Simanjuntak, Ermida
Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Published : 15 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

SELF REGULATED LEARNING DAN STRES AKADEMIK PADA MAHASISWA Ivana Febriana; Ermida Simanjuntak
EXPERIENTIA : Jurnal Psikologi Indonesia Vol 9, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/exp.v9i2.3350

Abstract

Stres akademik merupakan respons individu terhadap kejadian yang menekan ketika menghadapi tuntutan akademik yang mempengaruhi fisiologis, kognitif, emosi, dan perilaku dari individu tersebut. Faktor yang diduga berhubungan dengan stres akademik pada mahasiswa adalah self regulated learning. Self regulated learning merupakan cara individu untuk melakukan pengaturan diri yang melibatkan pikiran, perasaan dan perilaku guna mencapai tujuan belajarnya. Mahasiswa yang memiliki self regulated learning yang tinggi cenderung melakukan melakukan evaluasi, menjaga motivasi, menyusun rencana dan strategi belajarnya, serta berinisiatif mencari informasi mengenai materi perkuliahan jika mengalami kesulitan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self regulated learning dengan stres akademik pada mahasiswa. Subjek dalam penelitian ini adalah 134 mahasiswa tingkat menengah yaitu mahasiswa tahun kedua dan tahun ketiga di Fakultas Psikologi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya. Data dikumpulkan dengan menggunakan skala stres akademik dan skala self regulated learning. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan antara stres akademik dan self regulated learning pada mahasiswa. Mahasiswa yang memiliki self regulated learning yang baik akan memiliki stres akademik yang rendah. Saran yang dapat diberikan adalah kampus dapat membantu mahasiswa memberikan program-program pengelolaan self regulated learning sehingga mahasiswa dapat mengendalikan stres akademik yang mereka miliki.
SOCIAL ANXIETY DAN ONLINE SELF-DISCLOSURE PADA MAHASISWA PENGGUNA TWITTER/X Thierry Massaro; Ermida Simanjuntak
EXPERIENTIA : Jurnal Psikologi Indonesia Vol 12, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/exp.v12i1.5546

Abstract

Abstrak - Mahasiswa berada dalam tahapan usia emerging adulthood yang memiliki tugas perkembangan untuk menjalin relasi. Dalam usahanya menjalin relasi, mahasiswa menggunakan aplikasi media sosial seperti Twitter/X. Selain untuk menjalin relasi, mahasiswa juga melakukan pengungkapan diri berupa curhatan, mengungkapkan emosi dan opini yang ada pada dirinya di Twitter/X. Perilaku pengungkapan diri mahasiswa di media sosial disebut online self-disclosure. Mahasiswa menggunakan Twitter/X dikarenakan terdapat fitur untuk mengunggah tulisan, foto atau video, maka penggunaannya oleh mahasiswa juga dapat memfasilitasi proses keterbukaan dirinya. Seseorang melakukan SD dapat dipengaruhi rasa cemas dan takut ketika mendapat evaluasi negatif dari orang lain yang disebut sebagai social anxiety. Perasaan takut ditolak akan muncul ketika hal yang diungkapkan tidak disukai oleh orang lain yang merupakan gambaran dari social anxiety. Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara social anxiety dengan online self-disclosure pada mahasiswa pengguna Twitter/X. Pengambilan data menggunakan metode incidental sampling dan didapatkan sebanyak 165 mahasiswa pengguna Twitter/X. Variabel online self-disclosure diukur menggunakan General Disclosiveness Scale milik Gibbs et al. (2006) dan variabel social anxiety diukur menggunakan Interaction Anxiousness Scale milik Leary (1983). Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara social anxiety dengan online self-disclosure pada mahasiswa pengguna Twitter/X (r = 0.035; p = 0.519; p > 0.05). Sebagian besar responden memiliki tingkat online self-disclosure pada kategori sedang (51.5%) sedangkan pada variabel social anxiety sebagian besar responden berada pada kategori sedang-tinggi (40.6%). Kata Kunci: online self-disclosure, social anxiety, mahasiswa, Twitter/X, emerging adulthoodAbstract – University students who are in the emerging adulthood stage is a critical period where individuals focus on developing social connections and forming significant relationships. In their effort to establish relationships, students use social media platforms like Twitter/X. Students engage in self-disclosure by sharing personal stories, expressing emotions, and sharing opinions on Twitter/X. This behavior of students disclosing personal information on social media is known as online self-disclosure. Students use Twitter/X because it has features that allow users to upload text, photos, or videos, which can facilitate their self-expression. The act of self-disclosure can be influenced by feelings of anxiety and fear of negative evaluation from others, known as social anxiety. The fear of rejection may arise when the content shared is not well-received by others, indicating the presence of social anxiety. This study aims to examine the relationship between social anxiety and online self-disclosure among students who use Twitter/X. Data was collected using incidental sampling and there were 165 respondents who use Twitter/X. The online self-disclosure variable was measured using the General Disclosiveness Scale by Gibbs et al. (2006), while the social anxiety variable was measured using the Interaction Anxiousness Scale by Leary (1983). The results revealed no significant correlation between social anxiety and online self-disclosure among college students using Twitter/X (r = 0.035; p = 0.519; p > 0.05). Most respondents had a moderate level of online self-disclosure (51.5%), while for the social anxiety variable, most respondents were in the moderate-high category (40.6%).Keywords: online self-disclosure, social anxiety, university student, Twitter/X, emerging adulthood
ACADEMIC BURNOUT DAN SELF-REGULATED LEARNING PADA MAHASISWA YANG BEKERJA DI MASA PANDEMI COVID-19 Andrey Akira Adityaputra; Ermida Simanjuntak
EXPERIENTIA : Jurnal Psikologi Indonesia Vol 11, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/exp.v11i2.5192

