Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Edukasi Anti-Bullying di Sekolah Dasar: Membangun Budaya Positif di Kalangan Siswa Andi Nur Isnayanti; Muhammad Nazimuddin Al Kamil; Muslim AR; Mas’adi Mas’adi
Jurnal Abdimas Indonesia Vol. 4 No. 4 (2024): Oktober-Desember 2024
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/jai.v4i4.1203

Abstract

Edukasi anti-bullying di Sekolah Dasar (SD) memiliki peran yang sangat penting dalam membangun budaya positif di kalangan siswa yang bertujuan untuk menciptakan lingkungan sekolah yang aman, inklusif, dan mendukung perkembangan positif bagi siswa. Bullying dapat berdampak buruk pada kesehatan mental dan perkembangan sosial anak, sehingga upaya pencegahan sejak dini sangat diperlukan. Pengabdian masyarakat dengan judul “Edukasi Anti-Bullying di Sekolah Dasar: Membangun Budaya Positif di Kalangan Siswa” dilaksanakan dilakukan dengan tujuan untuk mengedukasi siswa mengenai pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang bebas dari bullying. Kegiatan ini akan dilaksanakan di SD Inpres 8 Mamboro, yang terletak di Jalan Trans Sulawesi No 158 Kelurahan Mamboro Barat, Kecamatan Palu Utara, Kota Palu. Adapun Sasaran dari kegiatan ini adalah siswa Sekolah Dasar kelas 5 dan 6, dengan jumlah total sekitar 49 siswa yang terbagi dalam 2 kelompok di SD Inpres 8 Mamboro. Metode pelaksanaan kegiatan ini terdiri dari tiga tahap utama, yaitu Persiapan, tim pengabdian akan melakukan koordinasi dengan pihak sekolah (guru dan kepala sekolah) untuk menentukan jadwal pelaksanaan dan materi yang akan disampaikan; Penyuluhan yang melibatkan pemaparan materi tentang jenis-jenis bullying, dampaknya, serta cara pencegahan melalui presentasi interaktif dan diskusi kelompok; dan kegiatan simulasi dan permainan edukatif yang bertujuan untuk melatih keterampilan sosial siswa dalam menghadapi bullying serta mempraktikkan nilai-nilai empati dan saling menghargai. Hasil dari PKM ini akan memberikan pemahaman kepada siswa bagaimana Pencegahan Anti-Bullying di Sekolah Dasar dengan membangun Budaya Positif di Kalangan Siswa.
The Relationship Between Gadget Use and Digital Literacy Levels Among Elementary School Students Al Kamil, Muhammad Nazimuddin; Putriwanti, Putriwanti; Mas'adi, Mas'adi; Makawawa, Junita Christi
Pedagogik Journal of Islamic Elementary School Vol. 8 No. 2 (2025): Pedagogik Journal of Islamic Elementary School
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24256/pijies.v8i2.7729

Abstract

Gadget use among elementary school students is increasing in tandem with the advancement of digital technology. This study aims to determine the relationship between gadget use and the level of digital literacy of elementary school students. This research was conducted at SDN 2 Talise. This study used a quantitative approach with a correlational method. The sample consisted of 36 students selected purposively. The research instrument was a closed-ended questionnaire with a Likert scale, consisting of 15 items for the variables of gadget use and digital literacy. Data analysis included normality tests, linearity tests, and Pearson correlation tests. The results of the normality test indicated that the data were normally distributed, while the linearity test indicated a linear relationship between the two variables. The Pearson correlation test showed a significant positive relationship between gadget use and digital literacy. This finding suggests that the more frequent and appropriate use of gadgets, the higher the students' digital literacy level. This study emphasizes the importance of mentoring and educational use of gadgets to improve digital literacy skills from an early age.
Pengaruh Penggunaan Media Pembelajaran Video Animasi Terhadap Hasil Belajar IPAS Siswa Kelas IV SDN Inpres 1 Lolu Halizah. A, Siti Nur; Aras, Nurul Fitriah; Dewi Pendit, Sinta Satria; Zulnuraini, Zulnuraini; Mas’adi, Mas’adi
Al-Madrasah: Jurnal Ilmiah Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah Al-Madrasah Vol. 9, No. 4 (Oktober 2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an (SIQ) Amuntai Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35931/am.v9i4.5409

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan media pembelajaran video animasi terhadap hasil belajar IPAS siswa kelas IV SDN Inpres 1 Lolu. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain eksperimen semu (Quasi Experiment) berupa Nonequivalent (Pretest dan Posttest) Control Group Design. Sampel penelitian terdiri dari 46 siswa, terbagi dalam kelas eksperimen yang menggunakan media video animasi dan kelas kontrol yang menggunakan metode konvensional. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui tes, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar yang signifikan pada kelas eksperimen. Nilai rata-rata pretest kelas eksperimen sebesar 40,54 meningkat menjadi 81,99 pada posttest, sedangkan kelas kontrol hanya mencapai rata-rata 60,54 pada posttest. Uji hipotesis dengan Paired Sample T-Test menunjukkan nilai signifikansi 0,000 < 0,05, sehingga disimpulkan terdapat pengaruh signifikan penggunaan media video animasi terhadap hasil belajar IPAS siswa. Penelitian ini memberikan rekomendasi agar guru dapat memanfaatkan media video animasi sebagai alternatif pembelajaran untuk meningkatkan minat dan pemahaman siswa.
Penguatan Karakter Moderasi Beragama Era Artificial Intelligence dalam Sistem Pengelolaan Pendidikan Supriadi, Supriadi; St. Marwiyah; Nur Afni Yulistiawati; Mas'adi, Mas'adi
JURNAL PENDIDIKAN IPS Vol. 15 No. 4 (2025): JURNAL PENDIDIKAN IPS
Publisher : STKIP Taman Siswa Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37630/jpi.v15i4.3889

