Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : LEBAH

Transformation of the research and development agency become a defense policy and technology development agency Purwanto, Ignatius Eko Djoko; Harsono, Cecilia F.; Harefa, Faonaso; Siagian, Sapta Baralaska Utama
Lebah Vol. 18 No. 3 (2025): May: Pengabdian
Publisher : IHSA Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35335/lebah.v18i3.330

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor penentu efektivitas riset pengembangan kebijakan dan teknologi pertahanan di Badan Pengembangan Kebijakan dan Teknologi Pertahanan (Batekhan) Kementerian Pertahanan, serta merumuskan kontribusi masing-masing faktor terhadap optimalisasi kinerja satuan ke depan. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik analisis Fishbone dan perangkat lunak NVivo 12 untuk analisis tematik. Hasil analisis Fishbone menemukan 6 faktor utama yang memengaruhi efektivitas Batekhan, yaitu; manusia, metode, material, mesin, pengukuran, dan lingkungan dan pentingnya hilirisasi hasil riset, kompetensi personel, dan tata kelola riset yang unggul. Sementara itu, hasil NVivo 12 menemukan dominasi tema “manpower, goal, dan environment” yang menjadi kunci keberhasilan transformasi kelembagaan Batekhan unggul. Temuan sejalan dengan teori manajemen strategis, inovasi teknologi, dan pendekatan sistemik dalam perumusan kebijakan riset pertahanan. Penelitian ini memberikan kontribusi praktis dan teoritis dalam mendukung transformasi kelembagaan riset yang adaptif, inovatif, dan responsif terhadap tantangan teknologi pertahanan masa depan. Implikasi penelitian ini adalah diperlukan optimalisasi dan peningkatan kompetensi sumber daya guna mewujudkan  Badan Pengembangan Kebijakan dan Teknologi Pertahanan yang unggul dan kompetitif dalam memberikan kontribusi signifikan dalam sektor pertahanan nasional guna menghadapi tantangan lingkungan strategis domoestik, regional dan global yang dinamis dan multidimensi.
Burkina Faso's military strategy faces extremism: Implications for Indonesia Harefa, Faonaso; Harsono, Cecilia F.
Lebah Vol. 18 No. 4 (2025): July: Pengabdian
Publisher : IHSA Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35335/lebah.v18i4.362

Abstract

Penelitian ini dilandasi kebutuhan memahami strategi militer Burkina Faso dalam menghadapi ekstremisme pascakudeta militer tahun 2022, dan  relevansinya sebagai bahan pembelajaran bagi Indonesia. Meskipun memiliki perbedaan konteks geografis dan politik, Indonesia tetap menghadapi potensi munculnya kembali kelompok ekstremisme, terutama di wilayah yang pernah menjadi pusat aktivitas radikal. Hasil penelitian, ditemukan bahwa aspek militer, stabilitas politik, dan penguasaan wilayah merupakan titik krusial yang menunjukkan kelemahan signifikan dalam sistem keamanan Burkina Faso dan keterlibatan aktor eksternal  Rusia yang memanfaatkan kekosongan pengaruh Barat di kawasan Sahel. Pendekatan respons yang bersifat sektoral dan terlalu menekankan pada kekuatan militer terbukti tidak memadai dalam merespons dinamika ancaman ekstremisme yang kompleks dan transnasional. Penggunaan kerangka DIME–PMESII dalam penelitian ini memberikan gambaran yang komprehensif terkait kondisi internal dan kapasitas respons negara, dengan mengidentifikasi ketimpangan antara urgensi ancaman dan kesiapan sektor strategis. Sementara itu, metode forecasting berbasis pembobotan memperkuat kapasitas prediktif dalam perumusan kebijakan, sehingga kebijakan yang dihasilkan lebih berbasis bukti dan responsif terhadap dinamika jangka menengah hingga panjang.Bagi Indonesia, temuan ini menegaskan pentingnya penguatan sistem keamanan nasional secara multidimensional. Fokus perlu diarahkan pada pengembangan sistem deteksi dini, pengelolaan wilayah perbatasan, dan peningkatan koordinasi antar lembaga terkait dalam rangka mencegah berkembangnya ekstremisme. Pendekatan ini relevan dengan penerapan Complex Adaptive Systems Theory, National Resilience Theory, dan Human Security Theory, yang menempatkan kesejahteraan dan perlindungan warga negara sebagai bagian integral dari sistem pertahanan. Kasus Burkina Faso, Indonesia dapat merumuskan strategi yang lebih komprehensif dan adaptif dalam menghadapi ancaman ideologis transnasional.
Essequibo regional dispute dynamics and their impact on regional stability Harefa, Faonaso; Harsono, Cecilia F.; Djoko Purwanto, Ignatius Eko
Lebah Vol. 18 No. 4 (2025): July: Pengabdian
Publisher : IHSA Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35335/lebah.v18i4.363

