrip, yang disalin ke dalam teks manuskrip Jawa. Manuskrip Wawacan Panji Wulung (WPW) berdasarkan hasil penelitian Sumarlina (1990), teridentifikasi sebanyak delapan buah, terdiri atas dua buah teks naskah dalam bentuk tulisan tangan (manuskrip) dan enam buah teks naskah cetakan. Namun dalam tulisan ini secara khusus hanya melibatkan tiga buah manuskrip. Teks-teks naskah WPW dimaksud menggunakan huruf Cacarakan dan huruf Latin, berbahasa Sunda dan Belanda. Kedelapan manuskrip itu teksnya tidak ada yang utuh. Melalui garapan filologis, baik kodikologis maupun tekstologis, akhirnya dapat ditentukan tiga buah teks naskah WPW yang lebih banyak digunakan dalam rangka menyusun sebuah Edisi Teks Wawacan Panji Wulung yang lengkap dan bebas dari kesalahan, agar dapat lebih mudah dibaca dan dipahami oleh masyarakat pada saat ini, sehingga akhirnya bisa dipertanggungjawabkan dan dipandang mendekati teks aslinya. Metode penelitian menggunakan deskriptif analisis komparatif. Penggarapan teks didasarkan kepada metode landasan dan metode gabungan. Untuk teks WPW melibatkan pendekatan filologi dan hermeneutik. Kecacatan WPW ini disebabkan oleh gejala salah tulis di dalam tradisi penurunan sepanjang sejarah perkembangannya, meliputi penggantian (substitutions), penghilangan (omissions), penambahan (additions), dan perubahan (transpositions). Edisi Teks WPW yang digubah dalam bentuk wawacan, meliputi sebanyak 28 pupuh yang terdiri atas 1018 pada. Manuskrip WPW termasuk ke dalam salah satu khazanah susastra Sunda yang memiliki nilai tinggi, bila dibandingkan dengan karya-karya sastra lainnya yang sejaman. Hal ini tampak dari hasil tinjauan dari sudut pandang karya sastra, meskipun tinjauan yang dilakukan belum menyeluruh dan mendalam. Tinjauan dari aspek sastra pada dasarnya hanyalah sebagai pembuka jalan bagi penelitian selanjutnya dan dapat dijadikan sebagai referensi literasi bagi ilmu lain.
IMPLEMENTASI & PEMANFAATAN TANAMAN OBAT KELUARGA (TOGA) KANEKES BADUY BERBASIS MANUSKRIP TATAMBA: IMPLEMENTASI & PEMANFAATAN TANAMAN OBAT KELUARGA (TOGA) KANEKES BADUY BERBASIS MANUSKRIP TATAMBA Elis Suryani Nani Sumarlina; Undang Ahmad Darsa; Wina Erwina
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Vol 6 No 2 (2024): Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH), Juni 2024
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/jkbh.v6i2.236

Abstract

Di era milenial yang serba modern ini, kearifan lokal budaya tinggalan karuhun orang Sunda yang terpendam dalam manuskrip, selayaknya digali, dikaji, dan dikembangkan secara berkesinambungan. Sebagai dokumen budaya, manuskrip memberikan informasi beragam pengetahuan yang masih relevan untuk diimplementasikan dan dimanfaatkan saat ini. Salah satunya teks manuskrip Tatamba, yang berisi seluk beluk Tanaman Obat Keluarga (TOGA) dan pengobatan tradisional, yang masih diimplementasikan terutama di masyarakat adat Kanekes Baduy, yang pada saat Pandemi Covid-19 hampir tidak ada yang terkena wabah tersebut. Hal ini dimungkinkan, karena mereka memanfaatkan TOGA dalam kesehariannya. Tanaman obat keluarga merupakan tanaman hasil budidaya yang berkhasiat sebagai obat, yang bisa ditanam di pekarangan rumah, kebun atau ladang, yang terdiri atas enam kelompok, yakni tanaman liar, umbi-umbian, tanaman pagar hidup, tanaman hias merambat, tanaman hias perdu, dan tanaman pohon peneduh. TOGA yang ditemukan di masyarakat adat Baduy dideskripsi, diinventarisasi, dibandingkan dengan Teks Naskah Tatamba melalui metode deskriptif analisis komparatif, melibatkan metode kajian kualitatif, melalui kajian filologis, yang meliputi kajian kodikologis dan tekstologis, serta kajian budaya secara umum secara multidisiplin. Hasil yang dicapai, selain terkumpulnya berbagai jenis TOGA, yang berguna bagi masyarakat, juga agar masyarakat dapat memanfaatkan TOGA lebih efektif dalam mengobati berbagai penyakit, melalui jenis, fungsi, dosis, cara pengolahan, dan tindak pengobatan yang benar.
KABUYUTAN DALAM TRADISI SUNDA: KABUYUTAN DALAM TRADISI SUNDA Undang Ahmad Darsa; Rangga Saptya Permana; Elis Suryani Nani Sumarlina
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Vol 6 No 2 (2024): Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH), Juni 2024
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/jkbh.v6i2.244

