Taat Wulandari
Universitas Negeri Yogyakarta, Indonesia

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Implementation of the Saturday Cultural Program at Senior High Schools in Mataram City Syifa Miftahul Amalia; Anik Widiastuti; Taat Wulandari
Journal of Innovation in Educational and Cultural Research Vol 5, No 4 (2024)
Publisher : Yayasan Keluarga Guru Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46843/jiecr.v5i4.2080

Abstract

In the era of globalization and rapid technological advancement, local culture is increasingly marginalized, leading to a diminished understanding among students. To address this issue, the West Nusa Tenggara Education and Culture Office introduced the Saturday Culture program to enhance students' cultural knowledge. This study aims to examine the program's implementation in senior high schools in Mataram City, using structural functionalism theory to explore the interactions within the school system that influence the program. Employing a quantitative descriptive method, the research involved 86 high school teachers selected through accidental sampling. Data collection was conducted via questionnaires distributed using Google Forms, and the analysis utilized descriptive statistical methods. The findings show that the program's overall implementation is rated as good, though certain areas require improvement. From the structural functionalism perspective, the program successfully fulfills four main functions: adaptation, goal achievement, integration, and latency maintenance. These outcomes demonstrate the program's ability to meet environmental demands, achieve educational goals related to culture, and foster student's character development. This research contributes to academic and cultural studies by highlighting the necessity for ongoing enhancement and stronger stakeholder collaboration to ensure the program's long-term effectiveness and sustainability.
Strengthening Students’ Character through the Community Service Program (Sekolah Kerja Nyata, SKN) Vivi Rahmelia; Anik Widiastuti; Agustina Tri Wijayanti; Taat Wulandari
Indonesian Values and Character Education Journal Vol. 8 No. 1 (2025): April
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/ivcej.v8i1.96500

Abstract

Character education in schools often faces challenges in internalizing values through real-life experiences. Limited student engagement makes character education less meaningful. This study aims to describe the implementation of character education through the Community Service Program (Sekolah Kerja Nyata, SKN) and to identify the values it fosters. Using a descriptive qualitative method, data were collected through in-depth interviews with the principal, supervising teachers, and students. The results show that SKN successfully fostered values such as responsibility, cooperation, social awareness, independence, and religiosity. Students demonstrated improvements in discipline, communication skills, and leadership through participation in social activities. The program aligns with experiential character education approaches that emphasize social interaction as a means of value formation. The study concludes that SKN is an effective model of character education by integrating academic learning and attitude development through direct engagement. SKN also has the potential to be adopted as a co-curricular activity within the new curriculum structure, as it supports cross-disciplinary learning and character development through contextual, project-based approaches. These findings provide a foundation for developing similar programs in other schools to strengthen character formation relevant to real life.
INTEGRASI GENERATIVE AI DALAM ACTIVE LEARNING: KAJIAN KUALITATIF TERHADAP DINAMIKA INTERAKSI DAN KONSTRUKSI PENGETAHUAN MAHASISWA Iyan Rusyana; Taat Wulandari
Journal of Computer Science and Informatics (JOCSI) Vol 4 No 1 (2026): Agustus
Publisher : EDU PARTNER INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69747/jocsi.v4i1.267

Abstract

Integrasi Generative Artificial Intelligence (Generative AI) dalam pendidikan tinggi telah mentransformasi praktik pembelajaran menuju lingkungan belajar yang lebih interaktif, fleksibel, dan berpusat pada mahasiswa. Namun, penggunaan AI dalam active learning juga memunculkan persoalan terkait dinamika interaksi akademik, konstruksi pengetahuan, dan kualitas keterlibatan mahasiswa dalam proses pembelajaran. Penelitian ini bertujuan menganalisis integrasi Generative AI dalam pembelajaran active learning, mengkaji dinamika interaksi mahasiswa dalam pembelajaran berbasis AI, serta mengeksplorasi proses konstruksi pengetahuan mahasiswa dalam konteks pendidikan tinggi digital. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi terhadap mahasiswa dan dosen yang terlibat dalam pembelajaran berbasis AI. Data dianalisis menggunakan analisis deskriptif dan tematik untuk mengidentifikasi pola interaksi, pengalaman belajar, dan proses konstruksi pengetahuan mahasiswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Generative AI tidak hanya berfungsi sebagai alat teknologi, tetapi juga sebagai mediator pedagogis yang mendukung eksplorasi ide, refleksi akademik, diskusi kolaboratif, dan pembelajaran mandiri mahasiswa. Integrasi AI mengubah interaksi pembelajaran menjadi proses multidimensional yang melibatkan mahasiswa, dosen, dan teknologi digital. Penelitian ini juga menemukan bahwa penggunaan AI secara kritis dan reflektif dapat memperkuat konstruksi pengetahuan dan keterlibatan aktif mahasiswa, sedangkan ketergantungan berlebihan terhadap AI berpotensi menurunkan kemampuan berpikir kritis dan menghasilkan pembelajaran yang superfisial. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan kajian Artificial Intelligence in Education (AIED) dengan menegaskan bahwa efektivitas Generative AI bergantung pada integrasi pedagogis yang kritis, etis, reflektif, dan berorientasi pada student centered learning.   The integration of Generative Artificial Intelligence (Generative AI) in higher education has transformed learning practices towards a more interactive, flexible, and student-centered learning environment. However, the use of AI in active learning also raises issues related to the dynamics of academic interactions, knowledge construction, and the quality of student engagement in the learning process. This study aims to analyze the integration of Generative AI in active learning, examine the dynamics of student interactions in AI-based learning, and explore the process of student knowledge construction in the context of digital higher education. This study uses a qualitative approach with a case study method. Data were obtained through observation, in-depth interviews, and documentation of students and lecturers involved in AI-based learning. Data were analyzed using descriptive and thematic analysis to identify interaction patterns, learning experiences, and the process of student knowledge construction. The results show that Generative AI functions not only as a technological tool, but also as a pedagogical mediator that supports the exploration of ideas, academic reflection, collaborative discussions, and student self-directed learning. The integration of AI transforms learning interactions into a multidimensional process involving students, lecturers, and digital technology. This study also found that the critical and reflective use of AI can strengthen knowledge construction and active student engagement, while excessive reliance on AI has the potential to diminish critical thinking skills and result in superficial learning. This research contributes to the development of Artificial Intelligence in Education (AIED) studies by confirming that the effectiveness of Generative AI depends on the integration of critical, ethical, reflective, and student-centered learning-oriented pedagogical approaches.  
Persepsi Peserta Didik Terhadap Pembelajaran Sejarah di SMAN Se-Kota Kendari Agustina Heksa; Taat Wulandari; Susi Harnisa
Literasi: Jurnal Pendidikan Guru Indonesia Vol. 5 No. 1 (2026): Maret
Publisher : Lembaga Bale Literasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58218/literasi.v5i1.3013

