Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

Brisk Walking Untuk Menurunkan Kadar Glukosa Darah Pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2: A Literature Review Magenda Bisma Yudha; Nur Intan Kartika Sari
Protein : Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan.  Vol. 2 No. 1 (2024): Januari : Protein: Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan
Publisher : Asosiasi Riset Ilmu Kesehatan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61132/protein.v2i1.139

Abstract

Background: One of the non-communicable diseases (NCDs) that has received a lot of attention is Diabetes Mellitus. Diabetes management is divided into two ways. The first way is with non-drug therapy (non-pharmacological) and second with drug therapy. Drug therapy in the form of oral hypoglycemic drugs or insulin. Non-pharmacological methods with food planning and physical exercise. The type of light physical exercise recommended for patients with type II diabetes mellitus is walking and brisk walking. Objective: To determine the effect of brisk walking to reduce blood glucose levels in patients with type 2 diabetes mellitus. Methods: This review uses the literature review method. Searches were conducted in PubMed, Garuda, and Google Scholar. The search strategy used keywords with "brisk walking", "physical exercise", "glycemic control", "diabetes mellitus, type II",. Results: Seven articles were reviewed in this literature review. Six articles discussed brisk walking, one article discussed the difference in glycemic control in low - high intensity interval training with endurance training. The overall results of this review show that doing physical activity brisk walking has an effect in reducing blood glucose levels, reducing blood glucose levels by 49.75 mg/dL. Physical activity sessions can be done for 3 - 7 sessions per week with a duration of 15 - 60 minutes. Conclusion: The effect of brisk walking is proven to reduce blood glucose levels in patients with type 2 diabetes mellitus.
Gambaran Tingkat Kepatuhan Penata Anestesi dalam Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) di Kabupaten Cilacap Mochamad Bayu Nuryatmaja; Danang Tri Yudono; Magenda Bisma Yudha
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Indonesia Vol. 5 No. 2 (2025): Juli: Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Indonesia
Publisher : Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jikki.v5i2.6095

Abstract

The use of Personal Protective Equipment (PPE) by health workers is very important in preventing the transmission of infections, especially in the Central Surgical Installation (IBS) room which has a high risk. Anesthesia organizers are health workers who are vulnerable to exposure to infection because they often perform actions that are in direct contact with the patient's body fluids. The purpose of this study was to identify the characteristics of the level of compliance of anesthesiologists in the use of PPE based on gender, age, education level and length of work in hospitals in the Cilacap Regency Region. This study is quantitative descriptive with a cross dectional approach. The research population is 38 respondents, the focus of observation in this study is an overview of the compliance of anesthesiologists in the use of personal protective equipment (PPE) in Cilacap Regency. This study showed compliance in the use of PPE with the compliant category as many as 24 respondents (63.2%), less compliant as many as 11 respondents (28.9%), while non-compliance as many as 3 respondents (7.9%). The results of this study show that there is compliance, lack of compliance, and non-compliance with anesthesia surgeons in Cilacap Regency.
Hubungan Jumlah Tusukan Spinal Anestesi Lebih dari Satu Kali dengan Kejadian Post-Dural Puncture Headache pada Pasien Sectio Caesarea di RSUD Ajibarang Aris Ahmat; Magenda Bisma Yudha; Wasis Eko Kurniawan; Made Suandika
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Indonesia Vol. 5 No. 3 (2025): November : Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Indonesia
Publisher : Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jikki.v5i3.8373

Abstract

Background: Spinal anesthesia is a commonly used technique for cesarean section procedures. However, this technique carries a risk of complications, one of which is post-dural puncture headache (PDPH). PDPH can be caused by several factors, including multiple attempts at spinal needle insertion. Objective: To determine the relationship between the number of spinal anesthesia punctures greater than once and the incidence of PDPH in cesarean section patients at RSUD Ajibarang. Methods: This study used a quantitative design with a cross-sectional approach. A total of 80 cesarean section patients who underwent spinal anesthesia were selected using purposive sampling. Data were collected through observation and interviews and analyzed using the Spearman correlation test. Results: A total of 96.3% of patients experienced two punctures, while 3.8% experienced three punctures. Most patients did not experience PDPH (90.0%), while 8.8% reported moderate headache and 1.3% reported severe headache. The analysis showed a significant relationship between the number of spinal punctures and the incidence of PDPH (p=0.001; r=0.367). Conclusion: There is a significant correlation between the number of spinal anesthesia attempts and the incidence of PDPH among cesarean section patients at RSUD Ajibarang. The greater the number of spinal punctures, the higher the risk of developing PDPH.
Gambaran Tingkat Pengetahuan dan Sikap tentang Strategi Komunikasi Situation, Background, Assesment, Recommendation (SBAR) pada Mahasiswa Anestesi: Overview of Knowledge and Attitudes Regarding the Situation, Background, Assessment, Recommendation (SBAR) Communication Strategy among Anesthesia Students Fringgandini, Mena; Magenda Bisma Yudha; Wasis Eko Kurniawan
Jurnal Keperawatan Bunda Delima Vol 7 No 2 (2025): EDISI AGUSTUS
Publisher : Akademi Keperawatan Bunda Delima Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59030/jkbd.v7i2.199