Abstract

Artikel ini berjudul Kabuyutan dalam Tradisi Sunda. Sumber data kajiannya didasarkan pada tradisi tulis Sunda Kuno berupa naskah lontar, piagam lempengan logam, maupun prasasti. Adapun tujuannya penulisan artikel adalah menelusuri bukti jejak-jejak tempat aktivitas keagamaan berupa kabuyutan yang terpantulkan dalam lingkungan tradisi masyarakat Sunda Kuno pada zamannya. Untuk mewujudkan tujuan tersebut ditempuh melaui pendekatan filologi karena berkaitan dengan proses kajian sumber tradisi tulis dalam upaya peafsiran data yang terkandung di dalamnya. Metode penelitian kualitatif diterapkan dalam upaya memahami fakta di balik kenyataan yang dapat diamati atau diindera secara langsung.Hasilnya diperoleh bukti, pertama, kabuyutan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Sunda sudah sangat akrab, baik di telinga maupun di hati. Istilah kabuyutan ini adalah kosa kata asli Sunda dari kata dasar buyut (artinya: 1. generasi ke-4 dari ego: anak-indung/bapa-nini/aki-buyut; 2. pamali ‘tabu, bertuah, suci’) ditambah konfiks ka-an menunjukkan tempat atau lokasi. Jadi, kabuyutan secara generik mengandung arti suatu lokasi yang oleh masyarakat setempat dianggap mempunyai kesaktian, bertuah, angker, suci, atau sebuah tempat keramat. Istilah keramat itu sendiri berasal dari kosa kata bahasa Arab: karamah yang mengadung makna ‘mulia’. Kedua, menurut catatan yang tertuang dalam teks-teks tradisi tulis Sunda Kuno, artinya sejauh hal itu terdapat dalam berbagai sumber data, tempat yang dianggap keramat dan suci yang dinamakan kabuyutan itu dapat diduga ada yang dengan sengaja didirikan atau dibangun langsung pada masanya. Akan tetapi, tidak jarang masyaarakat itu cukup menata dan hanya memanfaatkan apa yang sudah disediakan alam di lingkungan tempat tinggalnya. Apabila sebuah tempat sudah dianggap sebagai kabuyutan, apakah di situ ada benda cagar budaya atau tidak, bukan menjadi sesuatu perdebatan yang utama. Bagi masyarakat sekitarnya, lokasi-lokasi semacam itu adalah tempat suci dan keramat sehingga hampir tidak ada yang berani bertindak gegabah di situ.
MENELUSURI EKSISTENSI DAN FUNGSI TEKNOLOGI TRADISIONAL MASYARAKAT ADAT KAMPUNG NAGA Elis Suryani Nani Sumarlina; Rangga Saptya Mohamad Permana; Wina Erwina
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Vol 6 No 3 (2024): Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH), Oktober, 2024
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/jkbh.v6i3.263

Abstract

Perkembangan teknologi di era milenial saat ini memang tidak bisa kita hindari. Namun sebagai generasi muda, kita dituntut agar pandai memilih dan memilah serta mencerna budaya asing yang masuk, mana yang baik, dan mana yang tidak baik untuk diterima. Khususnya kearifan lokal yang berkaitan dengan teknologi serta seluk-beluknya, yang harus tetap dirawat dan dilestarikan, bahkan kalau bisa dikembangkan tanpa menghilangkan keasliannya. Teknologi yang canggih memacu kita menuju kebudayaan industri. Tetapi, dari sekian banyak suku bangsa di Indonesia, masih terdapat beberapa suku bangsa yang tetap bersikukuh mempertahankan budaya tradisional dan adat istiadat, serta tradisinya. Salah satunya masyarakat adat Kampung Naga, yang tinggal di Desa Neglasari Kecamatan Salawu Kabupaten Tasikmalaya Provinsi Jawa Barat. Teknologi tradisional yang masih tersimpan dan digunakan oleh masyarakat adat Kampung Naga ditelusuri dan dikaji melalui metode penelitian deskriptif analisis, serta metode kajian hermeneutik, sosiologis, antropologis, dan kajian budaya. Diharapkan mampu mengungkap beragam teknologi tradisional yang ada di Kampung Naga dari berbagai alat, fungsi, dan makna yang terkandung di dalamnya, sesuai dengan adat dan tradisinya.
PERAN, FUNGSI, DAN KAUSALITAS MANUSKIP MANTRA DI ERA GENERASI Z Elis Suryani Nani Sumarlina; Rangga Saptya Mohamad Permana
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Vol 7 No 1 (2025): Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH), Februari, 2025
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/jkbh.v7i1.299

