Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

SIRKULASI KITAB AL-TUHFAH AL-MURSALAH ILA RUH AL-NABI: Studi Translokalitas dan Dampaknya terhadap Masyarakat Muslim Aceh Daud Lintang; Siregar, Kombang Tua; Alamsyah, Randy Putra
Hayula: Jurnal Indonesia Studi Islam Multi-disiplin Vol 9 No 1 (2025): Hayula: Indonesian Journal of Multidisciplinary Islamic Studies
Publisher : Laboratorium Prodi Pendidikan Agama Islam UNJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/hayula.009.01.05

Abstract

This article examines the circulation, transnationality, and contribution of Tuhfah al-Mursalah in Aceh, which played a significant role in the development of Sufism and the Islamization of Indonesia in the 17th century. This research adopts a descriptive-analytical library research method with a qualitative approach. This approach was chosen to explore the dissemination and contribution of Tuhfah al-Mursalah to the advancement of Muslims and intellectual and spiritual development in Indonesia. Indirectly, this research also uses a historical study approach. The findings in this study indicate that the teachings of the seven grades of being (martabat tujuh) have been known by Syamsuddin al-Sumtrani and the Acehnese since the year 1601. Historical indications show that the work has played a significant role in shaping the tradition of Sufism in the archipelago. The process of adaptation and contextualization of Tuhfah al-Mursalah in Aceh shows complex translocal dynamics. The existence of Sufism teachings simultaneously contributed to the emergence of local traditions, such as “adat bak po teumeureuhom, hukom bak syiah kuala” showing the relationship between adat and sharia law. This phrase shows how the Acehnese were able to combine local traditions with the Islamic faith, so that adat and Islamic law were considered as two sides of the same coin, rather than two different things. This process involved linguistic and cultural translation, in which the ideas of the book were adapted to local understandings and contexts. Acehnese scholars also reinterpreted its contents using terms and analogies relevant to local traditions and culture. The presence and teachings of the book also drew comments and criticism from several scholars. Nuruddin ar-Raniri was the most vocal critic of the book's teachings. He considered the teachings of Martabat Tujuh al-Sumatrani as heretical and heterodox.
Pemahaman Shifatul Huruf Rangkuti, Intan Nabila; Ramadhina, Sri Ratu; Alamsyah, Randy Putra; Abbas, Mardhiah; Ritonga, Rabiyatul Adawiyah; Ihsan, Muhammad Naufal; Khudri, Syaidil
EDU SOCIETY: JURNAL PENDIDIKAN, ILMU SOSIAL DAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT Vol. 5 No. 3 (2025): Oktober 2025 - Januari 2026
Publisher : Association of Islamic Education Managers (Permapendis) Indonesia, North Sumatra Province

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56832/edu.v5i3.2280

Abstract

Shifatul Huruf sebagai salah satu komponen utama dalam ilmu tajwid yang berfungsi menjaga ketepatan dan keindahan bacaan Al-Qur’an. Shifatul Huruf adalah sifat-sifat yang melekat pada setiap huruf hijaiyah yang berperan membedakan karakter suara antarhuruf, baik dari segi kekuatan, ketebalan, keluarnya udara, maupun cara pengucapannya. Pemahaman sifat huruf menjadi sangat penting karena kesalahan dalam melafalkan huruf dapat menyebabkan perubahan makna ayat Al-Qur’an. Melalui kajian literatur yang bersumber dari buku, jurnal, artikel, serta referensi keilmuan tajwid klasik dan modern, penelitian ini menguraikan definisi, pembagian sifat huruf, contoh penerapan, serta urgensinya dalam pembacaan Al-Qur’an. Hasil kajian menunjukkan bahwa penguasaan sifat huruf tidak hanya membantu pembaca melafalkan huruf secara tepat, tetapi juga meningkatkan kualitas bacaan, mempermudah menghindari kesalahan tajwid, serta menjaga kemurnian lafaz Al-Qur’an sebagaimana diwariskan dari Rasulullah SAW. Dengan demikian, mempelajari Shifatul Huruf merupakan bagian integral dari upaya membangun kemampuan membaca Al-Qur’an secara fasih, benar, dan sesuai tuntunan syariat.
Hukum Mim Sukun Dalam Ilmu Tajwid: Ikhfa Syafawi, Idgham Mimi, Dan Izhar Syafawi Alamsyah, Randy Putra; Abbas, Mardhiah; Nasution, Marwati Febria; Manik, Karizza Az zahra; Azzahra, Fatimah; Al-Aziz, Mahiruddin; Pratama, Indra
EDU SOCIETY: JURNAL PENDIDIKAN, ILMU SOSIAL DAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT Vol. 5 No. 3 (2025): Oktober 2025 - Januari 2026
Publisher : Association of Islamic Education Managers (Permapendis) Indonesia, North Sumatra Province