Abstract

Pendahuluan: Komunikasi SBAR terdiri dari empat komponen, yaitu Situation, Background, Assesment, dan Recommendation. Setiap bagian dalam komunikasi SBAR memiliki peran yang berbeda-beda untuk memastikan informasi yang disampaikan menjadi lebih terstruktur, terorganisir, dan jelas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan dan sikap mahasiswa D IV Keperawatan Anestesi tentang komunikasi SBAR. Metode: Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian deskriptif dengan menerapkan metode pendekatan cross sectional. Sampel pada penelitian ini yaitu berjumlah 167 responden yang diambil dengan teknik random sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner. Analisis data menggunakan analisis univariat. Hasil: Penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan mahasiswa tentang komunikasi Situation, Background, Assessment, Recommendation (SBAR) sejumlah 123 responden (73.7%) memiliki tingkat pengetahuan dalam kategori baik. Sikap mahasiswa tentang komunikasi Situation, Background, Assessment, Recommendation (SBAR) sejumlah 167 responden (100%) dalam kategori baik.Kesimpulan: Pengetahuan dan sikap mahasiswa tentang strategi komunikasi SBAR dalam kategori baik.
Perbedaan Tingkat Nyeri Pasien Post Operasi Sectio Caesarea setelah Penerapan Metode ERACS dan Tanpa ERACS: Differences in Pain Levels in Postoperative Cesarean Section Patients after Application of the ERACS Method and Without ERACS Bawahasi, Inka Jestika; Magenda Bisma Yudha; Dwi Novitasari
Jurnal Keperawatan Bunda Delima Vol 7 No 2 (2025): EDISI AGUSTUS
Publisher : Akademi Keperawatan Bunda Delima Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59030/jkbd.v7i2.200

Abstract

Pendahuluan: Sectio Caesarea (SC) seringkali menyebabkan nyeri pasca operasi, yang dapat memengaruhi proses pemulihan ibu. Enhanced Recovery After Caesarean Surgery (ERACS) merupakan metode yang dirancang untuk mempercepat pemulihan serta menurunkan tingkat nyeri setelah operasi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menilai perbedaan tingkat nyeri pada pasien pasca operasi SC antara kelompok yang mendapatkan penerapan metode ERACS dan tanpa ERACS di RS Emanuel Banjarnegara Jawa Tengah. Metode: Penelitian menggunakan desain deskriptif komparatif dengan pendekatan cross sectional. Sebanyak 60 responden dipilih melalui teknik accidental sampling dan dibagi menjadi dua kelompok, yaitu penerapan ERACS dan tanpa ERACS. Tingkat nyeri diukur menggunakan Visual Analog Scale (VAS) pada hari ke-6 setelah operasi. Analisis data dilakukan dengan uji Mann-Whitney. Hasil: Sebagian besar pasien pada kelompok ERACS mengalami nyeri ringan, sedangkan kelompok Non ERACS cenderung mengalami nyeri sedang hingga berat. Hasil uji statistik menunjukkan adanya perbedaan signifikan tingkat nyeri antara kedua kelompok (p < 0,05). Kesimpulan: Terdapat perbedaan bermakna pada tingkat nyeri antara pasien yang menjalani metode ERACS dan tanpa ERACS. Temuan ini diharapkan dapat menjadi pertimbangan dalam penerapan protokol ERACS guna meningkatkan kualitas perawatan pasien pasca operasi Sectio Caesarea.
Hubungan Health Literacy Terhadap Self Management Pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 Di Puskesmas Bunut Hana Zumaedza Ulfa; Eko Wardoyo; Magenda Bisma Yudha
Jurnal Kesehatan Republik Indonesia Vol 1 No 2 (2024): JKRI - Januari 2024
Publisher : PT. INOVASI TEKNOLOGI KOMPUTER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Diabetes mellitus (DM) adalah penyakit yang memerlukan perawatan jangka panjang, dan pengelolaan yang tidak mampu dapat berakibat pada komplikasi. Upaya untuk mengurangi komplikasi dapat dilakukan melalui manajemen perawatan diri (self-care management). Literasi kesehatan yang mencakup pemahaman terhadap informasi kesehatan merupakan faktor kunci untuk melakukan manajemen perawatan diri secara optimal. Literasi kesehatan dan manajemen perawatan diri menjadi konsep penting dalam perawatan diabetes melitus. Penelitian ini bertujuan untuk memulai hubungan antara literasi kesehatan dan manajemen mandiri pada pasien diabetes melitus tipe 2 di Puskesmas Bunut. Metode penelitian yang digunakan adalah observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel dipilih secara purposive, melibatkan 67 responden. Instrumen penelitian meliputi kuesioner Health Literacy Scale European Union Q16 (HLS-EU-Q16) dan kuesioner Diabetes Self Management Instrument (DSMI) versi Indonesia. Analisis data menggunakan uji gamma. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden (59,7%) memiliki tingkat literasi kesehatan yang baik, sementara sebagian besar dari mereka (50,7%) juga memiliki manajemen perawatan diri yang baik. Uji hipotesis chi-square menghasilkan p-value sebesar 0,000 (<0,005), yang menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara health literasi dan self-management pada pasien diabetes melitus tipe 2.
Gambaran Pengetahuan Tentang Penanganan Pertama Kegawatdaruratan (PPGD) Pada Mahasiswa Angkatan 2020 Prodi Keperawatan Anestesiologi Program Sarjana Terapan sinta desiyanti; Wilis Sukmaningtyas; Magenda Bisma Yudha
Jurnal Kesehatan Ilmiah Aufa Royhan Vol 9 No 2 (2024): Vol. 9 No. 2 Desember 2024
Publisher : Universitas Aufa Royhan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51933/health.v9i2.1717