Abstract

Cukup menarik memang, apabila tinggalan budaya nenek moyang masa lampau digali, diungkap, diteliti, bahkan dikaji terkait kearifan lokal budaya Sunda yang terpendam dalam manuskrip mantra. Mengapa manuskrip, khususnya manuskrip mantra dianggap penting untuk dikaji? Karena sebagai dokumen budaya isinya berguna bagi perkembangan peradaban suatu masyarakat. Hal ini dimengerti, karena eksistensinya masih dapat diimplementasikan di era generasi Z saat ini. Dari dulu mantra dipercayai memiliki kekuatan gaib, sehingga masyarakat pengamal mantra sangat bergantung terhadapnya. Pandangan masyarakat terhadap mantra, memunculkan beraneka ragam persepsi. Peran, fungsi, dan kausalitas manuskrip mantra secara garis besar digunakan sebagai perlindungan, kekuatan, dan pengobatan. Secara sepintas, karena keterbatasan kemampuan manusia, mantra merupakan keuntungan bagi masyarakat pengamalnya sesuai dengan peran, fungsi, dan kausalitasnya. Kedudukan manuskrip mantra dari dulu sampai sekarang, dalam tulisan ini berupaya diungkap, sehingga didapatkan bagaimana seluk beluk, peran, fungsi, dan kausalitasnya di masyarakat, khususnya di era generasi Z. Tulisan ini termasuk ke dalam penelitian kualitatif, dikaji menggunakan metode penelitian deskriptif analisis, melalui metode pendekatan dan kajian hermeneutik, yang tidak terlepas dari kajian filologi, baik secara kodikologis maupun tekstologis, sosiologis sastra, serta kajian budaya. Diharapkan tulisan ini bermanfaat sebagai referensi literasi bagi ilmu lain secara multidisiplin.
UPAYA PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN STUNTING DALAM MANUSKRIP SUNDA KUNO ABAD XVI M. Elis Suryani Nani Sumarlina; Rangga Saptya Mohamad Permana; Undang Ahmad Darsa
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Vol 7 No 3 (2025): Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH), Oktober, 2025
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/jkbh.v7i3.381

Abstract

Manuskrip yang lebih dikenal dengan istilah naskah, di era Generasi Z saat ini masih eksis dan sangat dibutuhkan. Itu sebabnya, manuskrip perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah. Banyak teks naskah Sunda Kuno Abad XVI Masehi tersebut yang belum terungkap isinya, terutama yang terkait dengan antistunting. Hal ini dimaklumi, karena para pegiat naskah Sunda kuno terkendala dengan penguasaan aksara, bahasa, dan kandungan isinya. Padahal berdasarkan informasi dari katalog, museum, perpustakaan, pasulukan, maupun tempat penyimpanan naskah lainnya, ada puluhan manuskrip Sunda kuno yang ditengarai mengungkap seluk beluk cara pencegahan, perawatan, dan pemeliharaan janin sejak dalam kandungan Ibu hamil hingga remaja, dengan memanfaatkan tanaman obat tradisional, yang mampu mencegah gagal tumbuh kembangnya bayi. (stunting). Jika isi hasil penelitian dan pengkajian antistunting tersebut tidak segera disosialisasikan dan diinformasikan, maka akan menghambat pertumbuhan dan perkembangan para Gen Z ke depannya. Manuskrip Antistuting mengungkap beragam jenis, fungsi, dosis, cara pengolahan, dan tindak pengobatan. Tulisan ini menggunakan metode penelitian kualitatif, melalui metode penelitian deskriptif analisis komparatif. Adapun metode kajiannya melibatkan metode kajian filologis, baik secara kodikologis maupun tekstologis, hermeneutik, sosiologi, leksikografis, serta kajian budaya secara umum. Tulisan ini diharapkan mampu mengungkap upaya pencegahan dan penanggulangan stunting berbasis manuskrip Sunda Kuno yang terungkap dalam tanaman obat tradisional. Hasil tulisan ini diharapkan mampu menjadi referensi literasi yang bermanfaat bagi ilmu lain secara multidisiplin.