Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

PROSES KONSTRUKSI SCAFFOLDING DALAM PEMODELAN MATEMATIKA Iis Sugiati; Anton Prayitno; Sri Rahayuningsih
EDU-MAT: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 12, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/edumat.v12i1.18283

Abstract

Pemodelan matematika merupakan proses merepresentasikan dan menjelaskan permasalahan pada dunia nyata ke dalam pernyataan matematis. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan proses scaffolding yang dapat diberikan kepada peserta didik guna meningkatkan strategi pembelajaran yang efektif dan fleksibel. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan pemilihan subjek menggunakan teknik Stratified Random Sampling. Subjek terdiri dari 3 peserta didik kelas X masing-masing satu peserta didik berkemampuan matematika tinggi, sedang, dan rendah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketika subjek mengalami kesulitan dalam memahami suatu masalah, bantuan yang diberikan berupa panduan melalui pertanyaan. Jika mereka mengalami kesulitan dalam menghubungkan dengan konsep sebelumnya, bantuan akan berupa arahan untuk membuat tabel dan mereview kembali materi yang sudah dipelajari (Explaining, Reviewing, And Restructuring). Sementara jika subjek menghadapi kesulitan dalam menyusun strategi, bantuan yang diberikan adalah untuk mengingat kembali rencana strategi yang telah disiapkan sebelumnya dan mengembangkan pemikiran konseptual peserta didik (Developing Conceptual Thinking).  Kata kunci: langkah pemodelan, matematika, scaffolding Abstract: Mathematical modeling is the process of representing and explaining real world problems into mathematical statements. This research aims to describe the scaffolding process that can be provided to students to improve effective and flexible learning strategies. This research is a qualitative descriptive study with subject selection using the Stratified Random Sampling technique. The subjects consisted of three 10th grade students, one student each with high, medium and low mathematics abilities. The research results show that when the subject experiences difficulty in understanding a problem, the assistance provided is in the form of guidance through questions. If they have difficulty connecting with previous concepts, assistance will be in the form of directions to make tables and review the material they have studied (Explaining, Reviewing, And Restructuring). Meanwhile, if the subject faces difficulties in developing a strategy, the assistance provided is to recall the strategy plan that has been prepared previously and develop the students' conceptual thinking (Developing Conceptual Thinking). Key words: modeling steps, mathematics, scaffolding
Optimizing Teacher Assistance In Mathematics Learning Through Scaffolding Thresholds Iis Sugiati; Sri Rahayuningsih; Anton Prayitno
EduMatSains : Jurnal Pendidikan, Matematika dan Sains Vol 10 No 2 (2025): October
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/edumatsains.v10i2.7112

Abstract

A problem in learning mathematics in the classroom is that there are no clear guidelines on when teacher assistance needs to be given, maintained, or stopped. This lack of clarity risks causing disproportionate assistance, either in the form of over-scaffolding which creates learner dependence, or under-scaffolding which inhibits concept understanding. This study aims to identify and examine in depth the threshold for providing scaffolding by teachers in mathematics learning, based on the Zone of Proximal Development (ZPD) theory. The approach used was descriptive qualitative with the subject of six students in class XI at SMK Ahmad Yani Jabung who were selected based on the category of high, medium and low academic ability. Data were obtained through observation of learning activities, in- depth interviews, and document analysis of students' work, and analyzed through the stages of data reduction, presentation, and verification using the Miles and Huberman model. The results showed that the threshold of scaffolding is contextual and dynamic, determined by three main indicators: learners' cognitive responses, the level of dependence on assistance, and verbal and nonverbal expressions. The process of providing assistance includes three stages, namely initial assessment, implementation of scaffolding, and gradual reduction of assistance. The conclusion of this study emphasizes the importance of adjusting teacher interventions according to learners' ZPD position, as well as the need for teacher training and the development of ZPD-based adaptive learning models to improve learning effectiveness and encourage learning independence.
Dampak Kecemasan Matematis Terhadap Proses dan Hasil Pemecahan Masalah Matematika Siswa SMA Kusmartiningrum, Shinta Agistya; Prayitno, Anton; Baidawi, Muhammad
Teorema: Teori dan Riset Matematika Vol 10, No 2 (2025): September
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/teorema.v10i2.20150

