Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Marketing Strategy for Processed Coffee at Kahayya II Farmer Group in Kindang District, Bulukumba Regency Pundising, Rudy Immanuel; Ramli, Ramli; Sukarsih, Sri Endang; Junaidi, Junaidi; Ramadhani, Andi Nurul Amalia; Samaria, Samaria
Tarjih : Agribusiness Development Journal Vol. 4 No. 02 (2024): VOLUME 04, NOMOR 02, DESEMBER 2024
Publisher : Program Studi Agribisnis Universitas Muhammadiyah Sinjai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47030/tadj.v4i02.800

Abstract

Coffee has a vital role in Indonesia's economic activities. Kahayya coffee is an ancestral heritage from the wilderness of Kahayya Village. In several lines of coffee production centers, farmers and farmer groups in Kahayya sell raw coffee and generally sell their production to intermediary traders at relatively low prices. This is one of the reasons why the price obtained could be more optimal. Also, farmers consider it an advantage because their agricultural products are quickly sold and do not need to incur costs for the distribution process, namely transportation to the market. The results showed that Kahayya Coffee Marketing still needs to be optimal; many farmers still sell at low prices due to the limited ability of farmers to analyze competitor price information. The strategy is to conduct a market survey by visiting Kahayya Coffee's salesplaces, such as coffee shops or other cafes. The purpose of conducting this research is also to find out the price sold in the market, whether it shows profit or even harms farmers. One of the strategies is the existence of a cafe in Kahayya. Nature tourism facilitates farmers' marketing because when visitors go to Kahayya, they can enjoy Kahayya coffee while enjoying the tourist attractions in Kahayya.
MODEL KEMITRAAN DALAM MENINGKATKAN KINERJA DISTRIBUSI BERAS KABUPATEN SIDENRENG RAPPANG: Partnership Model in Improving Rice Distribution Performance in Sidenreng Rappang Regency Razak, Muhammad Rais Rahmat; Hakzah, Hakzah; Thamrin, Nining Triani; Mursalat, Aksal; Junaidi, Junaidi
Jurnal Agrisistem: Seri Sosek dan Penyuluhan Vol. 21 No. 1 (2025): Jurnal Agrisistem: Seri Sosek dan Penyuluhan
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52625/j-agr-sosekpenyuluhan.v21i1.450

Abstract

Beras merupakan komoditas strategis yang memainkan peran penting dalam ketahanan pangan dan stabilitas ekonomi, sehingga pengelolaannya membutuhkan transparansi untuk mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik (good governance). Masalah distribusi beras yang tidak merata dan biaya distribusi tinggi masih menjadi tantangan signifikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis model kemitraan yang melibatkan Majelis Ekonomi Perserikatan Muhammadiyah dalam meningkatkan kinerja distribusi beras. Metode yang digunakan adalah Structural Equation Modeling - Partial Least Squares (SEM-PLS) untuk memodelkan hubungan antara koordinasi kemitraan, komitmen kemitraan, pembagian risiko, akses pasar, dan dukungan organisasi terhadap kinerja distribusi beras. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner dan wawancara mendalam dengan 75 petani yang bermitra dengan Majelis Ekonomi Perserikatan Muhammadiyah di Kabupaten Sidenreng Rappang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap variabel yang dianalisis, seperti koordinasi kemitraan, komitmen kemitraan, pembagian risiko, dan akses pasar, memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kinerja distribusi beras. Koordinasi yang baik antar pemangku kepentingan meningkatkan efisiensi distribusi, sementara komitmen kemitraan memperkuat dukungan organisasi dan mengurangi biaya operasional. Pembagian risiko yang transparan mempercepat distribusi dan mengurangi ketidakpastian dalam rantai pasokan. Akses pasar yang lebih luas memperkuat posisi petani dalam rantai distribusi dan memungkinkan distribusi beras lebih cepat dan stabil. Penting untuk memperkuat kemitraan antara pemangku kepentingan dan meningkatkan infrastruktur serta akses pasar untuk efisiensi distribusi beras.
Distribution areas of quarantine plant pest organisms of the fruit fly Bactrocera musae (Diptera: Tephritidae) in South Sulawesi, Indonesia Junaidi, Junaidi; Gassa, Ahdin; Ramli, Ramli; Patandjengi, Baharuddin
Jurnal Hama dan Penyakit Tumbuhan Tropika Vol. 26 No. 1 (2026): MARCH, JURNAL HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN TROPIKA: JOURNAL OF TROPICAL PLANT PE
Publisher : Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jhptt.12668-77

