Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Jurnal Ilmiah Ecosystem

Pola Kuman Dan Sensitivitas Antibiotik Kasus Leukositospermia Pada Pria Pasangan Infertil Thamrin, Rahmawati
Jurnal Ilmiah Ecosystem Vol. 22 No. 1 (2022): ECOSYSTEM Vol. 22 No 1, Januari - April Tahun 2022
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/eco.v22i1.1438

Abstract

Leukosit yang terdapat pada sperma merupakan indikasi adanya infeksi saluran genitalia pria. Peran patogenik yang terjadi pada leukocytospermia, ditandai dengan pelepasan spesies oksigen reaktif yang menyebabkan penipisan kapasitas fungsional sperma. Staphylococcus areus adalah mikroba dominan dalam etiologi infertilitas pria, dan menemukan bahwa ciprofloxacin dan ofloxcasin menjadi pengobatan yang efektif untuk infeksi bakteri pada pria mandul. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan pola jenis kuman dan uji sensitivitas antibiotik pada leukosistospermia pada pria infertil di Klinik Andrologi RSUP Baptis Kediri. Desain penelitian adalah deskriptif. Sampel diambil dari data sekunder pasien pasangan infertil yang berobat ke Klinik Andrologi Rumah Sakit Baptis selama periode 1 Januari 2012 sampai dengan 1 Juni. Mikroorganisme yang paling banyak ditemukan pada penelitian ini adalah staphylococcus sp sebanyak 22 sampel (57,8%) kemudian diikuti oleh streptococcus sp sebanyak 5 sampel (13,16%). Antibiotik yang paling sensitif adalah imipenem yang sensitif terhadap 36 sampel (80%). Yang paling sensitif kedua adalah Meropenem, dimana sensitif terhadap 33 sampel (73,3%). Staphylococcus aureus ditemukan menjadi agen dominan dalam sampel leukocytospermia. Antibiotik yang paling sensitif adalah Imipenem, meropenem, dan Chloramphenicol. Penulis mendorong kultur mikroorganisme dan tes sensitivitas sebagai pemeriksaan rutin untuk sampel leukositospermia untuk resep antibiotik rasional Leucocytes that found in sperms is an indication of male genital tract infection. Patogenic role that occurs in leucocytospermia, remarks by release of reactive oxygen species that leads to functional capacity depletion of sperm. Sstudy by Komola at al,,Staphylococcus areus is the predominant microbes in male infertility etiology, and found that ciprofloxacin and ofloxcasin to be the effective treatment of bacterial infections in sterile male. This study aims to provide patterns of germ types and antibiotic sensitivity test in leucocystospermia in infertile man on Andrology Clinic of Baptis General Hospital, Kediri. The study design is descriptive. Samples was collected from secondary data of patients of infertile couples attended Andrology Clinic Baptize Hospital during period of January 1st 2012 untill June 1st. The most common microorganism found in this study is staphylococcus sp, which was found in 22 sampels (57,8%) then followed by streptococcus sp found in 5 sampels (13,16%). The most sensitive antibiotics is imipenem in which sensitive to 36 sampels (80%). The second most sensitive is Meropenem, in which sensitive to 33 sampels (73,3%). Staphylococcus aureus was found to be the predominants agents in leucocytospermia samples. The most sensitive antibiotics were Imipenem, meropenem, and Chloramphenicol. Authors encourage microorganism culture and sensitivity tests as the routine examination for leucocytospermia samples for rational antibiotic prescription
Perbandingan Hasil Pemeriksaan Morfologi Spermatozoa Manusia Menggunakan Metode Pewarnaan Papanicolaou, Diff Quik, Dan Safranin-Kristal Violet Pada Pasien Infertil di Klinik Telkomedika Ratulangi Makassar Thamrin, Rahmawati; Lukas, Hengky
Jurnal Ilmiah Ecosystem Vol. 24 No. 1 (2024): Ecosystem Vol. 24 No 1, Januari - April Tahun 2024
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/eco.v24i1.4266

Abstract

Pemeriksaan sperma sangat penting dalam mengetahui masalah kesuburan pada pria. Dalam pemeriksaan sperma terdapat pemeriksaan utama yaitu konsentrasi, motilitas dan morfologi. Penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan metode pemeriksaan morfologi pada Analisa sperma yaitu motode Papanicolaou, Safranin, dan Diff Quik dalam mengevaluasi morfologi sperma untuk mendapatkan hasil terbaik dalam menilai infertilitas pria. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian laboratorium observasional analitik yang dilakukan pada pasien yang datang ke Klinik Telkomedika pada bulan September 2019 – januari 2020. Penelitian meneliti morfologi spermatozoa dari pada pasien infertil dan diperiksa dengan 3 metode:  Papanicolaou, Saffranin dan Diffquik lalu bandingkan. Hasilnya, total pasien yang diperiksa morfologi spermanya dengan Saffranin dan Diffquik selama lima bulan di Klinik Telkomedika dari bulan September 2019 hingga Januari 2020 sebanyak 90 orang diambil spermanya dan diperiksa morfologi spermanya dengan Metode Papanicolaou, Saffranin dan Diffquik. Hasil analisis statistik menemukan bahwa terdapat signifikansi antara dua metode yang kami uji. Pada kategori panjang dan lebar terdapat perbedaan bermakna p < a antara Diffquik-Saffranin Crystal Violet dan Diffquik-Papanicolaou. Hal serupa juga terjadi pada kategori vakula, melintang, bagian tengah, dan ERC. Pada metode ketiganya menunjukkan perbedaan yang signifikan. Hasil studi menyarankan evaluasi morfologi spermatozoa yang paling tepat adalah dengan menggunakan Saffranin Crystal Violet. Sperm examination is very important in finding out fertility problems in men. In sperm examination, there are main examinations, namely concentration, motility and morphology. This study is to determine the difference in morphological examination methods in sperm analysis, namely Papanicolaou, Safranin, and Diff Quik methods in evaluating sperm morphology to get the best results in assessing male infertility. The research design used was analytical observational laboratory research conducted on patients who came to the Telkomedika Clinic in September 2019 - January 2020. The study examined the morphology of spermatozoa from infertile patients and examined with 3 methods:  Papanicolaou, Saffranin and Diffquik and then compared. As a result, a total of 90 patients who were examined for sperm morphology with Saffranin and Diffquik for five months at the Telkomedika Clinic from September 2019 to January 2020 had their sperm taken and examined for sperm morphology using the Papanicolaou, Saffranin and Diffquik methods. The results of statistical analysis found that there was significance between the two methods we tested.  In the length and width categories, there was a significant difference of p < a between Diffquik-Saffranin Crystal Violet and Diffquik-Papanicolaou. The same was true for the vacuoles, transverse, central, and ERC categories. All three methods showed significant differences. The study results suggest that the most appropriate evaluation of spermatozoa morphology is by using Saffranin Crystal Violet.