Abstract

Abstrak- Mahasiswa yang bekerja akan rentan mengalami kelelahan berlebih baik dari segi fisik dan juga emosional. Kelelahan berlebih dari segi fisik dan emosional pada perkuliahan berhubungan dengan konsep academic burnout. Academic burnout ditandai dengan rasa lelah yang muncul karena beban pembelajaran, pandangan sinis pada tugas-tugas kewajiban perkuliahan dan juga adanya rasa kurang kompeten yang dirasakan oleh mahasiswa. Salah satu cara agar mahasiswa dapat mengurangi tingkat academic burnout yang dimilikinya akibat bekerja adalah melakukan pengaturan diri untuk belajar yang disebut sebagai self-regulated learning. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji hubungan self-regulated learning dan academic burnout pada mahasiswa yang bekerja di masa pandemi Covid-19. Penelitian ini dilakukan pada mahasiswa di Surabaya dengan metode incidental sampling dan terdapat sebanyak 149 responden mahasiswa yang bekerja di Surabaya. Responden dalam penelitian ini meliputi 64 mahasiswa dan 85 mahasiswi. Variabel academic burnout diukur memakai skala yang disusun oleh peneliti sendiri dengan didasari oleh aspek-aspek skala dari Salmela-Aro et al. (2009). Self-regulated learning diukur menggunakan aspek dari alat ukur Kadioǧlu et al. (2011). Uji hipotesa korelasi menunjukkan nilai r = -0.468 (p = 0.00; p < 0.05) sehingga dapat disimpulkan bahwa self-regulated learning memiliki hubungan yang signifikan dengan academic burnout pada mahasiwa yang bekerja di masa pandemi Covid-19. Arah hubungan yang bersifat negatif menunjukkan bahwa semakin tinggi self-regulated learning yang dimiliki mahasiswa yang bekerja maka semakin rendah academic burnout yang dirasakannya. Tingkat academic burnout mahasiswa dengan jumlah terbanyak adalah kategori sedang (59.6%) sedangkan jumlah responden terbanyak pada self-regulated learning adalah self-regulated learning dengan kategori tinggi (66.2%). Kata kunci: academic burnout, self-regulated learning, mahasiswa yang bekerja Abstract- Students who work are prone to excessive fatigue both physically and emotionally. Physical and emotional overexertion in lectures is related to academic burnout. Academic burnout characteristics are fatigue caused by the burden of learning, a cynical attitude toward lecture assignments, and a feeling of incompetence as a student. One way that students can reduce their academic burnout due to work is to self-regulate their learning, or what is known as self-regulated learning. This study examines the relationship between self-regulated learning and academic burnout in students who work during the Covid-19 pandemic. This research was conducted on 149 students who work in Surabaya using the incidental sampling method. Respondents in this study included 64 male students and 85 female students. The academic burnout variable was measured by an academic burnout scale made by the researcher based on some aspects of the academic burnout scale by Salmela-Aro et al. (2009). Self-regulated learning was measured using aspects from the measuring instrument of Kadioǧlu et al. (2011). The results showed r = -0.468 (p = 0.00; p < 0.05), indicating a significant relationship between self-regulated learning and academic burnout in students working during the Covid-19 pandemic. The direction of the negative relationship shows that the higher the level of self-regulated learning of working students, the lower their academic burnout. The level of academic burnout students feel is mostly in the moderate category (59.6%), and the highest level of self-regulated learning is in the high category (66.2%). Keywords: academic burnout, self-regulated learning, working students.
Self-Regulated Learning Strategy Training: Improving Self-Regulated Learning of First Year University Students Simanjuntak, Ermida
Jurnal Sains Psikologi Vol 11, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um023v11i22022p95-108

