Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Sustainable Marketing Strategies to Empower Stingless Bee Honey Agripreneurs for Competitive and Inclusive Agribusiness Growth Widiarta, I Putu Gede Didik; Riki Andika; Sudiarsana, I Kadek; Dinar Anindyasari; Lestari Gita Nur’aini
Indonesian Journal of Sustainable Agriculture and Environmental Sciences (IJSAES) Vol. 1 No. 3 (2025): Indonesian Journal of Sustainable Agriculture and Environmental Sciences (IJSAE
Publisher : CV. Truly Science Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65896/ijsaes.v1i3.19

Abstract

Background: Stingless bee honey presents a high-value niche within sustainable agrifood systems, yet small-scale agripreneurs face structural constraints in marketing, certification, and digital engagement that impede inclusive competitiveness. Aim: This study formulates sustainable marketing strategies to empower stingless bee honey agripreneurs in Samarinda, East Kalimantan, thereby enhancing market access, firm-level resilience, and socio-ecological sustainability. Methods: Employing a convergent mixed-methods design, primary data were collected between July and September 2025 through 27 semi-structured interviews, three focus group discussions (FGDs), direct observation, and structured questionnaires involving 65 agripreneurs, eight cooperative leaders, and six local government or institutional stakeholders. Participants were selected using a purposive sampling strategy to ensure representation across enterprise scales and cooperative membership. Internal and external determinants were assessed using IFE and EFE matrices; results were integrated via IE and SWOT frameworks to derive strategy clusters. Results: The IFE (score = 2.86) and EFE (score = 2.93) positions indicate a “Growth and Build” strategic posture. Four strategy clusters emerged: SO (eco-branding, certification, tourism linkages, e-commerce expansion), WO (digital literacy, quality assurance, managerial capacity building, inclusive finance), ST (value-chain diversification, R&D partnerships, sustainability differentiation, cooperative logistics), and WT (community microfinance, joint marketing, insurance/risk-sharing, partnership models). Triangulation of qualitative and quantitative findings strengthens the validity of these strategic priorities. Conclusion: Integrating sustainability principles with digital marketing and cooperative governance offers a viable pathway for transforming stingless bee honey firms into resilient, inclusive agribusinesses. Policy and institutional support that bolsters access to certification, digital capacity, and cooperative finance are pivotal in translating ecological strengths into competitive market outcomes.
Konsep Pertanggungjawaban Pidana Korporasi BUMN Dalam KUHP Nasional dan Undang-Undang BUMN Ulil Amri; Sudiarsana, I Kadek; Sanata, Kalen; Gegana, Reza Pramasta
Judge : Jurnal Hukum Vol. 6 No. 04 (2025): Judge : Jurnal Hukum
Publisher : Cattleya Darmaya Fortuna

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54209/judge.v6i04.1755

Abstract

Pemisahan kekayaan negara dan BUMN telah membuka peluang untuk memidana BUMN sebagai entitas korporasi sebagaimana dalam KUHP Nasional dan UU BUMN Baru. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pertanggungjawaban pidana BUMN dalam KUHP Nasional dan menganalisis bentuk harmonisasi konsep pertanggungjawaban pidana BUMN dalam KUHP Nasional dan UU No. 1 Tahun 2025. Tipe penelitian menggunakan tipe penelitian normatif menggunakan pendekatan konsep dan pendekatan perundang-undangan. Bahan hukum bersumber dari bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder yang dianalisis menggunakan analisis preskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) BUMN dapat dimintai pertanggungjawaban pidana berdasarkan Pasal 45 KUHP Nasional yang mengategorikan BUMN sebagai entitas yang dapat dimintai pertanggungjawaban pidana. Hal ini juga selaras dengan teori pertanggungjawaban pidana korporasi diantaranya teori vicarious liability, teori directing mind, teori identifikasi dan teori pelaku fungsional, dan 2) UU No. 1 Tahun 2025 memisahkan BUMN dari negara (kekayaan negara) yang bertujuan untuk membuat demarkasi yang jelas antara tanggung jawab publik dan tanggung jawab korporasi. Pemisahan ini berarti kekayaan negara yang digunakan untuk penyertaan modal pada BUMN tidak lagi menjadi bagian dari APBN dan dikelola berdasarkan prinsip-prinsip perusahaan yang sehat, bukan lagi berdasarkan sistem APBN. Pemisahan entitas tersebut mempertegas posisi BUMN sebagai entitas yang dapat dimintai pertanggungjawaban secara pidana.