Abstract

Penelitian ini berjudul Persepsi Peserta Didik Terhadap Mata Pelajaran Sejarah di SMAN Se-Kota Kendari dengan tujuan untuk mengetahui persepsi peserta didik terhadap pembelajaran sejarah di SMAN se-Kota Kendari. Persepsi peserta didik terhadap pembelajaran sejarah dalam hal ini antara  lain mengenai tujuan pembelajaran sejarah, materi pembelajaran sejarah, media dalam proses pembelajaran sejarah, metode pembelajaran sejarah, dan evaluasi dalam pembelajaran sejarah. Penelitian ini merupakan jenis penelitian desktiptif kuantitatif.  Penelitian ini menggunakan metode penelitian survei. Sampel penelitian berjumlah 275 peserta didik SMAN di Kota Kendari. Teknik pengumpulan data yang digunakan menggunakan kuesioner, teknik analisis data untuk menguji validasi menggunakan rumus Product Moment dan untuk menguji reliabilitas menggunakan rumus Cronbach’s Alpha dengan bantuan program computer yairu SPSS 16.0 for windows dan  menggunakan  teknik  deskriptif  prosentase untuk menetukan presentase. Hasil penelitian ini adalah Persepsi peseta didik terhadap pembelajaran sejarah di SMAN se-Kota Kendari dinyatakan dalam kategori netral dengan presentase 39,6% atau sebanyak 109 peserta didik, hal ini mengindikasikan bahwa sebagian besar peserta didik tidak memiliki persepsi yang sangat positif atau sangat negatif terhadap pembelajaran sejarah di SMAN se-Kota Kendari. Jika dilihat dari indikator persepsi yaitu: 1) Persepsi peserta didik terhadap tujuan pembelajaran sejarah adalah netral dengan presentase 40,7 % atau sebanyak 112 peserta didik, hal ini menunjukan bahwa peserta didik memiliki pandangan yang tidak terlalu positif atau negatif terhadap tujuan pembelajaran sejarah. 2) Persepsi peserta didik terhadap materi pembelajaran sejarah  kategori positif dengan presentase 38,2 % atau sebanyak 105 peserta didik menunjukkan persepsi yang baik terhadap materi yang diajarkan dalam pembelajaran sejarah. 3) Persepsi peserta didik terhadap metode pembelajaran sejarah  kategori netral sebesar 51, 6 % atau sebanyak 142 peserta didik menunjukkan persepsi yang netral terhadap metode pembelajaran yang digunakan oleh pendidik dalam mengajarkan sejarah. 4) Persepsi peserta didik terhadap media pembelajaran sejarah kategori netral dengan presentase 35, 6 % atau sebanyak 98 peserta didik menunjukkan persepsi yang netral terhadap media yang digunakan dalam pembelajaran sejarah. 5) Persepsi peserta didik terhadap evaluasi pembelajaran sejarah kategori netral dengan presentase 49,8% atau sebanyak 137 peserta didik menunjukkan persepsi yang netral atau moderat terhadap evaluasi yang dilakukan dalam pembelajaran sejarah. Persepsi netral ini menandakan bahwa sebagian besar peserta didik tidak memiliki persepsi yang sangat positif atau sangat negatif terhadap evaluasi pembelajaran sejarah.