Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Etnosains Proses Pembuatan Gerabah Banyumulek sebagai Model Penguatan Karakter Berbasis Kearifan Lokal di Era Digital Nurul Kemala Dewi; Eko Haryanto; Syakir; Muh. Fakhrihun Naam
Jurnal Penelitian Pendidikan IPA Vol 11 No 9 (2025): September
Publisher : Postgraduate, University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jppipa.v11i9.12256

Abstract

Banyumulek pottery, as one of the cultural heritages, embodies educational values that have not yet been widely revealed. This study aims to identify and analyze the character education values embedded in the process of making Banyumulek pottery. The research employs a qualitative approach with data collection techniques consisting of observation, interviews, and literature study. Data analysis is conducted through reduction, presentation, and verification. Data validation is carried out using triangulation, namely by integrating the results of interviews, observations, and document analysis. The findings show that the process of making Banyumulek pottery reflects significant character education values, such as accuracy, adherence to belief, diligence, seriousness, discipline, perseverance, mutual respect, cooperation, and creativity. This research underscores the importance of preserving the Banyumulek pottery craft and offers insights into integrating traditional values into educational practice.
Penciptaan Motif Batik Berbasis Kearifan Lokal di Desa Mangunsari untuk Penguatan Industri Kreatif Muh Fakhrihun Na’am; Wulansari Prasetyaningtyas; Syakir; Erna Setyowati; Musdalifah; Teguh Prayitno; Nimas Aulia Pambajeng Miftahunnajah; Sobah Alfalah; Maulidia Mutiara Rahma; Syahrani Azmi Rahim
JURPIKAT Vol 7 No 2 (2026)
Publisher : Politeknik Piksi Ganesha Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37339/jurpikat.v7i2.2841

Abstract

Pengabdian ini berfokus pada pelatihan dan penciptaan produk batik berbasis motif kearifan lokal di Desa Mangunsari, yang menghadapi permasalahan kurangnya inovasi motif akibat keterbatasan keahlian perajin pemula. Tujuannya adalah meningkatkan kemampuan perajin dalam menciptakan motif baru yang variatif dan ramah lingkungan melalui pengenalan alat inovatif sederhana. Pendekatan yang digunakan meliputi studi pustaka, observasi, eksplorasi bahan dan bentuk, eksperimen teknik batik tulis dan cap, serta pelatihan pendaftaran hak cipta. Hasil pengabdian menunjukkan peningkatan keterampilan perajin dalam inovasi motif, munculnya produk batik baru yang siap dipasarkan, dan tumbuhnya minat generasi muda terhadap batik sebagai bentuk regenerasi budaya. Dampaknya terlihat pada peningkatan produksi batik, penguatan ekonomi kreatif lokal, serta terciptanya luaran berupa produk batik, artikel ilmiah, hak cipta, dan laporan kegiatan.
Pembelajaran Batik Kudus Berbasis Culturally Responsive Teaching (CRT) Melalui Kolaborasi Guru Dan Pengrajin Emaretta; Syakir
CILPA Vol 11 No 2 (2026): July
Publisher : Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30738/cilpa.v11i2.22931

Abstract

Abstrak Pembelajaran Seni Budaya di Sekolah Dasar sering terkendala keterbatasan waktu praktik dan sarana, kurang kontekstual dalam budaya lokal siswa, serta kurangnya kompetensi guru, sehingga diperlukan pendekatan pembelajaran yang mampu menghubungkan materi pelajaran dengan konteks budaya lokal siswa, salah satunya melalui pendekatan Culturally Responsive Teaching (CRT). Tujuan penelitian ini yaitu mendeskripsikan desain model pembelajaran seni Batik Kudus berbasis CRT melalui kolaborasi pengrajin dan guru untuk siswa, menguji kevalidan perangkat pembelajaran sebagai pendukung pelaksanaan model pembelajaran, serta menganalisis efektivitas model pembelajaran guna meningkatkan apresiasi kearifan lokal dan keterampilan membatik. Penelitian ini menggunakan mixed methods dengan jenis penelitian Research and Development (R&D) menggunakan model ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation, and Evaluation). Sintaks CRT yang digunakan yaitu pendahuluan, identitas budaya, pemahaman budaya, kolaborasi, refleksi kritis, konstruksi transformatif, dan penutup. Hasil validasi menunjukkan bahwa modul memperoleh nilai kevalidan sebesar 87% dari ahli materi (validitas sangat tinggi) dan 80% dari ahli media pembelajaran (validitas tinggi), sedangkan instrumen soal evaluasi memperoleh nilai kevalidan 88% (validitas sangat tinggi). Hasil uji wilcoxon signed ranks test menunjukkan nilai sig. 0,000 < 0,05 yang menunjukkan bahwa terdapat peningkatan signifikan setelah penerapan model pembelajaran. Hasil uji N-gain menunjukkan skor 0,60 (sedang) dan persentase 60,46% yang berarti model pembelajaran tersebut cukup efektif dalam meningkatkan apresiasi kearifan lokal. Hasil tes performance menunjukkan persentase rata-rata 88% yang berarti siswa terampil dalam proses pembuatan Batik Kudus. Abstract Art and Culture learning in elementary schools is often limited by insufficient practice time and facilities, lack of contextualization with students’ local culture, and limited teacher competence. Therefore, a learning approach that connects instructional materials with local cultural contexts is needed, one of which is Culturally Responsive Teaching (CRT). This study aims to describe the design of a Kudus batik art learning model based on CRT through collaboration between craftsmen and teachers, test the validity of the learning tools, and analyze the effectiveness of the model in improving students’ appreciation of local wisdom and students' batik-making skills in elementary school students. This research uses a mixed-methods approach with Research and Development (R&D) based on the ADDIE model (Analysis, Design, Development, Implementation, and Evaluation). The CRT syntax applied includes introduction, cultural identity, cultural understanding, collaboration, critical reflection, transformative construction, and closing. The validation results show that the module achieved 87% validity from content experts (very high) and 80% from media learning experts (high). The evaluation instrument obtained 88% validity (very high). The Wilcoxon signed-rank test showed a significance value of 0.000 < 0.05, indicating a significant improvement after implementation. The N-gain score was 0.60 (moderate) with 60.46% effectiveness, showing that the model is quite effective in improving students’ appreciation of local culture. The performance test showed an average score of 88%, indicating that students are highly skilled in the students' batik-making skills.