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika transformasi sengketa wilayah Essequibo antara Venezuela dan Guyana dari isu perbatasan historis menjadi persoalan geopolitik strategis yang memiliki implikasi signifikan terhadap stabilitas kawasan Amerika Selatan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif berbasis studi pustaka, serta dianalisis melalui kerangka DIME–PMESII dan pendekatan teoretis Realisme dan Liberalisme Institusional. Temuan menunjukkan bahwa konflik ini telah bereskalasi menjadi permasalahan multidimensi yang melibatkan aktor regional maupun global. Dimensi diplomatik menjadi sangat menonjol, tercermin dari keterlibatan Mahkamah Internasional serta dukungan terbuka lembaga kawasan seperti Caribbean Community (CARICOM) dan Organization of American States (OAS) terhadap posisi Guyana. Sementara itu, dimensi ekonomi memperkuat kompleksitas konflik, seiring dengan eksplorasi sumber daya migas strategis di wilayah pesisir Essequibo yang menjadi objek kepentingan nasional bagi kedua negara. Keterlibatan aktor eksternal, termasuk Amerika Serikat, China, dan korporasi multinasional, menambah dinamika konflik serta memperluas spektrum kontestasi geopolitik. Meskipun belum terdapat indikasi konfrontasi bersenjata terbuka, temuan ini menekankan urgensi penyelesaian melalui mekanisme hukum internasional serta perlunya penguatan tata kelola regional untuk mencegah fragmentasi politik dan menjamin stabilitas kawasan.Penelitian ini memberikan kontribusi akademik dengan mengkaji dinamika sengketa regional Essequibo dan dampaknya terhadap stabilitas kawasan, serta menawarkan implikasi teoretis terkait eskalasi konflik, geopolitik perbatasan, dan peran mekanisme hukum internasional dalam menjaga perdamaian.
Technological and scientific collaboration in mitigating CBRNE threats in Indonesia Harefa, Faonaso; Harsono, Cecilia F.
Lebah Vol. 19 No. 3 (2026): January: Pengabdian
Publisher : IHSA Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35335/lebah.v19i3.491

Abstract

Latar Belakang dan Celah Riset: Ancaman Chemical, Biological, Radiological, Nuclear, and Explosive (CBRNE) bersifat tidak kasatmata, cepat menyebar, dan berdampak sistemik, sementara pemanfaatan teknologi deteksi modern dan integrasi data lintas sektor dalam sistem mitigasi CBRNE masih belum terkonseptualisasi secara utuh dalam kerangka sains pertahanan. Literatur yang ada cenderung membahas teknologi secara parsial tanpa mengaitkannya dengan tata kelola koordinasi dan respons nasional. Tujuan dan Metodologi: Penelitian ini bertujuan menganalisis peran perangkat deteksi modern dan integrasi data meliputi data sharing, Early Warning System (EWS), dan geospasial pertahanandalam meningkatkan koordinasi interinstansi dan kecepatan respons CBRNE. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui analisis literatur, dokumen internasional, teori pertahanan, serta temuan empiris mutakhir terkait integrasi sensor cerdas dan kecerdasan buatan dalam deteksi CBRNE. Temuan Konseptual dan Kontribusi Teoretis: Hasil analisis menunjukkan bahwa biosensor, detektor radiasi, drone berbasis AI, dan sistem geospasial secara konseptual meningkatkan akurasi identifikasi, jangkauan pemantauan, dan kecepatan pengambilan keputusan ketika diintegrasikan dalam sistem EWS dan data sharing lintas sektor. Penelitian ini berkontribusi secara teoretis dengan menegaskan bahwa efektivitas mitigasi CBRNE tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi oleh integrasi teknologi tersebut ke dalam tata kelola sains pertahanan yang memungkinkan interoperabilitas, koordinasi, dan respons nasional yang cepat dan adaptif
Interoperability of civilian medical teams and TNI CBRN units to strengthen public health protection during CBRNE emergencies Harefa, Faonaso; Harsono, Cecilia F.
Lebah Vol. 19 No. 3 (2026): January: Pengabdian
Publisher : IHSA Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35335/lebah.v19i3.501

Abstract

Latar Belakang: Secara global, ancaman Chemical, Biological, Radiological, Nuclear, and Explosive (CBRNE) diakui sebagai enduring threat terhadap keamanan dan kesehatan publik. Namun, di Indonesia ancaman CBRNE belum dipersepsikan sebagai isu strategis yang secara langsung memengaruhi kesehatan publik dan pertahanan negara. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas koordinasi dan kolaborasi antara sektor kesehatan sipil, Satuan Nubika TNI, dan Kesehatan Pertahanan dalam merespons potensi ancaman CBRNE di Indonesia. Metode: Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Data diperoleh melalui kajian pustaka terhadap regulasi dan dokumen kebijakan, serta data sekunder dari media massa daring yang relevan. Analisis data dilakukan dengan model analisis kualitatif Creswell (2014), meliputi pengorganisasian data, pengkodean, penarikan tema, dan interpretasi temuan. Temuan: Hasil penelitian menunjukkan bahwa respons terhadap ancaman CBRNE di Indonesia belum menjadi prioritas nasional. Belum terdapat perjanjian kerja sama permanen antara sektor kesehatan sipil dan otoritas terkait seperti BAPETEN, BNPB, BNPT, dan Brimob Polri dengan Kesehatan Pertahanan dan Satuan Nubika TNI. Pola kolaborasi lintas sektor yang berjalan selama ini masih bersifat reaktif dan insidental. Kesimpulan: Efektivitas respons ancaman CBRNE di Indonesia hanya dapat ditingkatkan melalui penegasan pemerintah terhadap status CBRNE sebagai ancaman serius, yang diinstitusionalisasikan dalam regulasi serta diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor berbasis perjanjian kerja sama permanen