Abstract

Bactrocera musae is one of the most damaging fruit fly species affecting tropical fruit crops, particularly bananas. In Indonesia, this species is classified as an A2 Quarantine Plant Pest due to its economic impact and potential to spread into key production and export regions. However, updated information on its spatial distribution in South Sulawesi remains limited. This study aimed to map the occurrence and distribution of B. musae through field surveillance. Fruit fly specimens were collected using traps baited with methyl eugenol and installed across selected survey locations representing fruit-producing areas. Morphological identification was performed using standard taxonomic keys for Bactrocera species. The survey results confirmed that the distribution of B. musae in South Sulawesi is relatively extensive. The pest was detected in Makassar City and the regencies of Gowa, Takalar, Jeneponto, Bulukumba, Bantaeng, Sinjai, and Bone. These areas are characterized by the presence of tropical fruit crops, including banana, mango, guava, and papaya, which may serve as suitable host plants and support population establishment. The confirmed presence of B. musae in multiple regions indicates the need for strengthened surveillance, early detection programs, and quarantine measures. The findings of this research provide important baseline data for future pest risk analysis and policy development, particularly regarding pest status determination and preventive actions in South Sulawesi and other vulnerable regions. Further studies on population ecology, host interactions, and management strategies are recommended to support more effective control efforts.
Farmers’ Response to The Utilization Of Vatious Light Sources For The Control Of Rice Bug Pests (Leptocorisa acuta thunberg) in Rice (Oryza sativa L.): Respons Petani terhadap Pemanfaatan Cahaya Berbeda Pengendalian Hama Walang Sangit (Leptocorisa acuta thunberg) pada Tanaman Padi (Oryza Sativa L.) junaidi, junaidi; Rukka, Hermaya; Aimanah, Ummu; Rohman, Fatur
Jurnal Agrisistem Vol. 21 No. 2 (2025): Jurnal Agrisistem
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52625/j-agr.v21i2.491

Abstract

Hama walang sangit (Leptocorisa acuta Thunberg.) merupakan salah satu organisme pengganggu tanaman penting pada padi yang dapat menyebabkan kehilangan hasil hingga 50% pada musim tertentu. Salah satu pendekatan pengendalian ramah lingkungan yang potensial adalah penggunaan perangkap cahaya (light trap). Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui efektivitas warna cahaya yang berbeda terhadap tingkat ketertarikan walang sangit dan (2) mengidentifikasi respons petani terhadap pemanfaatan cahaya sebagai metode pengendalian hama. Penelitian dilakukan pada April–Mei 2024 di Desa Purnakarya, Kecamatan Tanralili, Kabupaten Maros, menggunakan empat perlakuan warna lampu LED yaitu, bening (P0), kuning (P1), merah (P2), dan hijau (P3), masing-masing dengan empat ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cahaya merah (P2) merupakan warna paling efektif, dengan total tangkapan 20 ekor dan persentase rata-rata 35,69%, lebih tinggi dibandingkan perlakuan lain. Preferensi kuat terhadap cahaya merah berkaitan dengan sensitivitas visual serangga pada panjang gelombang 620–700 nm dan respons fototaksis positif. Respon petani menunjukkan penerimaan yang baik terhadap teknologi perangkap cahaya sebagai alternatif pengendalian yang murah, ramah lingkungan, dan dapat mengurangi penggunaan pestisida kimia. Secara keseluruhan, penggunaan cahaya merah berpotensi menjadi komponen efektif dalam strategi Pengendalian Hama Terpadu (PHT) pada tanaman padi.