Abstract

Penguatan karakter moderasi beragama dalam pendidikan menjadi hal yang fundamental sebab setiap peserta didik memiliki tingkat pemahaman beragama yang beragam dan berbeda sesuai dengan keyakinan berlandaskan pada Pancasila dan Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945. Saat ini era revolusi industri memiliki perkembangan yang sangat pesat. Oleh karena itu urgensi pendidikan berbasis teknologi artificial intelligence perlu penguatan moderasi sebagai dasar dalam menyiapkan generasi emas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penguatan karakter moderasi beragama era artificial inteligence di SDN 23 Batara Kecamatan Wara Kota Palopo. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah jenis penelitian mixed methods dengan eksploratory sequenstial design. Teknik yang digunakan dalam mengumpulkan data penelitian menggunakan metode observasi, wawancara, kuesioner, dan dokumentasi sedangkan teknik analisis data triangulasi data. Hasil penelitian ini menunjukkan pemahaman dan implementasi moderasi beragama di SDN 23 Batara memiliki peran yang sangat baik sebab peserta didik memiliki komitmen kebangsaan yang kuat, sikap anti-kekerasan, serta penerimaan yang positif terhadap budaya lokal. Penggunaan dan pemanfaatan teknologi pembelajaran juga menunjukkan respon positif peserta didik berdasarkan perhitungan statistik deskriptif berada pada kategori setuju dan sangat setuju dengan nilai rata-rata 4,49 yang menandakan bahwa teknologi artificial intelligence berkontribusi positif pada peserta didik dalam meningkatkan motivasi, pemahaman, dan kemampuan bekerjasama. Sehingga penguatan karakter moderasi beragama dengan integrasi teknologi berbasis artificial intelligence terbukti efektif menciptakan lingkungan belajar yang harmonis, inklusif, dan toleran.
Teachers' Understanding and Implementation of the Merdeka Curriculum in Indonesian Elementary Schools Yuni Rahmawati; Herlina Herlina; Sisriawan Lapasere; Yusdin Bin M Gagaramusu; Mas'adi Mas'adi; Surahman Surahman
Journal of Innovation and Research in Primary Education Vol. 5 No. 1 (2026)
Publisher : Papanda Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56916/jirpe.v5i1.2966

Abstract

Teachers' comprehensive understanding of the Independent Curriculum constitutes a fundamental prerequisite for successful educational transformation in Indonesia. Despite nationwide policy implementation through Permendikbudristek No. 12 of 2024, limited empirical evidence exists regarding teachers' depth of curriculum comprehension at the elementary level. This qualitative descriptive study, grounded in postpositivist paradigm, examined four classroom teachers at SD BK Jonooge through semi-structured interviews, systematic classroom observations, and document analysis. Data were analyzed using Miles and Huberman's interactive model, encompassing data reduction, display, and conclusion drawing. Findings revealed that curriculum implementation remains suboptimal, with teachers demonstrating limited understanding of core components including learning outcomes (CP), learning goal flows (ATP), and project-based learning principles. Implementation challenges manifested in persistent traditional pedagogical approaches, symbolic integration of Pancasila Student Profile values, and predominant summative assessment practices. These deficits stemmed primarily from severely inadequate professional development—training conducted only once biennially—compounded by insufficient facilities and limited professional learning community participation. Paradoxically, student learning outcomes showed improvement despite incomplete implementation fidelity. The study elaborates teacher understanding as a multidimensional construct encompassing cognitive, pedagogical, and metacognitive dimensions, challenging deficit-oriented implementation narratives. Findings underscore urgent need for sustained, job-embedded professional development utilizing collaborative learning models, establishment of robust professional learning communities, and redesigned curriculum materials with explicit implementation guidance to optimize educational transformation.
Enhancing Conceptual Understanding and Participation in Integrated Science–Social Studies Through Contextual Teaching and Learning Diah Sakina; Nashrullah Nashrullah; Muslim AR Muslim AR; Yusdin Bin M Gagaramusu; Mas'adi Mas'adi; Surahma Wilade
Journal of Innovation and Research in Primary Education Vol. 5 No. 2 (2026)
Publisher : Papanda Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56916/jirpe.v5i2.3623

Abstract

Effective implementation of Indonesia's Merdeka Curriculum requires instructional approaches that connect academic content to students' real-life contexts, yet primary classrooms frequently remain dominated by teacher-centered, rote-based instruction. This study examines whether the Contextual Teaching and Learning (CTL) model can meaningfully improve the quality of Integrated Science and Social Studies (IPAS) instruction at the primary level. A Classroom Action Research design following Kemmis and McTaggart's cyclical model was conducted across two cycles with 26 Grade IV students at SDN 3 Sojol, Donggala Regency, Indonesia. Data were collected through validated written tests (KR-20 = 0.78), structured observation sheets (17 teacher indicators; 13 student indicators), and semi-structured interviews, analyzed using both quantitative mastery criteria and Miles and Huberman's qualitative framework. Classical learning mastery improved from 65.4% in Cycle I to 88.5% in Cycle II, surpassing the 85% criterion. Teacher activity scores progressed from 2.86 (Good) to 3.71 (Very Good), and student participation rates increased across all 13 behavioral and cognitive indicators. Unexpectedly, a subset of behaviorally passive students consistently achieved above-average test scores, indicating a discrepancy between observable participation and cognitive engagement. The findings affirm that systematic, iterative CTL implementation transforms IPAS learning toward meaningful, student-centered inquiry. The study contributes process-level evidence demonstrating that CTL effectiveness requires the reflective alignment of all seven components, not merely the introduction of real-world materials. Challenges in equitable group participation and time management remain areas for ongoing pedagogical development.