Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analysis of Bilingual Learning Theories and References (Methods, Techniques, Strategies, Evaluation) Apriliana, Zahra; Kamilah, Ashha Fithriya; Sugihwarni, Popy; Sari, Choirul Novita; Sakdiyah, Labiibah Lathifatus; Zaharani, Nur Erissya; Widagdo, Arif
Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol 3, No 4 (2025): May
Publisher : Penerbit Yayasan Daarul Huda Kruengmane

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.15464311

Abstract

The use of two languages of instruction in bilingual classes, English and Indonesian, in the process of teaching and learning activities is certainly not an easy thing. Teachers must be able to choose the right learning theory and the right and clear learning references, so that the bilingual learning that will be implemented can run well. can run well. In the implementation of bilingual learning, there are special designs, plans, or stages that are mature so that the learning process can take place optimally. The design of bilingual learning can be interpreted from various perspectives, such as discussing various studies and theories regarding the strategy and process of learning development and implementation. The result of this study shown that Bilingual learning involves the use of two languages, usually the mother tongue and English, to enhance cognitive abilities, creativity, problem solving and socio-cultural understanding. Bilingual education requires careful planning, with teachers who are proficient in both languages and schools that provide the necessary resources such as teaching materials and infrastructure. Bilingual learning starts with basic vocabulary and simple conversation. The curriculum focuses on real-world words and phrases, which gradually helps students become fluent in both languages, so they can switch from one to the other with ease. Theoretical frameworks, such as the Global English Club approach, support bilingual education through methods such as group discussions and real-world learning experiences. Bilingual learning methods, including the Transition, Maintenance, Enrichment and Legacy approaches, aim to meet students' needs and curriculum objectives. Activities such as role-playing and group discussions further reinforce language retention and active learning in both academic and real-life contexts. Regular evaluation of student progress is necessary for continuous improvement in teaching and learning outcomes.
Pengaruh Terapi Komplementer SICRING terhadap Kualitas Tidur pada Pasien dengan Insomnia Ringan hingga Sedang di Wilayah Kerja Puskesmas Arcamanik Sulistiyawati, Arie; Hartiningsih, Siti Sugih; Pratama, Oktarian; Maulana, Fitriyani; Apriliana, Zahra
Healthcaring: Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol. 4 No. 2 (2025): Vol : 4 No : 2 : Periode Juli 2025
Publisher : Information Technology and Science (ITScience)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47709/healthcaring.v4i2.7537

Abstract

Gangguan insomnia merupakan salah satu masalah kesehatan yang dapat menurunkan kualitas hidup, meningkatkan kelelahan, dan memengaruhi fungsi kognitif seseorang. Berbagai pendekatan komplementer mulai digunakan dalam pelayanan kesehatan primer untuk membantu meningkatkan kualitas tidur, salah satunya adalah terapi spiritual coherence healing (SICRING) yang mengintegrasikan teknik olah napas, olah tubuh, healing touch, dan penguatan spiritual untuk mencapai relaksasi mendalam serta keseimbangan tubuh–pikiran–jiwa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh terapi komplementer SICRING terhadap kualitas tidur pada pasien dengan insomnia ringan hingga sedang di wilayah kerja Puskesmas Arcamanik. Penelitian menggunakan desain quasi-experiment dengan pendekatan pre–post test with control group. Sampel ditentukan menggunakan teknik purposive sampling, melibatkan responden berusia 18–60 tahun yang mengalami insomnia berdasarkan Insomnia Severity Index (ISI) kategori ringan hingga sedang. Kelompok intervensi mendapatkan terapi SICRING selama 4 sesi dalam 7 hari, yang meliputi latihan olah tubuh, pernapasan koheren, healing touch, dan relaksasi spiritual terpandu, sedangkan kelompok kontrol mendapatkan edukasi sleep hygiene standar. Kualitas tidur diukur menggunakan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) sebelum dan sesudah perlakuan. Analisis data dilakukan menggunakan uji Wilcoxon dan Mann–Whitney, dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil penelitian menunjukkan terdapat peningkatan kualitas tidur yang signifikan pada kelompok intervensi setelah diberikan terapi SICRING (p < 0,001), sedangkan kelompok kontrol tidak menunjukkan perubahan yang bermakna (p > 0,05). Perbandingan antarkelompok juga menunjukkan perbedaan signifikan pada skor PSQI post-test (p < 0,001), yang berarti terapi SICRING lebih efektif dibandingkan edukasi sleep hygiene standar dalam meningkatkan kualitas tidur pada pasien dengan insomnia ringan hingga sedang. terapi komplementer SICRING terbukti berpengaruh signifikan terhadap peningkatan kualitas tidur dan dapat direkomendasikan sebagai intervensi komplementer dalam pelayanan kesehatan primer, khususnya pada pasien dengan gangguan insomnia ringan hingga sedang. Integrasi terapi ini berpotensi mendukung pendekatan holistik dan promotif di Puskesmas Arcamanik