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menguji efek dari pelatihan self-regulated learning strategy untuk meningkatkan self-regulated learning pada maha-siswa tahun pertama. Penelitian ini menggunakan desain one group pretest-posttest. Pemilihan partisipan di pelatihan ini didasarkan pada skor yang didapatkan mahasiswa tahun pertama pada Self-Regulatory Strategies Scales (SRSS). Partisipan pada pelatihan ini adalah sepuluh orang mahasiswa tahun pertama yang memiliki skor yang rendah pada skala SRSS. Penelitian ini menggunakan tiga alat ukur, yaitu tes pemahaman materi self-regulated learning strategies, SRSS, dan self-regulated learning behaviour checklist. Data partisipan pada tes pemahaman dan self-regulated learning behaviour checklist dianalisis menggunakan paired-sample t-test, sedangkan data SRSS dianalisis menggunakan Wilcoxon signed-rank test. Tes pemahaman memiliki t-value sama dengan 10,67, p sama dengan 0,000 (p kurang dari 0,05), self-regulated learning behaviour checklist memiliki t-value sama dengan 9,861, p sama dengan 0,000 (p kurang dari 0,05), dan SRSS memiliki nilai Z-value sama dengan -2,092, p sama dengan 0,036 (p kurang dari 0,05). Ketiga hasil tersebut menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara skor pretest dan posttest partisipan pada ketiga alat ukur. Nilai posttest partisipan meningkat dibandingkan nilai pretest. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pelatihan self-regulated learning strategy dapat meningkatkan self-regulated learning pada mahasiswa tahun pertama.
Virtual Environment : Tinjauan Psikologi pada Kehidupan di Ruang Digital Simanjuntak, Ermida
Seri Filsafat Teologi Vol. 35 No. 34 (2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/serifilsafat.v35i34.292

Abstract

The virtual environment is a cyberspace formed by the internet and is widely accessed by young people in Indonesia, particularly individuals in the developmental stages of adolescence and emerging adulthood. Internet access among youth has the potential to give rise to several challenges including : problematic internet use, online disinhibition, parasocial interaction, and media multitasking. Recommendations that can be provided to minimize the negative impacts of internet use include : conducting proper self-evaluation before engaging in media multitasking, identifying the root causes of individuals’ internet dependency behaviours, implementing gadget-based interventions to regulate internet use, applying digital detox programs, providing education on media literacy, and applying parental monitoring for internet use. Keywords : virtual environment, problematic internet use, online disinhibition, parasocial interaction, media multitasking