Sofia, Veni
Unknown Affiliation

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Integrasi Agama dan Sains: Dari Tokoh Pembaharuan M. Amin Abdullah Sofia, Veni; Dinata, Syaiful
Khazanah : Journal of Islamic Studies Volume 4 Nomor 1 Februari (2025)
Publisher : Pusdikra Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51178/khazanah.v4i1.2448

Abstract

Penulisan ini bertujuan untuk mengetahui integrasi agama dan sains dalam sudut pandang M. Amin Abdullah. Metode penelitian yang penulis lakukan ialah penelitian kualitatif dengan pendekatan library research (studi pustaka). Sumber data berasal dari buku dan jurnal ilmiah yang membahas tentang integrasi agama dan sains dalam sudut pandang M. Amin Abdullah. Berdasarkan hasil kesimpulan bahwa pemikirannya memberikan kontribusi signifikan dalam menghapus dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum. Melalui konsep "interkoneksi keilmuan", ia menekankan pentingnya pendekatan multidisipliner dan transdisipliner dalam membangun pemahaman ilmu yang lebih komprehensif. Konsep ini tidak hanya berorientasi pada aspek rasional dan empiris, tetapi juga memperhitungkan dimensi etika dan spiritual. Implementasi gagasan integrasi agama dan sains telah diterapkan dalam sistem pendidikan tinggi Islam di Indonesia, khususnya dalam pengembangan kurikulum dan metode pembelajaran yang lebih interdisipliner. Namun, penerapan konsep ini masih menghadapi berbagai tantangan, seperti paradigma dikotomis yang masih kuat, resistensi terhadap perubahan, serta keterbatasan metodologi dan sumber daya. Untuk mengatasi tantangan tersebut, diperlukan strategi yang mencakup penguatan kurikulum berbasis integrasi, peningkatan kapasitas dosen, kolaborasi antar lembaga pendidikan, serta pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran. Secara keseluruhan, pemikiran M. Amin Abdullah mengenai integrasi agama dan sains memiliki dampak luas dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan kehidupan masyarakat. Dengan menerapkan pendekatan ini, diharapkan dapat tercipta sistem pendidikan yang lebih holistik, inklusif, dan berorientasi pada kemajuan peradaban yang berlandaskan nilai-nilai keislaman. Meskipun masih menghadapi tantangan, konsep ini memberikan arah baru bagi perkembangan ilmu yang lebih harmonis antara aspek spiritual dan rasional, sehingga mampu menjawab tantangan globalisasi dan modernisasi secara lebih bijaksana.
Integrasi Agama dan Sains: Dari Tokoh Pembaharuan M. Amin Abdullah Sofia, Veni; Dinata, Syaiful
Khazanah : Journal of Islamic Studies Volume 4 Nomor 1 Februari (2025)
Publisher : Pusdikra Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51178/khazanah.v4i1.2448

Abstract

Penulisan ini bertujuan untuk mengetahui integrasi agama dan sains dalam sudut pandang M. Amin Abdullah. Metode penelitian yang penulis lakukan ialah penelitian kualitatif dengan pendekatan library research (studi pustaka). Sumber data berasal dari buku dan jurnal ilmiah yang membahas tentang integrasi agama dan sains dalam sudut pandang M. Amin Abdullah. Berdasarkan hasil kesimpulan bahwa pemikirannya memberikan kontribusi signifikan dalam menghapus dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum. Melalui konsep "interkoneksi keilmuan", ia menekankan pentingnya pendekatan multidisipliner dan transdisipliner dalam membangun pemahaman ilmu yang lebih komprehensif. Konsep ini tidak hanya berorientasi pada aspek rasional dan empiris, tetapi juga memperhitungkan dimensi etika dan spiritual. Implementasi gagasan integrasi agama dan sains telah diterapkan dalam sistem pendidikan tinggi Islam di Indonesia, khususnya dalam pengembangan kurikulum dan metode pembelajaran yang lebih interdisipliner. Namun, penerapan konsep ini masih menghadapi berbagai tantangan, seperti paradigma dikotomis yang masih kuat, resistensi terhadap perubahan, serta keterbatasan metodologi dan sumber daya. Untuk mengatasi tantangan tersebut, diperlukan strategi yang mencakup penguatan kurikulum berbasis integrasi, peningkatan kapasitas dosen, kolaborasi antar lembaga pendidikan, serta pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran. Secara keseluruhan, pemikiran M. Amin Abdullah mengenai integrasi agama dan sains memiliki dampak luas dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan kehidupan masyarakat. Dengan menerapkan pendekatan ini, diharapkan dapat tercipta sistem pendidikan yang lebih holistik, inklusif, dan berorientasi pada kemajuan peradaban yang berlandaskan nilai-nilai keislaman. Meskipun masih menghadapi tantangan, konsep ini memberikan arah baru bagi perkembangan ilmu yang lebih harmonis antara aspek spiritual dan rasional, sehingga mampu menjawab tantangan globalisasi dan modernisasi secara lebih bijaksana.
Belajar Sebagai Jalan Menuju Kemerdekaan: Studi Analisis Konsep Pendidikan Ki Hajar Dewantara Istiqomah, Hanin Fathan Nurfina; Sofia, Veni; Nasution, Yelykha Henirayuza; Ali, Muh Irfan; Sholiha, Mar’atun; Hasani, Salman
Takuana: Jurnal Pendidikan, Sains, dan Humaniora Vol. 4 No. 3 (2025): Takuana (October-December)
Publisher : MAN 4 Kota Pekanbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56113/takuana.v4i3.191