Abstract

Penanganan kasus gawat darurat tenaga Kesehatan dan calon tenaga Kesehatan diwajibkan untuk mempunyai ketangkasan dan skill yang kompeten. Salah satu pengetahuan yang penting bagi tenaga Kesehatan adalah tentang kegawat daruratan. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi tingkatan pengetahuan Penanganan Pertama Kegawat daruratan (PPGD) berdasarkan usia pada mahasiswa Angkatan 2020 Prodi Keperawatan Anestesiologi Program Sarjana Terapan Metode penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional dan bersifat survei deskriptif. Hasil menunjukkan kategori baik pengetahuan responden tertinggi berada pada usia 22 tahun sejumlah 34 responden (65,4%) dan kategori baik tertinggi berjenis kelamin perempuan sejumlah 46 responden (62,5%) dibandingkan dengan laki-laki sejumlah 28 (80%) responden. Dapat disimpulkan bahwa ingkat pengetahuan mahasiswa Universitas Harapan Bangsa tentang Penangan pertama kegawat daruratan di dominasi oleh umur 22 tahun dan perempuan berkatgeori baik.
Gambaran Pencegahan Kejadian Hipotensi Pasca Anestesi Spinal di Instalasi Bedah Sentral (IBS) Rsud Dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga Ginita Yusmaniar; Danang Tri Yudono; Magenda Bisma Yudha
Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan Vol 12 No 5.C (2026): Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan
Publisher : Peneliti.net

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Anestesi spinal merupakan teknik anestesi regional yang efektif dan banyak digunakan, namun hipotensi merupakan komplikasi yang sering terjadi akibat efek vasodilatasi dari blokade saraf otonom. Pencegahan hipotensi menjadi penting untuk menjaga kestabilan hemodinamik pasien pasca anestesi spinal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pencegahan kejadian hipotensi pasca anestesi spinal di Instalasi Bedah Sentral (IBS) RSUD dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga. Metode penelitian menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling sebanyak 135 responden sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Data dikumpulkan melalui observasi langsung menggunakan lembar observasi dan dianalisis secara univariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pasien menerima cairan pre-loading (68,1%), dengan 77,8% di antaranya menggunakan cairan koloid, serta 51,9% tidak memerlukan pemberian vasopressor. Kejadian hipotensi pasca anestesi spinal terjadi pada 30,4% responden. Temuan ini menunjukkan bahwa strategi pemberian cairan pre-loading, khususnya cairan koloid, efektif untuk menurunkan kejadian hipotensi pasca anestesi spinal. Oleh karena itu, pencegahan yang tepat seperti pemberian cairan yang sesuai dan pemantauan tekanan darah secara ketat perlu dilakukan sebagai upaya menjaga kestabilan kondisi pasien selama dan setelah tindakan anestesi spinal.
Prevalensi Kejadian Migrain pada Mahasiswa Keperawatan Anestesiologi Tingkat Akhir Universitas Harapan Bangsa Ivani, Naysilla Yuniar; Magenda Bisma Yudha; Surtiningsih
Jurnal Kesehatan Ilmiah Aufa Royhan Vol 11 No 1 (2026): Vol. 11 No. 1 Juni 2026
Publisher : Universitas Aufa Royhan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51933/health.v11i1.2731