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56832/edu.v5i3.2307

Abstract

Artikel ini membahas salah satu bagian penting dalam ilmu tajwid, yaitu hukum bacaan Mim Sukun. Tajwid sendiri merupakan ilmu yang mengajarkan bagaimana huruf-huruf dalam Al-Qur’an harus dibaca sesuai dengan aturan yang benar. Dalam ajaran Islam, mempelajari tajwid menjadi hal yang penting karena berhubungan langsung dengan cara menjaga keaslian bacaan ayat-ayat Al-Qur’an. Salah satu huruf yang memiliki ketentuan khusus dalam tajwid adalah huruf mim ketika berada dalam keadaan mati atau tanpa harakat, yang dikenal sebagai Mim Sukun. Mim Sukun dapat muncul di tengah maupun di akhir kata dan biasanya ditandai dengan ketiadaan harakat atau tanda khusus dalam mushaf standar. Hukum Mim Sukun terbagi menjadi tiga macam, yaitu Ikhfa Syafawi, Idgham Mimi, dan Izhar Syafawi. Ketiga aturan ini muncul berdasarkan huruf yang datang sesudah Mim Sukun. Ikhfa Syafawi berlaku ketika Mim Sukun bertemu huruf ba dan dibaca dengan bunyi samar yang disertai dengungan. Idgham Mimi terjadi apabila Mim Sukun diikuti huruf mim, sehingga kedua bunyi huruf tersebut dilebur menjadi satu dengan tambahan dengungan. Sementara itu, Izhar Syafawi berlaku ketika Mim Sukun bertemu huruf selain mim dan ba, dan hukum ini dibaca secara jelas tanpa dengungan. Penelitian ini bertujuan menjelaskan ketiga hukum tersebut dengan bahasa yang mudah dipahami agar para pembelajar Al-Qur’an dapat menerapkannya secara benar. Melalui penjelasan yang runtut dan sederhana, penelitian ini diharapkan dapat membantu meningkatkan pemahaman dasar mengenai tajwid, khususnya pada hukum Mim Sukun.
Kesalahan Umum Pelafalan Makharijul Huruf pada Pembaca Al-Qur'an dan Solusinya Alamsyah, Randy Putra; Abbas, Mardiah; Nasution, Rizky Puji Gunawan; Nasution, M. Fajri; Hasan, Ilham; Aswan, M. Fathi; Firmansyah, Reza; Harahap, M. Rizky
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.6183

Abstract

Proper pronunciation of the hijaiyah letters is an important aspect of reading the Qur'an. Mispronunciation of the letters (makhārijul ḥurūf) is common among Qur'an readers, both beginners and experienced, and can affect the quality of their reading. This study aims to identify the types of mispronunciation, understand the causal factors, and formulate effective remedial strategies for learning the Qur'an. This study used a descriptive qualitative approach with library research. Data were obtained from literature in the form of tajwid textbooks, scientific articles, and relevant previous research. Data analysis techniques were carried out through systematic data reduction, presentation, and drawing conclusions. Source triangulation was used to ensure the validity of the information and strengthen the findings. The results of the study show that errors in pronunciation of makharijul huruf most often occur in the letters halkiyyah, oraliyyah, syafawiyyah, and mad letters, with errors in the form of mixed sounds, inaccurate stress, and unclear articulation. Causative factors include limited understanding of practical recitation, lack of teacher guidance, learning methods that do not emphasize phonetic exercises, incorrect reading habits, and the influence of the mother tongue or regional dialect. Recommended improvement strategies include talaqqi and musyafahah methods, focused letter practice, use of audio-visual media, and regular reading evaluations. It is hoped that this study can become a reference for Al-Qur'an educators and readers to improve the quality of reading according to tajwid rules.