Abstract

Kecemasan matematis merupakan faktor afektif yang berpotensi memengaruhi performa siswa dalam menyelesaikan masalah matematika. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara tingkat kecemasan matematis dan kemampuan pemecahan masalah matematika pada siswa SMA. Penelitian menggunakan pendekatan mixed method dengan desain explanatory sequential yang melibatkan 75 siswa kelas XI. Data kuantitatif dikumpulkan melalui angket kecemasan matematis dan tes pemecahan masalah, sedangkan data kualitatif diperoleh dari analisis pekerjaan siswa dan refleksi tertulis. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara kecemasan matematis dan kemampuan pemecahan masalah (p < 0,05). Siswa dengan kecemasan rendah cenderung menyelesaikan masalah secara sistematis dan percaya diri, sedangkan siswa dengan kecemasan tinggi mengalami hambatan pada tahap memahami masalah dan menentukan strategi penyelesaian. Integrasi data kuantitatif dan kualitatif menegaskan bahwa kecemasan matematis berperan dalam memengaruhi kualitas strategi pemecahan masalah. Temuan ini mengimplikasikan pentingnya pembelajaran yang memperhatikan regulasi emosi dan dukungan afektif untuk meminimalkan dampak negatif kecemasan terhadap performa matematika siswa.
Upaya Mengatasi Miskonsepsi Siswa pada Penjumlahan Vektor dengan Problem Based Learning Rachmasari, Sekar; Prayitno, Anton; Rahayuningsih, Sri
EQUALS: Jurnal Ilmiah Pendidikan Matematika Vol. 7 No. 1 (2024): Kemampuan Literasi, Penalaran, dan Pemecahan Masalah dalam Pembelajaran Matemat
Publisher : Program Studi Pendidikan Matematika, FKIP Universitas Muslim Maros

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46918/equals.v7i1.2131

Abstract

Miskonsepsi merupakan suatu hal yang perlu dihindari baik oleh guru maupun siswa dalam proses pembelajaran. Salah satu konsep matematika yang masih terdapat miskonsepsi oleh siswa yaitu materi penjumlahan vektor. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi miskonsepsi yang umum terjadi pada siswa dalam penjumlahan vektor dan mengevaluasi efektivitas model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dalam mengatasi miskonsepsi tersebut. Metode yang digunakan adalah Systematic Literature Review (SLR), di mana berbagai penelitian yang relevan dikumpulkan, dianalisis, dan disintesis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PBL efektif dalam mengurangi miskonsepsi dan meningkatkan pemahaman konseptual siswa terhadap penjumlahan vektor. Siswa yang belajar menggunakan PBL menunjukkan kemampuan yang lebih baik dalam mengaplikasikan konsep penjumlahan vektor dalam berbagai konteks. Penelitian ini memberikan kontribusi penting bagi pengembangan metode pengajaran yang lebih efektif dalam bidang pendidikan matematika.
How game–project learning enhances creative thinking in elementary geometry? Prayitno, Anton; Hamid, Abdul; Sulistiyah, Nanik
International Journal of Evaluation and Research in Education (IJERE) Vol 15, No 2: April 2026
Publisher : Institute of Advanced Engineering and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.11591/ijere.v15i2.38692

Abstract

The rapid advancement of technology and the demands of 21st-century competencies require mathematics instruction to move beyond procedural learning toward strengthening students’ creative mathematical thinking. However, elementary students’ creative thinking remains low, particularly in geometry problem solving. Although gamification and project-based learning (PjBL) have shown positive effects, empirical studies integrating both approaches to foster creative mathematical thinking in elementary geometry are still limited. This study examined the effect of game–project-based learning (GPBL) on fifth-grade students’ creative mathematical thinking in geometric problem solving. A quantitative quasi-experimental pretest–post-test control group design was employed involving 84 students assigned to an experimental group and a control group. The experimental group received GPBL supported by game and project activities, while the control group received direct instruction. Data were collected using a creative mathematical thinking test and analyzed using repeated measures analysis of variance (ANOVA). The results showed significantly greater improvement in the experimental group than in the control group, indicated by significant time effects, a significant time×group interaction, and significant between-group differences with medium-to-large effect sizes. These findings suggest that GPBL promotes progressive concept exploration and encourages solution strategies. Therefore, GPBL can be integrated into elementary geometry instruction to foster students’ creative mathematical thinking.