Abstract

Migrain merupakan salah satu keluhan neurologis yang sering dialami oleh mahasiswa dan dapat mengganggu produktivitas harian serta prestasi akademik. Berbagai studi menunjukkan bahwa mahasiswa kesehatan tahun akhir memiliki beban akademik yang tinggi, praktik klinis, dan tuntutan untuk menyelesaikan tugas akhir, sehingga mereka berisiko lebih tinggi mengalami migrain. Kondisi ini berpotensi mengurangi kualitas belajar, konsentrasi, dan prestasi akademik mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan prevalensi migrain pada mahasiswa keperawatan anestesi tahun akhir di Universitas Harapan Bangsa Purwokerto. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian terdiri dari mahasiswa keperawatan anestesi tahun akhir, dengan ukuran sampel 150 responden yang dipilih menggunakan sampling acak berstrata. Alat yang digunakan adalah Migraine Screen Questionnaire (MS-Q). Analisis data dilakukan secara univariat untuk menggambarkan distribusi frekuensi karakteristik responden dan insidensi migrain. Hasil Uji statistik yang dilakukan untuk menentukan insidensi migrain menunjukkan bahwa berdasarkan usia, 34 responden (23,3%) berusia 20-23 tahun mengalami migrain. Berdasarkan jenis kelamin, terdapat 5 responden laki-laki (11,4%) yang mengalami migrain dan 30 responden perempuan (28,3%) yang mengalami migrain. Studi ini menunjukkan bahwa migrain paling sering dialami oleh perempuan dalam kelompok usia 20-23 tahun. Kesimpulan: Migrain lebih sering dialami oleh perempuan dalam kelompok usia 20-23 tahun. Sehingga dapat disimpulkan Migrain lebih sering dialami oleh mahasiswa keperawatan anestesiologi tahun akhir, dengan prevalensi yang lebih tinggi di kalangan wanita dewasa muda. Upaya promosi dan pencegahan diperlukan untuk meningkatkan kesadaran mahasiswa dalam mengendalikan faktor risiko migrain.
Pengaruh Posisi Duduk Selama 3 Menit Setelah Induksi Spinal Anestesi terhadap Kejadian Hipotensi dan Bradikardi di RS PKU Muhammadiyah Gombong Yunanto Adi Nugroho; Emiliani Elsi Jerau; Made Suandika; Magenda Bisma Yudha
Jurnal Ilmiah Kedokteran dan Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2026): Januari: Jurnal Ilmiah Kedokteran dan Kesehatan
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/klinik.v5i1.5589

Abstract

Hypotension and bradycardia are common complications following spinal anesthesia due to extensive sympathetic blockade, which can lead to hemodynamic instability and decreased perfusion of vital organs. A simple non-pharmacological preventive measure is maintaining a sitting position immediately after induction to limit the upward spread of hyperbaric anesthetic agents toward the thoracic region. This study aimed to determine the effect of maintaining a sitting position for three minutes after spinal anesthesia induction on the incidence of hypotension and bradycardia at PKU Muhammadiyah Gombong Hospital. The research employed a quasi-experimental design with a pre–post test with control group approach involving 69 respondents selected through consecutive sampling. The intervention group (n = 34) maintained a sitting position for three minutes, while the control group (n = 35) was immediately placed in a supine position. Blood pressure and heart rate were observed at 5, 10, and 15 minutes after induction, and the data were analyzed using Chi-Square and binary logistic regression tests. The results showed that the incidence of hypotension and bradycardia was significantly lower in the intervention group (p < 0.05), indicating that the sitting position acted as a protective factor. In conclusion, maintaining a sitting position for three minutes after spinal anesthesia induction effectively reduces the incidence of hypotension and bradycardia and is recommended as a simple strategy to enhance patient hemodynamic stability.