Abstract

Learning, according to Ki Hajar Dewantara, is not merely an effort to acquire knowledge, but a continuous process of guiding human potential toward the realization of freedom and wholeness. This study aims to analyze Ki Hajar Dewantara’s educational concept, emphasizing the philosophical foundations of learning as a path to human liberation. Using a library research method, this paper explores the principles underlying Dewantara’s thought, including the principles of independence, natural law (kodrat alam), and culture, which serve as the basis for forming a free and responsible human being. The findings reveal that learning, in Dewantara’s view, functions as a moral and intellectual guide that leads individuals toward the highest form of happiness and harmony, becoming manusia merdeka, or liberated humans. This concept remains profoundly relevant in the context of modern education, particularly in the era of Society 5.0, where technological progress must be balanced with humanistic and ethical awareness. The study further provides a theoretical contribution by reaffirming the urgency of human-centered education and offers practical insights for redesigning 21st-century learning to cultivate independence, critical consciousness, and moral responsibility.
Students' Rights And Obligations Towards Society From The Point Of View Of Hamka Ramadhanzi, Muhammad Kholid; Salamah, Salamah; Habibi, Surya; Fatwanti, Devi; Sofia, Veni
JUPE : Jurnal Pendidikan Mandala Vol 10, No 4 (2025): JUPE : Jurnal Pendidikan Mandala (Desember)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pendidikan Mandala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58258/jupe.v10i4.10087

Abstract

This research aims to find out the rights and obligations of a Hamka. The nature of this research is that it is qualitative library research in the form of document study research. The sources used for the benefit of this research are the book Life Institutions, which is a written work by Hamka, and several books by him, which are still related to the rights and obligations of a student to society as well as several relevant literature, journals or sources needed to get students to society which are contained in the book Life Institutions by Hamka. The results obtained from this research are that a student's right to society is to have the right or freedom to live, the right to have an opinion and express it in public, the right to expand understanding of what he is interested in, the freedom to seek knowledge, the right to have his views respected, the right to be respected for himself and his property or possessions respected, the right to be criticized and accept or reject criticism from society. And the obligation of society to students is to provide freedom to live or society, obliged to respect their opinions, obliged to broaden their understanding to live in society, obliged to provide freedom to seek knowledge, respect the positions held by students, respect them and respect their property, obliged to provide criticism, where the criticism intended here is criticism that builds the quality of a work or self that is criticized, not to bring down the quality or self-confidence of the recipient of criticism. These rights and obligations need to be understood, which are useful for increasing the prosperity of social life.
Hukum Suntik Medis Saat Berpuasa: Analisis Fikih Terhadap Pendekatan Tekstual Dan Substansial Sofia, Veni; Muhammad Dani; Zainal Abidin; Ali Imran Sinaga
An-Nafis: Jurnal Ilmiah Keislaman dan Kemasyarakatan Vol. 5 No. 1 (2026): Published in April of 2026
Publisher : STIT Syekh Muhammad Nafis Tabalong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62196/nfs.v5i1.134

Abstract

This study aims to analyze the legality of medical injections during fasting from an Islamic jurisprudence perspective by examining two main approaches: textual and substantial. The research arises from contemporary issues caused by the development of medical technology, which has introduced modern treatment methods such as injections that are not explicitly discussed in classical fiqh literature. Using a qualitative method with a library research approach, this study draws on classical fiqh texts, contemporary literature, and related scientific journals. Data were analyzed inductively through a review of concepts, arguments, and the legal istinbath methods used by scholars. The findings reveal two main trends in understanding the legality of medical injections during fasting. The textual approach argues that injections do not invalidate the fast because they do not enter through natural channels (al-manafiz al-ma‘rufah), such as the mouth and nose, and are not categorized as eating or drinking. In contrast, the substantial approach holds that injections may invalidate the fast if they function as substitutes for eating and drinking, particularly nutritional injections. Therefore, classifying the type of injection is crucial in determining its legal ruling. This study concludes that an integrative-substantial approach is more relevant for addressing contemporary issues by distinguishing between nutritional and non-nutritional injections. Non-nutritional injections do not invalidate the fast, whereas nutritional injections do. These findings contribute to the development of more contextually grounded contemporary Islamic jurisprudence and provide practical guidance for Muslims and medical professionals in observing the fast without neglecting health considerations.